must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...

Rabu, 26 November 2008

Tak Sekedar Kata


Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Besar Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan ada dan tiada….
Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sangat sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi,,,mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan “perasaan” itu pada makhluk ciptaanMu???
Perasaan kehilangan,,,perasaan memiliki,,,perasaan menyayangi,,,perasaan mencintai..
Kami tak melihat, Kau berikan mata. Kami tak mendengar, Kau berikan telinga.kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kami berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Sangat jelas, semua itu sangat berguna!
Tetapi, mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bingkah perasaan yang seringkali menjadi ’pengkhianat sejati’ dalam tubuh kami? Mengapa??!!!
Engkaulah alasan semua ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada karenaMu.
Katakanlah wahai semua pencinta di dunia,
Katakanlah, semua kerinduan itu hanya karena Allah. Dan semoga Dia yang Maha Mencinta, yang menciptakan dunia dengan kasih sayang, mengajarkan kita tentang cinta sejati. Semoga Dia memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakekatnya. Semoga Dia sungguh memberikan kesempatan kepadakita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tidak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak pernah membeku.

Butuh kesadaran global menghadapi Global Warming


Sadar tidak,,, kini hujan tidak lagi menjadi rahmat bagi kita.

Hujan baru beberapa hari saja turun, musibah banjir sudah menebarkan ”kesedihan” dan ”air mata” dikalangan rakyat kecil.

Curahan hujan dari langit secara langsung menjelma menjadi banjir yang tak bisa terbendung. Banjir menghancurkan sawah, kebun, tanaman, menghanyutkan manusia, ternak, rumah, dan harta penduduk.
Longsoran tanahpun menyusul dan menambah petaka yang diderita masyarakat.

Ada apa ...????

Marahkah Tuhan atas tindakan kita ???
Atas keegoisan kita ?????
Atas kesombongan kita ????
Dan bahkan Atas kerakusan / keserakahan kita ?????

Bosankah bumi melihat tindakan kita..???
Memperlakukannya seenaknya dan semaunya... tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun dari kita_setelah dengan enaknya menikmati segala kekayaan didalamnya..!!!

Tidakkah kita punya rasa malu sedikitpun kepadanya,,,
Kepada bumi itu..yang telah memberikan semuanya. Menyediakan segala kebutuhan kita.

Tidakkah ada rasa malu dalam diri kita terhadap semua binatang...???
kepada burung-burung itu...???
Kepada sapi-sapi itu...???
Kepada ikan-ikan itu...???
Kepada semuanya yang kita sebut mereka binatang..

Semuanya menempati bumi ini, sama seperti kita.
Tapi mereka tidak sama dengan sikap kita terhadap bumi ini.
Mereka justru lebih bertangung jawab.
Binatang itu, tumbuh-tumbuhan itu,,,mereka tetap melakoni perannya dengan wajar. Sesuai garis yang telah ditetapkan, tidak minta ini dan itu.
Semua dilakukannya dengan penuh kesadaran, seolah-olah akal pikiran itu ada pada mereka.

Mereka semua juga Memanfaatkan segala kekayaan bumi ini. Sama seperti kita, seorang manusia..!!!!
Yang katanya makhluk yang paling sempurna diantara semua ciptaanNya...
Sempurna...!!!!

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya,,,,
Yang katanya menjadi khalifah di bumi ini...

Menjadi pemimpin woeyyy,,,pemimpin!!!!!
Pemimpin atas semua yang ada di bumi ini. Bahkan semua yang ada di alam jagad raya ini.

Semua itu karena kesempurnaan yang kita miliki dibanding dengan makhluk lain.
Lantas, dimana kepedulian kita sebagai makhluk yang menyandang predikat tertinggi itu ???

Dimana wujud tanggung jawab kita atas semua yang kita miliki itu????
Pantaskah kita diberi gelar sebagai seorang ”Khalifah” itu ???
Tidakkah itu terlalu tinggi buat kita...???
Layakkah gelar itu ada pada diri kita?
Gelar yang diberikan langsung oleh Tuhan.
Dapatkah kita mempertanggungjawabkannya kelak...????

Terlalu sombongkah kita atas gelar semacam itu?Hingga tak lagi peduli dengan kejadian apa saja disekitar kita, selama kita masih bisa senang.
Selama kesusahan itu tidak menimpa diri kita...????

Sekali lagi, kemana tanggungjawab kita atas semua amanah yang kita pikul,,,???

Saya juga bingung.. Jawabnya apa.
Ketika bencana banjir bandang hanya menjadi tontonan para penikmat ”berita” di pagi hari, yang letaknya jauh diseberang sana. Di negeri orang.
Kini, telah ada didepan mata. Bahkan telah menjadi pemandangan biasa dalam negeri kita, bahkan dalam tempat tinggal kita.

Ketika tanah longsor hanya terjadi sekali dalam setahun. Paling tidak, ini tidak menyisakan sedih yang berkelanjutan dalam diri kita. Dan dapat kembali terganti dengan cerita-cerita bahagia setelahnya.
Kini, bencana itu telah menjadi topik utama dibeberapa media setiap harinya. Dan menjadikan bencana itu bukan lagi hal yang asing di telinga kita.
Sebuah bencana yang dianggap biasa-biasa saja di telinga masyarakat.
Nah, belum lagi ketika bencana angin puting beliung yang dulunya hanya terjadi di negara barat sana. Dan bahkan merupakan bencana yang tidak kita ketahui bagaimana wujudnya. Hanya menjadi bahan cerita bagi orang-orang yang berpengetahuan atau dari orang-orang terdahulu. Hanya menjadi bencana yang asing pada sebagian orang.

Kini, telah menimpa beberapa daerah di negeri kita. tak seperti biasanya, angin puting beliung menerjang ratusan tempat di berbagai titik.
Potensi malapetaka dahsyat yang secara perlahan atau bahkan mulai agak cepat dan pasti akan menjadi ancaman bagi kita sendiri.

Mungkin saat ini kita masih bisa tersenyum saja melihat bencana-bencana itu. Kita masih bisa mengeluarkan tawa meski isu ”global warming” lagi marak-maraknya di bahas di beberapa sudut dunia.
Namun, adakah senyum dan tawa itu kita miliki ketika bencana-bencana itu tlah ada di depan mata kita ??? Pasti tidaklah...tentu kita akan melakukan hal yang sama dilakukan oleh para korban amukan bumi itu.
Lalu, adakah yang mesti kita lakukan,,,? Jangan sampai kita hanya selalu dan selalu berharap semoga semua bencana itu tidak terjadi didepan mata kita.
Dengan kata lain, selama bencana-bencana itu tidak menimpa kita, kita akan terus berdiam diri di tempat kita dengan segala kesenangan yang masih bisa kita nikmati_meski kesusahan menimpa saudara-saudara kita di daerah seberang_

Segitu egoiskah kita,,,????
Tak salah lagi jika kita mengatakan, ”kerusakan alam” ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri.

Disadari atau tidak, Bumi ini kian menderita...Kasian!!! sebuah kata yang cukup mewakili...
Lantas apa yang mesti kita lakukan???
Tinggal berdiam diri,,,

Melongo dan terus menikmati sisa-sisa kekayaan bumi ini???
Lari dari (skali lagi) ”tanggung jawab”...

Ataukah kita harus menunggu komando dari para ”pemerhati & pedili lingkingan” untuk membangunkan kita dari tidur panjang kita selama ini dan menggerakkan kaki kita untuk melakukan sesuatu..???

Ataukah harus menunggu kekuatan kita bisa terkumpul sebanyak-banyaknya untuk melakukan semua itu...??
Ataukah hanya menunggu waktu hingga ”kemauan” itu ada pada diri kita...????_entah sampai kapan_

Tidak ada yang dapat kita lakukan selain melakukannya SKARANG dan memulainya dari DIRI KITA....!!!

Sekecil apapun itu, pastinya itu akan sangat membantu mengatasi penderitaan bumi kita satu-satunya.
Tempat kita berpijak, tempat kita melekatkan kaki kita, tempat kita menikmati kekayaannya, dan masih banyak lagi yang membuat kita masih bisa ada hingga saat ini.
_kalo bumi ini tenggelam, kemana lagi kita akan mengungsi????

Tentu tidak akan ada lagi tim relawan atau tim SARS_yang beberapa tahun terakhir ini cukup familiar ditelinga kita, dengan bencana-bencana itu pastinya_

Tentu tidak akan ada lagi tenda-tenda pengungsian yang didirikan oleh jejeran TNI dan kawan-kawan

Tentu tidak akan ada lagi bantuan makanan, obat-obatan, dan sebagainya yang akan diberikan oleh para dermawan
Tentu tidak akan ada lagi program peduli SCTV yang akan membantu kita

Mengapa????

Karena semua sibuk mengurus diri masing-masing. Sibuk membantu diri masing-masing. Sibuk menjadi seorang ’dermawan’ bagi diri masing-masing.

Akankah kita menunggu hari itu????
Na’uzu billahi min zalik...!!!

Tersimpan Cinta untuk Alamku


Oleh: A. Saputri Mulyanna*)

