must to remember:
Kamis, 20 November 2008
tak sekedar khayal
Rabb... impianku terwujud
memandang lebih dekat gedung besar itu
bukan sebuah istana,
bukan pula gedung mewah berlantai 'tak terhingga'
tapi, itu menyisakan kemewahan tersendiri dihatiku
Senang...!!! itu pasti
UI,, kampus pilihan Indonesia berhasil ku terobos
Tentu atas izin-Mu
Lagi-lagi ku ucapkan syukur tiada terkira
12 Juli 2008
Aku melangkah, melangkah, dan terus melangkah...
Entah tersisa berapa langkah lagi
Dan akhirnya sampai!
UI....!!!kau begitu megggaahhhh!
Salut jadinya...
Harapan untuk mengukir ilmu masih tersisa
Meski ku sadar, itu tak lebih dari sebuah bayang-bayang semu
Jalan demi jalan, lorong demi lorong, terus kulalui tanpa lelah
Semangatku masih berkuasa olehnya
Aku berpikir dalam diamku
Aku tersenyum dalam khayalku
Aku mengigau dalam anganku
Aku menerawang dalam tatapanku
Aku di sini, kampus pilihan sejuta umat
Kampus impian orang-orang
UI!!!
Kemegahan bangunannya begitu menakjubkan
Tak sanggup ku membayangkannya jika ia hadir di kotaku kelak, Makassarku!
Bukan nanti, tapi skarang!!!
Besar harapan untuk memilikinya
Besar niat untuk bersamanya
Mengukir dan menggali segudang ilmu
Jakarta,,,I’m coming !!!

08.00 WIB
Sepintas, aku merenung...
Menyasikan kota raksasa ini, Hebattt !!!
Refleks kata ini terucapa dalam lisanku
Ketakjubanku padanya sungguh tak bisa ku tutupi
Jauh dari lubuk hatiku, aku mengakuinya
Namun, rasa takjub itu tiba-tiba pudar
Luntur di tengah teriknya sang dewa siang yang semakin membumbung tinggi
Ada sisi lain yang secara tak sengaja tertangkap oleh mataku
Berhasil menyempurnakan kebingunganku sendiri
Hakekat kehebatannya tak lagi mampu kurasa
Jakarta selain hebat, ia juga GANAS !
Aku tak kuasa menahan kecewa
Ada rumah kumuh tak layak huni
Dengan segala kekurangan di sana, melebihi kesederhanaan di desaku
Ada pula manusia-manusia tak berakhlak, pencopet!
Dan akhirnya aku tersadar
Jakarta bukanlah surga yang penuh kenikmatan dengan segala kesempurnaannya
Orang-orangnya bukan pula malaikat,
Yang terlahir sebagai manusia sempurna
Sepertinya, aku harus memasang kedua lensa kacamataku
Bukan salah satunya saja
Biarku bisa melihat dengan sempurna
Segala sisi pun bisa kusaksikan
Aku laksana bermimpi
Skali lagi mimpiku nyata!
Mobil terus melaju
Menerobos jejeran bangunan-bangunan itu
Menjulang tinggi menggapai langit
Kudongakkan kepalaku ke atas
Jauh... nyaris tak ber-ujung
”Kau semakin kokoh saja,” bisikku
Buat apa gerangan kau tercipta?
Buat manusia-kah, sang pencari kerja?
Tapi, mengapa sang penganggur masih berserakan
Logika-ku semakin tak karuan memikirkannya
Sepertinya memang masih banyak ruang utnuk menampung mereka kan?
Tapi mengapa mereka tak jua punya ruang untuk hidup?
Ataukah kau yang terlalu pelit untuk menerima mereka?
Atau,,, kau memang tak mau lagi menerima mereka?
Tidakkah kau meras kasihan melihat mereka termakan keganasan hidup?
Tidakkah kau meras miris melihat kehidupan mereka yang semakin terjepit?
Rabu, 19 November 2008
Mengapa Harus Keperawatan?

Malam hari yang sepi, airmataku berurai tak tertahankan. Aku membiarkan…Tak ada yang tahu. Dalam sebuah sujudku, aku mengadu pada_Nya. Sembari memohon: Tunjukkan aku jalan yang lurus, Ya Rabb!!! Aku kembali menangis sejadinya, di hadapan_Nya. Tak ada yang tahu...
Hari selanjutnya, seolah mendapat sebuah ilham semangat untuk bergabung kembali di keperawatan muncul kembali. Sementara, bayangan FK semakin memudar. Memoriku kembali merekam sempurna ucapan Mama tempo hari: Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya. Aku kembali mengeja kalimat itu, kata demi kata. Hingga akhirnya aku tersadar, aku tidak bersyukur! Ini keputusan Ilahi, usaha maksimal tlah kujalankan. Tapi Dia punya rencana lain. Aku tak boleh membantahnya!
Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, begitu seterusnya.
Minggu, 16 November 2008
Seluk Beluk Pengesahan UU Pornografi
Prakata
Pertengahan bulan Oktober kemarin, isu pornografi semakin gencar diberitakan di hampir setiap media seluruh tanah air. Terkhusus, tentang pengesahan RUU Pornografi. Maraknya pemberitaan akan hal tersebut seolah membuat masyarakat Indonesia kembali terhentak. Hingga akhirnya, terjadilah aksi besar-besaran di beberapa titik di tanah air. Beberapa elemen masyarakat yang tergabung dalam pihak yang Pro dan pihak Kontra atas pengesahan RUU tersebut hadir dalam aksi itu. Hasilnya, ada 2 kubu dalam ‘pertarungan’ itu.
Teriakan-teriakan : ’Tolak Pornografi!!’ sempat membahana di hampir seluruh pelosok tanah air, menuntut pemerintah mengesahkan UU pornografi. Di sudut lain, pihak yang kontra terhadap pengesahan RUU pornografi menjadi sebuah undang-undang pun tak kalah getirnya. ’Tolak Pengesahan RUU pornografi!!’, kurang lebih begitu bunyi teriakannya. Hingga terjadilah aksi saling teriak. Di sudut kanan ditempati oleh kubu yang pro terhadap pengesahan Undang-undang pornografi, di sudut kiri ditempati oleh kubu yang kontra terhadap pengesahan Undang-undang pornografi.
Hari Kamis, tanggal 30 Oktober, tepatnya pukul 13.15 WIB akhirnya tercatat sebagai sebuah sejarah baru di negeri ini. RUU Pornografi disahkan sebagai sebuah undang-undang!!! Ketukan palu itu berdasarkan hasil kesepakatan dalam Rapat Paripurna DPR yang dipimpin Ketua DPR Agung Laksono di Gedung DPR/MPR Jakarta. Meski sebelumnya telah terjadi aksi ‘tawar-menawar’ terhadap RUU tersebut. Desas-desus Pro dan Kontra akhirnya terjawab.
Mengapa Harus Dengan Pengesahan RUU Pornografi?
Tak bisa dipungkiri, memasuki era globalisasi, gejala westernisasi semakin jelas dampaknya. Aksi pornografi semakin memperlihatkan keberadaannya. Imbasnya, masyarakat Indonesia menjadi korban. Parahnya lagi, tak hanya menimpa kalangan dewasa saja, anak di bawah umur pun (red:dibawah umur 17 tahun) tak ketinggalan. Akhirnya, dampak dari pornografi tersebut semakin menjalar. Sebut saja free sex, terjadinya tindakan-tindakan kriminalitas (seperti pernikahan di bawah umur, pencabulan/pemerkosaan, dsb), meningkatnya angka pelaku aborsi, sikap konsumtif di kalangan remaja semakin tak terkendali hanya untuk memiliki VCD porno, etika semakin tersingkirkan, moralitas anak bangsa menyusut, dan masih banyak lagi dampak dari pornografi tersebut. Ironisnya, pornografi menjadi sebuah momok menakutkan. Masyarakat menjadi resah dibuatnya. Betapa tidak, korban yang didominasi oleh kaum hawa dalam usia yang masih sangat belia itu, menuntut siapa saja yang melihatnya menjadi sangat miris. Sembari mengusap dada, lalu berkata: Astagfirullah! Lantas, apa yang akan kita lakukan untuk bisa keluar dari permasalahan ini?
Kalau nasi sudah menjadi bubur, kalau telur sudah terlanjur pecah, apalagi yang akan kita perbuat selain menerima kenyataan itu? Bukankah bubur tak bisa lagi kembali menjadi nasi? Pun begitu dengan telur, tak dapat lagi kembali dalam bentuk semula kala terlanjur pecah. Nah, haruskah peristiwa itu terus terjadi?
Sebagaimana yang tercantum dalam harian umum Pelita, edisi 30 Oktober 2008, dikatakan bahwa: ”Prinsip dalam RUU ini adalah non-diskriminasi, sehingga nantinya UU ini berlaku tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antar-golongan (SARA) serta tidak dikhususkan untuk golongan tertentu. UU ini juga akan berlaku bagi siapa saja yang ada di wilayah Indonesia serta menempatkan semua WNI pada posisi yang sama di depan hukum. RUU tentang pornografi juga menjaga prinsip kebhinnekaan. Substansinya sudah memperhatikan adat istiadat, seni budaya dan kebhinnekaan di masyarakat Indonesia.”
Sebuah referensi dalam warnaislam.com mengatakan bahwa: ”hadirnya Undang-Undang Pornografi merupakan bentuk pernyataan tegas bangsa Indonesia bahwa pornografi merupakan sebuah masalah sosial bukan sekadar masalah moral, menjamin kepastian hukum, memberikan sanksi yang bisa menimbulkan efek Jera, perlindungan terhadap warga negara terutama anak-anak. Dengan lahirnya Undang-Undang Pornografi, kita berharap Indonesia memasuki babak baru ke arah yang lebih baik.” Semoga!
Benarkah UU pornografi = Solusi ???
Setelah melihat fenomena-fenomena sebagai tumbal pornografi tersebut, kini tertanam sebuah tanda tanya besar di benak kita: Benarkah pengesahan RUU Pornografi adalah sebuah solusi?
