must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...

Rabu, 27 Mei 2009

Merajut Asa Dengan Mimpi


Oleh: Yana Yan

Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan impian-impain mereka.
(Elenor Roosevelt, Ibu Negara AS)
Memoar kehidupan terus terpasung mengiringi setiap langkah manusia. Menjejaki hari dalam setiap lembaran hidupnya. Asa, terkadang menyelimuti setiap geraknya. Hingga menjadikan hidup itu kian bermakna, kian terasa, kian berseri. Tentang asa, mungkin terdengar biasa, bahkan bukan hal yang perlu untuk diutak-atik. Tapi, tidak segampang itu. Justru yang biasa itulah yang seringkali memberikan dampak yang luar biasa. Asa bagaikan software yang harus terus dilekatkan pada diri manusia. Harus diinstal manakala suatu saat terkena virus.

Tentang Wanita




Ketika Tuhan menciptakan wanita, Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat dating dan bertanya, ”Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab: “Sudahkah engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”
“2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukandari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan.

Selasa, 19 Mei 2009

Nestapa Tak Bertuan


Oleh: Yana Yan*)

Pagi yang masih sangat buta, kumulai perjalanan itu. Namun sebelumnya, tak lupa kuberikan kecupan hangat di kening Ibu. Dan kutinggalkan ia dalam kondisi yang masih tertidur lelap. Lalu kutitipkan ia kepada kedua adikku, Rina dan Adli. Entah gimana cara Adli meyakinkan Ibu. Entah bagaimana cara Rina menghibur Ibu, setelah tahu aku tak lagi bersamanya. Ah, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Tapi satu yang kupinta, semoga keputusanku tidak membuat segalanya menjadi kacau! Aku ingin melihat kasih, ketenangan, dan cinta membaluti keluargaku. Menyusuri sisa jejak Ayah yang sudah lebih dulu pergi. Dan sebagai anak sulung, aku tak mau menghentikan jejak Ayah. Kan kuteruskan langkahnya dalam menaungi kebahagiaan di rumah ini. Itu janjiku!
***

Minggu, 17 Mei 2009

Setitik Nadir Pra-Klinik Perdana

Oleh: Yana Yan*)

14 Mei 2009! Pertama kali terjun langsung di rumah sakit. Dan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, lagi-lagi ditakdirkan sebagai wilayah untuk mengajari kami, merealisasikan ilmu dari kampus seberang.. Dengan landasan utama: mengobservasi pasien. Adapun tindakan yang lainnya, itu terserah apa yang akan terjadi nantinya. Dalam jumlah yang cukup banyak, kami akhirnya disekat menjadi beberapa kelompok. Dengan ruangan yang berbeda-beda, dan tentu dengan jenis penyakit yang berbeda pula.

Kamis, 14 Mei 2009

“Refleksi Hari Perawat Se-Dunia”


Oleh: Yana Yan*)


“Selamat Hari Perawat se-Dunia!!!”
12 Mei 2009! Gegap gempita Mahasiswa Keperawatan yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Keperawatan Sulawesi Selatan, pagi itu memadati penghujung barat kota Makassar, tepatnya di Pantai Losari. Perjalanan itu berawal dari sini. Dengan segenap asa dan rasa, para mahasiswa/i perawat dari berbagai instansi melemparkan senyum dan citanya buat seluruh penghuni kota Makassar. Tak lain, demi memeriahkan dan mewarnai hari Perawat se-Dunia.

Tahu apa Anda tentang ‘amanah’?

Oleh: Yana Yan*)

Amanah, lagi-lagi tentang amanah. Hampir setiap kali rapat, syuro’, ataw apapun nama perkumpulan itu, di manapun,,, tak lepas dari tema tentang itu. Tentang amanah… tentang komitmen… tentang Loyalitas…semua mengumbarnya!
Tahu apa Anda tentang amanah?

Senin, 11 Mei 2009

MENGENANG AIR MATA RASULULLAH SAW


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Minggu, 10 Mei 2009

Cukup Menggelitik…!

Ass. Al. Dear Frens, berikut ini sebuah artikel dr seorang teman.... selamat membaca

Subject: [ekonomiupnvy] FW: Ternyata ....... Hidup ini sederhana That's why ..... DON'T BE too calculative in life. Ternyata... Hidup Ini Sederhana... Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah,

Jumat, 08 Mei 2009

Just to Read!


Ada yang perlu Anda lakukan
by: Hari Subagya

Sahabat sukses. Kesibukan demi kesibukan mengelayuti kehidupan kita. Rutinitas mulaii membelenggu diri, dan mengaburkan kesejatian hidup. Pagi berputar menjadi malam, dan harii berganti, minggu berganti, menjadi bulan dan tahun. Usia bertambah

Rabu, 06 Mei 2009

Rias Sendu Sang Metropolitan



Oleh: Yana Yan*)

Makassar, Sang Metropolitan!
Kota Daeng! Begitulah sebutan khas kota Makassar. Kota yang mulai tumbuh sebagai kota metropolis mewakili Indonesia timur. Bersama waktu, panorama Makassar terus saja menggelinding. Menggerus cerita yang masih terpendam. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat, Makassar pun hadir dengan berbagai polesan wajah baru. Meninggalkan segala bentuk kekunoannya.

Sabtu, 02 Mei 2009

Who’s the Nursing?



1. Nursing is caring. Artinya perawat harus berperan dalam pemberian asuhan keperawatan. Perawatan harus memperhatikan bahwa dalam pemberian asuhan keperawatan tidak dikenal pasien atau kasus pribadi. Semua pasien diperlakukan sama.
2. Nursing is sharing. Artinya dalam pemberian asuhan keperawatan, perawat selalu melakukan sharing atau diskusi antara sesama perawat, kepada anggota tim kesehatan lainnya dan kepada klien.
3. Nursing is laughing. Artinya, perawat meyakini bahwa senyum merupakan suatu kiat dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan rasa nyaman klien.
4. Nursing is crying. Artinya, perawat menerima respon emosional dari perawat atau orang lain sebagai suatu hal yang biasa pada situasi senang atau duka.
5. Nursing is touching. Artinya, perawat dapat menggunakan sentuhan untuk meningkatkan rasa nyaman, pada saat melakukan massage, atau misalnya menyentuh pasien ketika mengatakan saya memahami apa yang akan dilakukan untuk menolong anda.
6. Nursing is helping. Bermakna bahwa asuhan keperawatan dilakukan untuk menolong klien dengan sepenuhnya memahami kondisinya.
7. Nursing is believing in others. Artinya, perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan kemampuan untuk meningkatkan status kesehatannya.
8. Nursing is trusting. Artinya, perawat harus menjaga kepercayaan orang lain (klien) yaitu denan menjaga mutu asuhan keperawatan.
9. Nursing is believing in self. Artinya, perawat yakin dirinya memiliki pengetahuan dan mampu untuk menolong orang lain dalam memelihara kesehatannya.
10. Nursing is learning. Artinya, perawat selalu belajar atau mengembangkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan profsional melalui asuhan keperawatan yang dilakukan.
11. Nursing is respecting. Artinya, perawat memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan kepada orang lain (klien dan keluarganya) dengan menjaga kepercayaan, dan rahasia klien.
12. Nursing is listening. Artinya, perawat harus mau menjadi pendengar yang baik ketika klien berbicara atau mengeluh.
13. Nursing is doing. Artinya, perawat melakukan pengkajian dan intervensi keperawatan berdasarkan pengetahuannya untuk memberikan rasa aman dan nyaman serta asuhan keperawatan secara komperehensif.
14. Nursing is feeling. Artinya, perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka, senang, frustasi, dan rasa puas klien.
15. Nursing is accepting. Artinya, perawat harus menerima diri sendiri sebelum dapat menerima orang lain.