Matahari semakin terik. Seolah ingin memanggang seluruh makhluk di bawah bentangan sinarnya. Membuat kota daeng ini semakin gerah. Aku baru saja selesai kuliah. Bersama temanku Damar, aku berjalan menyusuri koridor kampus, menuju pelataran baruga. Sore ini ada agenda rapat bersama teman-teman.
***
Sore menjelang magrib. Sekelompok mahasiswa masih saja duduk melingkar di pelataran Baruga Universitas Hasanuddin, membahas masalah-masalah internal seputar lembaganya. Merekalah sekumpulan warga PENA (Pelajar Pecinta Alam). Seolah hal ini menjadi sebuah ritual bagi perkumpulan anak-anak itu. Dan aku, adalah salah satu dari sekelompok itu.
Tak lama kemudian, azan maghrib berkumandang. Panorama senja berangsur menghilang. Untungnya, rapat internal itu sudah bisa diakhiri, meski sebenarnya masih ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan. Hari ini, aku tak banyak berkomentar. Lagi tidak mood untuk berdiskusi. Kelelahan pasca praktikum tadi siang masih membatasi ruang gerakku.
Sementara, jauh di seberang jalan sana berderet Pete’-pete’ (baca: Angkot) sedang menanti ‘Langganan-langganan tak tetapnya’. Teriakan-teriakan klakson dari mobil-mobil itu tak jua menyadarkan kami untuk beranjak dari pelataran itu, menikmati jasa sopir-sopir itu. Hujan deras baru saja reda. Sebagian jalan masih saja digenangi air. Daun-daun sesekali melempari tanah dengan tetesan air hujan yang masih tersisa. Hawa dingin pun masih menyelimuti kampus merah ini.
Di taman Baruga itu, aku berpisah dengan teman-temanku. Tanpa basa-basi, aku langsung saja menyeret kakiku menuju Pete’-pete’. Tak lama, melajulah aku bersama penumpang-penumpang lain yang satu pun tak kukenal. Aku hanya berdiam diri di pojok belakang, terduduk lesu tanpa menunjukkan semangat sedikitpun. Sesekali, aku mendongakkan wajahku, untuk sekedar melempar pandangan ke seberang jendela. Tak ada yang menarik. Dan, aku memutuskan untuk tidur saja. Perjalanan ke rumahku memang cukup jauh. Sekitar 1 jam, itu kalau mengendarai Pete’-pete’ seperti sekarang ini.
***
”Fuiih,, macet lagi,,,macet lagi!!!” aku berdesah ringan. Sudah hampir 2 jam aku belum juga sampai. Padahal biasanya hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di rumah. Selama hampir sejam itu, kami masih berada di Jalan Urip Sumoharjo. Paling posisinya saja yang berubah. Tadi di depan Graha Pena. 5 menit kemudian, di depan kampus Pascasarjana UMI. 5 menit berikutnya, di depan Gedung DPRD. Sekarang, di depan kampus LP3I, dan masih di Jalan yang sama. “Makassar panas, Makassar gerah, Makassar sumpek!!” aku setengah berbisik. Aku tak sanggup lagi memejamkan mata dalam kondisi seperti ini. Meski hari sudah mulai gelap, partikel-partikel debu masih saja beterbangan bebas. Menampar wajah manusia-manusia bumi, termasuk aku.
Entah sudah berapa judul lagu selesai didendangkan. Mobil pun mulai melaju, meski belum sepenuhnya longgar. Selanjutnya, lagu tadi disusul dengan acara Kilas Info. Tak jauh beda dengan acara Sekilas Info milik RCTI. Sang Penyiar mulai menyapa pendengarnya dengan sejuta kata pamungkasnya. Tapi, aku sama sekali tak tertarik. Aku hanya ingin mendengar kabar apa gerangan yang akan disajikan saat ini. Adakah peristiwa yang membuatku tersentak? Adakah kabar tentang kondisi sang alam, kawanku? Atau kabar tentang Gunung Bawakaraengku,,,
Pendengar yang setia... sejak 2 hari terakhir, Sinjai tiada henti diguyur hujan deras. Dan akhirnya, kemarin malam, kala manusia terlelap dalam tidurnya, ternyata sebagian warga Sinjai justru tengah berjuang keras menghadapi derasnya hujan yang semakin tak terkendali. Tak tanggung-tanggung, rumah-rumah pada tenggelam. Pohon-pohon tumbang. Listrik seketika padam. Sementara, hari masih gelap gulita. Orang-orang pada sibuk mengurus jiwa masing-masing. Satu per satu jiwa yang tak sanggup bertahan akhirnya berguguran...
”Hah...!!!!” aku tersentak. Lamunanku buyar seketika! Penumpang di disampingku bahkan ikut tersentak karena ulahku. Namun aku tak peduli. Lagi-lagi, alamku mengamuk, menyisakan luka dalam jiwaku.
”Astagfirullah.. apa yang terjadi!!! Aku yakin, ada sesuatu yang tidak beres di sana,” aku kembali menerka. Panik, itu pasti. Sejuta tanya kian menari riang di benakku. Aku tertunduk, semakin lesu...mataku kupejamkan. Kemudian, aku menatap deretan pohon di pinggir jalan itu, lama! Hingga aku tak sadar mobil sudah memasuki sebuah lorong di Jalan Veteran, rumahku lewat.
”Pak, kiriiii!!!!” aku setengah teriak. Penumpang pada menoleh ke arahku, aku tak peduli, tapi dalam hati aku tertawa cengengesan . Aku langsung saja melompat turun.
***
”Retno, barusan aku mendengar berita. Semalam, ada banjir bandang di Sinjai. Tolong hubungi warga PENA sekarang juga, besok subuh kita berangkat ke sana. Alam kita kembali mengamuk!”
”Ok. Barusan aku ingin menghubungimu tentang hal ini. Kita pakai mobilku saja. Ntar aku lobi ke Ayahku, semoga bisa.”
”Jangan lupa ingatkan teman-teman untuk mengumpulkan pakaian bekas dan segala yang bisa dikumpulkan untuk kita sumbangkan,” aku mengingatkan Retno.
Ok!” Telepon pun terputus. Aku mulai berkemas. Mengumpulkan barang-barang yang bisa kubawa besok. Dari jaket, pakaian bekas, obat-obatan, sampai makanan. Aku menggerakkan orang-orang rumah untuk membantuku. Ayah, Ibu, dan saudara-saudaraku sudah memahami kebiasaanku. Mereka mengerti tentang diriku sebagai seorang kawanan pecinta alam. Sebanyak-banyaknya aku mengambil makanan di toko Ibu di depan. Tentu tak sekedar mengambilnya saja. Hal ini sudah menjadi kewajiban PENA untuk membayarnya. Ya, kebetulan kas lagi tidak kosong. Masih ada sisa dana baksos kemarin. Aku, dipercayakan oleh teman-teman untuk menjadi ketua dari PENA ini. Mau tidak mau, akulah yang mengurus segala yang diperlukan. Termasuk mempersiapkan barang-barang sebelum beraksi, seperti malam ini...
Kringgg…Kring…!!!
Aku bergegas mengangkat telepon itu. Aku yakin, itu dari warga PENA. Dan memang benar, dari Retno!
“Kenapa Ret?”
“Al, teman-teman pada nggak bisa berangkat besok pagi, kecuali Andre. Besok Ridho punya 3 jadwal final. Katanya, besok malam baru nyusul. Dedi, sekarang lagi di Rumah Sakit, ngurus adiknya yang tadi siang kecelakaan. Orang tuanya masih di Bandung, jadi sama sekali nggak bisa pergi. Nah, Joko kan masih sakit. Deni juga. Cuma kita bertiga. Gimana?” Retno menjelaskan panjang lebar, tapi aku tetap menyimak tanpa satupun terlewatkan. Meski suasana di rumahku saat ini lagi gaduh. Adik-adikku tengah asyik bermain playstation tak jauh dari posisiku sekarang.
”Ya udah, kita pergi aja bertiga. Jangankan bertiga, seorang pun kita harus pergi selama kita bisa. Itu sudah menjadi prinsip kita. Jangan sampai kita kecolongan atas kejadian ini. Trus, gimana dengan mobilmu Retno, bisa kita pakai besok?”
”Oh iya, begini Al, ternyata besok pagi Ayahku juga mau ke Sinjai, tapi dengan teman-teman kantornya. Jadi, kita sama sekali tidak bisa memakai mobil itu. Sorry, Al!”
”Mmm,,,trus gimana ya? Motor sih ada...tapi masalahnya, kan banyak barang yang mau kita bawa. Gimana ya?!!!” aku mulai bingung. Lama kami membisu. Telepon belum juga terputus. Nampaknya, Retno juga lagi berpikir.
“Atau begini saja Al. Barang-barangnya dititip saja di mobil ayahku. Kita bertiga naik motor saja. Motorku bisa di pake juga kok. Jadi, salah satu diantara kita pergi bersama Andre, gimana?” Retno akhirnya memcah kebisuan itu.
”Ya sudah, ide yang bagus. Besok subuh aku tunggu di sini. Bisa kan, Ayah kamu mampir di sini dulu ngambil nih barang-barang. Banyak banget soalnya. Aku nggak bisa nganter ke sana sendiri.”
”Ok, See U Later!” telepon pun terputus.
***
Dipagi yang buta, kami berangkat. Kicauan burung masih samar terdengar, pertanda hari masih gelap. 2 buah motor terus melaju dengan kecepatan tinggi, menerobos kegelapan itu. Angin subuh sesekali menampar kami. Kedinginan pun terus menyelimuti. Namun, dengan semangat yang terus menggelora akhirnya berhasil kami taklukkan. Biarlah mereka menjadi saksi atas perjuangan kami dalam menyelamatkan sang alam. Jejeran pepohonan disamping kiri-kanan kami seolah melepaskan kepergian kami. Terselip dari hati kecilku, pohon-pohon itu masih bisa ada.
Hari semakin pagi. Jalan yang berkelok telah kami lewati. Empat jam telah berlalu. Tinggal 30 menit lagi kami akan tiba di lokasi. Aku mulai merintih. Tak sanggup kubayangkan apa yang kelak aku lihat disana.
***
”Whats???? Astagfirullah Aldo!!!!” Retno setengah teriak kepadaku, setelah melihat sekelilingnya. Mayat berserakan tak beraturan. Sebagian jalan tak kelihatan tertutupi runtuhan rumah-rumah penduduk. Sebagian jalan di ujung jembatan longsor. Sawah-sawah tak lagi berbentuk. Pohon-pohon besar tumbang menutupi jalan raya. ”Alamku,,,” aku bergumam, tanpa satupun temanku yang mendengar. Belum lagi, bau amis semakin menari-nari di hidung kami diterpa angin. Bau itu tentu berasal dari mayat kaku yang masih berserakan itu. Sebuah pemandangan yang sungguh mengelikan. Sangat ironis!
Pemandangan lain, penduduk tengah sibuk membersihkan reruntuhan rumah korban. Mereka masih mencari-cari mayat yang terselip diantara reruntuhan itu. Dan benar saja, di sisi kanan kami aku melihat seorang bapak tengah menemukan dua orang mayat. Seorang ibu dan anak. Astagfirullah,,, berulang kali kami beristigfar. Sungguh diluar dugaan kami. Kesedihan mengguyur nurani kami.
”Aldi, mungkin seperti ini keadaan saat tsunami di Aceh,” Andre setengah berbisik sembari mendekatkan dirinya ke arahku.
”Ya, sepertinya,” Aku menjawab seadanya. Mataku masih tertuju pada mayat Ibu anak itu. Kasihan!
”Ya udah. Sekarang, mari kita mulai membantu mereka. Kita bantu mencari mayat-mayat yang belum ditemukan. Tapi sebelumnya mari kita ambil semua barang-barang di mobil Retno. Kita bagi-bagikan ke mereka,” layaknya seorang komandan, aku memberikan instruksi kepada kedua temanku. Dan, kami mulai bergerak.
Dua buah dos mie kami bagi. Tiga dos pakaian bekas, Satu kantong obat, satu dos peralatan mandi. Tak ketinggalan, dua kantong besar nasi bungkus, titipan dari Deni tadi subuh. Kami sempat mampir ke rumahnya untuk mengambil titipannya.
Kami disambut baik oleh masyarakat setempat. Guratan kesedihan masih terpantul dari wajah-wajah mereka. Sebagian matanya masih membengkak. Aku tak bisa membayangkan, seandainya aku berada di posisi mereka. Kehilangan orang tua, kehilangan saudara, kehilangan tempat tinggal. Bahkan ada yang tinggal sebatang kara. Semua anggota keluarganya tewas terbawa arus. Bayangkan saja, disaat kita tengah asyik-asyiknya melepas lelah di malam hari, secara tiba-tiba air datang dan akhirnya mencapai kurang lebih 3 meter dalam waktu yang begitu singkat. Jadi, orang-orang yang tidak sanggup lagi bertahan akhirnya terbawa arus.
”Padahal kami sudah naik di atas genteng rumah, saking tingginya air itu. Bayangkan, rumah kami rumah panggung. Dan air masih mencapai puncak rumah kami. Rumah yang sudah agak lapuk, akhirnya runtuh bersama yang punya. Kemarin malam, suasana disini sangat mengerikan. Teriakan histeris minta tolong semakin menggema, namun kami tak bisa saling membantu. Semua tengah sibuk menyelamatkan keluarga masing-masing. Kami membabi buta dalam suasana malam yang semakin gelap. Saat itu kan listrik padam. Kami juga kedinginan, semua pakaian tak ada yang mampu kami selamatkan. Air sungai dibawah sana meluap. Semua terjadi secara tiba-tiba,” seorang Bapak tengah bercerita kepada kami. Ternyata, Bapak ini belum mampu melupakan peristiwa naas itu. Bendungan air matanya akhirnya tumpah. Kami ikut berurai airmata. Retno, yang selama aku bersamanya tak pernah melihatnya menangis, juga ikut menangis. Siapa yang tidak sedih melihat kondisi ini. Nurani pasti terkoyak.
Dua hari kami berada di sana. Setelahnya, kami langsung balik lagi ke Makassar. Rasanya masih banyak yang ingin kami lakukan, namun waktu sangat tidak memungkinkan untuk tinggal berlama-lama lagi. Ibu Retno tiba-tiba sakit. Saya ada jadwal ujian final.
***
Dalam perjalanan pulang, bayang-bayang kota Sinjai masih terus bergelayut di benakku. Wajah sendu mereka yang ditinggal keluarga. Kota yang dulunya indah, kini menyisakan puing-puing reruntuhan rumah. “Alamku, maafkan aku....!”
Dan setelah itu,,,, Brukkkk!!!! Motorku menabrak sebuah pohon. Aku terpental jauh ke samping. Sementara, Ridho yang aku bonceng juga terjatuh, namun tidak jauh terlempar.

***
Hari itu kini menyisakan kenangan dalam hidupku. Aku tak mau menyalahkan bahwa karena Sinjai aku harus rela kehilangan indera mataku. Jangankan mata, apa pun akan aku korbankan demi alamku. Aku tak mau membuatnya menangis. Meski saat ini aku tak lagi berbuat banyak seperti yang dulu, tapi jiwaku masih ada untuk alamku. Telingaku masih bisa mendengar jeritan alamku. Dan yang terpenting, hatiku masih bisa merasakan penderitaan alamku.
Kini, penduduk bumi pun terbangun. Meski hari masih sangat muda, suasana kian menggeliat. Dibalik dinding kamarku, kudengar kicauan burung yang saling bersahutan satu sama lain. Kudorong kursiku dengan gaya yang malas menuju jendela kamarku, lalu membukanya. “Aaaah sejuknya…” Angin pagi menyapaku. Kurasakan suasana yang begitu damai. Membuat hatiku luluh karenanya. Kegelisahan yang sempat menderaku mulai terkikis sedikit demi sedikit.
Hari ini, tepat setahun peristiwa banjir bandang itu. Tepat setahun pula aku kehilangan indera mataku. Tepat setahun pula aku tak bisa melangkah normal. Dan, tepat setahun pula kecintaanku kepada alam semakin berlipat. Kini, di atas kursi roda ini, aku hanya bisa bernyanyi. Mendendangkan lagu menghibur alamku kala ia sedih.
Kulihat ibu pertiwi...
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Emas intanmu terkenang....
Hutan sawah gunung lautan
Simpanan kekayaan
Kini Ibu sedang lara
Merintih dan berdoa....

***

*) Ativis FLP Unhas, Mahasiswi Ners A’07 UH
Terucap salam buat keluarga besar FLP, kawan-kawan PII, dan warga IKMS. Save our earth! Jangan sering buat ia menangis...

Selasa, 25 November 2008

FLP Unhas: Bedah Buku “Muslimah Yang Ternoda” Menuai Sukses



Kegiatan bedah buku kembali digelar FLP Unhas. Setelah sebelumnya buku “Cupiderman-3G” juga pernah digelar sekitar 5 bulan yang lalu. Dengan mengusung tema ‘Mengurai Sejarah, Menuai Makna dalam Tirai Persaudaraan’, terselenggara atas kerja sama FLP ranting Unhas dengan Ustad Muhammad Nur Hidayat, TB. Mirqat, dan butik Nahla. Tak tanggung-tanggung, acara ini dihadiri oleh sedikitnya 80 peserta. Tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja, tapi bahkan dihadiri oleh beberapa Bapak-bapak dan Ibu-Ibu dari luar. Panitia pelaksana, Raidah Intizar melaporkan, tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah memperkenalkan penulis lokal dalam sebuah karya dan mengingatkan peserta akan sejarah muslimah terdahulu.
Muhammad Nurhidayat, penulis buku Muslimah Yang Ternoda juga hadir di acara itu. Beliau adalah alumni Ilmu Komunikasi FISIP Unhas angkatan 1998 dan mantan asisten Alm. Dr. Mansyur Semma. Di Kosmik (Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi). Tahun 2001, Beliau bergabung di Forum Lingkar Pena Sulsel, menjabat sebagai koordinator Pengembangan Sumber Daya Manusia. Adapun pemateri yang lain adalah Bapak Drs. Aswar Hasan, M.Si. (Ketua KPID Sulsel, dosen Ilmu Komunikasi Unhas), Ustad Ahmad Abdi Amsyir (Gemilang), Ibu Nurmita, S. Si (BKM Seruni KAMMDA Sul-Sel), dan Bapak Muh. Ichsa( Pusat Advokasi Hak Asazi Manusia ). Acara yang berlangsung di Gedung LT.8 Unhas ini dibuka oleh BapakIr. H. Nasaruddin Salam, M.T. (PR III Unhas), sebagai Dewan Pembina FLP Unhas. Ketua umum FLP Unhas, A. Saputri Mulyanna mengungkapkan, jangan pernah membiarkan sejarah berlalu begitu saja tanpa menyisakan tanya di benak Anda. Karena sejarah adalah bukti dari kehidupan yang tak pernah bohong. Beliau menambahkan, “kegiatan bedah buku ini juga sebagai salah satu rangkaian dari kegiatan Pra-TOR (Training of Recruitmen) FLP Wilayah Sul Sel yang akan dilaksanakan tanggal 26 Desember mendatang. Jadi, buat siapa saja yang ingin bergabung menjadi member of FLP, please join there. Dunia FLP, beda!!!”




persiapan pra_Launching bukuQ yg perdana @ Korea timur (adakah???!!!...^_^)

Minggu, 23 November 2008

TV, Sebuah Alternatif menuju Kebobrokan Bangsa*)




”Tak penting seberapa banyak kesempatan yang kita miliki. Yang terpenting, seberapa banyak kesuksesan yang kita toreh dari setiap kesempatan yang kita punya...”