Pengesahan rancangan undang-undang pornografi menjadi sebuah undang-undang, diharapkan bisa menjadi solusi untuk bisa keluar dari berbagai keterpurukan tersebut. Tapi, bukan berarti UU ini hanya satu-satunya solusi. Undang-undang ini adalah salah satu solusi atas masalah tersebut. Langkah selanjutnya, melakukan follow-up atas UU itu. Jangan sampai hanya tersimpan sebagai sebuah dokumen belaka, tanpa ada realisasi dari apa yang telah disepakati. Langkah awal, perlu sosialisasi dari pemerintah atas UU tersebut. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan isi undang-undang itu. Bukan tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Selanjutnya, tergantung ketegasan dari pihak pemerintah dalam penerapan undang-undang ini.
Mengutip isi dari berita harian umum Pelita, edisi 30 Oktober 2008 bahwa: ”Implementasi UU tentang Pornografi, menurut menteri, akan terkait dengan sejumlah ketentuan hukum lainnya, termasuk UU No 01/1946 tentang KUHP, UU No 32/2002 tentang Penyianan, UU No 40/2003 tentang Pers, serta UU No 23/2003 tentang Perlindungan Anak. Menteri Agama mengatakan RUU Pornografi telah memperhatikan prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi masyarakat dari dampak negatif Pornografi .Sesungguhnya RUU ini merupakan perlindungan bagi masyarakat dari dampak negatif pornografi, katanya.”
Yang terpenting, kesadaran seluruh elemen masyarakat dalam mematuhi undang-undang ini. Mengutip apa yang sering diterakkan oleh orang-orang awam: Peraturan tercipta bukan untuk dilanggar, tapi untuk dipatuhi!!!
Brownies Itu…

Minggu siang, di sebuah kafe, aku dan teman-teman SMA mengadakan acara reunian. “abaDi “ kafe tempat perkumpulan itu. Ini yang pertama kalinya sejak kelulusan kami. Lima tahun lamanya, kami nyaris tak pernah ketemu. Paling hanya satu dua orang, tidak sebanyak ini. Dan sekaranglah saatnya melepas rindu, merekam kembali kenangan indah saat sekolah dulu. Untuk sementara, kesibukan-kesibukan kuliah terlupakan.
Aku sangat senang. Maklum, selama ini aku hanya menjalin komunikasi dengan Fitri, sahabatku. Eh, pernah juga ketemu dengan Nejad di sebuah acara pernikahan. Dan belakangan baru tahu, ternyata kami sepupu-an. Ga’ nyangka sama sekali. Nejad yang selama sekolah dulu paling aku benci karena sikapnya yang over banget, ternyata saudara ‘sekian’ kaliku. Dunia memang sangat sempit! Sedangkan teman-teman yang lain…yah, paling komunikasinya cuma lewat SMS doang. Atau lewat nelpon kalau lagi kelebihan pulsa.
***
Mataku menerawang ke atas, tertabrak pada langit-langit kamarku yang sudah usang namun tak bernoda. Maklum, tadi pagi baru saja kubersihkan setelah sekian lama sarang laba-laba bergelantungan disana. Pikiranku melayang tak karuan. Malam, kini semakin larut. Perlahan sinar rembulan tak lagi menyelimuti bumi. Deru kendaraan yang gemar berlalu-lalang di jalan depan rumahku perlahan semakin sepi. Beberapa menit kemudian, sayup-sayup kudengar pentungan berbunyi 12 kali. Aku yakin, pentungan itu berasal dari Pos Kamling di seberang sana. Ya, tanpa kusadari aku menghitungnya. Hari, kini berganti hari. Pasti orang-orang akan semakin terlelap dengan mimpi-mimpinya. Pun begitu dengan Ayah dan Ibu, mereka pasti sudah tak sadarkan diri. Apalagi Retno, saudara tunggalku yang hanya berselisih 3 tahun dengannya, sejak tadi dia sudah merangkul guling kesayangannya di sampingku. Sementara aku, jangankan tidur, sekedar memejamkan mata saja rasanya teramat sulit kulakukan.
Wanda, tak sepantasnya kamu bertindak sprti itu di depan Ayya. Dia hanya seorang manusia, tempat khilaf & kekurangan berlabuh. Sama seperti kita. So, jgn pernah memelihara dendam di hati kita. Toh kita jg pasti prnah mengukir kesalahan, sama seperti dirinya. Tuhan sj Maha Pemaaf,, lalu apa yg kita sombongkan hingga tak mau memaafkan orang lain??
Begitu isi SMS dari Fitri, kira-kira satu jam setelah aku meninggalkan acara reunian tadi. Hatiku semakin tertusuk tajam. “Bukan karena Ayya, Fit. Tapi….Brownies itu!!!” aku berucap lirih. Tak terasa, buliran air mataku tak terbendung lagi di pelupuk mataku, tumpah tak terkendali. Akhirnya, benteng pertahananku kembali runtuh. Berusaha kutegarkan diriku, tapi tetap tak berhasil. Aku tak berdaya. Kesepian malam semakin membuatku larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Aku menyerah,,,
Kejadian tadi sore masih menyisakan cerita dalam ruang khayalku, yang akhirnya memaksa memori kecilku untuk merekam sempurna kenangan pahit 2 tahun lalu. Padahal, sekian lama aku telah berusaha untuk bisa melupakannya. Dan hari ini, bayang-bayang itu semakin menghantui, kembali menikam pikiranku sendiri. Aku pun tak dapat menolak, sosok Maya memenuhi seluruh ruang ingatku. Kembali membangunkanku dari tidur lelapku. Tidur yang berhasil membuatku melupakan kejadian naas itu.
Di sebuah pagi yang sangat cerah, namun ternyata tak seindah mentari dipagi itu. Satu kejutan yang tiba-tiba menghampiriku, sebagai garis awal petaka itu. Semula, aku sangat senang. Aku mencapai puncak kebahagiaan, yang kemudian membuatku terperangah bukan main, dengan mata terbelalak, dan mulut menganga lebar. Sebuah mobil berwarna biru muda terparkir asing di garasi samping rumahku, persis belakang mobil Kijang milik Ayah. Awalnya aku berpikir bahwa mobil itu milik teman Ayah, tapi ternyata bukan. Cek per cek, ternyata mobil itu adalah kado di hari ulang tahunku itu. Ternyata mereka masih ingat denganku, putrinya yang tercinta, meski mereka selalu dirundung kesibukan yang sungguh luar biasa padatnya. Kurasakan kesenangan yang membuncah tak terkendali. Membuatku tak sanggup lagi berkata-kata. Bukan hanya karena mobil itu, tapi perhatian Ayah dan Ibu padaku….kasih sayangnya! Oh My God!!! Ciuman dan pelukan hangat pun kuberikan pada mereka, Ayah dan Ibu.
Ternyata, garis kebahagiaanku terhenti sampai disitu. Kala itu, kebetulan aku dan teman-teman se-Gank sudah ada planning untuk nonton bareng di Studio 21 Mall Panakkukang. “Film Nagabonar Jadi 2” menjadi pilihan kami. Meski sebelumnya, kami harus melakukan musyawarah demi mendapatkan hasil mufakat. Istilah dalam kamus kami, “rapat keputusan”, telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan gank kami sebelum mengambil sebuah keputusan . Sore itupun tiba. Aku berniat menjemput mereka dengan mobil baruku. Sekalian sebagai ajang perkenalan. Ayah dan Ibu setuju-setuju saja dengan niatku itu. Mereka sudah yakin dengan kemampuanku mengendarai mobil di tengah kota. Sebelum Kak Dedi berangkat ke Jepang, beliau sudah mengajarku mengendarai mobil. Meski awalnya, aku sangat takut tapi lama-lama akhirnya ketagihan juga. Aku bahkan sudah beberapa kali mengantar Ibu ke tempat kerjanya kalau Ayah lagi keluar kota.
***
Niat baikku ternyata disambut baik oleh semua teman-teman seGank-ku. Maya apalagi, katanya dia tak perlu lagi mengeluarkan duit untuk naik Pete’-Pete’ (baca: Angkot) ke manapun dia pergi. Aku pun bahagia bisa berbagi kesenangan dengan teman-temanku. Dua jam berlalu. “Film Nagabonar Jadi 2” sudah kami santap habis. Saat kami keluar dari bioskop pun, kekocakan film itu masih menyisakan tawa diantara kami. Hingga, secara tak sadar kami mencuri ucapan Bang Naga (Dedy Miswar) dalam film itu: ‘Apa kata dunia??!!!’. Derai canda dan tawa semakin menghiasi perjalanan kami menuju kafe Chocolatoz, tempat mangkal kami. Boleh dikata, kafe itu telah menjadi tempat persinggahan kami tiap kali pulang kampus. Bahkan tak jarang, kami melakukan rapat internal di kafe itu. Sedikit lagi, bisa-bisa kafe itu menjadi sekret kami. Maklum, suasana di kafe itu sungguh sangat nyaman. Selain murah, kafe itu sungguh sangat bermoral di mata kami, beda dengan kafe-kafe lainnya. Bagi pengunjung tak berpakaian rapi alias berpakaian ala preman, sangat dilarang masuk, bebas rokok, dilarang membawa senjata tajam masuk ruangan, apalagi membawa obat-obat terlarang. Pokoknya securitynya sangat disiplin. Jadi wajar saja, pengunjung kafe itu sudah pasti rapi-rapi dan yang paling penting lagi pengunjungnya adalah orang baik-baik. Bayangkan saja, security itu memeriksa setiap pengunjung yang ingin masuk, kecuali kami. Hampir semua karyawan di sana telah mengenal kami. Bahkan pernah kami dikasih gratis makan. Katanya biar kami semakin rajin nongol di situ.