Senin, 27 April 2009

Test ALZHEIMER

Silakan coba Test ALZHEIMER gratis!!!

------------ --------- --------- --------- --------- --------- - --------

1. Temukan huruf "C" di bawah. Jangan gunakan bantuan cursor.

OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO COOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O
OOOOOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOOO OOOOOOOOOOOOOOO O

2. Jika anda telah menemukan huruf "C", sekarang temukan angka "6"
di
bawah.

9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999
9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999999
9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999999
9999699999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999999
9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999999
9999999999999999999 9999999999999999 999999999999999 99999999999999

3. Sekarang temukan huruf "N" di bawah. Ini agak lebih sulit.

MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MNMMMM
MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
MMMMMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMMMMMMMMMMMM MMMMMM
MMMMMMMMMMMMMMMMMMM

4. Sekarang temukan huruf "O" di bawah. Ini agak lebih sulit.
QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQQ
QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQQ
QQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQ
QQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQQOQ QQQQQQQQQQQQQQQQ
QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ QQ
QQQQQQQQQQQQQQQQQQQ QQQQQQQQQQQQQQQQ

5. Sekarang temukan huruf "I" di bawah. Ini agak lebih sulit.
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLI
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLLLLLLL LLLLLLLLLLL
LLLLLLLLLLLLLLLLLLL LL

------------ --------- --------- --------- --------- --------- - --------

Ini bukan gurauan, fren
Jika anda bisa melewati 3 test ini, maka anda bisa batalkan rencana
kunjungan ke ahli neurologi
Otak anda masih baik dan jauh dari penyakit Alzheimer. Selamat !

For your info
Alzheimer atau kepikunan merupakan sejenis penyakit penurunan fungsi
saraf otak yang kompleks dan progresif. Penyakit Alzheimer bukannya
penyakit menular. Penderita Alzheimer mengalami keadaan penurunan
daya
ingat yang parah sehingga penderita akhirnya tidak lagi mampu
mengurus
dirinya sendiri.

Alzheimer tergolong sebagai salah satu jenis dementia yang ditandai
dengan melemahnya kemampuan bercakap, kemampuan berpikir sehat, daya
ingat, kemampuan mempertimbangan, adanya perubahan kepribadian dan
tingkah laku yang tidak terkendali. Keadaan ini amat membebani
penderita
dan juga anggota keluarga yang perlu menjaga dan merawatnya.
Menurunnya
fungsi ingatan juga memengaruhi fungsi intelektual dan sosial
penderitanya.
Sumber penyakit ini belum diketahui dengan pasti, tetapi bukan
karena
proses penuaan. Sebagian ilmuwan memperkirakan bahwa kepikunan ini
berkaitan dengan pembentukan dan perubahan sel-sel saraf yang normal
menjadi semacam serat.

Resiko untuk mengidap Alzheimer meningkat seiring dengan pertambahan
usia. "Pada usia sekitar 65 tahun, seseorang berisiko lima persen
untuk
menderita penyakit ini dan risiko ini meningkat dua kali lipat
setiap
lima tahun,"menurut Ahli Psikogeriatrik, Kantor Pengobatan
Psikologi,
Fakultas Pusat Pengobatan Universitas Malaya (PPUM), Dr. Esther
Ebeenezer. Meskipun kepikunan seringkali dikaitkan dengan usia
lanjut,
namun terbukti bahwa penderita Alzheimer yang pertama diidentifikasi
adalah seorang perempuan berusia awal 50 tahunan.

Sejarah Alzheimer

Penyakit ini ditemukan oleh Dr. Alois Alzheimer pada 1907 ini,
dinamakan
Alzheimer sesuai nama penemunya.
Alzheimer menemukan bahwa syaraf otak penderita Alzheimer tidak
hanya
mengerut, bahkan dipenuhi gumpalan protein luar biasa yang disebut
plak
amiloid dan serat yang berbelit-belit (neuro fibrillary).
Amiloid protein yang membentuk sel-sel plak protein tersebut,
dipercaya
menyebabkan perubahan kimia otak. Musnahnya sel-sel saraf ini
menyebabkan syaraf otak yang berfungsi menyampaikan pesan dari satu
neuron ke neuron lain terpengaruh.

Meskipun sudah ditemukan hampir satu abad yang lalu, Alzheimer tidak
seterkenal penyakit yang lain seperti hipertensi, Sindrom Pernafasan
Akut Parah (SARS) atau pun penyakit jantung. Mungkin karena gejala
penyakit Alzheimer tidak segera terlihat, berbeda dengan hipertensi
yang
dapat dipantau melalui pemeriksaan tekanan darah. Penyakit Alzheimer
tidak terdeteksi karena adanya anggapan bahwa sering lupa adalah hal
yang wajar dialami orang berusia lanjut karena faktor usia. Padahal
mungkin saja "sering lupa" tersebut merupakan tanda awal penyakit
Alzheimer.

Penyakit Alzheimer menjadi lebih dikenal secara meluas setelah
mantan
Presiden Amerika Serikat yang ke-40, Ronald Reagan mengemukakan
keadaan
dirinya dalam suratnya yang tertanggal 5 November 1994. Penelitian
klinis terbaru menunjukkan bahwa konsumsi suplemen asam lemak
omega-3
dapat memperlambat laju penurunan fungsi kognitif penderita
alzheimer
ringan.

Gejala dan tingkat keparahan penyakit:

Pada taraf ringan gejalanya dapat berupa: lupa dimana menyimpan
kunci,
lupa mengambil uang kembalian, lupa mau membeli apa di toko, lupa
nomor
telepon atau tidak ingat mana obat yang setiap hari biasa dimakan.