Kemajuan dunia teknologi kini semakin nyata. Tak bisa dipungkiri, kita hidup dalam era informasi. Setiap hari kita basah kuyup oleh guyuran media yang tiada henti. Informasi-informasi di belahan dunia manapun kita sabet. Gambar, suara, gagasan, dan sensasi membombardir kita dengan kecepatan cahaya. Terkadang sebelum kita mencerna semua informasi yang baru kita terima, kita sudah diterpa oleh badai gagasan baru yang lain.
TV, sebagai salah satu media turut berperan andil atas penyebarluasan informasi itu. Serbuan pesan terus menyerang kita (kita yang menontonnya). Segala bentuk berita ditayangkan disini. Harus diakui, kini TV memiliki pengaruh luar biasa terhadap masyarakat. Aneka tayangan yang dihadirkan kepada masyarakat baik itu berupa informasi, hiburan, hingga tayangan klenik, tampaknya sudah menjadi "kewajiban" untuk ditonton. Dengan kesempurnaan TV ini, wawasan kita semakin bertambah. Pun menjadi solusi untuk menghadapi dunia globalisasi yang semakin terbuka lebar. Sehingga kita tak lagi harus menganga kebingungan atas segala perkembangan yang terjadi.
Siapa pun, tua, muda, hingga anak-anak menjadikan televisi sebagai bagian dari denyut nadi hidup keseharian. Rasanya hampa jika sehari tidak menonton TV. Apalagi, pada zaman serba instant ini, masyarakat kita yang sudah rentan karena himpitan hidupnya yang berat, media televisi adalah salah satu pelipur lara dari beratnya beban hidup.
Di lain pihak, kita tak bisa menyangkal. Ada efek samping yang ditimbulkan atas kekuasaan TV itu. Pelajar, sebagai pemegang tongkat estafet perjuangan bangsa tak luput darinya. Pelajar yang sebagian besar masih dalam kalangan remaja menjadi korban atas kekuasaannya. Remaja, telah menjadi kelompok target utama bagi media. Mengapa? Karena mereka adalah kelompok pembeli yang amat besar. Kalangan rintis dengan rakus mengantisipasi berapa keuntungan yang bisa mereka keruk dari suatu produk yang menjadi idaman para remaja. Mereka didikte tentang apa yang harus dimainkan, dikenakan, bahkan apa yang harus dimakan. Para perintis itu bahkan sangat jeli melihat apa saja yang menjadi ngetrend pada saat ini. Ironisnya, remaja-remaja banyak yang menghabiskan jutaan rupiah setiap tahun untuk sekedar membeli kaset/VCD, menonton film, menghadiri konser, dan yang paling sering menghabiskan uang hanya untuk mengoleksi pakaian. Mereka menonton TV berjam-jam. Itulah sebabnya mengapa mayoritas iklan yang berorientasi remaja bisa ditemukan pada TV. Sasaran bagi para raksasa industri ini adalah memperoleh keuntungan besar pastinya. Keuntungan inilah menjadi prioritas utama buat mereka. Moral pun dijadikan sebagai tujuan sekunder. Baik atau tidaknya tayangan yang mereka buat, itu urusan belakang.
Sebuah pertanyaan: ”Pernahkah kita merenungkan dampak media terhadap kita?” Hal ini menjadi sesuatu yang kontroversial pada saat ini. Para orangtua dan pendidik pada khususnya, prihatin atas bahaya pengaruh media terhadap anakpada umumnya, bagi mereka pelajar pada khususnya. Memang, tidak bisa dikatakan bahwa semua media bagus ataupun jelek. Pada satu sisi, media memungkinkan kita menjelajahi suatu dunia yang indah penuh dengan kesenangan dan penemuan. Sebaliknya, ada suatu dunia media yang bersifat negative dan menjerumuskan, penuh dengan pesan-pesan merusak yang dipercayai sebagian orang yang melihatnya (red: menontonnya).
Tak bisa dipungkiri, meminjam pandangan Linda Ellerbee, aktivis media literacy, dalam Parents, Kids, and Media (2005), di era televisi sebagai bentuk sentral komunikasi, keluarga memosisikan televisi sebagai pengasuh, guru, kawan, sekaligus orang tua bagi anak-anak. Itulah posisi televisi yang begitu kuat dan perkasa membentuk alam pikiran anak. Celakanya, sedikit anak yang dilatih untuk "melek" (kritis) terhadap media televisi.
Ida Ayu Wesnawiti (dalam Koran Tokoh, 26 Februari 2006) mencoba menguraikan dampak yang ditimbulkan dari tayangan kekerasan di televisi yaitu berupa peniruan terbentuknya sikap/karakter terhadap apa yang disaksikannya. Sesudah itu muncullah penyakit-penyakit sosial seperti pornografi/pornoaksi, dan perilaku-perilaku kriminal.
Berbagai tayangan televisi yang demikian sadis atau sarat dengan muatan kekerasan dapat mengakibatkan trauma bagi sebagian orang, begitu cerita Prof. Dr.dr. Ketut Suryani (Bali Post, 1 Mei 2004). Lebih jauh ia menyatakan bahwa dampak tayangan televisi bagi anak-anak di bawah umur 12 tahun yang terlalu banyak menonton, menyebabkan mereka kurang peka terhadap lingkungan. Televisi dapat juga melumpuhkan nilai-nilai dan konsep konstruktif dengan berkembangnya kebingungan soal seks.
Dampak negatif tayangan televisi sangat dirasakan bagi anak-anak pelajar. Menjelang malam mereka sering lupa belajar karena tergoda tayangan film kartun atau acara lain yang sebenarnya dirancang bukan sebagai tontonan anak-anak. Ia seperti sudah kecanduan, setiap pulang sekolah langsung mencari remote control dan mencari acara kesayangannya.
Solusi Menghadapi Pelajar Pecandu TV
Persoalan mendasar yang kita hadapi sekarang tentu saja menyangkut alternatif jalan keluar guna mengatasi permasalahan dan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dari acara-acara tayangan televisi yang kurang mendidik. Resep yang dianggap paling ampuh dalam pencegahan dan penanggulangan bahaya nonton televisi adalah semakin memperkuat daya tahan keluarga (jangan mudah terpengaruh terhadap tayangan-tayangan terutama yang bersifat destruktif).
Banyak hal yang dapat kita lakukan agar tidak dapat terjerumus ke dalam orang-orang pecandu nonton TV. Berikut contohnya :
1. Pergi ke perpustakaan atau ke toko buku terdekat. Biasakanlah diri kita untuk membaca buku. Bila sempat, sisakan waktu setiap hari. Hal ini akan menjadi kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kita. Selain menghindarkan diri untuk menonton secara berlebih, kita juga bisa menambah wawasan. Banyak informasi yang bisa kita peroleh dari buku tanpa ada efek samping yang membahayakan.
2. Bercocok tanam. TV menjauhkan kita dari alam. Padahal banyak hal yang bisa diajarkan oleh alam, dan tentu tidak bisa didapatkan dari menonton TV. Dengan belajar bercocok tanam, kita bisa mengetahui banyak banyak hal. Mulai membuat taman bunga sendiri, atau bahkan 1 pot saja. Dengan ini kita bisa belajar makna tumbuh dan bertanggung jawab. Jadi setiap kali menyiram bunganya di pagi hari, kita akan ingat bahwa tanaman, seperti kita semua itu mulai dari benih, tumbuh, berkembang dan kelak layu dan mati. Dan selalu perlu air dan matahari!
3. Melihat awan. Aneh? Mungkin. Karena kita tidak dibiasakan menikmati langit. Atau kita biasa hanya terpaku dengan indahnya bintang-bintang di malam hari. Padahal awan itu hampir selalu ada, selalu bergerak dan kadang-kadang membentuk hal-hal yang unik, seperti kuda nil, atau pesawat terbang. Kadang mereka bisa melihat 1 awan tapi dengan 2 bentuk yang berbeda. Kita juga bisa mengajaknya membuat puisi tentang awan. Atau biarkan mereka mengarang cerita tentang apa kira-kira rasanya bila kita bisa hidup di awan. Hal ini bisa memicu daya imajinasi dan kreativitas.
4. Jalan-jalan Jalan-jalan itu mudah dan murah. Tidak perlu banyak mengeluarkan uang. Jalan-jalan ke rumah teman atau sekadar berkeliling lingkungan rumah saja untuk menyapa tetangga. Kita juga bisa berjalan-jalan ke taman kota dan membuat piknik atau sekadar bermain di sana. Jalan-jalan itu baik untuk tubuh karena bisa menurunkan tekanan darah dan resiko terkena penyakit jantung. Dan yang lebih menguntungkan, jalan-jalan juga bisa mengurangi berat badan. Jalan-jalan juga bisa menenangkan pikiran dan melepaskan stres. Karena dengan berjalan, otak melepaskan zat yang bisa meringankan tekanan pada otot serta mengurangi kecemasan. Jalan-jalan juga bagus untuk lingkungan. Kalau kita lebih sering berjalan dari pada menggunakan transportasi bermesin, kita bisa menghemat 7 milyar gallon bensin dan 9.5 juta ton asap pembuangan kendaraan bermotor pertahunnya. Bayangkan!
5. Mendengarkan radio atau membaca Koran/ majalah. Anak sekarang sudah jarang sekali mendengarkan radio, apalagi membaca koran. Padahal mungin mereka bisa mendapatkan informasi yang tidak kalah banyaknya dibanding mendengarkan berita di TV. Radio bisa melatih anak untuk mendengarkan dengan baik dan koran bisa mengajak anak untuk menambah wawasannya tentang dunia.
6. Berolahraga Kadang kata olahraga terdengar berat, tapi setelah dilakukan biasanya menyenangkan. Selain jalan-jalan, bersepeda dan berenang, masih banyak lagi olahraga yang bisa dilakukan bersama keluarga. Kalau mau yang sederhana, main badminton adalah pilihan tepat. Kalau mau yang lebih menantang, pergi water rafting! Kegiatan ini menjadi ajang untuk me-refresh kepenatan otak kita. jadi, tidak perlu dengan menonton TV.
7. Bakti sosial. Kita sering lupa untuk memerhatikan orang-orang di lingkungan sekitar yang tidak seberuntung mereka. Ajak teman-teman untuk bersama-sama membersihkan rumah dan lemari pakaian dari barang-barang yang tidak lagi digunakan tapi masih bagus dan layak pakai untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan di sekitar rumah. Atau bersama teman-teman tetangga membersihkan masjid, dan banyak lagi.
8. Rapikan rumah dan halaman. Biasanya yang ini adalah tugas pembantu rumah tangga. Tidak ada salahnya untuk memperhatikan tempat tinggal kita sendiri. Karena pembantu tidak selalu ada untuk melayani (kalau toh ada pembantu). Ingatlah, bahwa pembantu disebut demikian karena tugasnya memang ’membantu’ hal-hal yang kita tidak bisa kerjakan. Bukan sebaliknya. Dengan demikian kita akan belajar untuk bertanggung jawab dan lebih menghargai orang lain. Lagipula, tinggal di lingkungan yang rapi dan bersih itu sehat dan menyenangkan bukan?
9. Ikut les. Isilah waktu luangmu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya dengan mengikuti les. Pelajaran di sekolah hanya melatih otak kiri. Jangan lupa untuk melatih otak kanannya. Ikutilah les yang menarik dan sesuai dengan bakat kita. Mulai dari les musik dengan piano, gitar, biola atau drumnya, atau les menari mulai dari tarian daerah, tarian modern dan ballet, atau les-les lainnya. Tapi ingat, jangan sampai les-les ini menambah beban belajar yang sudah menumpuk di sekolah. Pastikan kita tetap mendapatkan waktu yang cukup untuk istirahat.
10. Bercengkrama dengan keluarga. Nah ini yang mahal. Karena penelitian mengatakan bahwa 54% anak berusia 4-6 mengaku lebih senang menonton TV daripada bermain dengan ayahnya. Para orangtua juga mengaku bahwa mereka hanya menghabiskan sekitar 40 menit perhari untuk melakukan percakapan yang berarti dengan anaknya. Kedekatan dengan keluarga tidak bisa dibeli. Jangan biarkan televisi mencuri lagi waktu kita untuk keluarga yang memang sudah tinggal sedikit sekali karena terpotong aktivitas sehari-hari.
11. Belajar Sebetulnya apapun yang kita lakukan merupakan pembelajaran. Jadi belajar itu bukan hanya lewat buku. Belajar hal-hal baru yang belum kita ketahui. Belajar naik motor atau membuat sarang burung dari kayu misalnya. Belajar menjahit, belajar main basket, dan sebagainya.
12. Mengerjakan keterampilan tangan. Banyak buku sekarang yang mengajarkan membuat keterampilan tangan, sehingga kita bisa melakukannya secara otodidak. Keterampilan tangan bisa dalam bentuk bermacam ragam, mulai dari meyulam, melukis, sampai membuat bunga dari sabun mandi.
Dengan demikian, banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mengisi waktu kosong kita dengan hal-hal yang positif, tapi tidak dengan menonton.
Life is choice! Hidup memang sebuah pilihan. Begitu banyak pilihan di depan mata. Namun, keputusan tetap di tangan kita. Membiarkan TV menghancurkan moral bangsa, atau mencari alternatif lain untuk menyelamatkan moral bangsa. Jangan pernah terperdaya oleh segala rayuan dan bualan sebuah benda kecil bernama TV. Mari kita taklukkan! Tunjukkan kedewasaan kita dalam menyikapinya.