Udara panas yang sempat menyelimuti kota Makassar memaksa kami untuk memesan Es teler sore itu. Baru kali ini kami memesan makanan yang sama, biasanya tak ada satupun diantara kami yang memilih jenis makanan yang sama. Alasannya, biar kami bisa saling mencoba makanan yang satu dengan yang lainnya. Terkadang, makanan siapa saja yang dianggap enak biasanya akan disantap bareng. Imbasnya, makanannya pasti akan cepat habis.
“Btw, aku mau nagih janji nih!” aku memulai perbincangan itu, membelah kebisuan diantara kami, karena sibuk melahap esnya masing-masing. Tanpa ada yang mengomando, wajah mereka terangkat. Semua mata tertuju padaku. Untuk meningkatkan kadar penasaran mereka, aku langsung saja tunduk, dan kembali melahap Es telerku.
“Janji apa sih, Wan?” Umma mulai memuntahkan pertanyaan padaku, tanda penasarannya belum hilang.
“Iya Wan. Siapa yang punya janji. Kayaknya saya tidak deh.” Uswah yang duduk disampingku pun berkomentar. Selanjutnya terjadi aksi tatap-menatap diantara mereka. Sementara aku kembali meneruskan makanku.
“Ada yang mengaku pernah berjanji padaku untuk memberikan makanan kebangsaanku tepat saat aku berusia 20 tahun?” aku berucap tanpa mengangkat wajahku sedikitpun ke arah mereka. Pura-pura sibuk mengunyah buah yang ada di Es teler itu. Tak perlu lagi kujelaskan kepada mereka apa itu makanan kebangsaanku. Toh mereka sendiri bakal tak ada yang bertanya lagi apa itu makanan kebangsaanku. Aku bahkan sudah dijuluki Mrs. Brownies. Adikku Retno, bahkan ikut-ikutan manggil aku dengan julukan itu. Tak apalahhh…
Lama, tak ada yang berkomentar. Sepertinya mereka lagi sibuk beradu perang dengan pikirannya masing-masing. Mencoba menguras abis ingatannya. Dan akhirnya,,,
“Ooww,,,sepertinya pemilik janji itu aku deh. 2 tahun lalu kalo nggak salah ingat ya, Wan?” akhirnya Maya mengakui. Beruntung Maya tak mengidap penyakit amnesia. Dia masih saja melayangkan tatapannya ke arahku. Aku tahu betul, Maya adalah sosok manusia yang sangat tidak tenang kalo janji-janjinya belum dia tepati. Apalagi kalo ber-utang. Paling lama, dia ber-utang 3 hari. Kalo uang kirimannya sudah ada, pasti dia langsung mengalokasikannya ke orang-orang tempat dia ber-utang.
“Mmm,,Ohh ternyata Maya pemilik janji itu. Maybe!!! Maybe Yes, Maybe No,” cepat-cepat kujawab pertanyaan Maya, sebelum tatapan itu berubah menjadi titik hipnotis. Aku menjawabnya enteng, membuat yang lain semakin bengong.
“Yup, aku yakin. Akulah pemilik janji itu. Hampir aja lupa, untung Wanda kasih ingat. Tenang saja, habis ini, aku akan terbang ke toko seberang membeli kue kebangsaan Nona Wanda,” kata Maya sambil memicingkan matanya ke arahku, lalu trsenyum tipis, manis sekali. Aku tak menyangka, Maya bakal secepat itu ingin menebus janjinya. Setelah melahap habis Es telernya dan yakin bahwa tidak ada lagi yang tersisa, dia akhirnya bangkit. Lalu kemudian menyalami kami satu per satu. Ini diluar kebiasaan Maya. Biasanya dia langsung nyerocos pergi tanpa bekas.
“Doakan, semoga aku bisa berhasil menebus janjiku dan mendapatkan makanan kebangsaan Nona kita yang satu ini,” begitu katanya sebelum pergi meniggalkan kami, menuju toko Birth-cake di jalan seberang sana. Sebelumnya, mereka menatap kami satu per satu secepat kilat, lalu memamerkan cium jauhnya kepada kami. Dasar…!!!
Kami akhirnya melepas kepergian Maya, tanpa seorang pun yang menemani. Dinding kafe yang terbuat dari kaca bening membuatku merasa leluasa menyaksikan segala yang terjadi di luar sana. Ketika Maya sudah memasuki toko kue itu, mata kami akhirnya kembali ke posisi semula, tertuju pada semangkuk Es teler yang sebentar lagi akan habis.
“Kasihan juga si Maya, pergi beli kue sendiri!” aku berkata lepas, tanpa berharap komentar dari mereka.
Lima menit kemudian, akhirnya Maya keluar juga dari toko itu lengkap dengan jinjingan kantong berwarna putih di tangan kanannya. Hatiku bersorak. Betapa tidak, sebentar lagi aku akan bertemu dengan makanan kebangsaanku. Memang rasanya tidak afdhal bagiku kalau seminggu saja tak mencicipi Brownies itu. Tatapanku terus tertuju pada setiap langkah dan gerakan tubuh Maya. Aku berharap-harap cemas menanti kedatangan Browniesku tersayang. Bayangan si Coklat manis terus menari indah di memoriku. Tiba-tiba,,,
Brukkk…!!!! Plakk…!!!!
“Hahhh…!!!” aku terhentak. Bayangan si Coklat manis menghilang. Mulutku menganga lebar bagai buaya kelaparan, menyaksikan pemandangan kelam di hadapanku. Maya tertabrak..!! Sebuah mobil Kijang Silver tak kuasa mengendalikan mobilnya. Aku melihat jelas Maya merasa sangat kebingungan yang sudah terlanjur berada di tengah jalan. Antara maju atau mundur. Teriakanku membuat semua orang yang ada di dalam kafe itu kaget. Termasuk ketiga temanku. Aku tak peduli. Kepanikanku memaksaku berlari mendekat ke jalan itu, tempat Maya ditabrak. Ketiga temanku mengekor.
Semakin mendekat, semakin berat rasanya kaki ini kulangkahkan. Kantongan putih yang dijinjingnya tadi berubah menjadi merah. Brownies kini terpotong dengan sendirinya, sebagian berada di dekat mulut Maya, yang lain tersebar jauh di tengah sana. Airmataku meluap melihat kondisi Maya yang sungguh menyayat hati. Ia meringkih sejadinya, lalu akhirnya tak sadarkan diri. Aku, dan ketiga temanku tak kuasa menahan tangis kala tubuh mungil Maya yang terbalut darah diangkat masuk ke mobil Ambulans. Lumuran darah di sekujur tangan dan kepalanya cukup menjadi symbol tentang kondisi Maya yang sedang kritis. Derai tawa kini berganti duka. Berkas bahagia dan kesenangan tiba-tiba menghilang.
Memasuki ruang UGD sebuah Rumah sakit ternama di kota Daeng ini, Maya tlah tiada. Nyawanya melayang dihempas angin malam. Tiada pernah kami duga sebelumnya. Si Pemilik janji itu rela meninggalkan kami. Tak ada yang mengira, salaman dan cium jauh dari Maya adalah wujud permohonan izinnya kepada kami. Tak ada yang menduga, kesenangan yang terhimpun saat acara nonton tadi adalah perkumpulan terakhir bersamanya. Bahkan tak pernah terbaca dalam pikiran kami, tatapan Maya tadi sore seolah ingin menyampaikan ucapan perpisahannya kepada kami. Kami terlalu bodoh untuk membaca gelagat aneh yang Maya tunjukkan kepada kami tadi sore.
“Kalau saja aku tak menagih janji itu. Kenapa aku membiarkan ia pergi seorang diri??!!” aku berteriak lemah, duduk tertunduk di kursi pojok lorong UGD itu, menyesali tindakan yang kulakukan kepadanya. Berkali-kali kuhujat diriku, tanda penyesalan yang teramat sangat. Bahkan aku tak mampu memaafkan diriku sendiri. Sebentar lagi, mayat Maya akan keluar, tertutup kain putih. Tak ada lagi si Penepat Janji. Tak ada lagi wajah lugu dan manis menemani perjalanan hidup gank kami. Rasanya begitu singkat untuk merasakan kebahagiaan hidup bersamanya. Berulangkali Uswah, Umma, dan Anti mencoba menenangkanku. Tapi tetap saja, penyesalan semakin bertubi menusuk-nusuk dadaku. Aku pun sesak. Sesak oleh perbuatanku sendiri. Kebahagiaan yang meluap-luap sejak pagi tadi, kini berakhir tragis dengan kepergiannya. Mengapa harus nyawamu yang menjadi taruhan atas Brownies itu? Mengapa kehilangan dirimu yang menjadi kado di hari ultahku? Mengapa perayaan hari jadiku kuawali dengan tindakan konyolku? Setumpuk pertanyaan terlontar dari mulutku. Aku tak kuasa menahan sedih.
Aku kembali teringat oleh isi SMS dari Maya tadi subuh, sebelum aku terbangun dari tidurku. Ternyata SMS itu adalan pesan terakhir darinya...
Apa kamu tahu hubungan antara 2 biji mata? Mereka berkedip bersama, bergerak bersama, menangis bersama, melihat bersama, dan tidur bersama…Meskipun mereka tidak pernah melihat antara satu sama lain. Persahabatan seharusnya seperti itu. Kehidupan bagai neraka tanpa sahabat. Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika orang lain menjauh. Karena persahabatn itu seperti tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata yang menangis. Dan saat mata yang menangis, tanganlah yang menghapusnya
***
Buliran air mataku kini semakin mengalir deras membasahi pipiku. Sejak itu, kehadiran Brownies akan menambah luka sukma untukku. Memoriku pasti dengan sangat cepat merekam kembali peristiwa naas yang terjadi 5 tahun lalu. Makanya, aku sangat membenci si Coklat manis itu. Melihatnya, akan menambah kebencian pada diriku sendiri. Hentakan jarum jam terasa semakin terdengar di tengah kesepian malam ini. Malam semakin larut, namun mataku tak jua ingin terpejam.
“Fit, seandainya kamu tahu tentang Brownies itu...!!!” aku bergumam.
Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…
Selasa, 11 November 2008

Tema: Tawaran Solusi Akademika terhadap lingkungan saat ini
Only One Earth
“ Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…”
Sebuah fakta yang tak dapat terelakkan, Indonesia yang katanya kaya akan sumber daya alamnya justru tak mampu memberikan kesejahteraan sepenuhnya. Sangat ironis memang. Sawah terbentang luas. Bahkan dengan bangganya kita memamerkan padi-padi yang sudah kuning keemasan siap panen. Hutan dengan segala sumber produk didalamnya, turut menambah kekayaan itu. Pohon-pohon pun berjejer rapi dari Sabang sampai Merauke. Laut juga terhampar dari utara ke selatan, pun dari barat ke timur. Seolah ingin meneriakkan ke seluruh pelosok bumi: “Lihatlah aku!!”
Seiring bergulirnya waktu, ternyata kekayaan itu hanya menyisakan luka yang tak sepantasnya dimiliki oleh sebuah negara yang bermodal tinggi, layaknya Indonesia. Sadar atau tidak, terkadang hujan tak lagi menjadi rahmat bagi kita. Hujan baru beberapa hari saja turun, musibah banjir sudah menebarkan kesedihan dan menyisakan air mata. Curahan hujan dari langit secara langsung menjelma menjadi banjir yang tak bisa terbendung. Banjir menghancurkan sawah, kebun, tanaman. Tak hanya itu, nyawa bahkan bisa menjadi taruhannya. Longsoran tanahpun menyusul dan menambah petaka untuk dipikul masyarakat. Akhirnya, segala bentuk kekayaan tadi hilang tak bermakna. Hal ini tak hanya berlaku untuk kalangan ke bawah saja. Kalau bumi sudah mengamuk, tentu semua kalangan turut merasakan. Tengok saja pengalaman kemarin, saat Tsunami menyapa kota Aceh dan sekitarnya. Ia hadir sebagai peristiwa yang telah mencuri perhatian seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Dunia bahkan dibuatnya sedikit menoleh. Nah, tak ada diskriminasi atas siapa yang akan menjadi korban. Si Kaya dan Si Miskin, sama-sama menanggung susah. Mungkin saat ini kita masih bisa tersenyum saja melihat bencana-bencana itu. Kita masih bisa mengeluarkan tawa meski isu ”Global warming” lagi marak-maraknya di bahas di beberapa sudut dunia.
Namun, adakah senyum dan tawa itu kita miliki ketika bencana-bencana itu tlah ada di depan mata kita ? Pasti tidak! Tentu kita akan merasakan hal yang sama dilakukan oleh korban amukan bumi itu. Sedih! Potensi malapetaka dahsyat secara perlahan atau bahkan mulai agak cepat, pasti akan menjadi ancaman bagi kita sendiri. Ada apa?? Marahkah Tuhan atas tindakan kita? Atas keegoisan kita? Atas kesombongan kita?Dan bahkan atas kerakusan kita? Memperlakukan semaunya tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun dari kita. Setelah dengan enaknya menikmati segala kekayaan didalamnya..!!! Tidakkah terbersit rasa malu dalam diri kita sedikitpun kepadanya. Kepada bumi itu, sumber dari segala kebutuhan kita. Sejuta tanya mungkin sempat terbendung dalam benak kita. Benarkah Indonesia ditakdirkan dengan kondisi demikian? Mungkinkah hal ini telah menjadi takdir Tuhan yang tak dapat lagi diubah? Rasanya sangat sulit untuk mengiyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Bukankah Tuhan sendiri yang mengatakan, bahwa Ia tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri.1) Lantas, apa yang mesti kita lakukan sekarang? Melongo dan terus menikmati sisa-sisa kekayaan bumi ini? Semoga tidak! Sangat naif, jikalau kita menjadikan orang sebagai tumbal atas sikap kita. Kita yang berbuat, pastinya kita yang bertanggung jawab.
Mari kita amati pernyataan Alm. Mansyur Semma, seorang pengamat politik Universitas Hasanuddin: “Bila ada kebijakan nasional menanam sejuta pohon sebagai simbol kepedulian memeliharan lingkungan dan mengurangi pemanasan global, maka perlu ada kebijakan nasional untuk meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan puluhan juta anak-anak, perempuan, jompo, dan penyandang cacat. Bukankah kebodohan dan kemiskinan menjadi sumber masalah bagi rendahnya kesadaran terhadap lingkungan hidup?” 2)
Memaknai pernyataan Beliau, tak bisa dipungkiri bahwa kesadaran lingkungan kita memang masih rendah. Keserakahan masih tak terkendali. Sengaja atau tidak, ternyata bumi ini kian menderita. Benarkah ’kerusakan alam’ ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri? Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Dan apa yang mesti kita perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik demi kelestarian sebuah lingkungan hidup? Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan ‘perut’, hal inilah yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam sehingga merusak lingkungan, sebagaimana apa yang dituliskan oleh Alm. Mansyur Semma di atas. Jika disebutkan bahwa jumlah orang-orang miskin di Indonesia telah mencapai puluhan juta orang (Bank dunia menulis angka 49 juta)3), maka ’kemarahan alam’ ini semakin menambah jumlah itu. Dalam keadaan susah begini, sungguh tega para perusak hutan. Jangankan turun tangan membantu rakyat yang jadi korban, mereka bahkan rame-rame atur siasat baru untuk pindah lokasi menjarah dan merampok alam. Sungguh memprihatinkan! Jangan sampai kerusakan alam ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri.
Kita boleh berdalih bahwa mereka, Sang Penjarah hutan itu, juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. No bodys perfect. Betul! Tapi jangan sampai kita hanya membiarkan kasus itu mengalir begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Kita tentu tak ingin membiarkan angin menghapus jejak kelam itu begitu saja. Sederet kasus dan peristiwa yang pernah menerjang Indonesia, idealnya menjadi sampel buat kita. Layaknya dalam kehidupan manusia, semakin banyak masalah yang menyerang, semakin banyak pula peluang baginya untuk menjadi sosok manusia dewasa. Lahirnya sederet masalah dan peristiwa, tentu akan memberikan peluang yang besar pula kepada kita untuk bersikap lebih dewasa. Tentu jika kita memang berniat untuk lahir menjadi pribadi dewasa. Setiap bencana yang terjadi hendaknya menjadi cermin lebar buat kita, buat masyarakat Indonesia. Sebagai benda mati, cermin itu tentu tak akan menghampiri kita untuk memantulkan bayangannya. Jadi, kita yang harus berkaca pada cermin itu. Berkaca pada setiap masalah dan peristiwa yang telah terlanjur ada. Jangan sampai kita terus terjatuh pada lubang yang sama.
Mengutip teori 3 M-nya Aa Gym: “Mulailah dari hal yang terkecil, Mulailah dari sekarang, dan Mulailah dari diri kita”. Mungkin terdengar sangat sederhana buat teman-teman, tapi tidak untuk saya. Teori ini mengandung makna yang begitu dahsyat buat saya. Bukankah untuk melakukan sebuah perubahan selalu dimulai dari hal-hal yang terkecil? Benar pepatah yang mengatakan: “Ala bisa karena biasa”. Di tengah kondisi real saat ini, harus ada penerapan sikap yang harus kita laksanakan. Karena itu bukan menyangkut masalah kepentingan siapa mendapatkan apa. Sekecil apapun usaha itu, pastinya akan sangat membantu mengatasi penderitaan bumi kita satu-satunya. Jangan sampai Indonesia terus kecolongan bencana. Setiap bulan bukannya berganti musim, tapi justru berganti korban dan bencana. Semoga tidak! Kalau bumi ini tenggelam, kemana lagi kita akan mengungsi?
Think globally, act locally. Berpikirlah secara global, dan berbuatlah secara lokal. Ungkapan ini sepertinya sudah tak asing lagi di telinga kita. Saat dimana isu Global Warming lagi marak-araknya diperbincangkan, orang-orang ramai meneriakkan: Think globally, act locally! Lantas, sejauh mana implementasi dari teriakan itu? Tentu bukan teriakan-teriakan lagi yang kita perlukan. Bukan perdebatan lagi yang kita nantikan untuk keluar dari masalah ini. Retorika-retorika seindah apapun bentuknya, hanyalah sebuah fatamorgana belaka tanpa ada pengaplikasiannya. Sebab, dalam sejarah manusia, pengaplikasian itu jauh lebih penting.
Berbicara tentang sebuah pengaplikasian, tentu tak lepas dari sebuah kesadaran. Memang tak gamblang berbicara tentang sebuah kesadaran. Karena hal itu akan kembali kepada setiap individu. Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap arif. Begitupun cara kita menyikapi segala permasalahan yang ada. Termasuk permasalahan lingkungan hidup yang tak pernah kunjung usai. Jangan sampai lingkungan itu sendiri yang memberitahu kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah tangan kita sendiri. Lalu selanjutnya kita saling lempar tanggung jawab. Apa kata dunia?!!
Berdasarkan fenomena tersebut, di manakah bentuk tanggung jawab kita? Sebagai bahan renungan: Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk generasi mendatang. Dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada mereka? Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya solusi jitu. Solusi yang tak hanya sekedar solusi. Tapi solusi yang terus diperbaharui. Solusi yang memiliki tindak lanjut ke depannya. Hal terpenting adalah adanya penerapan kesadaran seluruh elemen masyarakat. Kesadaran akan arti pentingnya peranan lingkungan hidup. Hal ini bisa dilakukan melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Disini, pemerintah dituntut untuk berperan aktif dalam merealisasikannya. Alternatif lain adalah perlunya penyuluhan dan kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat. Dengan pertimbangan bahwa kesadaran lingkungan tak hanya milik kaum pelajar saja. Tapi juga kepada lapisan masyarakat. Alasan lain, perlu penerapan persyaratan AMDAL dalam dunia bisnis. Misalnya dalam proses pembangunan. Jangan sampai, peningkatan kegiatan pembangunan dewasa ini justru berperan utama dalam kerusakan lingkungan.