Pada tingkat menengah: penderita misalnya, lupa mencampurkan gula
dalam
minuman, garam dalam masakan atau lupa bagaimana cara mengaduk gula
di
dalam gelas.

Pada tingkat yang parah, penderita sudah tidak mampu melakukan
hal-hal
mendasar seperti mengurus diri sendiri, tidak lagi mengenali keadaan
sekitar rumahnya, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga
terdekat.

Penderita Alzheimer dapat menjadi agresif, cepat marah dan
kehilangan
minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya.
Penderita
tingkat menengah atau parah dapat menunjukkan tingkah laku aneh,
seperti
menjerit, terpekik atau mengikuti orang ke mana saja, bahkan walau
orang
tersebut ke WC.

Selain itu, penderita dapat juga mengalami semacam halusinasi
seperti
mendengar suara atau bisikan halus, atau
melihat bayangan menakutkan. Penderita juga kadangkala berjalan
mondar
mandir tanpa tujuan dan pola tidur mereka juga berubah. Penderita
biasanya akan lebih banyak tidur di siang hari dan terus terjaga
pada
malam hari.
Keadaan tersebut secara tidak langsung memberi tekanan mental kepada
perawat atau anggota keluarga yang harus waspada menjaga penderita
selama '36 jam' sehari.

Kebanyakan penderita Alzheimer meninggal dunia akibat radang
paru-paru
atau pneumonia karena mereka tidak dapat melakukan berbagai
aktivitas
fisik lainnya.
Yang menyedihkan, adalah bahwa orang yang sakit itu sendiri tidak
memahami apa yang terjadi pada diri mereka dan memerlukan bantuan
orang
lain. Berita buruknya penyakit Alzheimer ini, tidak dapat
disembuhkan.
Tetapi, gejalanya masih dapat dikendalikan dengan obat-obatan.
Obat-obatan yang diberi pada tingkat awal, dapat membantu ingatan
penderita seperti fungsi kognitif, aktivitas dan tingkah laku
sehari2.

Prevalensi

Sekitar tahun 1950-an diperkirakan sekitar 2,5 juta warga dunia
menderita penyakit ini. Pada tahun 2003 Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO), memperkirakan lebih dari satu milyar orang yang berusia di
atas
60 tahun atau 10 persen penduduk dunia menderita Alzheimer.
Peningkatan jumlah penderita Alzheimer berkaitan dengan meningkatnya
jumlah warga dunia yang berusia lanjut, dan semakin panjangnya usia
atau masa hidup warga dunia. Usia hidup perempuan meningkat hingga
mencapai usia 80 tahun dan laki-laki mencapai usia 75 tahun. Selain
itu, faktor pemeliharaan kesehatan yang semakin baik dan menurunnya
tingkat kelahiran.

Orang yang berisiko menderita Alzheimer:
* Penderita hipertensi dengan usia di atas 40 tahun
* Penderita diabetes
* Kurang berolahraga
* Kadar kolesterol yang tinggi
* Faktor keturunan - memiliki keluarga yang menderita Alzheimer pada
usia 50-an.

dikutip dari salah satu anggota milis anging mammiri...
smg bermanfaat! ^_^

Sekedar info, dari pRoyek Konro SouP Anging Mammiri

Naskah yang masuk sampe denga tanggal 20 April ini yaitu :
1. [KSFS- Cinta] Menjelang Matahari Terbit - Arwin
2. [KSFS- Ketabahan] Catatan Harian si Wahyu - Ahmad
3. [KSFS- Ketabahan] Stroke Membuatku Merubah Hidup - Muslimin Beta
4. [KSFS- Sudut Pandang] Kelong Anak - Nur Syamsoe
5. [KSFS- Ketabahan] Kami harus usung Kerandanya !! - Nur Syamsoe
6. [KSFS- Rasa Sakit] Peri Bersayap Keikhlasan - Andini Syamsur
7. [KSFS- Cinta] How The Way To Forget You? - Fauzina Akib
8. [KSFS- Ketabahan] Setelah Kang Pandu Pergi - Dewi Rieka Kustiantri
9. [KSFS- Ketabahan] Wardah Perempuan Baja - Dewi Rieka Kustiantri
10. [KSFS- Sudut Pandang] Khatam - Sofyan Thayf
11. [KSFS- Sudut Ketabahan] Pernikahan Terlarang - Arwin
12. [KSFS-Sudut Pandang] Mengiris Malam Bersama Ojek Bandara - Amril Taufik Gobel
13. [KSFS-Cinta] Sepasang Telinga Seluas Samudera - Amril Taufik Gobe
14. [KSFS-Cinta] Ciuman Terakhir, Di Hari Terakhir - Amril Taufik Gobel
15. [KSFS-Cinta] Buat Para Ayah Yang Menyimpan Resah Dengan Senyum Merekah - Amril Taufik Gobel
16. [KSFS - Sudut Pandang] Berdamai Dengan Ketidaksempurnaan: Sebuah Kisah Tentang Rasa Marah - Amril Taufik Gobel
17. [KSFS - Cinta] Suatu Malam Di Depan Malll Ratu Indah Makassar - Sarah Tahnia
18. [KSFS - Ketabahan] Debi - Sarah Tahnia
19. [KSFS - Cinta] Aku Adalah Kau dan Kau Adalah Aku - Ahmad Maulana Agung
20. [KSFS - Sudut Pandang] Mahasiswa Apakah Pejuang Rakyat atau Bukan - Ahmad Maulana Agung
21. [KSFS - Sudut Pandang] Menguat Gerakan Perempuan Dibalik Kepeloporan RA. Kartini - Ahmad Maulana Agung
22. [KSFS - Ketabahan] Sesal Yang Membawa Arti - Marten
23. [KSFS- Ketabahan] Surat Buat Bapak - Ahsan Azhar
24. [KSFS - Sudut Pandang] Turun Dari Langit - Ahsan Azhar
25. [KSFS - Ketabahan] Sepulang - Ahsan Azhar
26. [KSFS - Cinta] Tiga Kota Satu Cinta - Syafruddin Djali
27. [KSFS - Sudut Pandang] Mau Jadi Kuli atau Jadi Boss? - Khalid Mustafa
28. [KSFS - Sudut Pandang] Metode Kampungan Pemelajaran Bahasa Inggris - Khalid Mustafa
29. [KSFS - Sudut Pandang] Sampahku Tiketku - Khalid Mustafa
30. [KSFS - Cinta] Abu-abu untuk pelangi - Airin Nisa
31. [KSFS - Cinta] Brankas ini Butuh Pengunjung - Airin Nisa
32. [KSFS - Cinta] Brownis Buat ibu - Firdaus Rauf
33. [KSFS - Ketabahan] Jalan Harapan - Abdul Gafur
34. [KSFS - Sudut Pandang] Anak Perempuan Satu-satunya - Airin Nisa.
35. [KSFS - Cinta] Cinta Dimiliki Hanya Sekali - Fiyan Arjun
36. [KSFS - Cinta] Jamur di Kala Hujan - Fiyan Arjun
37. [KSFS - Ketabahan] Semua Akan Indah Pada Waktunya - Ira Puspita.
38. [KSFS - Sudut Pandang] Petani Organik - Imansyah Rukka
39. [KSFS - Ketabahan] Yang Terbaik (untuk Ayah) - Fajrin Thamrin
40. [KSFS - Ketabahan] Istighfar - Asmar Abdullah
41. [KSFS - Sudut Pandang] Mengambil Hikmah Dari Negeri Empat Musim - Ismail Amin
42. [KSFS - Cinta] Saat Harus Memilih - Ferdi Syarlin
43. [KSFS - Cinta] Preman Cantik - Unga
44. [KSFS - Sudut Pandang] Arisan Keluarga Sialan - Dian Retno Megawati
45. [KSFS - Sudut Pandang] Let Me Fly, Aisyah - Dian Retno Megawati
46. [KSFS - Ketabahan] Bunga - Iqbal Napsa
47. [KSFS - Cinta] Mama, Aku Jatuh Cinta - Iqbal Napsa
48. [KSFS - Sudut Pandang] Ayahku Seorang Popeye - Deen
49. [KSFS - Sudut Pandang] Harus Tetap Sekolah - Deen
50. [KSFS - Ketabahan] Sesungguhnya Setelah Kesusahan ada Kemudahan - Andi Tenri Pada
51. [KSFS - Ketabahan] Jeda Kehidupan - Valencia Cecillia Mayke Randa
52. [KSFS - Cinta] Arti Sebuah Pelukan - Valencia Cecillia Mayke Randa
53. [KSFS - Cinta] Guru Bulan - Inayah Mangkulla
54. [KSFS - Sudut Pandang] Optimisme Penjual Kerupuk - Aan Wulandari Usman
55. [KSFS - Cinta] Cinta Tak Biasa - Gaga
56. [KSFS - Ketabahan] Mengenang Sketsa Hidup yang Tersisa - A. Saputri Mulyana
57. [KSFS - Sudut Pandang] Segalanya Belum tentu adalah Cinta - Ulfa
58. [KSFS - Ketabahan]Demikianlah Tentang Sedih itu - Febty Febriani
59. [KSFS - Cinta] Kasih Anak Untuk Sebuah Cinta - Febty Febriani