*) A. Saputri Mulyanna,
Dikutip dan diolah dari berbagai sumber, untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya (Hasil Revisi makalah Intermediet Training PII Sul Sel)

Kamis, 20 November 2008

tak sekedar khayal

12 Juli 2008
Rabb... impianku terwujud
memandang lebih dekat gedung besar itu
bukan sebuah istana,
bukan pula gedung mewah berlantai 'tak terhingga'
tapi, itu menyisakan kemewahan tersendiri dihatiku
Senang...!!! itu pasti
UI,, kampus pilihan Indonesia berhasil ku terobos
Tentu atas izin-Mu
Lagi-lagi ku ucapkan syukur tiada terkira


12 Juli 2008
Aku melangkah, melangkah, dan terus melangkah...
Entah tersisa berapa langkah lagi
Dan akhirnya sampai!
UI....!!!kau begitu megggaahhhh!
Salut jadinya...
Harapan untuk mengukir ilmu masih tersisa
Meski ku sadar, itu tak lebih dari sebuah bayang-bayang semu
Jalan demi jalan, lorong demi lorong, terus kulalui tanpa lelah
Semangatku masih berkuasa olehnya
Aku berpikir dalam diamku
Aku tersenyum dalam khayalku
Aku mengigau dalam anganku
Aku menerawang dalam tatapanku
Aku di sini, kampus pilihan sejuta umat
Kampus impian orang-orang
UI!!!
Kemegahan bangunannya begitu menakjubkan
Tak sanggup ku membayangkannya jika ia hadir di kotaku kelak, Makassarku!
Bukan nanti, tapi skarang!!!
Besar harapan untuk memilikinya
Besar niat untuk bersamanya
Mengukir dan menggali segudang ilmu

Jakarta,,,I’m coming !!!


* 11 Juli 2008
08.00 WIB

Sepintas, aku merenung...
Menyasikan kota raksasa ini, Hebattt !!!
Refleks kata ini terucapa dalam lisanku
Ketakjubanku padanya sungguh tak bisa ku tutupi
Jauh dari lubuk hatiku, aku mengakuinya
Namun, rasa takjub itu tiba-tiba pudar
Luntur di tengah teriknya sang dewa siang yang semakin membumbung tinggi
Ada sisi lain yang secara tak sengaja tertangkap oleh mataku
Berhasil menyempurnakan kebingunganku sendiri
Hakekat kehebatannya tak lagi mampu kurasa
Jakarta selain hebat, ia juga GANAS !
Aku tak kuasa menahan kecewa
Ada rumah kumuh tak layak huni
Dengan segala kekurangan di sana, melebihi kesederhanaan di desaku
Ada pula manusia-manusia tak berakhlak, pencopet!
Dan akhirnya aku tersadar
Jakarta bukanlah surga yang penuh kenikmatan dengan segala kesempurnaannya
Orang-orangnya bukan pula malaikat,
Yang terlahir sebagai manusia sempurna
Sepertinya, aku harus memasang kedua lensa kacamataku
Bukan salah satunya saja
Biarku bisa melihat dengan sempurna
Segala sisi pun bisa kusaksikan
Aku laksana bermimpi
Skali lagi mimpiku nyata!
Mobil terus melaju
Menerobos jejeran bangunan-bangunan itu
Menjulang tinggi menggapai langit
Kudongakkan kepalaku ke atas
Jauh... nyaris tak ber-ujung
”Kau semakin kokoh saja,” bisikku
Buat apa gerangan kau tercipta?
Buat manusia-kah, sang pencari kerja?
Tapi, mengapa sang penganggur masih berserakan
Logika-ku semakin tak karuan memikirkannya
Sepertinya memang masih banyak ruang utnuk menampung mereka kan?
Tapi mengapa mereka tak jua punya ruang untuk hidup?
Ataukah kau yang terlalu pelit untuk menerima mereka?
Atau,,, kau memang tak mau lagi menerima mereka?
Tidakkah kau meras kasihan melihat mereka termakan keganasan hidup?
Tidakkah kau meras miris melihat kehidupan mereka yang semakin terjepit?

Rabu, 19 November 2008

Mengapa Harus Keperawatan?


Terkadang, aku terbentur pada sebuah pertanyaan yang cukup menggelikan bagiku: “Mengapa Harus Keperawatan?”. Aku sedih… ternyata aku sendiri tak dapat menemukan jawabannya. Hampir setahun waktu berjalan, selama itu pula aku menjadi salah satu penghuninya. Rasa denial ternyata belum jua hengkang dari memoriku. Hingga akhirnya, aku menetapkan sebuah pilihan: Kembali SPMB ulang!!(kini UMB). Semangat yang begitu membuncah untuk meninggalkan ‘keperawatan’ membuatku tak perlu mengucap kesah saat antrian panjang di depan gedung registrasi, bersama calon maba lainnya. Bayang-bayang FK selalu saja datang menghantui. Semangat itu semakin menjadi. Tepat sehari sebelum UMB terlaksana, kebimbangan maha dahsyat datang menyerang. Sebuah pertanyaan baru datang bertandang di memori kecilku: “Mengapa Harus Meninggalkan Keperawatan?”.
Malam hari yang sepi, airmataku berurai tak tertahankan. Aku membiarkan…Tak ada yang tahu. Dalam sebuah sujudku, aku mengadu pada_Nya. Sembari memohon: Tunjukkan aku jalan yang lurus, Ya Rabb!!! Aku kembali menangis sejadinya, di hadapan_Nya. Tak ada yang tahu...
Hari selanjutnya, seolah mendapat sebuah ilham semangat untuk bergabung kembali di keperawatan muncul kembali. Sementara, bayangan FK semakin memudar. Memoriku kembali merekam sempurna ucapan Mama tempo hari: Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya. Aku kembali mengeja kalimat itu, kata demi kata. Hingga akhirnya aku tersadar, aku tidak bersyukur! Ini keputusan Ilahi, usaha maksimal tlah kujalankan. Tapi Dia punya rencana lain. Aku tak boleh membantahnya!
Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, begitu seterusnya.

Minggu, 16 November 2008

Seluk Beluk Pengesahan UU Pornografi


Prakata
Pertengahan bulan Oktober kemarin, isu pornografi semakin gencar diberitakan di hampir setiap media seluruh tanah air. Terkhusus, tentang pengesahan RUU Pornografi. Maraknya pemberitaan akan hal tersebut seolah membuat masyarakat Indonesia kembali terhentak. Hingga akhirnya, terjadilah aksi besar-besaran di beberapa titik di tanah air. Beberapa elemen masyarakat yang tergabung dalam pihak yang Pro dan pihak Kontra atas pengesahan RUU tersebut hadir dalam aksi itu. Hasilnya, ada 2 kubu dalam ‘pertarungan’ itu.
Teriakan-teriakan : ’Tolak Pornografi!!’ sempat membahana di hampir seluruh pelosok tanah air, menuntut pemerintah mengesahkan UU pornografi. Di sudut lain, pihak yang kontra terhadap pengesahan RUU pornografi menjadi sebuah undang-undang pun tak kalah getirnya. ’Tolak Pengesahan RUU pornografi!!’, kurang lebih begitu bunyi teriakannya. Hingga terjadilah aksi saling teriak. Di sudut kanan ditempati oleh kubu yang pro terhadap pengesahan Undang-undang pornografi, di sudut kiri ditempati oleh kubu yang kontra terhadap pengesahan Undang-undang pornografi.
Hari Kamis, tanggal 30 Oktober, tepatnya pukul 13.15 WIB akhirnya tercatat sebagai sebuah sejarah baru di negeri ini. RUU Pornografi disahkan sebagai sebuah undang-undang!!! Ketukan palu itu berdasarkan hasil kesepakatan dalam Rapat Paripurna DPR yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono di Gedung DPR/MPR Jakarta. Meski sebelumnya telah terjadi aksi ‘tawar-menawar’ terhadap RUU tersebut. Desas-desus Pro dan Kontra akhirnya terjawab.

Mengapa Harus Dengan Pengesahan RUU Pornografi?

Tak bisa dipungkiri, memasuki era globalisasi, gejala westernisasi semakin jelas dampaknya. Aksi pornografi semakin memperlihatkan keberadaannya. Imbasnya, masyarakat Indonesia menjadi korban. Parahnya lagi, tak hanya menimpa kalangan dewasa saja, anak di bawah umur pun (red:dibawah umur 17 tahun) tak ketinggalan. Akhirnya, dampak dari pornografi tersebut semakin menjalar. Sebut saja free sex, terjadinya tindakan-tindakan kriminalitas (seperti pernikahan di bawah umur, pencabulan/pemerkosaan, dsb), meningkatnya angka pelaku aborsi, sikap konsumtif di kalangan remaja semakin tak terkendali hanya untuk memiliki VCD porno, etika semakin tersingkirkan, moralitas anak bangsa menyusut, dan masih banyak lagi dampak dari pornografi tersebut. Ironisnya, pornografi menjadi sebuah momok menakutkan. Masyarakat menjadi resah dibuatnya. Betapa tidak, korban yang didominasi oleh kaum hawa dalam usia yang masih sangat belia itu, menuntut siapa saja yang melihatnya menjadi sangat miris. Sembari mengusap dada, lalu berkata: Astagfirullah! Lantas, apa yang akan kita lakukan untuk bisa keluar dari permasalahan ini?
Kalau nasi sudah menjadi bubur, kalau telur sudah terlanjur pecah, apalagi yang akan kita perbuat selain menerima kenyataan itu? Bukankah bubur tak bisa lagi kembali menjadi nasi? Pun begitu dengan telur, tak dapat lagi kembali dalam bentuk semula kala terlanjur pecah. Nah, haruskah peristiwa itu terus terjadi?
Sebagaimana yang tercantum dalam harian umum Pelita, edisi 30 Oktober 2008, dikatakan bahwa: ”Prinsip dalam RUU ini adalah non-diskriminasi, sehingga nantinya UU ini berlaku tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) serta tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. UU ini juga akan berlaku bagi siapa saja yang ada di wilayah Indonesia serta menempatkan semua WNI pada posisi yang sama di depan hukum. RUU tentang pornografi juga menjaga prinsip kebhinnekaan. Substansinya sudah memperhatikan adat istiadat, seni budaya dan kebhinnekaan di masyarakat Indonesia.”
Sebuah referensi dalam warnaislam.com mengatakan bahwa: ”hadirnya Undang-Undang Pornografi merupakan bentuk pernyataan tegas bangsa Indonesia bahwa pornografi merupakan sebuah masalah sosial bukan sekadar masalah moral, menjamin kepastian hukum, memberikan sanksi yang bisa menimbulkan efek Jera, perlindungan terhadap warga negara terutama anak-anak. Dengan lahirnya Undang-Undang Pornografi, kita berharap Indonesia memasuki babak baru ke arah yang lebih baik.” Semoga!

Benarkah UU pornografi = Solusi ???
Setelah melihat fenomena-fenomena sebagai tumbal pornografi tersebut, kini tertanam sebuah tanda tanya besar di benak kita: Benarkah pengesahan RUU Pornografi adalah sebuah solusi?
Pengesahan rancangan undang-undang pornografi menjadi sebuah undang-undang, diharapkan bisa menjadi solusi untuk bisa keluar dari berbagai keterpurukan tersebut. Tapi, bukan berarti UU ini hanya satu-satunya solusi. Undang-undang ini adalah salah satu solusi atas masalah tersebut. Langkah selanjutnya, melakukan follow-up atas UU itu. Jangan sampai hanya tersimpan sebagai sebuah dokumen belaka, tanpa ada realisasi dari apa yang telah disepakati. Langkah awal, perlu sosialisasi dari pemerintah atas UU tersebut. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan isi undang-undang itu. Bukan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Selanjutnya, tergantung ketegasan dari pihak pemerintah dalam penerapan undang-undang ini.
Mengutip isi dari berita harian umum Pelita, edisi 30 Oktober 2008 bahwa: ”Implementasi UU tentang Pornografi, menurut menteri, akan terkait dengan sejumlah ketentuan hukum lainnya, termasuk UU No 01/1946 tentang KUHP, UU No 32/2002 tentang Penyianan, UU No 40/2003 tentang Pers, serta UU No 23/2003 tentang Perlindungan Anak. Menteri Agama mengatakan RUU Pornografi telah memperhatikan prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi masyarakat dari dampak negatif Pornografi .Sesungguhnya RUU ini merupakan perlindungan bagi masyarakat dari dampak negatif pornografi, katanya.”
Yang terpenting, kesadaran seluruh elemen masyarakat dalam mematuhi undang-undang ini. Mengutip apa yang sering diterakkan oleh orang-orang awam: Peraturan tercipta bukan untuk dilanggar, tapi untuk dipatuhi!!!