Kawan! Masyarakat kini semakin kritis. Tanpa disadari, ternyata perkembangan pembangunan hanya menyisakan momok menakutkan bagi sebagian masyarakat. Akankah pembangunan ini memberi keuntungan? Akankah pembangunan itu dapat mendamaikan, memadukan, dan menyelaraskan bisnis dan profil lingkungan yang sehat, aman, dan produktif ? Atau justru hanya membawa malapetaka?
Andai semua elemen masyarakat bisa bersatu untuk menyelamatkan bumi yang tunggal ini. Andai semua elemen masyarakat punya kesadaran untuk bersikap lebih arif terhadap bumi satu-satunya ini. Tapi, bukan saatnya kita berandai-andai. Sekaranglah saatnya kita bergerak melakukan sebuah perubahan!
Akankah keindahan bumi pertiwi hanya menjadi kamuflase yang tak kunjung ada? Semoga tidak! Kalau memang ingin bersikap untuk memberikan solusi yang terbaik demi kelestarian sebuah lingkungan hidup, maka mulailah sekarang. Do it now!
“Kegelisahan akan kehidupan terkadang membuat kita tak lagi berpikir jernih. Kegelisahan yang bersumber dari keprihatinan atas kondisi sekitar akan menjadi modal utama untuk bergerak dan tak hanya tinggal diam”
1) dalam Q. S. 13:11
2) dibawakan dalam sebuah talk show tentang Global Warming @ PKPUnhas, tahun 2007
3)(FAJAR, Rabu 28 Novemeber 2007)
*) Penulis adalah Aktivis FLP Ranting Unhas,
Mahasiswi Ners A’ 07 Unhas
Minggu, 09 November 2008
Mimpi Yang Sempurna
Segala sesuatu berawal dari niat. Niat menjadi acuan atas segala tingkah. Niat adalah cermin atas sikap yang akan kita ukir nantinya. Kala niat itu baik, maka goresan yang diukir pun akan baik. Niat tak jauh beda dengan motivasi. Selalu ada yang membuat kita semakin semangat untuk berbuat. Kita sekolah, tentu ada motivasi. Kita membaca, tentu ada motivasi untuk apa kita melakukanya. Bahkan, kita makan pun tentu ada motivasi yang menjadi dasar. Semua butuh motivasi, termasuk ketika kita menulis. Untuk apa kita menulis? Kebutuhan ekonomi yang semakin mencekikkah? Pengembangan bakatkah? Atau hanya sekadar mengisi kekosongan waktu?
Setiap orang punya motivasi tersendiri dalam menggoreskan penanya. Taufik Ismail menulis karena berniat menyambung kembali mata rantai sastra yang hampir terputus. Mengeluarkan masyarakat Indonesia dari generasi nol buku. Habiburrahman El Shirazy ingin mengeluarkan bangsa dari kebejatan moral yang mengintainya. Taufiq Ismail dan Kang Abik menulis untuk perubahan. Perubahan untuk mencerahkan. DR. 'Aidh al-Qarni, penulis La Tahzan, menulis karena ingin menjauhkan setiap insan dari bayang-bayang kesedihan, kecemasan, dan keputus-asaan hidup. Saya. Untuk apa saya menulis? Segudang alasan saya siapkan untuk menjawabnya. Pertanyaannya memang teramat simpel. Tapi butuh jawaban yang sangat kompleks.
Bagi saya, menulis adalah sarana yang paling mudah untuk berbagi. Semacam terapi instan kala stress mendera. Wadah mengeksplorasi selangit ide dan imajinasi tanpa batas. Juga medan dalam melatih kepekaan diri dan nurani. Menulis adalah upaya mengristalkan alam pikiran dalam lembaran-lembaran kertas. Mencipta kecerdasan yang kreatif. Menulis bagi saya merupakan bukti nyata atas segala ide yang sempat terucap. Juga sebagai tempat pengaplikasian diri dengan segala idealisme yang kita pegang.
Untuk sebagian orang, menulis dijadikan sebagai ajang mengumpulkan uang. Dunia komersialisasi terjamah olehnya. Salahkah hal demikian? Saya rasa tidak. Sah-sah saja tentunya. Saya pun tak bisa menafikan hal itu. Bukankah Joni Ariadinata memilih menulis untuk melawan keganasan kebutuhan ekonomi? Bukankah Asma Nadia tergugah hati menjadi penulis untuk menyelamatkan keluarga dari ketidakberdayaan kemiskinannya? Tapi jangan lupa. Materi bukan prioritas utama. Ada makna yang jauh lebih hakiki yang harus kita raih. Kita tak boleh lupa bahwa menulis adalah memberi seperti wejangan Eka Budianta, sang penyair seangkatan Rendra. “Menulis kata berarti membangun masa depan yang produktif, kreatif, dan menyenangkan.” Kata Craig O Harra dalam bukunya yang berjudul Philophies of Punk. Craig O Harra, seorang pengelola penerbitan buku punk AK Press.
Tahun 2001 menjadi milik DR. 'Aidh al-Qarni. Kala bukunya “La Tahzan”, menjadi best seller. Namanya menjulang tinggi. Seolah dunia kepenulisan menjadi miliknya. Lima tahun berikutnya (tahun 2006), kesempatan emas berpindah tangan ke Habiburrahman El Shirazy. “Ayat-Ayat Cinta” miliknya, menjadikannya sebagai raja pena. Tak ada yang tak mengenal dirinya. Semua sibuk memperbincangkan karya mega-best seller itu. Segudang gelar pun disabetnya. Tak berapa lama kemudian, terlahir lagi Andrea Hirata. Melalui novel tetraloginya (Laskar Pelangi, Edensor, Sang Pemimpi, dan nyusul yang keempatnya). Nama Andrea Hirata tak kalah hebohnya, bak selebriti yang asyik diperbincangkan orang-orang. Mereka telah menjadi penulis ulung yang namanya sudah dan hampir mendunia. Tak ada yang mengira sebelumnya. Mereka genggam kejayaan lewat menulis.
Saya pun menjadikan mereka sebagai sumber inspirasi dalam berkarya. Saya ingin punya tulisan yang bisa membuat seseorang menjadi lebih baik. Saya ingin melalui tulisan orang akan menangis dan terpacu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Kekaguman kepada penulis-penulis handal seringkali membuat saya iri. Ada tantangan dalam diri ini untuk membuat goresan indah. Saya ingin seperti mereka_(Pengarang-pengarang tadi). Bukunya dinikmati banyak orang. Itulah mimpi saya. Mimpi yang akan saya jadikan motivasi untuk menulis. Buat saya, menjadi penulis adalah mimpi yang sempurna. Bukankah mimpi yang membuat orang berhasil meraih cita? Bagaimana kita akan melakukan suatu hal yang nyata, jika tidak berani bermimpi. Selagi mimpi masih gratis, maka bermimpilah!
Impian menjadi penulis seringkali terbayang. Hingga memacu saya untuk berlatih lebih giat lagi. Terus menyulam usaha, mengait benang demi benang. Saya berharap kelak benang-benang itu akan menjadi sebuah rangkaian karya yang indah. Dan menjadikan sulaman itu berbentuk karya yang dapat dinikmati banyak orang. Bahkan dengan penuh rasa bangga memilikinya. Berhasil atau tidak, semua tergantung usaha. Dan pengalaman yang akan menjadikan kita semakin mengerti apa arti dari keberhasilan dan kegagalan dalam penulisan.
Saya kembali teringat perkataan Norman Vincent Peale, seorang pemikir terkemuka dunia. Beliau berkata : "Anda pasti bisa, jika Anda pikir Anda bisa". Nasihat bijak inilah yang saya jadikan pemicu dalam menapaki hidup ini. Kawan! Keyakinan akan mampu mengalahkan segalanya. Ingat itu!
Saya yakin, sepanjang abad ini manusia terus menulis. Mencatat segala sisi kehidupan yang dialaminya. Namun, bentuk catatan itu berbeda-beda. Ada yang tertuang dalam bentuk tulisan pada setiap lembaran kertas. Adapula yaang tercatat hanya dalam memori kecilnya, otak. Saya tahu, otak adalah salah satu tempat penyimpanan segala bentuk file yang kita punya. Tapi ketahuilah, otak tak hanya tercipta untuk itu. Masih banyak file-file lain yang jauh lebih penting untuk disimpan di sana. Maka, tulisan adalah alat terbaik untuk menyimpan segala file.
Saya pernah mendengar, katanya menulis itu dapat mengobati stress. Saya mencoba membuktikannya. Saya pun menulis. Setiap warna kehidupan yang saya temui, saya tulis. Tak peduli warna itu cerah, kusam, ataupun gelap. Semua saya lampiaskan. Saya jadikan menulis sebagai kesempatan untuk menuang segala gundah yang kadang mendera. Pun saya jadikan sebagai tempat untuk menyampaikan keluh tanpa ada yang mencaci dan memerotes. Dan akhirnya? Ucapan tadi terbukti. Segala gundah berhasil saya tepis. Pelampiasan ego dan emosi tertuang penuh di sana. Tak lagi memenuhi ruang dalam otakku, yang terlampau sesak dengan segala kompleksitas masalah yang dihadapi. Hingga hatipun dibuatnya menjadi lapang. Tak ada beban.