Keep spirit teman2… smg tak pernah mati tuk terus berkarya!
Hmm,,, setelah ini, tak ada info lg dr dunia Anging Mammiri. Mungkin ada nama teman2 yg belum terpublikasi..

Citra Ideal Seorang Perawat

Oleh: Yana Yan*)


Selayang Pandang Dunia Keperawatan
Keperawatan, dunia yang sudah tak asing lagi untuk diperbincangkan. Ia telah menjadi warna yang ikut hadir dalam kehidupan manusia. Tersebar di seluruh pelosok tanah air. Masyarakat desa, apalagi masyarakat perkotaan, masing-masing telah menjamahnya. Tua-muda, kaya-miskin, semua mengenalnya. Berangkat dari sini, penulis mencoba berusaha menelisik lebih jauh tentang dunia keperawatan ini.
Melalui Seminar Nasional Keperawatan (1983), dirumuskan pengertian keperawatan, yaitu suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif. Pelayanan yang ditujukan kepada individu, keluarga, atau masyarakat yang sehat, maupun yang sakit, yang mencakup siklus hidup manusia. Nah, berbicara masalah keperawatan, tentu tak lepas dari sistem pelayanan kesehatan. Lebih mengerucut lagi, akan berbicara tentang perawat itu sendiri, sebagai subjek yang berperan langsung di dalamnya. Lantas, apa yang terlintas dalam benak kita saat pertama kali mendengar kata ‘perawat’?
Banyak jawaban tentu akan kita muntahkan, sesuai bagaimana kita mempersepsikannya. Perawat, seolah tak pernah lekang dari warna putihnya. Tapi, ini bukan masalah. Ada sisi lain yang perlu untuk kita tengok. Hingga kini, label ‘jutek’ masih menyelimuti tubuh perawat itu sendiri. Memang sulit untuk dinafikan, beberapa eselon masyarakat, masih beranggapan demikian. Paradigma perawat sebagai seorang bawahan atau ‘pembantu’ dokter, pun itu masih sering terjadi. Ironis,, memang! Padahal, perawat kini telah disanding dengan label ‘profesi’. Dan seringpula dikoar-koarkan sebagai mitra dari dokter itu sendiri. Benarkah?

Citra Ideal Seorang Perawat
Berangkat dari pengertian ‘keperawatan’ yang telah dirumuskan sebelumnya, maka saya dapat menarik sebuah garis merah, terkait dengan bagaimana citra ideal seorang perawat. Meski sebenarnya, sangat tidak gamblang bagi saya untuk merumuskan tentang bagaimana idealitas seorang perawat. Tapi semoga, ini bisa menjadi titik ukur bagaimana kita_seorang perawat_ mampu mencapai tingkat idealitas itu.
Sederhana, ketika saya mencoba untuk menyimpulkan idealitas seorang perawat itu yang seperti apa, cukup dengan berdalih pada pengertian keperawatan yang telah dibahas sebelumnya. Yaitu: mampu menanamkan nilai-nilai profesionalitas dalam dirinya sebagai seorang perawat. Lantas, yang seperti apa nilai-nilai profesionalitas itu? Adalah ketika pelayanan keperawatan yang dilakukan senantiasa berorientasi pada wawasan ilmu keperawatan yang pastinya senantiasa berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini, kualitas seorang perawat tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dan upaya profesionalisasi itu dapat direfleksikan melalui tindakan pelayanan keperawatan yang dilakukannya.
Sisi lain, salah satu hal yang perlu ada pada diri seorang perawat adalah senantiasa melestarikan kode etik yang berlaku sebagai sebuah profesi. Kapan dan dimana saja!
*) Mahasiswi Ners A ’07,
Ketua FLP Ranting Unhas

Minggu, 26 April 2009

Andar, Jangan BHP!