Brownies Itu…



Minggu siang, di sebuah kafe, aku dan teman-teman SMA mengadakan acara reunian. “abaDi “ kafe tempat perkumpulan itu. Ini yang pertama kalinya sejak kelulusan kami. Lima tahun lamanya, kami nyaris tak pernah ketemu. Paling hanya satu dua orang, tidak sebanyak ini. Dan sekaranglah saatnya melepas rindu, merekam kembali kenangan indah saat sekolah dulu. Untuk sementara, kesibukan-kesibukan kuliah terlupakan.
Aku sangat senang. Maklum, selama ini aku hanya menjalin komunikasi dengan Fitri, sahabatku. Eh, pernah juga ketemu dengan Nejad di sebuah acara pernikahan. Dan belakangan baru tahu, ternyata kami sepupu-an. Ga’ nyangka sama sekali. Nejad yang selama sekolah dulu paling aku benci karena sikapnya yang over banget, ternyata saudara ‘sekian’ kaliku. Dunia memang sangat sempit! Sedangkan teman-teman yang lain…yah, paling komunikasinya cuma lewat SMS doang. Atau lewat nelpon kalau lagi kelebihan pulsa.
***
Mataku menerawang ke atas, tertabrak pada langit-langit kamarku yang sudah usang namun tak bernoda. Maklum, tadi pagi baru saja kubersihkan setelah sekian lama sarang laba-laba bergelantungan disana. Pikiranku melayang tak karuan. Malam, kini semakin larut. Perlahan sinar rembulan tak lagi menyelimuti bumi. Deru kendaraan yang gemar berlalu-lalang di jalan depan rumahku perlahan semakin sepi. Beberapa menit kemudian, sayup-sayup kudengar pentungan berbunyi 12 kali. Aku yakin, pentungan itu berasal dari Pos Kamling di seberang sana. Ya, tanpa kusadari aku menghitungnya. Hari, kini berganti hari. Pasti orang-orang akan semakin terlelap dengan mimpi-mimpinya. Pun begitu dengan Ayah dan Ibu, mereka pasti sudah tak sadarkan diri. Apalagi Retno, saudara tunggalku yang hanya berselisih 3 tahun dengannya, sejak tadi dia sudah merangkul guling kesayangannya di sampingku. Sementara aku, jangankan tidur, sekedar memejamkan mata saja rasanya teramat sulit kulakukan.
Wanda, tak sepantasnya kamu bertindak sprti itu di depan Ayya. Dia hanya seorang manusia, tempat khilaf & kekurangan berlabuh. Sama seperti kita. So, jgn pernah memelihara dendam di hati kita. Toh kita jg pasti prnah mengukir kesalahan, sama seperti dirinya. Tuhan sj Maha Pemaaf,, lalu apa yg kita sombongkan hingga tak mau memaafkan orang lain??
Begitu isi SMS dari Fitri, kira-kira satu jam setelah aku meninggalkan acara reunian tadi. Hatiku semakin tertusuk tajam. “Bukan karena Ayya, Fit. Tapi….Brownies itu!!!” aku berucap lirih. Tak terasa, buliran air mataku tak terbendung lagi di pelupuk mataku, tumpah tak terkendali. Akhirnya, benteng pertahananku kembali runtuh. Berusaha kutegarkan diriku, tapi tetap tak berhasil. Aku tak berdaya. Kesepian malam semakin membuatku larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Aku menyerah,,,
Kejadian tadi sore masih menyisakan cerita dalam ruang khayalku, yang akhirnya memaksa memori kecilku untuk merekam sempurna kenangan pahit 2 tahun lalu. Padahal, sekian lama aku telah berusaha untuk bisa melupakannya. Dan hari ini, bayang-bayang itu semakin menghantui, kembali menikam pikiranku sendiri. Aku pun tak dapat menolak, sosok Maya memenuhi seluruh ruang ingatku. Kembali membangunkanku dari tidur lelapku. Tidur yang berhasil membuatku melupakan kejadian naas itu.
Di sebuah pagi yang sangat cerah, namun ternyata tak seindah mentari dipagi itu. Satu kejutan yang tiba-tiba menghampiriku, sebagai garis awal petaka itu. Semula, aku sangat senang. Aku mencapai puncak kebahagiaan, yang kemudian membuatku terperangah bukan main, dengan mata terbelalak, dan mulut menganga lebar. Sebuah mobil berwarna biru muda terparkir asing di garasi samping rumahku, persis belakang mobil Kijang milik Ayah. Awalnya aku berpikir bahwa mobil itu milik teman Ayah, tapi ternyata bukan. Cek per cek, ternyata mobil itu adalah kado di hari ulang tahunku itu. Ternyata mereka masih ingat denganku, putrinya yang tercinta, meski mereka selalu dirundung kesibukan yang sungguh luar biasa padatnya. Kurasakan kesenangan yang membuncah tak terkendali. Membuatku tak sanggup lagi berkata-kata. Bukan hanya karena mobil itu, tapi perhatian Ayah dan Ibu padaku….kasih sayangnya! Oh My God!!! Ciuman dan pelukan hangat pun kuberikan pada mereka, Ayah dan Ibu.
Ternyata, garis kebahagiaanku terhenti sampai disitu. Kala itu, kebetulan aku dan teman-teman se-Gank sudah ada planning untuk nonton bareng di Studio 21 Mall Panakkukang. “Film Nagabonar Jadi 2” menjadi pilihan kami. Meski sebelumnya, kami harus melakukan musyawarah demi mendapatkan hasil mufakat. Istilah dalam kamus kami, “rapat keputusan”, telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan gank kami sebelum mengambil sebuah keputusan . Sore itupun tiba. Aku berniat menjemput mereka dengan mobil baruku. Sekalian sebagai ajang perkenalan. Ayah dan Ibu setuju-setuju saja dengan niatku itu. Mereka sudah yakin dengan kemampuanku mengendarai mobil di tengah kota. Sebelum Kak Dedi berangkat ke Jepang, beliau sudah mengajarku mengendarai mobil. Meski awalnya, aku sangat takut tapi lama-lama akhirnya ketagihan juga. Aku bahkan sudah beberapa kali mengantar Ibu ke tempat kerjanya kalau Ayah lagi keluar kota.
***
Niat baikku ternyata disambut baik oleh semua teman-teman seGank-ku. Maya apalagi, katanya dia tak perlu lagi mengeluarkan duit untuk naik Pete’-Pete’ (baca: Angkot) ke manapun dia pergi. Aku pun bahagia bisa berbagi kesenangan dengan teman-temanku. Dua jam berlalu. “Film Nagabonar Jadi 2” sudah kami santap habis. Saat kami keluar dari bioskop pun, kekocakan film itu masih menyisakan tawa diantara kami. Hingga, secara tak sadar kami mencuri ucapan Bang Naga (Dedy Miswar) dalam film itu: ‘Apa kata dunia??!!!’. Derai canda dan tawa semakin menghiasi perjalanan kami menuju kafe Chocolatoz, tempat mangkal kami. Boleh dikata, kafe itu telah menjadi tempat persinggahan kami tiap kali pulang kampus. Bahkan tak jarang, kami melakukan rapat internal di kafe itu. Sedikit lagi, bisa-bisa kafe itu menjadi sekret kami. Maklum, suasana di kafe itu sungguh sangat nyaman. Selain murah, kafe itu sungguh sangat bermoral di mata kami, beda dengan kafe-kafe lainnya. Bagi pengunjung tak berpakaian rapi alias berpakaian ala preman, sangat dilarang masuk, bebas rokok, dilarang membawa senjata tajam masuk ruangan, apalagi membawa obat-obat terlarang. Pokoknya
securitynya sangat disiplin. Jadi wajar saja, pengunjung kafe itu sudah pasti rapi-rapi dan yang paling penting lagi pengunjungnya adalah orang baik-baik. Bayangkan saja, security itu memeriksa setiap pengunjung yang ingin masuk, kecuali kami. Hampir semua karyawan di sana telah mengenal kami. Bahkan pernah kami dikasih gratis makan. Katanya biar kami semakin rajin nongol di situ.
Udara panas yang sempat menyelimuti kota Makassar memaksa kami untuk memesan Es teler sore itu. Baru kali ini kami memesan makanan yang sama, biasanya tak ada satupun diantara kami yang memilih jenis makanan yang sama. Alasannya, biar kami bisa saling mencoba makanan yang satu dengan yang lainnya. Terkadang, makanan siapa saja yang dianggap enak biasanya akan disantap bareng. Imbasnya, makanannya pasti akan cepat habis.
“Btw, aku mau nagih janji nih!” aku memulai perbincangan itu, membelah kebisuan diantara kami, karena sibuk melahap esnya masing-masing. Tanpa ada yang mengomando, wajah mereka terangkat. Semua mata tertuju padaku. Untuk meningkatkan kadar penasaran mereka, aku langsung saja tunduk, dan kembali melahap Es telerku.
“Janji apa sih, Wan?” Umma mulai memuntahkan pertanyaan padaku, tanda penasarannya belum hilang.
“Iya Wan. Siapa yang punya janji. Kayaknya saya tidak deh.” Uswah yang duduk disampingku pun berkomentar. Selanjutnya terjadi aksi tatap-menatap diantara mereka. Sementara aku kembali meneruskan makanku.
“Ada yang mengaku pernah berjanji padaku untuk memberikan makanan kebangsaanku tepat saat aku berusia 20 tahun?” aku berucap tanpa mengangkat wajahku sedikitpun ke arah mereka. Pura-pura sibuk mengunyah buah yang ada di Es teler itu. Tak perlu lagi kujelaskan kepada mereka apa itu makanan kebangsaanku. Toh mereka sendiri bakal tak ada yang bertanya lagi apa itu makanan kebangsaanku. Aku bahkan sudah dijuluki Mrs. Brownies. Adikku Retno, bahkan ikut-ikutan manggil aku dengan julukan itu. Tak apalahhh…
Lama, tak ada yang berkomentar. Sepertinya mereka lagi sibuk beradu perang dengan pikirannya masing-masing. Mencoba menguras abis ingatannya. Dan akhirnya,,,
“Ooww,,,sepertinya pemilik janji itu aku deh. 2 tahun lalu kalo nggak salah ingat ya, Wan?” akhirnya Maya mengakui. Beruntung Maya tak mengidap penyakit amnesia. Dia masih saja melayangkan tatapannya ke arahku. Aku tahu betul, Maya adalah sosok manusia yang sangat tidak tenang kalo janji-janjinya belum dia tepati. Apalagi kalo ber-utang. Paling lama, dia ber-utang 3 hari. Kalo uang kirimannya sudah ada, pasti dia langsung mengalokasikannya ke orang-orang tempat dia ber-utang.
“Mmm,,Ohh ternyata Maya pemilik janji itu. Maybe!!! Maybe Yes, Maybe No,” cepat-cepat kujawab pertanyaan Maya, sebelum tatapan itu berubah menjadi titik hipnotis. Aku menjawabnya enteng, membuat yang lain semakin bengong.
“Yup, aku yakin. Akulah pemilik janji itu. Hampir aja lupa, untung Wanda kasih ingat. Tenang saja, habis ini, aku akan terbang ke toko seberang membeli kue kebangsaan Nona Wanda,” kata Maya sambil memicingkan matanya ke arahku, lalu trsenyum tipis, manis sekali. Aku tak menyangka, Maya bakal secepat itu ingin menebus janjinya. Setelah melahap habis Es telernya dan yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa, dia akhirnya bangkit. Lalu kemudian menyalami kami satu per satu. Ini diluar kebiasaan Maya. Biasanya dia langsung nyerocos pergi tanpa bekas.
“Doakan, semoga aku bisa berhasil menebus janjiku dan mendapatkan makanan kebangsaan Nona kita yang satu ini,” begitu katanya sebelum pergi meniggalkan kami, menuju toko Birth-cake di jalan seberang sana. Sebelumnya, mereka menatap kami satu per satu secepat kilat, lalu memamerkan cium jauhnya kepada kami. Dasar…!!!
Kami akhirnya melepas kepergian Maya, tanpa seorang pun yang menemani. Dinding kafe yang terbuat dari kaca bening membuatku merasa leluasa menyaksikan segala yang terjadi di luar sana. Ketika Maya sudah memasuki toko kue itu, mata kami akhirnya kembali ke posisi semula, tertuju pada semangkuk Es teler yang sebentar lagi akan habis.
“Kasihan juga si Maya, pergi beli kue sendiri!” aku berkata lepas, tanpa berharap komentar dari mereka.
Lima menit kemudian, akhirnya Maya keluar juga dari toko itu lengkap dengan jinjingan kantong berwarna putih di tangan kanannya. Hatiku bersorak. Betapa tidak, sebentar lagi aku akan bertemu dengan makanan kebangsaanku. Memang rasanya tidak afdhal bagiku kalau seminggu saja tak mencicipi Brownies itu. Tatapanku terus tertuju pada setiap langkah dan gerakan tubuh Maya. Aku berharap-harap cemas menanti kedatangan Browniesku tersayang. Bayangan si Coklat manis terus menari indah di memoriku. Tiba-tiba,,,
Brukkk…!!!! Plakk…!!!!
“Hahhh…!!!” aku terhentak. Bayangan si Coklat manis menghilang. Mulutku menganga lebar bagai buaya kelaparan, menyaksikan pemandangan kelam di hadapanku. Maya tertabrak..!! Sebuah mobil Kijang Silver tak kuasa mengendalikan mobilnya. Aku melihat jelas Maya merasa sangat kebingungan yang sudah terlanjur berada di tengah jalan. Antara maju atau mundur. Teriakanku membuat semua orang yang ada di dalam kafe itu kaget. Termasuk ketiga temanku. Aku tak peduli. Kepanikanku memaksaku berlari mendekat ke jalan itu, tempat Maya ditabrak. Ketiga temanku mengekor.
Semakin mendekat, semakin berat rasanya kaki ini kulangkahkan. Kantongan putih yang dijinjingnya tadi berubah menjadi merah. Brownies kini terpotong dengan sendirinya, sebagian berada di dekat mulut Maya, yang lain tersebar jauh di tengah sana. Airmataku meluap melihat kondisi Maya yang sungguh menyayat hati. Ia meringkih sejadinya, lalu akhirnya tak sadarkan diri. Aku, dan ketiga temanku tak kuasa menahan tangis kala tubuh mungil Maya yang terbalut darah diangkat masuk ke mobil Ambulans. Lumuran darah di sekujur tangan dan kepalanya cukup menjadi symbol tentang kondisi Maya yang sedang kritis. Derai tawa kini berganti duka. Berkas bahagia dan kesenangan tiba-tiba menghilang.
Memasuki ruang UGD sebuah Rumah sakit ternama di kota Daeng ini, Maya tlah tiada. Nyawanya melayang dihempas angin malam. Tiada pernah kami duga sebelumnya. Si Pemilik janji itu rela meninggalkan kami. Tak ada yang mengira, salaman dan cium jauh dari Maya adalah wujud permohonan izinnya kepada kami. Tak ada yang menduga, kesenangan yang terhimpun saat acara nonton tadi adalah perkumpulan terakhir bersamanya. Bahkan tak pernah terbaca dalam pikiran kami, tatapan Maya tadi sore seolah ingin menyampaikan ucapan perpisahannya kepada kami. Kami terlalu bodoh untuk membaca gelagat aneh yang Maya tunjukkan kepada kami tadi sore.
“Kalau saja aku tak menagih janji itu. Kenapa aku membiarkan ia pergi seorang diri??!!” aku berteriak lemah, duduk tertunduk di kursi pojok lorong UGD itu, menyesali tindakan yang kulakukan kepadanya. Berkali-kali kuhujat diriku, tanda penyesalan yang teramat sangat. Bahkan aku tak mampu memaafkan diriku sendiri. Sebentar lagi, mayat Maya akan keluar, tertutup kain putih. Tak ada lagi si Penepat Janji. Tak ada lagi wajah lugu dan manis menemani perjalanan hidup gank kami. Rasanya begitu singkat untuk merasakan kebahagiaan hidup bersamanya. Berulangkali Uswah, Umma, dan Anti mencoba menenangkanku. Tapi tetap saja, penyesalan semakin bertubi menusuk-nusuk dadaku. Aku pun sesak. Sesak oleh perbuatanku sendiri. Kebahagiaan yang meluap-luap sejak pagi tadi, kini berakhir tragis dengan kepergiannya. Mengapa harus nyawamu yang menjadi taruhan atas Brownies itu? Mengapa kehilangan dirimu yang menjadi kado di hari ultahku? Mengapa perayaan hari jadiku kuawali dengan tindakan konyolku? Setumpuk pertanyaan terlontar dari mulutku. Aku tak kuasa menahan sedih.
Aku kembali teringat oleh isi SMS dari Maya tadi subuh, sebelum aku terbangun dari tidurku. Ternyata SMS itu adalan pesan terakhir darinya...
Apa kamu tahu hubungan antara 2 biji mata? Mereka berkedip bersama, bergerak bersama, menangis bersama, melihat bersama, dan tidur bersama…Meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain. Persahabatan seharusnya seperti itu. Kehidupan bagai neraka tanpa sahabat. Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika orang lain menjauh. Karena persahabatn itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata yang menangis. Dan saat mata yang menangis, tanganlah yang menghapusnya
***
Buliran air mataku kini semakin mengalir deras membasahi pipiku. Sejak itu, kehadiran Brownies akan menambah luka sukma untukku. Memoriku pasti dengan sangat cepat merekam kembali peristiwa naas yang terjadi 5 tahun lalu. Makanya, aku sangat membenci si Coklat manis itu. Melihatnya, akan menambah kebencian pada diriku sendiri. Hentakan jarum jam terasa semakin terdengar di tengah kesepian malam ini. Malam semakin larut, namun mataku tak jua ingin terpejam.
“Fit, seandainya kamu tahu tentang Brownies itu...!!!” aku bergumam.
Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…