Bagi sebagian orang, menulis adalah ladang beramal. Disinilah pengaplikasian segudang ide tertuang. Mengikat setiap makna hidup yang diperoleh. Lalu kemudian di-share kepada orang lain. Hingga membuat orang-orang menjadi tahu. Dan akhirnya mereka bisa keluar dari ruang pencariannya. Dan ini yang saya inginkan. Sejatinya, setiap goresan yang saya ukir dapat menjadi jawaban dari setiap pertanyaan yang ada. Saya ada atau tidak, saya ingin jawaban itu terus ada. Maka tulisan-tulisan itulah yang kelak akan menjawabnya. Saya ingin keberadaannya akan terus dinantikan oleh sang penantinya. Bahkan hingga meninggalkan dunia fana ini, tulisan saya tetap menjadi amal jariah. Menjadi sumber ilmu bagi banyak orang. Bukankah manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat buat orang lain? Dan saya ingin menjadi wujud manusia itu. Menjadi manusia yang paling baik. Ya! Dengan menulis saya akan mewujudkan itu. Karenanya, menulis adalah bukti pemberian yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tapi satu hal yang tak kalah pentingnya, keikhlasan dalam memberi. Segala bentuk tingkah tidak akan bermakna kala keikhlasan ditanggalkan. Pun demikian ketika kita menulis. Menulislah dengan penuh ketulusan. Karena tanpa ketulusan, tulisan tak ada artinya. Bukan pahala yang dituai atas ladang yang telah kita rawat. Tapi kesia-siaanlah yang akan menjadi ganjaran atas tingkah kita.
Kata orang, menulis itu butuh bakat. Bagi saya, menulis itu butuh latihan. Saya berdalih pada teori Thomas Alfa Edison. Beliau menyatakan bahwa sukses itu adalah 1 % karena bakat dan 99 % karena kerja keras. Menulis adalah sebuah keterampilan. Dan setiap keterampilan harus terus dilatih secara rutin. Dengan demikian, keterampilan itu lambat-laun akan terbentuk. Layaknya seorang bayi yang baru belajar merangkak. Kadang terjatuh, lalu nangis. Tapi setelah itu, dia tetap bangkit. Bayi itu selalu berusaha sekuat mungkin sampai dia benar-benar bisa berjalan. Jadilah seperti bayi itu. Tak kenal lelah, tak kenal rasa bosan dan putus asa.
Kata orang, menulis itu susah. Ya! Memang susah buat mereka yang tidak pernah mau mencoba. Karena idenya hanya terbayang di benaknya, tanpa pernah dituangkan dalam goresan penanya. Pernahkah kita memperhatikan seekor anak burung yang belum bisa terbang? Bayang-bayang ketidakmampuannya untuk terbang selalu menghantui. Namun, seiring berjalannya waktu ia terus berlatih dalam setiap kesempatan yang ada. Berucap “I believe I can fly..!!!” Hingga hadirlah dia sebagai seekor burung yang pandai terbang. Bukankah segala keberhasilan berasal dari sebuah ketidaktahuan? Burung-burung itupun demikian. Sang bayi pun demikian. Kita harus tahu apa yang sebenarnya kita inginkan dan apa yang harus dilakukan untuk meraihnya. Tak penting seberapa banyak kesempatan yang kita miliki. Yang terpenting, seberapa banyak kesuksesan yang kita toreh dari setiap kesempatan yang kita punya. Maka tiada kata yang ingin saya lafadzkan selain “Menulis, menulis, dan menulislah!”
Senin, 03 November 2008
"Asa Yang Nyari Hilang"
Matahari semakin terik, seolah ingin memanggang semua makhluk di bawah bentangan sinarnya. Belum lagi, angin panas yang tak bosan-bosannya menampar mahasiswa sekitar kampus ini, termasuk aku. Tenggorokanku semakin meronta ingin diguyur minuman dingin. Namun, aku tak mempedulikannya sedikit pun. Rasa haus yang telah mencapai batas maksimal membuatku tak jua bergeming sedikitpun. Tatapanku masih saja tertuju pada gadis itu. Kucuran keringat yang sedari tadi membasahi kerah bajunya, tak pernah membuatnya berucap desah keluh. Kulihat semangat yang masih menggelora dalam dirinya, membuatnya semakin lincah mengais tong sampah itu. Tak ada malu dan keraguan sedikitpun yang tampak dari tingkahnya. Satu per satu, gelas aqua bekas dengan lincah dimasukkannya ke dalam karung usang yang sedari tadi dijinjingnya. Dan semakin bertambahlah asa dalam dirinya. Kuluman senyum pun menghiasi wajah manis itu. Tanpa kusadari, wajah ini turut mengukir senyum tipis melihat aksi gadis itu. Entah aku terhipnotis olehnya atau gimana, aku pun tak tahu. Melihat tingkahku yang agak aneh dari biasanya, Yulis, yang sedari tadi berjalan bersamaku, dirundung kebingungan yang teramat sangat. Saat aku menghentikan langkahku dan memilih untuk duduk di taman baca depan fakultasku, aku yakin dia hanya melongo menatap diriku yang sedang mengumbar tatapan asing ke arah gadis itu.
“Hajrah, ada apa dengan anak itu? Jangan-jangan kamu punya utang dengannya?? Atau dia yang berutang kepadamu?” Yulis bertanya sinis kepadaku. Aku tak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Aku menangkap ada rasa tak suka oleh Yulis terhadap gadis itu. Ah, entahlah…
Utang? Pertanyaan Yulis barusan membuatku sedikit terusik. Namun, pandanganku belum juga terputus dari gadis itu. Hah? Anak itu duduk melantai tak jauh dari tong sampah itu. Gadis itu menunduk, lesu! Tak lama, ia berganti posisi, dengan lutut dilipatnya setinggi dada dan kedua tangan menopang wajahnya. Ada apa?!! Rasa penasaranku yang tak dapat kubendng akhirnya membuat tubuhku bangkit dari tempat duduk ini dan berniat ingin menghampiri gadis itu. “Waktu yang sangat tepat!!!” aku berteriak dalam hati.
“Yulis, aku nggak jadi ke kantin. Kalau mau, kamu duluan saja. Maaf, aku nggak bisa nemanin kamu. Aku punya urusan dengan gadis itu,” tanpa menunggu jawaban darinya, akhirnya aku meninggalkan Yulis menuju gadis itu. Sekitar tujuh langkah dari tempat gadis itu duduk, langkahku terhenti seketika. Aku kaget. Gadis itu menangis! Yup, kesedihannya kian nyata, tak tersembunyi. Tak ada lagi senyum manis yang barusan aku saksikan dari wajahnya. Tak ada lagi semangat menggelora yang ia pantulkan dari tubuhnya. Wajahnya tetap saja tertunduk, tapi aku bisa melihat genangan air mata yang terbendung di sana. Aku mulai ragu untuk mendekatinya. Tapi akhirnya, aku berhasil menepis keraguan itu.
“Permisi, maaf mengganggu Dik…” aku mulai menyapa. Sontak gadis itu kaget dan dengan terburu-buru mengelap matanya yang masih basah. Dia mengangkat wajahnya menatapku, lalu kembali memaksa memasang senyum manis yang tadi sempat hilang, sambil memperbaiki posisi duduknya. Ya, senyum itu adalah paksaan, tapi tetap saja manis. Ia kemudian menggulirkan bongkahan batu yang sejak tadi telah menyesaki rongga dadanya. Matanya pun masih menyisakan airmata yang sebagian sudah mengering.
Aku semakin mendekat. Sapaan basa-basi penghantar perkenalanku dengan gadis itu kian gencar kulontarkan. Mungkin gadis itu sudah men-cap aku sebagai manusia SKSD (sok kenal sok dekat). Ah biarlah, toh gadis ini menyambutku dengan penuh suka cita. Tak ada beban dalam dirinya akan kedatanganku di sisinya. Meski_sekali lagi_ kesedihannya masih tersisa di balik tubuh kumalnya. Setelah melewati fase perkenalan dengannya, aku mengetahui bahwa namanya adalah Rina, gadis berumur 13 tahun. Dia tinggal di salah satu kelurahan di Antang. Meski aku tak tahu pasti nama desa itu, tapi aku sudah bisa memastikan bahwa tempat ia tinggal sangat jauh dari kampusku ini. Apalagi, ia ke sini tanpa berkendaraan alias berjalan kaki. Tanpa diceritakan pun aku sudah menebak dari kemarin bahwa ia adalah salah satu komunitas pencari uang dengan mengumpulkan gelas-gelas aqua bekas itu. Tumpukan gelas aqua bekas di dalam karung kumal itu dapat menunjukkan identitas dirinya sebagai seorang pemulung gelas aqua bekas.
Satu hal yang membuat hatiku cukup miris mendengarnya, ternyata dalam usia yang masih sangat belia itu, ia telah menjelma sebagai tulang punggung keluarganya. Dan aku yakin, tuturan langsung dari gadis belia itu akan mengoyak sanubari siapa saja yang mendengarnya. Oh My God!!! Dialah yang harus membiayai adiknya yang masih kecil. Ibunya? Ternyata ia tak begitu mengenal sosok seorang Ibu. Ibunya meninggal saat melahirkan adiknya, saat ia menginjak usia balita. Selain dekapan sayang, ia harus rela kehilangan sosok pejuang super-woman yang setiap saat siap mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Dan Ayahnya? Ia adalah sosok manusia yang tak punya kasih apalagi tanggung jawab terhadap kedua anaknya. Saat Rina menginjak usia 6 tahun, sosok yang dipanggilnya Ayah itu tiba-tiba menghilang dari kehidupannya. Entah karena apa dia meninggalkan kedua anak tak ber-Ibu itu. Rina cuma bisa menyimpulkan bahwa kepergian ayahnya tak lain karena kehidupan ekonomi dalam keluarganya yang semakin mencekik. Ternyata Rina telah merasakan kebiadaban hidup yang semakin buas ini. Ia telah tercipta sebagai insan yang terkungkung oleh tirani kezhaliman seorang Ayah. Kasihan…!!! Seketika aku teringat wajah sendu Ibu di kampung sana. Aku sungguh beruntung masih bisa merasakan dekapan hangat dan kasih dari seorang Ibu. Meski kini kasih Ayah tak dapat lagi menemaniku, tapi setidaknya dulu kasih itu pernah menjalar di seluruh tubuh mungilku.