Oleh: Yana Yan*)

Terik Sang Surya mulai membuatku gusar. Peluh sudah tak sanggup kubendung. Ia kini tumpah membasahi jidat dan beberapa bagian tubuhku. Dan aku kembali mengusapnya, entah untuk yang keberapa kalinya.
“Hidup mahasiswa!!! Hidup mahasiswa!!!”
Aku menoleh, kutemukan segerombolan mahasiswa tengah memadati sisi kanan jalan menuju gedung rektorat kampusku. Sesekali terdengar teriakan-teriakan lantang dari Sang Orator yang terus membahana di ruang dengarku.
“Lagi demo ya Dik?” seorang wanita setengah baya tiba-tiba melontarkan pertanyaan untukku.
Udah tahu nanya! Aku bergumam dalam hati.
Aku menyumbangkan senyum manisku untuknya, lalu kuberikan sebuah anggukan, sebagai simbol tanda setujuku.
“Demo apa ya Dik?” lagi-lagi Ibu itu mengejar tanya.
“Ah,, Ibu ini,” batinku. Lalu kujawab pertanyaannya tadi dengan menggelengkan kepalaku. Dan akhirnya, Ibu itu diam. Mungkin karena sudah paham dengan kondisiku.
Angkot yang kutumpangi tiba-tiba berhenti. Padahal tidak biasanya angkot akan berhenti di jalan ini. Aku dan Ibu tadi saling berpandangan.
“Kenapa berhenti Pak?” seorang gadis berjilbab tepat di samping Ibu tadi akhirnya angkat bicara.
“Sepertinya kita tidak bisa lewat di jalan sana. Ada demo. Mahasiswa-mahasiswa itu akan bergerak mengelilingi kampus,” jawab Pak Sopir sambil membalikkan dirinya ke belakang, memandangi kami satu per satu.
“Angkot ini tidak bisa masuk ke kampus lagi. Coba lihat di depan sana, angkot-angkot pada berhenti. Malah ada yang berbalik arah.” Tambah Pak Sopir.
Benar juga.
“Ya sudah, saya turun di sini saja.” Kembali kubergumam. Aku pun melompat turun dan membayar ongkos.
Samar-samar, teriakan sang pendemo mulai ditangkap inderaku. Aku semakin tertantang untuk mendekati sumber suara itu.
Tiba di perempatan jalan, aku terhenti. Asaku membuncah. Nyaliku terpacu lebih cepat. Kobaran semangat dari mereka_mahasiswa-mahasiswa itu_ tiba-tiba menjilat naluriku. Diseberang jalan, mataku tiada henti mengumbar pandangan ke arahnya. Kepalannya, teriakannya, langkahnya, hentakan kakinya, jiwanya,,, semua membuatku bungkam tak berkutik. Memaksa jiwaku untuk menyumbangkan rasa salut dan bangga kepadanya.
“Kawan-kawan seperjuangan yang saya hormati dan saya cintai. Pendidikan kini menjadi barang mahal. Dan sebentar lagi, mungkin saja ia akan menjadi barang langka. Bukankah kemerdekaan itu hak segala bangsa? Bukankah salah satu misi Negara kita adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah dengan BHP misi itu akan terwujud? Dengan melilit perut dan leher kita? Saya yakin, bukan cara seperti itu yang kita tunggu kawan-kawan…”
Teriakan-teriakan itu terus terdengar lantang di angkasa. Nyaliku tiba-tiba bangkit, seiring dengan gentarnya mereka bersuara. Keinginanku untuk bergabung dalam barisan itu harus kutelan, meski terasa sangat pahit. Aku tak mungkin gabung bersama mereka. Kebisuanku, tak mungkin mampu mengobarkan semangat mereka, bahkan mungkin akan ciut melihatku diam di depan sana. Kebisuanku tak akan mampu menyelipkan daya guna buat teman-teman itu.
“Seandainya kalian tahu betapa aku ingin bergabung bersama kalian…” gumamku lirih.
“Andar?!! Kok bengong disini?” suara Retno tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Aku menggoyangkan kedua tanganku. Menjawab pertanyaan Retno dengan bahasa isyaratku. Kuyakin, Retno paham maksudku. Tentang rasa salutku terhadap teman-teman disana.
“Andar,, Jangan BHP!” Retno kembali bersuara.
Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“Jangan BHP! Jangan Buat Hidup Pincang!” Retno menjelaskan.
Aku kembali mengernyitkan dahi. Aku semakin bingung dengan ucapan Retno barusan.
“Hmm,, jangan pernah buat hidup kita jadi pincang dengan segala keinginan kita yang belum nyata. Aku tahu, keinginanmu sedari dulu untuk bisa menjadi orator ulung seperti mereka. Tapi, jangan sampai keinginan yang membuncah itu membuat kita menjadi hamba yang tak bersyukur. Coba kita lakukan sisi lain. Aku yakin, setiap orang punya potensi masing-masing yang orang lain belum tentu punya. Tapi terkadang, banyak diantara kita yang tak pernah menyadari hal itu. Jangan pernah bercermin kepada orang atas mimpi-mimpi yang akan kita rajut. Karena sebenarnya kitalah yang menentukannya, bukan siapa-siapa,” terang Retno panjang lebar.
Aku semakin tak berkutik. Kali ini, bukan karena teriakan Sang Orator itu, tapi karena bisikan Retno yang sungguh lebih mengikis nuraniku. Kutatap sahabatku itu, dan kurangkul segera.
Terima kasih Rabb, Kau izinkanku bertemu dengannya.

***


*) Ketum FLP (Forum Lingkar Pena) Ranting Unhas

Mendesign Mahasiswa Sejati di Tengah Gempuran Globalisasi

Oleh: Yana Yan*)

“Dunia akan memberikan jalan bagi mereka yang tahu ke mana harus melangkah”
(Ralph Waldo Emerson)
Gempuran globalisasi kini semakin nyata. Seolah tak ada yang sanggup mengelak. Setiap sudut kehidupan berhasil ia jamah. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, itulah realita yang harus dihadapi. Terbongkarnya pintu yang membatasi antara budaya luar dengan budaya ketimuran kita, melahirkan bermacam dampak darinya. Alhasil, dampak positif dan negatif pun terurai bebas di setiap jengkal kehidupan. Bahkan tak jarang akan berujung pada hilangnya identitas ke-timur-an kita.
Mahasiswa, sebagai salah satu bagian dalam bingkai kehidupan, seolah tak luput darinya. Dengan segala ranah yang tergolek di dalamnya, bahkan bisa membius siapa saja yang tak punya kekebalan tubuh untuk menghadapinya, termasuk mahasiswa. Segala sendi seolah telah bersatu dalam ruang yang sama. Jiwa yang lemah tentu akan ikut tergilas olehnya. Adakah daya yang bisa membuatnya bangkit?