Selasa, 11 November 2008


Tema: Tawaran Solusi Akademika terhadap lingkungan saat ini

Only One Earth

“ Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…”

Sebuah fakta yang tak dapat terelakkan, Indonesia yang katanya kaya akan sumber daya alamnya justru tak mampu memberikan kesejahteraan sepenuhnya. Sangat ironis memang. Sawah terbentang luas. Bahkan dengan bangganya kita memamerkan padi-padi yang sudah kuning keemasan siap panen. Hutan dengan segala sumber produk didalamnya, turut menambah kekayaan itu. Pohon-pohon pun berjejer rapi dari Sabang sampai Merauke. Laut juga terhampar dari utara ke selatan, pun dari barat ke timur. Seolah ingin meneriakkan ke seluruh pelosok bumi: “Lihatlah aku!!”
Seiring bergulirnya waktu, ternyata kekayaan itu hanya menyisakan luka yang tak sepantasnya dimiliki oleh sebuah negara yang bermodal tinggi, layaknya Indonesia. Sadar atau tidak, terkadang hujan tak lagi menjadi rahmat bagi kita. Hujan baru beberapa hari saja turun, musibah banjir sudah menebarkan kesedihan dan menyisakan air mata. Curahan hujan dari langit secara langsung menjelma menjadi banjir yang tak bisa terbendung. Banjir menghancurkan sawah, kebun, tanaman. Tak hanya itu, nyawa bahkan bisa menjadi taruhannya. Longsoran tanahpun menyusul dan menambah petaka untuk dipikul masyarakat. Akhirnya, segala bentuk kekayaan tadi hilang tak bermakna. Hal ini tak hanya berlaku untuk kalangan ke bawah saja. Kalau bumi sudah mengamuk, tentu semua kalangan turut merasakan. Tengok saja pengalaman kemarin, saat Tsunami menyapa kota Aceh dan sekitarnya. Ia hadir sebagai peristiwa yang telah mencuri perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dunia bahkan dibuatnya sedikit menoleh. Nah, tak ada diskriminasi atas siapa yang akan menjadi korban. Si Kaya dan Si Miskin, sama-sama menanggung susah. Mungkin saat ini kita masih bisa tersenyum saja melihat bencana-bencana itu. Kita masih bisa mengeluarkan tawa meski isu ”Global warming” lagi marak-maraknya di bahas di beberapa sudut dunia.
Namun, adakah senyum dan tawa itu kita miliki ketika bencana-bencana itu tlah ada di depan mata kita ? Pasti tidak! Tentu kita akan merasakan hal yang sama dilakukan oleh korban amukan bumi itu. Sedih! Potensi malapetaka dahsyat secara perlahan atau bahkan mulai agak cepat, pasti akan menjadi ancaman bagi kita sendiri. Ada apa?? Marahkah Tuhan atas tindakan kita? Atas keegoisan kita? Atas kesombongan kita?Dan bahkan atas kerakusan kita? Memperlakukan semaunya tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun dari kita. Setelah dengan enaknya menikmati segala kekayaan didalamnya..!!! Tidakkah terbersit rasa malu dalam diri kita sedikitpun kepadanya. Kepada bumi itu, sumber dari segala kebutuhan kita. Sejuta tanya mungkin sempat terbendung dalam benak kita. Benarkah Indonesia ditakdirkan dengan kondisi demikian? Mungkinkah hal ini telah menjadi takdir Tuhan yang tak dapat lagi diubah? Rasanya sangat sulit untuk mengiyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Bukankah Tuhan sendiri yang mengatakan, bahwa Ia tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri.1) Lantas, apa yang mesti kita lakukan sekarang? Melongo dan terus menikmati sisa-sisa kekayaan bumi ini? Semoga tidak! Sangat naif, jikalau kita menjadikan orang sebagai tumbal atas sikap kita. Kita yang berbuat, pastinya kita yang bertanggung jawab.
Mari kita amati pernyataan Alm. Mansyur Semma, seorang pengamat politik Universitas Hasanuddin: “Bila ada kebijakan nasional menanam sejuta pohon sebagai simbol kepedulian memeliharan lingkungan dan mengurangi pemanasan global, maka perlu ada kebijakan nasional untuk meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan puluhan juta anak-anak, perempuan, jompo, dan penyandang cacat. Bukankah kebodohan dan kemiskinan menjadi sumber masalah bagi rendahnya kesadaran terhadap lingkungan hidup?” 2)
Memaknai pernyataan Beliau, tak bisa dipungkiri bahwa kesadaran lingkungan kita memang masih rendah. Keserakahan masih tak terkendali. Sengaja atau tidak, ternyata bumi ini kian menderita. Benarkah ’kerusakan alam’ ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri? Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik demi kelestarian sebuah lingkungan hidup? Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan ‘perut’, hal inilah yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan, sebagaimana apa yang dituliskan oleh Alm. Mansyur Semma di atas. Jika disebutkan bahwa jumlah orang-orang miskin di Indonesia telah mencapai puluhan juta orang (Bank dunia menulis angka 49 juta)3), maka ’kemarahan alam’ ini semakin menambah jumlah itu. Dalam keadaan susah begini, sungguh tega para perusak hutan. Jangankan turun tangan membantu rakyat yang jadi korban, mereka bahkan rame-rame atur siasat baru untuk pindah lokasi menjarah dan merampok alam. Sungguh memprihatinkan! Jangan sampai kerusakan alam ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri.
Kita boleh berdalih bahwa mereka, Sang Penjarah hutan itu, juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. No bodys perfect. Betul! Tapi jangan sampai kita hanya membiarkan kasus itu mengalir begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Kita tentu tak ingin membiarkan angin menghapus jejak kelam itu begitu saja. Sederet kasus dan peristiwa yang pernah menerjang Indonesia, idealnya menjadi sampel buat kita. Layaknya dalam kehidupan manusia, semakin banyak masalah yang menyerang, semakin banyak pula peluang baginya untuk menjadi sosok manusia dewasa. Lahirnya sederet masalah dan peristiwa, tentu akan memberikan peluang yang besar pula kepada kita untuk bersikap lebih dewasa. Tentu jika kita memang berniat untuk lahir menjadi pribadi dewasa. Setiap bencana yang terjadi hendaknya menjadi cermin lebar buat kita, buat masyarakat Indonesia. Sebagai benda mati, cermin itu tentu tak akan menghampiri kita untuk memantulkan bayangannya. Jadi, kita yang harus berkaca pada cermin itu. Berkaca pada setiap masalah dan peristiwa yang telah terlanjur ada. Jangan sampai kita terus terjatuh pada lubang yang sama.
Mengutip teori 3 M-nya Aa Gym: “Mulailah dari hal yang terkecil, Mulailah dari sekarang, dan Mulailah dari diri kita”. Mungkin terdengar sangat sederhana buat teman-teman, tapi tidak untuk saya. Teori ini mengandung makna yang begitu dahsyat buat saya. Bukankah untuk melakukan sebuah perubahan selalu dimulai dari hal-hal yang terkecil? Benar pepatah yang mengatakan: “Ala bisa karena biasa”. Di tengah kondisi real saat ini, harus ada penerapan sikap yang harus kita laksanakan. Karena itu bukan menyangkut masalah kepentingan siapa mendapatkan apa. Sekecil apapun usaha itu, pastinya akan sangat membantu mengatasi penderitaan bumi kita satu-satunya. Jangan sampai Indonesia terus kecolongan bencana. Setiap bulan bukannya berganti musim, tapi justru berganti korban dan bencana. Semoga tidak! Kalau bumi ini tenggelam, kemana lagi kita akan mengungsi?
Think globally, act locally. Berpikirlah secara global, dan berbuatlah secara lokal. Ungkapan ini sepertinya sudah tak asing lagi di telinga kita. Saat dimana isu Global Warming lagi marak-araknya diperbincangkan, orang-orang ramai meneriakkan: Think globally, act locally! Lantas, sejauh mana implementasi dari teriakan itu? Tentu bukan teriakan-teriakan lagi yang kita perlukan. Bukan perdebatan lagi yang kita nantikan untuk keluar dari masalah ini. Retorika-retorika seindah apapun bentuknya, hanyalah sebuah fatamorgana belaka tanpa ada pengaplikasiannya. Sebab, dalam sejarah manusia, pengaplikasian itu jauh lebih penting.
Berbicara tentang sebuah pengaplikasian, tentu tak lepas dari sebuah kesadaran. Memang tak gamblang berbicara tentang sebuah kesadaran. Karena hal itu akan kembali kepada setiap individu. Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif. Begitupun cara kita menyikapi segala permasalahan yang ada. Termasuk permasalahan lingkungan hidup yang tak pernah kunjung usai. Jangan sampai lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan kita sendiri. Lalu selanjutnya kita saling lempar tanggung jawab. Apa kata dunia?!!
Berdasarkan fenomena tersebut, di manakah bentuk tanggung jawab kita? Sebagai bahan renungan: Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang. Dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka? Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi jitu. Solusi yang tak hanya sekedar solusi. Tapi solusi yang terus diperbaharui. Solusi yang memiliki tindak lanjut ke depannya. Hal terpenting adalah adanya penerapan kesadaran seluruh elemen masyarakat. Kesadaran akan arti pentingnya peranan lingkungan hidup. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Disini, pemerintah dituntut untuk berperan aktif dalam merealisasikannya. Alternatif lain adalah perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa kesadaran lingkungan tak hanya milik kaum pelajar saja. Tapi juga kepada lapisan masyarakat. Alasan lain, perlu penerapan persyaratan AMDAL dalam dunia bisnis. Misalnya dalam proses pembangunan. Jangan sampai, peningkatan kegiatan pembangunan dewasa ini justru berperan utama dalam kerusakan lingkungan.
Kawan! Masyarakat kini semakin kritis. Tanpa disadari, ternyata perkembangan pembangunan hanya menyisakan momok menakutkan bagi sebagian masyarakat. Akankah pembangunan ini memberi keuntungan? Akankah pembangunan itu dapat mendamaikan, memadukan, dan menyelaraskan bisnis dan profil lingkungan yang sehat, aman, dan produktif ? Atau justru hanya membawa malapetaka?
Andai semua elemen masyarakat bisa bersatu untuk menyelamatkan bumi yang tunggal ini. Andai semua elemen masyarakat punya kesadaran untuk bersikap lebih arif terhadap bumi satu-satunya ini. Tapi, bukan saatnya kita berandai-andai. Sekaranglah saatnya kita bergerak melakukan sebuah perubahan!
Akankah keindahan bumi pertiwi hanya menjadi kamuflase yang tak kunjung ada? Semoga tidak! Kalau memang ingin bersikap untuk memberikan solusi yang terbaik demi kelestarian sebuah lingkungan hidup, maka mulailah sekarang. Do it now!
“Kegelisahan akan kehidupan terkadang membuat kita tak lagi berpikir jernih. Kegelisahan yang bersumber dari keprihatinan atas kondisi sekitar akan menjadi modal utama untuk bergerak dan tak hanya tinggal diam”


1) dalam Q. S. 13:11
2) dibawakan dalam sebuah talk show tentang Global Warming @ PKPUnhas, tahun 2007
3)(FAJAR, Rabu 28 Novemeber 2007)



*) Penulis adalah Aktivis FLP Ranting Unhas,
Mahasiswi Ners A’ 07 Unhas

Minggu, 09 November 2008

Mimpi Yang Sempurna

Sinjai, 21 Juni 2008)