“Mungkin Ayah sudah tak mampu lagi membiayai kami. Makanya beliau meninggalkan kami bertiga di gubuk reot peninggalan Ibu, dalam kondisi Sita, adikku, menderita demam yang sangat tinggi. Tapi untung Bu Asih, tetangga sebelah bersedia merawat Sita. Beliau pun telah kami anggap sebagai Ibu kami, sekaligus sebagai keluarga kami satu-satunya, meski tak ada sama sekali hubungan kekeluargaan sedikitpun diantara kami.” Rina bercerita panjang lebar, dan akhirnya bendungan airmata di pelupuk matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah sudah. Aku terharu, seketika horizon kesedihanku runtuh. Diriku tak mampu lagi berkuasa atasnya. Namun, sekuat mungkin aku berusaha tidak menangis di hadapannya. Tanpa ada yang mengkomando, aku merangkul gadis itu, mencoba menghiburnya. Tapi, dia melepas rangkulan tanganku.
“Aku adalah anak yang sangat kotor dan bau Kak. Sangat tidak pantas kakak bersikap seperti itu kepada anak seperti aku. Bahkan mungkin aku adalah titik yang dapat merusak pemandangan indah di kampus ini,” ucapnya polos.
Aku kaget dengan ucapan Rina barusan. Aku berusaha mengerti apa yang dia maksud. Lalu aku mencoba mengalihkan situasi. Aku beranjak dari dudukku, dan berlari kecil menuju tempat penjual makanan ringan dan minuman dingin tak jauh dari tempat kami duduk. Aku membeli beberapa bungkus snack, juga minuman dingin 3 kotak. Kemudian, kembali ke sisi Rina dan menyerahkan seluruh makanan yang aku beli. Awalnya, Rina menolak. Tapi aku memaksa, akhirnya dia menerimanya.
“Aku tahu, kamu pasti haus dan lapar,” begitu kataku kepadanya. Dia kembali menyumbangkan senyum manisnya untukku. Sudah lama aku sangat merindukan suasana seperti ini. Berbagi kasih…
Sementara, jauh di pojok sana, sepasang mata memandang keakraban diantara kami.
***
Setelah suasan cukup cair, aku berusaha mencari celah untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Aku ingin menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sejak tadi menghantui pikiranku, tentang tangisnya barusan, semua tentang dirinya. Aku ingin menjawab rasa penasaranku yang tak dapat kukendalikan.
“Mmm, tadi Rina kok nangis? Dari tadi kakak perhatiin dari jauh, kalau Kakak boleh tahu ada apa ya? Siapa tahu kakak bisa bantu,” aku kembali mencuri perhatiannya. Ia kemudian terdiam sesaat, memandang ke depan, lalu kembali melanjutkan makannya. Lama pertanyaanku dibiarkan menggantung. Aku hanya terdiam menunggu sepatah kata keluar dari mulutnya. Aku tak ingin memaksanya. Biarlah ia berucap setulus mungkin, tanpa ada paksaan dariku.
Sementara, angin semakin sering saja menghentakkan kekuatannya di sekujur tubuhku. Mungkin Rina juga merasakan hal yang sama. Suasana di kota daeng ini rasanya begitu tak bersahabat. Terpaan angin yang idealnya memberikan kenyamanan dan kesejukan bagi siapa saja yang disambarnya, ternyata hanya memaksa kita mengucek-ngucek mata karena kemasukan debu. Aku terkadang bingung, mau salahkan siapa atas ketidaknyamanan ini?
Samar-samar, aku mendengar desahan nafas panjang. Ternyata desahan itu milik Rina. Ia baru saja menghabiskan 2 bungkus snack yang aku berikan, dan sekotak minuman dingin itu. Nampaknya, ia agak gelisah. Apa karena pertanyaanku tadi? Aku tak berkutik, pura-pura tak tahu kegelisahan itu. Lama kami terhanyut oleh kebisuan, akhirnya Rina bersuara. Tapi sebelumnya aku sempat mengulang pertanyaanku yang kedua kalinya.
“Tadi, aku begitu senang bisa mengumpulkan gelas aqua bekas yang lumayan banyak dari kemarin. Tapi,,,” ucapa Rian terputus. Aku mengernyitkan dahi, menunggu lanjutan ucapan Rina. Lipatan 3 lapis garis pun terbentuk di sana.
“Aku kemudian teringat dengan almarhumah Bu Asih. Sebelumnya, beliau,,,beliau mengidap penyakit Demam Berdarah, dan sudah sangat parah. Uang hasil timbangan gelas aqua bekasku mana cukup untuk membayar biaya pemeriksaan Bu Asih ke Rumah Sakit...” Mata Rina kembali tergenangi airmata.
“Rasanya, aku,,,aku adalah manusia yang sama sekali tak tahu berbalas budi kepada orang sebaik dia...” Rina kembali melanjutkan ucapannya, lalu menundukkan wajahnya dengan kedua tangan menutup wajah itu.
“Belum lagi, Sita yang hingga saat ini belum kami temukan.”
“Memangnya Sita ke mana Rin?”
“Sit..Sita hilang 4 hari yang lalu, tepat seminggu setelah kematian Bu Asih. Tapi tetangga bilang katanya Sita diculik oleh orang-orang suruhan Ayah. Katanya Si,,Sita ingin dijual oleh Ayahhh….” Akhirnya kesedihan Rina membludak. Ia menangis tersedu, tapi tak mengeluarkan suara yang dapat mengganggu orang-orang di taman itu.
Kesedihanku semakin tak terkendali. Airmataku tumpah membasahi wajahku. Cepat-cepat aku mengelapnya, jangan sampai Rina tahu aku menangis di hadapannya. Aku merasakan cobaan yang terlampau berat oleh seorang gadis seusia Rina. Tiba-tiba aku teringat dengan janjiku sebulan yang lalu. Aku ingin mengadopsi seorang gadis jika operasi kakiku lancar dan berakhir dengan selamat. Dan saat itu, Ibuku mengiyakan. Memang, selama ini aku mendambakan seorang saudara perempuan. Maklum, aku tak memiliki saudara perempuan dari kedua saudaraku. Saat ini, sulit rasanya mewujudkan impian itu, karena Ayah sudah lama tiada, dan Ibu masih sendiri. Aku kemudian menatap Rina, lama!
“Rin, mungkin kamu ditakdirkan untuk menjadi saudara perempuan yang selama ini aku cari,” ucapku lirih, sembari terus menatap kepadanya. Tak lama, aku beranjak dari dudukku, lalu menghubungi Ibu. Keinginanku untuk menjadikan Rina sebagai saudara angkatku pun aku ceritakan ke Ibu. Awalnya, Ibu agak kaget kala mengetahui bahwa Rina adalah seorang pemulung. Tapi setelah menjelaskan panjang lebar, akhirnya Ibu menyetujui.
Aku kembali duduk di samping Rina. Nampaknya, ia sudah bisa mengendalikan emosinya. Ia sudah mengangkat wajahnya, tapi belum menatapku. Tatapannya masih terus ia layangkan ke depan.
“Tidak sepantasnya aku mengumbar kesedihanku ini kepada orang lain, termasuk kakak. Maafkan aku….” Tiba-tiba Rina bersuara, tapi tetap tak menoleh sedikit pun ke arahku.
“Tidak sepantasnya kamu ngomong seperti itu Rin. Kesedihan akan sirna jika keikhlasan menjadi perisainya,” kataku menanggapi ucapan Rina, kembali mencoba menenangkannya. Sampai saat ini, ia tak jua berpaling.
Lama aku terdiam setelah itu. Aku bingung mencari celah untuk mengatakan niatku kepadanya. Kukumpulkan puing-puing keberanian yang masih berantakan di sekitarku. Dan… dan akhirnya kuutarakan niatku kepadanya, tentang keinginanku untuk mengadopsinya sebagai saudara angkatku.
Mendengar celotehanku, aku agak kaget. Ia berpaling, menatapku tajam. Lalu kemudian kembali menunduk. Ia semakin gelisah. Aku mencoba menenangkan.
“Maafkan aku kalau ada kata yang membuatmu merasa tidak enak. Tapi jujur, tak ada sedikit pun niat untuk melakukan itu.”
Wajah Rina akhirnya bangkit dari tundukannya. Tapi masih tetap menatap ke depan tanpa menoleh kepadaku.
“Semua terserah padamu Rin. Tak ada paksaan sedikitpun dariku. Yang pasti, besar harapanku jika kamu menerima tawaranku tadi. Dan itu akan membuatku merasa sangat senang. Ibuku di kampung sudah tahu tentangmu. Nanti kalau kamu benar-benar sepakat, aku akan menghubungi Ibu untuk berbicara denganmu. Dan aku janji, kita akan bersama-sama mencari jejak Sita yang hilang,” celotehku, berharap Rina akan memberikan comment atas ucapanku.
“Bukannya aku tidak mau menerima ajakan kakak. Tapi, tidakkah kakak salah ucap. Tidakkah kesempatan itu sangat tidak sesuai untuk gadis kumal sepertiku?” akhirnya Rina angkat bicara.
“Jangan pernah berkata seperti itu, Rin. Dari ucapanmu, aku bisa menangkap kalau kamu menerima ajakanku.”
“Aku tak mampu berkata lagi Kak. Aku terlalu bahagia mendengar tawaran Kakak. Tapi aku takut tak mampu membalas budi Kakak, seperti saat Bu Asih berbuat baik kepadaku.”
“Bukan kewajiban kita membalas budi orang lain. Itu urusan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha untuk melakukannya, Tuhan yang menentukan…” Air mata Rina pun tumpah. Air mataku berlinang. Aku tak kuasa menahan suka bertemu dengannya, gadis ini. Aku pun merangkulnya, sama saat aku merangkul Adil dulu, adik laki-lakiku.
Langit masih saja secerah tadi, matahari tetap mengumbar sinarnya. Angin masih saja menari-nari ghaib di sekeliling kami. Dan, sepasang mata kembali menatap kami penuh heran dan tanda tanya. Ternyata, mata itu milik Yulis, di pojok koridor sana.
Minggu, 02 November 2008
Terapi Instant buat Mahasiswa, biar Tak sekedar Ngampus!