Bersandiwara dalam Peradaban Mahasiswa
Kampus, tentu identik dengan ruang lingkup mahasiswa. Idealnya, kampus tak hanya dijadikan tempat untuk mencetak ‘manusia berijazah’. Bukan pula dijadikan sebagai tempat untuk mengoleksi kawan, apalagi lawan. Serta tidak juga dijadikan tempat untuk mengumbar segala yang ia punya, yang bisa membuat mata menjadi nanar bagi setiap orang yang memandangnya.
Sejatinya, kampus adalah tempat pencarian ilmu Sang Mahasiswa, dalam setiap sudutnya. Sehingga kelak ia bisa terlahir sebagai seorang intelektual produktif, tak hanya sekedar menuai ijazah. Bahkan, kampus seyogyanya dijadikan tempat untuk bersilat lidah. Bukan untuk mencari lawan, tapi untuk mengupas kebenaran bersama kawan. Membedah potensi yang masih bersembunyi. Membuka kerang yang masih terkungkung dalam tubuhnya. Melejitkan asa yang sebelumnya masih kerdil. Mengusung sebuah tekad dalam menggulirkan kebenaran dan keadilan. Menyeret keadilan yang tergilas oleh keserakahan. Dan kemudian, mengguyurnya dengan nilai-nilai yang bermoral. Kampus! Di sanalah Sang Mahasiswa mengaisnya.

Mengenal Sosok Mahasiswa Sejati
No body’s perfect. Benar! Tak ada manusia yang sempurna. Tapi, setiap orang punya hak untuk mencapai derajat kesempurnaan itu. dan dialah sosok manusia sejati. Begitu pula dengan sosok mahasiswa sejati, adalah dia yang terus mengais dan mencari untuk mendekati kesempurnaan.
Ralph Waldo Emerson, mengawali perbincangan kita pada lembaran ini. Cukup menggelitik! Seolah menegaskan bahwa pintu kesuksesan akan terbuka buat mereka yang telah merancang jalan menuju pintu itu. Artinya, segala kesiapan telah ia lakukan. Tak gamblang memang berbicara tentang sosok kesejatian seseorang/sesuatu. Karena ia akan mengungkit segala bentuk kemungkinan, bahkan ketidakmungkinan. Tapi tak ada yang salah. Karena segala kemungkinan bisa saja terjadi. Bahkan ketidakmungkinan sekalipun. Berangkat dari sini, menemukan sosok mahasiswa sejati memang bukan hal yang mudah. Ia bisa menjadi barang yang langka. Lalu, bagaimanakah sosok mahasiswa sejati itu?
Secara umum, mahasiswa sejati adalah mahasiswa yang senantiasa haus akan ilmu dan kebenaran. Tidak membiarkan dirinya diselimuti oleh ketidaktahuan yang berkepanjangan. Dan inilah hakekat mahasiswa sebagai seorang pembelajar. Di sisi lain, mahasiswa sejati adalah ia yang mampu menciptakan karya dan mempersembahkannya buat orang lain. Dan inilah hakekat mahasiswa sebagai makhluk sosial. Selain itu, mahasiswa sejati adalah ia yang tak pernah bosan mengumbar dan mempertahankan idealisme yang ia yakini. Tentu yang dimaksud adalah idealisme yang bermoral. Dan inilah hakekat mahasiswa sebagai seorang manusia. Sebagai kesimpulan, mahasiswa sejati adalah ia yang tak kenal lelah untuk mencari dan mempersembahkannya buat orang-orang disekitarnya. Karena sebagai manusia, mahasiswa tercipta sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Mahluk individu yang kreatif dan berkepibadian, sehingga tak akan mati tergilas era globalisasi. Serta menjadi makhluk sosial, sehingga tak akan hilang dihempas angin globalisasi. Itulah design mahasiswa sejati yang dinanti peradaban manapun!
Tak peduli seberapa banyak kesempatan yang kita miliki, tapi yang terpenting adalah seberapa banyak kesuksesan yang kita ukir dari setiap kesempatan yang ada”
***

*) Ketua umum FLP Ranting Unhas

Sabtu, 25 April 2009

Menulis: Mozaik Yang Tak Pernah Pudar Oleh: Yana Yan*)

“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian...”
(Pramoedia Ananta Toer)

Panorama hidup terus saja menggelinding. Bersama waktu, ia mengalir. Menjejaki hari dalam setiap bingkainya. Tak ada yang mampu menyetelnya, selain kehendak Sang Pencipta. Berbagai warna terus tertoreh dalam bingkai yang kita sebut kehidupan. Wacana-wacana juga hadir menghiasi setiap sudutnya. Membahana dalam ruang dengar kita. Mengumbar berbagai cerita yang telah terpotret dunia. Seiring berputarnya waktu, sejarah akhirnya terangsang untuk mencatatnya. Biar ia tak punah ditelan masa. Dan kata, kemudian mengikatnya dalam sebuah bingkai yang kita sebut tulisan.

Mengukir Sejarah Lewat Tulisan
Menulis, artinya mengartikulasikan peradaban manusia dalam sebuah media. Menjadikannya abadi, tanpa takut tertelan masa. Realita pun terus dikenang. Meski sandiwara-sandiwara hidup terus saja bermain dengan sangat liarnya.
Sekedar merenungi sejarah masa silam, tahun 2001, seolah menjadi milik DR. 'Aidh al-Qarni. Kala bukunya “La Tahzan”, menjadi best seller. Namanya menjulang tinggi. Lima tahun berikutnya (tahun 2006), kesempatan emas berpindah tangan ke Habiburrahman El Shirazy. “Ayat-Ayat Cinta” miliknya, menjadikannya bagai raja pena. Seolah tak ada yang tak mengenal dirinya. Semua terangsang membedah karya mega-best seller itu. Tak berapa lama kemudian, terlahir lagi Andrea Hirata. Melalui novel tetraloginya (Laskar Pelangi, Edensor, Sang Pemimpi, dan Maryamah Karpov), namanya pun mendulang. Mereka genggam kejayaan lewat menulis. Mereka ukir sejarahnya lewat tulisan.

Karena Kata Tak Pernah Mati
Sedikit menoleh kebelakang, melihat perjalanan sejarah bangsa ini. Bung Karno, presiden perdana Republik Indonesia. Banyak sejarah yang ia ukir. Bukan hanya lewat teriakannya sebagai seorang orator ulung. Tapi lebih dari itu, ia kugkung sejarahnya diatas sebuah kertas. Ia museumkan kisahnya melalui goresan pena. Dan lihatlah, Indonesia masih mengenalnya, hingga saat ini. Gaung Bung Karno masih terdengar. Bung Karno masih hidup!
Tengok pula seorang Soe Hok Gie. Pergulatan pemikiran dan perjuangan Sang revolusioner itu hadir ditengah karyanya. Satu diantaranya adalah Catatan Seorang Demonstran. Perjalanan hidup seorang Gie dapat kita jamah. Fenomena-fenomena besar dalam hidupnya ia muntahkan dalam setiap lembaran tulisannya. Ia tancapkan kisahnya di Gunung Semeru dengan penanya. Gie menggulirkan bongkahan batu di dalam dadanya, dan menjadikannya gerak nyata dengan menulis tinta. Lagi-lagi, pena menghidupkannya. Ia menunjukkan sebuah teater spektakuler dalam memainkan sandiwara hidupnya.
Meski waktu demikian panjang, tapi ruang kita sungguh sangat terbatas untuk menjejaki semua ceritanya. Maka, tak berlebih jika kita membiarkan tulisan-tulisan itu berkata. Biarkan sejarah mencatatnya, mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Karena kata tak pernah mati!