Segala sesuatu berawal dari niat. Niat menjadi acuan atas segala tingkah. Niat adalah cermin atas sikap yang akan kita ukir nantinya. Kala niat itu baik, maka goresan yang diukir pun akan baik. Niat tak jauh beda dengan motivasi. Selalu ada yang membuat kita semakin semangat untuk berbuat. Kita sekolah, tentu ada motivasi. Kita membaca, tentu ada motivasi untuk apa kita melakukanya. Bahkan, kita makan pun tentu ada motivasi yang menjadi dasar. Semua butuh motivasi, termasuk ketika kita menulis. Untuk apa kita menulis? Kebutuhan ekonomi yang semakin mencekikkah? Pengembangan bakatkah? Atau hanya sekadar mengisi kekosongan waktu?
Setiap orang punya motivasi tersendiri dalam menggoreskan penanya. Taufik Ismail menulis karena berniat menyambung kembali mata rantai sastra yang hampir terputus. Mengeluarkan masyarakat Indonesia dari generasi nol buku. Habiburrahman El Shirazy ingin mengeluarkan bangsa dari kebejatan moral yang mengintainya. Taufiq Ismail dan Kang Abik menulis untuk perubahan. Perubahan untuk mencerahkan. DR. 'Aidh al-Qarni, penulis La Tahzan, menulis karena ingin menjauhkan setiap insan dari bayang-bayang kesedihan, kecemasan, dan keputus-asaan hidup. Saya. Untuk apa saya menulis? Segudang alasan saya siapkan untuk menjawabnya. Pertanyaannya memang teramat simpel. Tapi butuh jawaban yang sangat kompleks.
Bagi saya, menulis adalah sarana yang paling mudah untuk berbagi. Semacam terapi instan kala stress mendera. Wadah mengeksplorasi selangit ide dan imajinasi tanpa batas. Juga medan dalam melatih kepekaan diri dan nurani. Menulis adalah upaya mengristalkan alam pikiran dalam lembaran-lembaran kertas. Mencipta kecerdasan yang kreatif. Menulis bagi saya merupakan bukti nyata atas segala ide yang sempat terucap. Juga sebagai tempat pengaplikasian diri dengan segala idealisme yang kita pegang.
Untuk sebagian orang, menulis dijadikan sebagai ajang mengumpulkan uang. Dunia komersialisasi terjamah olehnya. Salahkah hal demikian? Saya rasa tidak. Sah-sah saja tentunya. Saya pun tak bisa menafikan hal itu. Bukankah Joni Ariadinata memilih menulis untuk melawan keganasan kebutuhan ekonomi? Bukankah Asma Nadia tergugah hati menjadi penulis untuk menyelamatkan keluarga dari ketidakberdayaan kemiskinannya? Tapi jangan lupa. Materi bukan prioritas utama. Ada makna yang jauh lebih hakiki yang harus kita raih. Kita tak boleh lupa bahwa menulis adalah memberi seperti wejangan Eka Budianta, sang penyair seangkatan Rendra. “Menulis kata berarti membangun masa depan yang produktif, kreatif, dan menyenangkan.” Kata Craig O Harra dalam bukunya yang berjudul Philophies of Punk. Craig O Harra, seorang pengelola penerbitan buku punk AK Press.
Tahun 2001 menjadi milik DR. 'Aidh al-Qarni. Kala bukunya “La Tahzan”, menjadi best seller. Namanya menjulang tinggi. Seolah dunia kepenulisan menjadi miliknya. Lima tahun berikutnya (tahun 2006), kesempatan emas berpindah tangan ke Habiburrahman El Shirazy. “Ayat-Ayat Cinta” miliknya, menjadikannya sebagai raja pena. Tak ada yang tak mengenal dirinya. Semua sibuk memperbincangkan karya mega-best seller itu. Segudang gelar pun disabetnya. Tak berapa lama kemudian, terlahir lagi Andrea Hirata. Melalui novel tetraloginya (Laskar Pelangi, Edensor, Sang Pemimpi, dan nyusul yang keempatnya). Nama Andrea Hirata tak kalah hebohnya, bak selebriti yang asyik diperbincangkan orang-orang. Mereka telah menjadi penulis ulung yang namanya sudah dan hampir mendunia. Tak ada yang mengira sebelumnya. Mereka genggam kejayaan lewat menulis.
Saya pun menjadikan mereka sebagai sumber inspirasi dalam berkarya. Saya ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Saya ingin melalui tulisan orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Kekaguman kepada penulis-penulis handal seringkali membuat saya iri. Ada tantangan dalam diri ini untuk membuat goresan indah. Saya ingin seperti mereka_(Pengarang-pengarang tadi). Bukunya dinikmati banyak orang. Itulah mimpi saya. Mimpi yang akan saya jadikan motivasi untuk menulis. Buat saya, menjadi penulis adalah mimpi yang sempurna. Bukankah mimpi yang membuat orang berhasil meraih cita? Bagaimana kita akan melakukan suatu hal yang nyata, jika tidak berani bermimpi. Selagi mimpi masih gratis, maka bermimpilah!
Impian menjadi penulis seringkali terbayang. Hingga memacu saya untuk berlatih lebih giat lagi. Terus menyulam usaha, mengait benang demi benang. Saya berharap kelak benang-benang itu akan menjadi sebuah rangkaian karya yang indah. Dan menjadikan sulaman itu berbentuk karya yang dapat dinikmati banyak orang. Bahkan dengan penuh rasa bangga memilikinya. Berhasil atau tidak, semua tergantung usaha. Dan pengalaman yang akan menjadikan kita semakin mengerti apa arti dari keberhasilan dan kegagalan dalam penulisan.
Saya kembali teringat perkataan Norman Vincent Peale, seorang pemikir terkemuka dunia. Beliau berkata : "Anda pasti bisa, jika Anda pikir Anda bisa". Nasihat bijak inilah yang saya jadikan pemicu dalam menapaki hidup ini. Kawan! Keyakinan akan mampu mengalahkan segalanya. Ingat itu!
Saya yakin, sepanjang abad ini manusia terus menulis. Mencatat segala sisi kehidupan yang dialaminya. Namun, bentuk catatan itu berbeda-beda. Ada yang tertuang dalam bentuk tulisan pada setiap lembaran kertas. Adapula yaang tercatat hanya dalam memori kecilnya, otak. Saya tahu, otak adalah salah satu tempat penyimpanan segala bentuk file yang kita punya. Tapi ketahuilah, otak tak hanya tercipta untuk itu. Masih banyak file-file lain yang jauh lebih penting untuk disimpan di sana. Maka, tulisan adalah alat terbaik untuk menyimpan segala file.
Saya pernah mendengar, katanya menulis itu dapat mengobati stress. Saya mencoba membuktikannya. Saya pun menulis. Setiap warna kehidupan yang saya temui, saya tulis. Tak peduli warna itu cerah, kusam, ataupun gelap. Semua saya lampiaskan. Saya jadikan menulis sebagai kesempatan untuk menuang segala gundah yang kadang mendera. Pun saya jadikan sebagai tempat untuk menyampaikan keluh tanpa ada yang mencaci dan memerotes. Dan akhirnya? Ucapan tadi terbukti. Segala gundah berhasil saya tepis. Pelampiasan ego dan emosi tertuang penuh di sana. Tak lagi memenuhi ruang dalam otakku, yang terlampau sesak dengan segala kompleksitas masalah yang dihadapi. Hingga hatipun dibuatnya menjadi lapang. Tak ada beban.
Bagi sebagian orang, menulis adalah ladang beramal. Disinilah pengaplikasian segudang ide tertuang. Mengikat setiap makna hidup yang diperoleh. Lalu kemudian di-share kepada orang lain. Hingga membuat orang-orang menjadi tahu. Dan akhirnya mereka bisa keluar dari ruang pencariannya. Dan ini yang saya inginkan. Sejatinya, setiap goresan yang saya ukir dapat menjadi jawaban dari setiap pertanyaan yang ada. Saya ada atau tidak, saya ingin jawaban itu terus ada. Maka tulisan-tulisan itulah yang kelak akan menjawabnya. Saya ingin keberadaannya akan terus dinantikan oleh sang penantinya. Bahkan hingga meninggalkan dunia fana ini, tulisan saya tetap menjadi amal jariah. Menjadi sumber ilmu bagi banyak orang. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat buat orang lain? Dan saya ingin menjadi wujud manusia itu. Menjadi manusia yang paling baik. Ya! Dengan menulis saya akan mewujudkan itu. Karenanya, menulis adalah bukti pemberian yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tapi satu hal yang tak kalah pentingnya, keikhlasan dalam memberi. Segala bentuk tingkah tidak akan bermakna kala keikhlasan ditanggalkan. Pun demikian ketika kita menulis. Menulislah dengan penuh ketulusan. Karena tanpa ketulusan, tulisan tak ada artinya. Bukan pahala yang dituai atas ladang yang telah kita rawat. Tapi kesia-siaanlah yang akan menjadi ganjaran atas tingkah kita.
Kata orang, menulis itu butuh bakat. Bagi saya, menulis itu butuh latihan. Saya berdalih pada teori Thomas Alfa Edison. Beliau menyatakan bahwa sukses itu adalah 1 % karena bakat dan 99 % karena kerja keras. Menulis adalah sebuah keterampilan. Dan setiap keterampilan harus terus dilatih secara rutin. Dengan demikian, keterampilan itu lambat-laun akan terbentuk. Layaknya seorang bayi yang baru belajar merangkak. Kadang terjatuh, lalu nangis. Tapi setelah itu, dia tetap bangkit. Bayi itu selalu berusaha sekuat mungkin sampai dia benar-benar bisa berjalan. Jadilah seperti bayi itu. Tak kenal lelah, tak kenal rasa bosan dan putus asa.
Kata orang, menulis itu susah. Ya! Memang susah buat mereka yang tidak pernah mau mencoba. Karena idenya hanya terbayang di benaknya, tanpa pernah dituangkan dalam goresan penanya. Pernahkah kita memperhatikan seekor anak burung yang belum bisa terbang? Bayang-bayang ketidakmampuannya untuk terbang selalu menghantui. Namun, seiring berjalannya waktu ia terus berlatih dalam setiap kesempatan yang ada. Berucap “I believe I can fly..!!!” Hingga hadirlah dia sebagai seekor burung yang pandai terbang. Bukankah segala keberhasilan berasal dari sebuah ketidaktahuan? Burung-burung itupun demikian. Sang bayi pun demikian. Kita harus tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa yang harus dilakukan untuk meraihnya. Tak penting seberapa banyak kesempatan yang kita miliki. Yang terpenting, seberapa banyak kesuksesan yang kita toreh dari setiap kesempatan yang kita punya. Maka tiada kata yang ingin saya lafadzkan selain “Menulis, menulis, dan menulislah!”

confusious say:


"kemenangan bukan karena kita tak pernah jatuh. tapi akan selalu bangkit setiap kali ia terjatuh"

Senin, 03 November 2008

"Asa Yang Nyari Hilang"