Yang Tertulis Akan Abadi Sebagai Pesona Perlawanan
Napoleon Bonaparte, panglima perang Perancis tersohor bahkan pernah takut dengan pena. Katanya, dia lebih baik berhadapan dengan seratus orang bersenjatakan bedil, daripada harus berhadapan dengan sebuah tulisan pena seseorang. Sang Napoleon seolah menegaskan, betapa dahsyatnya makna sebuah tulisan. Hingga ia mampu disandingkan dengan sebuah senjata bedil, bahkan mampu melebihi kekuatannya.
Lihat saja bangsa ini. Zaman penjajahan membangkitkan asa para pejuang kita dalam memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Mereka menyeret langkah melawan kemunafikan-kemunafikan. Tengoklah Bung Karno, Sultan Hasanuddin, R.A. Kartini, Chairil Anwar, dan masih banyak lagi. Kisahnya sampai saat ini masih terdengung dalam benak kita. Karena sejarah telah mencatatnya. Dan hingga kini, mereka tetap menyisakan catatan-catatan emas yang masih tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran buku sejarah kita.
Kawan! Sudah sepantasnya kita mengukuhkan diri melalui sebuah karya. Sudah saatnya kita mencegah terjadinya kemandulan berkarya. Ketika rahang tak lagi mampu menggertak, biarkan tulisan menggertaknya. Menikam segala bentuk kebiadaban zaman. Mengguyur segala bentuk ketidakadilan dengan sejuta makna yang terkandung. Merogoh segala bentuk puncak ketegangan. Menenggelamkan multikrisis yang kian menempa. Dengan mengusung sendi-sendi kebajikan. Mengumpulkan puing-puing kebenaran yang masih berserakan. Membentuk sebuah dinamika hidup yang abadi dan bermoral. Jadikan ia sejarah yang layak untuk diwariskan. Biarkan ia menjadi prasasti-prasasti indah yang siap tuk dikenang di kemudian hari. Agar generasi tak akan tersesat, meski dalam negaranya sendiri.
Jangan pernah menyumbangkan diri kita sebagai manusia yang berintellectual abortus, seperti yang pernah diungkapkan oleh Jabir, dalam menjabarkan pemikirannya tentang Sketsa Pemikiran Soe Hok Gie. Dan tahukah siapa intellectual abortus itu? Dialah orang-orang yang terlalu cepat mati (mati muda) sebelum sempat melakukan kerja besar dari pemikiran-pemikirannya.
Sekali lagi kawan, menulislah ! Jangan biarkan kertas-kertas putihmu kosong melompong, tanpa bekas sedikitpun. Jangan biarkan hatimu resah melihat ketidakberesan dunia. Jangan biarkan kebusukan-kebusukan hidup berlalu begitu saja, dan hilang diterpa angin tanpa menyisakan jejak sedikitpun. Bangkitlah dari mimpi-mimpi kosong. Jangan biarkan ketakutan seorang Taufik Ismail menjadi nyata. Menyaksikan Indonesia semakin giat melahirkan generasi yang pincang menulis. Teruslah berkarya, dan biarkan dunia melihatnya. Karena aku, kamu, kita semua,,,adalah Sang Penulis Sejati. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Tak penting seberapa banyak kesempatan yang kita miliki. Yang terpenting, seberapa banyak kesuksesan yang kita toreh dari setiap kesempatan yang kita punya.
Dan, izinkan kuakhiri goresanku dengan mengutip tulisan Soe Hok Gie (And The Sixth Rider is The Fear) dalam Zaman Peralihan yang mengomentasi tentang rasa takut, : ” Manusia, adalah apa yang dipikirkannya. Jika anda adalah seorang yang berani dan jujur, dan itu yang anda pikirkan, tidak ada sesuatu pun yang bisa mengubahnya.”
***
Makassar, 19 April ‘09

Selasa, 21 April 2009

Sajak-sajak Yana Yan

Jejak Sejarah Hari Ini

Pesta demokrasi baru saja dirayakan
Hati, mungkin mulai resah
Menanti apa jawabnya gerangan
Tak ada yang tahu
Apa yang terjadi besok, lusa, dan seterusnya
Namun,
Dengan segenap pengharapan,
rakyat terus menanti
Dengan penuh kesabaran,
rakyat terus meringkih
Adakah mimpi yang kelak nyata?
Melihat negerinya menjadi bersih,
dari noda yang selama ini tak pernah lekang

Kini,
Sejarah mulai terangsang
Mencatat segala fenomenanya
Mengukir cerita tuk hari esok
Ya, hari ini
Kan menjadi bagian kenangan masa depan
Adakah cerita indah untuk kita sisakan?
Tuk kita ceritakan
Buat anak cucu kita kelak??


Cerita tentang Rakyat


Rakyat terus mengusung kebenaran
Tapi pecuma, keadilan tak berpihak
Rakyat terus mengusung kedamaian
Tapi sayang, perdamaian tak menoleh
Rakyat terus mengusung nasionalisme
Tapi miris, orang-orang tak pernah paham
Rakyat terus mengusung kesabaran
Tapi nihil, orang-orang tak pernah sadar

Kini, rakyat hanya bisa menjerit
Meringkih dalam dekapan keluarga
Sembari menyembunyikan asa
Dan menggelindingkan ego
Karena Kau tak pernah tahu
Dan semoga bukan karena tak mau tahu