“Ah, anak itu lagi…” gumamku dalam hati. Pandanganku tak lepas darinya. Tubuh yang penuh dengan balutan debu itu semakin menarik perhatianku. Dengan pakaian tak layak pakai yang turut menyelimuti seluruh tubuhnya, membuatnya semakin bertambah kusam. Belum lagi, topi bulukan yang semakin tertancap rapi di kepalanya. Adapula sandal jepit dengan warna tak senada dengan pasangannya, turut melekat sempurna di kedua kakinya. Pemandangan yang sama seperti hari kemarin, saat aku berpapasan dengannya, di koridor fakultasku. Sejuta tanya akhirnya menghiasi benakku.
Matahari semakin terik, seolah ingin memanggang semua makhluk di bawah bentangan sinarnya. Belum lagi, angin panas yang tak bosan-bosannya menampar mahasiswa sekitar kampus ini, termasuk aku. Tenggorokanku semakin meronta ingin diguyur minuman dingin. Namun, aku tak mempedulikannya sedikit pun. Rasa haus yang telah mencapai batas maksimal membuatku tak jua bergeming sedikitpun. Tatapanku masih saja tertuju pada gadis itu. Kucuran keringat yang sedari tadi membasahi kerah bajunya, tak pernah membuatnya berucap desah keluh. Kulihat semangat yang masih menggelora dalam dirinya, membuatnya semakin lincah mengais tong sampah itu. Tak ada malu dan keraguan sedikitpun yang tampak dari tingkahnya. Satu per satu, gelas aqua bekas dengan lincah dimasukkannya ke dalam karung usang yang sedari tadi dijinjingnya. Dan semakin bertambahlah asa dalam dirinya. Kuluman senyum pun menghiasi wajah manis itu. Tanpa kusadari, wajah ini turut mengukir senyum tipis melihat aksi gadis itu. Entah aku terhipnotis olehnya atau gimana, aku pun tak tahu. Melihat tingkahku yang agak aneh dari biasanya, Yulis, yang sedari tadi berjalan bersamaku, dirundung kebingungan yang teramat sangat. Saat aku menghentikan langkahku dan memilih untuk duduk di taman baca depan fakultasku, aku yakin dia hanya melongo menatap diriku yang sedang mengumbar tatapan asing ke arah gadis itu.
“Hajrah, ada apa dengan anak itu? Jangan-jangan kamu punya utang dengannya?? Atau dia yang berutang kepadamu?” Yulis bertanya sinis kepadaku. Aku tak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Aku menangkap ada rasa tak suka oleh Yulis terhadap gadis itu. Ah, entahlah…
Utang? Pertanyaan Yulis barusan membuatku sedikit terusik. Namun, pandanganku belum juga terputus dari gadis itu. Hah? Anak itu duduk melantai tak jauh dari tong sampah itu. Gadis itu menunduk, lesu! Tak lama, ia berganti posisi, dengan lutut dilipatnya setinggi dada dan kedua tangan menopang wajahnya. Ada apa?!! Rasa penasaranku yang tak dapat kubendng akhirnya membuat tubuhku bangkit dari tempat duduk ini dan berniat ingin menghampiri gadis itu. “Waktu yang sangat tepat!!!” aku berteriak dalam hati.
“Yulis, aku nggak jadi ke kantin. Kalau mau, kamu duluan saja. Maaf, aku nggak bisa nemanin kamu. Aku punya urusan dengan gadis itu,” tanpa menunggu jawaban darinya, akhirnya aku meninggalkan Yulis menuju gadis itu. Sekitar tujuh langkah dari tempat gadis itu duduk, langkahku terhenti seketika. Aku kaget. Gadis itu menangis! Yup, kesedihannya kian nyata, tak tersembunyi. Tak ada lagi senyum manis yang barusan aku saksikan dari wajahnya. Tak ada lagi semangat menggelora yang ia pantulkan dari tubuhnya. Wajahnya tetap saja tertunduk, tapi aku bisa melihat genangan air mata yang terbendung di sana. Aku mulai ragu untuk mendekatinya. Tapi akhirnya, aku berhasil menepis keraguan itu.
“Permisi, maaf mengganggu Dik…” aku mulai menyapa. Sontak gadis itu kaget dan dengan terburu-buru mengelap matanya yang masih basah. Dia mengangkat wajahnya menatapku, lalu kembali memaksa memasang senyum manis yang tadi sempat hilang, sambil memperbaiki posisi duduknya. Ya, senyum itu adalah paksaan, tapi tetap saja manis. Ia kemudian menggulirkan bongkahan batu yang sejak tadi telah menyesaki rongga dadanya. Matanya pun masih menyisakan airmata yang sebagian sudah mengering.
Aku semakin mendekat. Sapaan basa-basi penghantar perkenalanku dengan gadis itu kian gencar kulontarkan. Mungkin gadis itu sudah men-cap aku sebagai manusia SKSD (sok kenal sok dekat). Ah biarlah, toh gadis ini menyambutku dengan penuh suka cita. Tak ada beban dalam dirinya akan kedatanganku di sisinya. Meski_sekali lagi_ kesedihannya masih tersisa di balik tubuh kumalnya. Setelah melewati fase perkenalan dengannya, aku mengetahui bahwa namanya adalah Rina, gadis berumur 13 tahun. Dia tinggal di salah satu kelurahan di Antang. Meski aku tak tahu pasti nama desa itu, tapi aku sudah bisa memastikan bahwa tempat ia tinggal sangat jauh dari kampusku ini. Apalagi, ia ke sini tanpa berkendaraan alias berjalan kaki. Tanpa diceritakan pun aku sudah menebak dari kemarin bahwa ia adalah salah satu komunitas pencari uang dengan mengumpulkan gelas-gelas aqua bekas itu. Tumpukan gelas aqua bekas di dalam karung kumal itu dapat menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang pemulung gelas aqua bekas.
Satu hal yang membuat hatiku cukup miris mendengarnya, ternyata dalam usia yang masih sangat belia itu, ia telah menjelma sebagai tulang punggung keluarganya. Dan aku yakin, tuturan langsung dari gadis belia itu akan mengoyak sanubari siapa saja yang mendengarnya. Oh My God!!! Dialah yang harus membiayai adiknya yang masih kecil. Ibunya? Ternyata ia tak begitu mengenal sosok seorang Ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan adiknya, saat ia menginjak usia balita. Selain dekapan sayang, ia harus rela kehilangan sosok pejuang super-woman yang setiap saat siap mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Dan Ayahnya? Ia adalah sosok manusia yang tak punya kasih apalagi tanggung jawab terhadap kedua anaknya. Saat Rina menginjak usia 6 tahun, sosok yang dipanggilnya Ayah itu tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Entah karena apa dia meninggalkan kedua anak tak ber-Ibu itu. Rina cuma bisa menyimpulkan bahwa kepergian ayahnya tak lain karena kehidupan ekonomi dalam keluarganya yang semakin mencekik. Ternyata Rina telah merasakan kebiadaban hidup yang semakin buas ini. Ia telah tercipta sebagai insan yang terkungkung oleh tirani kezhaliman seorang Ayah. Kasihan…!!! Seketika aku teringat wajah sendu Ibu di kampung sana. Aku sungguh beruntung masih bisa merasakan dekapan hangat dan kasih dari seorang Ibu. Meski kini kasih Ayah tak dapat lagi menemaniku, tapi setidaknya dulu kasih itu pernah menjalar di seluruh tubuh mungilku.
“Mungkin Ayah sudah tak mampu lagi membiayai kami. Makanya beliau meninggalkan kami bertiga di gubuk reot peninggalan Ibu, dalam kondisi Sita, adikku, menderita demam yang sangat tinggi. Tapi untung Bu Asih, tetangga sebelah bersedia merawat Sita. Beliau pun telah kami anggap sebagai Ibu kami, sekaligus sebagai keluarga kami satu-satunya, meski tak ada sama sekali hubungan kekeluargaan sedikitpun diantara kami.” Rina bercerita panjang lebar, dan akhirnya bendungan airmata di pelupuk matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah sudah. Aku terharu, seketika horizon kesedihanku runtuh. Diriku tak mampu lagi berkuasa atasnya. Namun, sekuat mungkin aku berusaha tidak menangis di hadapannya. Tanpa ada yang mengkomando, aku merangkul gadis itu, mencoba menghiburnya. Tapi, dia melepas rangkulan tanganku.
“Aku adalah anak yang sangat kotor dan bau Kak. Sangat tidak pantas kakak bersikap seperti itu kepada anak seperti aku. Bahkan mungkin aku adalah titik yang dapat merusak pemandangan indah di kampus ini,” ucapnya polos.
Aku kaget dengan ucapan Rina barusan. Aku berusaha mengerti apa yang dia maksud. Lalu aku mencoba mengalihkan situasi. Aku beranjak dari dudukku, dan berlari kecil menuju tempat penjual makanan ringan dan minuman dingin tak jauh dari tempat kami duduk. Aku membeli beberapa bungkus snack, juga minuman dingin 3 kotak. Kemudian, kembali ke sisi Rina dan menyerahkan seluruh makanan yang aku beli. Awalnya, Rina menolak. Tapi aku memaksa, akhirnya dia menerimanya.
“Aku tahu, kamu pasti haus dan lapar,” begitu kataku kepadanya. Dia kembali menyumbangkan senyum manisnya untukku. Sudah lama aku sangat merindukan suasana seperti ini. Berbagi kasih…
Sementara, jauh di pojok sana, sepasang mata memandang keakraban diantara kami.
***
Setelah suasan cukup cair, aku berusaha mencari celah untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Aku ingin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikiranku, tentang tangisnya barusan, semua tentang dirinya. Aku ingin menjawab rasa penasaranku yang tak dapat kukendalikan.
“Mmm, tadi Rina kok nangis? Dari tadi kakak perhatiin dari jauh, kalau Kakak boleh tahu ada apa ya? Siapa tahu kakak bisa bantu,” aku kembali mencuri perhatiannya. Ia kemudian terdiam sesaat, memandang ke depan, lalu kembali melanjutkan makannya. Lama pertanyaanku dibiarkan menggantung. Aku hanya terdiam menunggu sepatah kata keluar dari mulutnya. Aku tak ingin memaksanya. Biarlah ia berucap setulus mungkin, tanpa ada paksaan dariku.
Sementara, angin semakin sering saja menghentakkan kekuatannya di sekujur tubuhku. Mungkin Rina juga merasakan hal yang sama. Suasana di kota daeng ini rasanya begitu tak bersahabat. Terpaan angin yang idealnya memberikan kenyamanan dan kesejukan bagi siapa saja yang disambarnya, ternyata hanya memaksa kita mengucek-ngucek mata karena kemasukan debu. Aku terkadang bingung, mau salahkan siapa atas ketidaknyamanan ini?
Samar-samar, aku mendengar desahan nafas panjang. Ternyata desahan itu milik Rina. Ia baru saja menghabiskan 2 bungkus snack yang aku berikan, dan sekotak minuman dingin itu. Nampaknya, ia agak gelisah. Apa karena pertanyaanku tadi? Aku tak berkutik, pura-pura tak tahu kegelisahan itu. Lama kami terhanyut oleh kebisuan, akhirnya Rina bersuara. Tapi sebelumnya aku sempat mengulang pertanyaanku yang kedua kalinya.
“Tadi, aku begitu senang bisa mengumpulkan gelas aqua bekas yang lumayan banyak dari kemarin. Tapi,,,” ucapa Rian terputus. Aku mengernyitkan dahi, menunggu lanjutan ucapan Rina. Lipatan 3 lapis garis pun terbentuk di sana.
“Aku kemudian teringat dengan almarhumah Bu Asih. Sebelumnya, beliau,,,beliau mengidap penyakit Demam Berdarah, dan sudah sangat parah. Uang hasil timbangan gelas aqua bekasku mana cukup untuk membayar biaya pemeriksaan Bu Asih ke Rumah Sakit...” Mata Rina kembali tergenangi airmata.
“Rasanya, aku,,,aku adalah manusia yang sama sekali tak tahu berbalas budi kepada orang sebaik dia...” Rina kembali melanjutkan ucapannya, lalu menundukkan wajahnya dengan kedua tangan menutup wajah itu.
“Belum lagi, Sita yang hingga saat ini belum kami temukan.”
“Memangnya Sita ke mana Rin?”
“Sit..Sita hilang 4 hari yang lalu, tepat seminggu setelah kematian Bu Asih. Tapi tetangga bilang katanya Sita diculik oleh orang-orang suruhan Ayah. Katanya Si,,Sita ingin dijual oleh Ayahhh….” Akhirnya kesedihan Rina membludak. Ia menangis tersedu, tapi tak mengeluarkan suara yang dapat mengganggu orang-orang di taman itu.
Kesedihanku semakin tak terkendali. Airmataku tumpah membasahi wajahku. Cepat-cepat aku mengelapnya, jangan sampai Rina tahu aku menangis di hadapannya. Aku merasakan cobaan yang terlampau berat oleh seorang gadis seusia Rina. Tiba-tiba aku teringat dengan janjiku sebulan yang lalu. Aku ingin mengadopsi seorang gadis jika operasi kakiku lancar dan berakhir dengan selamat. Dan saat itu, Ibuku mengiyakan. Memang, selama ini aku mendambakan seorang saudara perempuan. Maklum, aku tak memiliki saudara perempuan dari kedua saudaraku. Saat ini, sulit rasanya mewujudkan impian itu, karena Ayah sudah lama tiada, dan Ibu masih sendiri. Aku kemudian menatap Rina, lama!
“Rin, mungkin kamu ditakdirkan untuk menjadi saudara perempuan yang selama ini aku cari,” ucapku lirih, sembari terus menatap kepadanya. Tak lama, aku beranjak dari dudukku, lalu menghubungi Ibu. Keinginanku untuk menjadikan Rina sebagai saudara angkatku pun aku ceritakan ke Ibu. Awalnya, Ibu agak kaget kala mengetahui bahwa Rina adalah seorang pemulung. Tapi setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya Ibu menyetujui.
Aku kembali duduk di samping Rina. Nampaknya, ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia sudah mengangkat wajahnya, tapi belum menatapku. Tatapannya masih terus ia layangkan ke depan.
“Tidak sepantasnya aku mengumbar kesedihanku ini kepada orang lain, termasuk kakak. Maafkan aku….” Tiba-tiba Rina bersuara, tapi tetap tak menoleh sedikit pun ke arahku.
“Tidak sepantasnya kamu ngomong seperti itu Rin. Kesedihan akan sirna jika keikhlasan menjadi perisainya,” kataku menanggapi ucapan Rina, kembali mencoba menenangkannya. Sampai saat ini, ia tak jua berpaling.
Lama aku terdiam setelah itu. Aku bingung mencari celah untuk mengatakan niatku kepadanya. Kukumpulkan puing-puing keberanian yang masih berantakan di sekitarku. Dan… dan akhirnya kuutarakan niatku kepadanya, tentang keinginanku untuk mengadopsinya sebagai saudara angkatku.
Mendengar celotehanku, aku agak kaget. Ia berpaling, menatapku tajam. Lalu kemudian kembali menunduk. Ia semakin gelisah. Aku mencoba menenangkan.
“Maafkan aku kalau ada kata yang membuatmu merasa tidak enak. Tapi jujur, tak ada sedikit pun niat untuk melakukan itu.”
Wajah Rina akhirnya bangkit dari tundukannya. Tapi masih tetap menatap ke depan tanpa menoleh kepadaku.
“Semua terserah padamu Rin. Tak ada paksaan sedikitpun dariku. Yang pasti, besar harapanku jika kamu menerima tawaranku tadi. Dan itu akan membuatku merasa sangat senang. Ibuku di kampung sudah tahu tentangmu. Nanti kalau kamu benar-benar sepakat, aku akan menghubungi Ibu untuk berbicara denganmu. Dan aku janji, kita akan bersama-sama mencari jejak Sita yang hilang,” celotehku, berharap Rina akan memberikan comment atas ucapanku.
“Bukannya aku tidak mau menerima ajakan kakak. Tapi, tidakkah kakak salah ucap. Tidakkah kesempatan itu sangat tidak sesuai untuk gadis kumal sepertiku?” akhirnya Rina angkat bicara.
“Jangan pernah berkata seperti itu, Rin. Dari ucapanmu, aku bisa menangkap kalau kamu menerima ajakanku.”
“Aku tak mampu berkata lagi Kak. Aku terlalu bahagia mendengar tawaran Kakak. Tapi aku takut tak mampu membalas budi Kakak, seperti saat Bu Asih berbuat baik kepadaku.”
“Bukan kewajiban kita membalas budi orang lain. Itu urusan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha untuk melakukannya, Tuhan yang menentukan…” Air mata Rina pun tumpah. Air mataku berlinang. Aku tak kuasa menahan suka bertemu dengannya, gadis ini. Aku pun merangkulnya, sama saat aku merangkul Adil dulu, adik laki-lakiku.
Langit masih saja secerah tadi, matahari tetap mengumbar sinarnya. Angin masih saja menari-nari ghaib di sekeliling kami. Dan, sepasang mata kembali menatap kami penuh heran dan tanda tanya. Ternyata, mata itu milik Yulis, di pojok koridor sana.