Selasa, 14 April 2009

Cerita Dibalik Penantian

Oleh: Yana Yan



“Mobilnya mana nih Nis? Kok belum nongol-nongol juga,” gerutuku kepada Nisa.
“Iya, udah jam sembilan neh. Takut kemalaman ke kota,” Alya menambahkan, lalu melangkah sedikit ke depan, mengayunkan tangannya ke samping setelah melihat penampakan sebuah mobil dari kejauhan. Bersiap-siap menghentikannya.
“Iya, sabar dikit napa? Tuh, smoga itu mobilnya. Smoga mau berhenti.” Nisa pun melangkah mendekati Alya, memasang gaya yang sama. Ini untuk yang kesekian kalinya. Setelah sebelumnya juga melakukan hal yang sama pada setiap mobil yang akan melintas. Tapi hasilnya, nihil! Kalo bukan truk, mobil pribadi, ataupun mobil pertamina saja yang melintas.
“Yahh,, mobil pribadi lagi…” aku kembali berceloteh dibelakang.
“Eh, lihat. Mobil itu berhenti!” ucap Alya sedikit lebih keras.
“Hmm,,mobil itu benar-benar berhenti. Padahal mobil pribadi. Smoga saja niatnya mau menolong kami-kami ini,” ucapku lirih, sambil bangkit dari dudukku. Berjalan menghampiri Nisa dan Alya yang sudah mendekati mobil yang berhenti itu.
“Al, Nay, naik mobil ini saja ke Pinrang kota. Bapak ini bersedia ngasih tumpangan kok,” bisik Nisa beberapa menit setelah ia berbicara dengan orang-orang yang ada di dalam mobil itu.
“Tak ada pilihan, hari semakin malam. Dari tadi kita menunggu, mobil penumpang belum datang-datang juga. Biarlah, kita numpang di sini saja. Bersyukur, sudah ada yang mau menolong kita,” jawabku, sambil menoleh ke Alya. Alya mengangguk tanda setuju.
“Ya sudah. Hati-hati ya… kasih info kalo udah nyampe.” Sambil membantu memasukkan tas kami ke dalam mobil, Nisa pun menyalami kami.
“Hati-hati…” kembali Nisa berbisik.
***
“Nay, jangan tidur ya. Tahan dulu ngantuknya. Bagaimanapun, kita harus waspada.” Alya menyodorkan HPnya, dan memperlihatkan tulisan ini. Ya, aku paham. Tidak mungkin Alya ngomong langsung ke saya, takut kedengaran ma orang-orang di mobil ini.
Meski di dalam mobil ini ada 1 orang cewek, tapi sumpah kami was-was juga. Takut kenapa-napa. Bayang-bayang kasus hipnotis bergelayut ria di benakku. Ah, semoga tidak!
Dasar aku yang sudah tak mampu lagi menahan kantuk, akhirnya tertidur juga. Peringatan Alya tadi tak mampu kuterapkan. Kelelahan pasca perjalanan dari gunung tadi benar-benar membuatku tak mampu berkutik. Aku terlarut di punggung Alya.
***
“Napa Al, udah nyampe?” sambil mengucek-ngucek mata, aku memandang keluar. Melongo kebingungan.
Kok tidak terasa? Ya iyalah, wong dari tadi udah tertidur pulas.
“Iya, ayo bangun, kita udah nyampe. Tuh, abangku udah nunggu di depan sana.” Alya pun turun dari mobil. Aku membuntuti, sambil menenteng tasku.
“Al, bayar berapa nih?” bisikku ke telinga Alya, sekecil mungkin.
“Ngga’ usah bayar kali.” Jawab Alya singkat, lalu ia mendekati mobil tadi. Menutup pintu bagian tengah, tempat dudukku tadi. Sambil tersenyum, Alya mengucapkan terima kasih kepada mereka, para penghuni yang berada di dalam mobil itu.
***
“Siapa Al?”
“Hasan, cowok yang tadi di mobil itu.”
“Ngapain malam-malam gini nelpon.”
“Ntahlah,,, katanya cuma menginfokan saja kalo dia udah di Barru.”
“Trus?”
“Dia ngajak ketemuan kapan-kapan,” jawab Alya lesu, sambil melempar badannya ke atas kasur.
“Hmm,,sembarangan tuh orang. Jangan-jangan…”
“Napa Nay?”
“Kamu juga Al, bisa-bisanya ngasih nomormu. Kamu nggak takut?”
“Ya takut juga sih. Tapi tadi benar-benar nggak mikir apa-apa. Kamu juga sih, pake acara tidur. Dibilangin nggak usah tidur.”
“Kecolongan Al, ngantuk berat. Hmm,,ganti nomor saja Al.”
“Liat nantilah. Kalo dia nelpon lagi, aku nggak bakal angkat.”
HP Alya kembali berdering…
“Nay, dia lagi!” bisik Alya.
“Nggak usah angkat!”
Panggilan itu akhirnya berhenti juga. Tapi, tiba-tiba ada SMS masuk.
Met tidur,,,Mimpi yg indah y!kpn2 gw hubungi lg, kpn & d mn qt bs ketemu. sampe ktmu d Mkssar…
“Maksudnya??!!” aku dan Alya berteriak hampir bersamaan.

Sabtu, 11 April 2009

Info FLP Lagi…

Subject: [FLP] Beasiswa “Menulis Karya Terobosan”

Salam Book House kerja bareng dengan Forum Lingkar Pena Jawa Barat mempersembahkan:
Beasiswa “Menulis Karya Terobosan”, tiga hari full dan tiga bulan masa pendampingan senilai Rp 3 juta..Kelas menulis gratis untuk 15 penulis terseleksi. Mendatangkan mentor-mentor skala nasional, ruang kelas representatif, bersertifikat, dan para alumnus berpeluang besar untuk berkarir di dunia penerbitan.
Anda akan memperoleh gratisan materi FIKSI dan NON FIKSI:
1. Menulis novel terobosan;
2. Menulis naskah anak terobosan;
3. Menulis naskah non fiksi terobosan;
4. Taktis menyunting naskah.

Mereka yang akan mengisi kelas-kelas taktis ini antara lain:
1. Bambang Trim; praktisi perbukuan, penulis lebih dari 70 buku, Direktur Salamadani Publishing;
2. Ali Muakhir; penulis 300 judul lebih buku anak, pemegang rekor MURI buku terbanyak, peraih Adikarya Ikapi.
3. Tasaro: Peraih dua kali Adikarya Ikapi, FLP Award, penulis novel best seller Galaksi Kinanthi, chief editor Salamadani Publishing.
Anda yang ingin bergabung, syaratnya luar biasa gampang.
1. Berkomitmen untuk menyebarluaskan ilmu yang didapat selama pendidikan;
2. Belum punya karya yang dipublikasikan;
3. Punya keinginan belajar yang kuat.
Anda yang tertantang, segera kirim karya tulis bertema “Buku” dalam bentuk bebas! (boleh cerpen, essay, atau features) beserta CV Anda paling lambat 1 Mei 2009 cap pos. Kirimkan naskah Anda ke Salamadani Publishing, Jalan Pasirwangi I no 3, Soekarno Hatta Bandung atau E-mail arul_bandung@yahoo.co.id
Sebanyak 15 peserta yang lolos seleksi akan diundang dalam lounching program beasiswa ini berbarengan dengan peluncuran Salam Book House di Jalan Pasirwangi No 1, Soekarno Hatta Bandung, tanggal 17 Mei 2009, bertepatan dengan Hari Buku Nasional.

CP: Ricky Cahya: 08179258215
Salman Iskandar: 081573059133
Nunung Nur Hasanah: 02270422133
nb: biaya akomodasi ditanggung peserta