Penulis : Robi’ah al-Adawiyah & Syamsuddin
Penerbit : Indiva Publishing, kelompok penerbit Indiva Media Kreasi
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2008
Jumlah Halaman : 216 halaman
Semua orang tahu bahwa kampus adalah institusi pendidikan tertinggi setelah SMU. Semuanya pun tahu bahwa kampus adalah tempat mencetak intelek-intelek bangsa, mahasiswa namanya. Namun, masih banyak yang belum tahu bagaimana menemukan esensi dari dunia kampus itu sendiri. Bahkan mungkin, mahasiswanya pun sekalian, sebagai pihak yang bersangkutan, masih ada yang belum menemukan hakekatnya. Masih banyak yang hanya sekedar numpang duduk mendengar celotehan dosen, setelah itu kabur entah kemana. Hubungannya dengan dunia kampus pun terputus seketika. Berbagai kenikmatan kampus akhirnya tak sempat dia sentuh. Entah karena memang sibuk atau pura-pura sibuk. Dan masih banyak lagi pemandangan lain yang bisa kita temukan di tempat ini, dunia kampus!
Kehadiran buku ini sepantasnya kita syukuri keberadaannya. Betapa tidak, Robi’ah dan Hatta mampu memberikan provokasi-provokasi positif melalui pelampiasan idenya yang sangat ‘wah’. Dengan menjadikan mahasiswa biasa sebagai target utama dalam provokasi itu, kemudian untuk dijadikan sebagai mahasiswa luar biasa. Penulis berupaya merekonstruksi kembali cara berpikir kita tentang dunia kemahasiswaan. Semuanya telah terkupas tuntas dalam buku ini. Mulai dari bagaimana kita mampu menemukan makna belajar sebagai salah satu nutrisi penting bagi seorang mahasiswa. Persiapan untuk menjadi seorang mahasiswa pun turut hadir dalam buku ini, tentu memberikan manfaat yang sangat besar kepada setiap calon mahasiswa yang memang berniat menjadi mahasiswa, biar kelak tidak nyasar. Makanya penulis pun menghadirkan sederet strategi sebagai persiapan tentang itu. Melalui goresannya ini, penulis pun mencoba bagaimana bisa mengeluarkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sering menerpa sang mahasiswa; kampus, kantin, dan kamar kos. Segala cerita mengenai hal itu pun turut mewarnai isi buku ini. Ada lagi, sejumlah tips bagaimana bisa kuliah ke luar negeri, plus persiapannya. Semua hadir dalam buku ini. Bahkan, penulis pun memperkenalkan tentang kehidupan ospek, yang katanya sering menjadi momok menakutkan bagi setiap mahasiswa baru.
Namun, perlu diketahui bahwa sebelumnya buku ini pernah diterbitkan oleh Penerbit MVM (Solo, 2004) dengan judul “Nggak Sekadar Ngampus! Panduan Asyik buat Mahasiswa Plus”. Karena kemudian terhalang oleh berbagai urusan, membuat buku itu mampet dan tak lagi terbit. Antusiasme dari berbagai kalangan pembaca, khususnya kalangan mahasiswa itu sendiri terus bergulir. Kita tak bisa menampik bahwa sambutan pasar cukup baik tentang keberadaannya. Terbukti, permintaan bedah buku pada penulis khususnya dalam rangka penyambutan mahasiswa baru lumayan banyak. Tapi sayang, persediaan di toko tidak memungkinkan. Susah untuk mendapatkannya. Hingga akhirnya, mendorong penulis untuk kembali menerbitkan buku ini, tentu setelah melakukan revisi. Dan hadirlah wajah baru dengan mengubah judulnya menjadi “Agar Ngampus tak Sekedar Status”.
Mantan aktivis mahasiswa ini mampu memberikan terapi pemikiran kepada siapapun yang merasa dirinya mahasiswa, ataupun calon mahasiswa. Dengan segala kesederhanaan kata namun penuh dengan sejuta makna, membuat buku ini layak dijadikan sebagai salah satu koleksi dan pegangan kita. Pengalaman-pengalaman penulis pun turut menambah nilai plus buku ini, membuat pembaca lebih mudah memahami maksud yang tersirat dalam serentetan tulisan di dalamnya. Untaian kata pencerahan pikiran dapat menjadi resep instant untuk menjadikan mahasiswa menjadi mahasiswa yang smart dan luar biasa. Kehadirannya memberikan sedikit sumbangan demi mensukseskan seorang mahasiswa. Selamat membaca dan buktikan khasiatnya!
Sabtu, 01 November 2008
Kegelisahan Hati di Musim Pancaroba
Di penghujung bulan Oktober, nampaknya musim panas ataupun musim hujan tak dapat didefenisikan secara pasti. Tak jelas! Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai musim pancaroba. Sebentar panas, lalu tiba-tiba hujan deras. Parahya, banyak efek samping yang ditimbulkan dari musim pancaroba ini. Tak hanya membuat kita kesulitan untuk memprediksi musim apa gerangan, tapi bahkan juga telah merasuki hati dan tindakan kita. Hari ini baik, dan esok tiba-tiba berubah 180 derajat. Suasana hati pun demikian, juga ikut berubah. Kadang merasa damai, namun tiba-tiba menjadi galau. Semua berubah sangat drastis. Membuat sang pemilik hati pusing tujuh keliling.
Oktober tak hanya identik dengan pancarobanya. Warna lain yang turut memeriahkan musim pancaroba ini adalah,,, Ospek! Mahasiswa baru, sudah mulai merasakan angin pengkaderan akhir September lalu. Kasihan, ospek dilakukan saat musim pancaroba masih menyerang. Tapi apa boleh buat, semua sudah ditakdirkan. Tak bisa dipungkiri, semua kampus masih mengenal dunia ospek. Meski nama itu sudah di-delete dari kamus pendidikan, tapi kita tak bisa menutup mata. Hakekatnya masih terasa di beberapa titik. Sedikit menoleh pengalaman kemarin, saat masyarakat kampus merayakan pesta pengkaderan. Pengalaman pahit sempat terukir. Perpeloncoan tak mendidik masih dilestarikan. Segala bentuk kekerasan tak manusiawi masih dipertahankan. Dan akhirnya, menjadi boomerang buat mahasiswa baru itu sendiri. Sang senior terkesan menyembunyikan perangai baiknya. Ironisnya, timbul phobia dalam diri mahasiswa baru itu. Benarkah ospek juga merupakan efek dari musim pancaroba? Tindakan semakin tak jelas, sulit didefenisikan. Sekali lagi saya bertanya, inikah ketidakpastian musim yang terjadi dalam kehidupan manusia menghadapi pancaroba itu?
Kini, ramadhan meninggalkan kita. Syawal pun menyapa pelosok bumi. Segala tindakan aneh harus kita tinggalkan. Sembari mengisi keagungan Syawal ini, ada baiknya kita tertidur. Segala bentuk ketololan yang pernah kita lakukan, kita tinggalkan. Mari kita memperbaiki posisi tidur kita, agar kita bisa bermimpi indah. Dan setelah terbangun, kita bisa menyampaikan mimpi-mimpi indah itu kepada penduduk bumi. Biar mereka juga senang. Lalu melupakan tindakan bodoh yang pernah mereka lakukan. Tapi jangan sampai, musim pancaroba kembali menyerang kita. Mengubah hati kita, lalu mengubah jalan kita ke jalan yang sesat…
* Kupersembahkan buat teman-teman,
Jangan sampai kita terjebak dalam musim pancaroba itu^_^
Workshop Kepenulisan FLP Ranting Unhas
Pramoedia Ananta Toer mengatakan bahwa, Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menyimak apa yang diucapkan beliau, tentu ada benang merah yang bisa kita tarik. Bahwa menulis tak pernah terhalang oleh ruang dan waktu. Pekerjaan yang tak pernah hilang termakan waktu dan tak kan pernah dibatasi dalam ruang manapun, selama proses menulis itu memang betul-betul teraplikasi. Berawal dari sini, FLP Ranting Unhas ingin mewadahi kawan-kawan yang lain untuk meneruskan potensi-potensi kepenulisan, yang sebenarnya telah ada pada diri mereka. Kegiatan yang dihadiri sekitar 30 peserta ini cukup memberikan kepuasan tersendiri. Terbukti, setelah acara penutupan selesai, beberapa peserta begitu antusias menanyakan follow-up dari kegiatan ini. Panitia, sekaligus pengurus FLP Unhas pun menyambut baik semangat mereka. “Baik, insya Allah kami akan mem- follow-up-i kegiatan ini. Kami akan menghubungi teman-teman yang telah terdaftar sebagai anggota dalam kegiatan selanjutnya. Insya Allah dalam waktu dekat, FLP Unhas akan mengadakan Sekolah Menulis,” begitu paparan Pramitha, koordinator kaderisasi FLP Unhas.
Workshop kepenulisan yang sekaligus dirangkaikan dengan proses recruitmen anggota FLP Ranting Unhas ini ternyata disambut baik oleh beberapa kalangan warga kampus. Angkatan 2008 yang sebenarnya menjadi objek utama recruitmen ini justru didominasi oleh angkatan 2005 dan 2007. “Tak mengapa angkatan 2008 tidak mendominasi kegiatan ini. Mungkin mereka masih sibuk dengan kegiatan pengkaderan di fakultasnya. Tapi, mereka tetap memasukkan formulir untuk mendaftarkan diri sebagai calon anggota FLP Ranting Unhas, meski tidak mengikuti workshop ini,” begitu penjelasan Ketua umum FLP Unhas, A. Saputri Mulyanna. Namun hal ini tak membuat nyali pengurus FLP Unhas ciut, tapi justru semakin menambah semangatnya untuk terus meneruskan asa FLP Unhas yang nyaris saja hilang. Menulislah untuk perubahan! begitu apa yang selalu diteriakkan oleh anak-anak Forum Lingkar Pena.
smangatttt!!!!
Oleh : A. Saputri Mulyanna*
“ Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…”
Tuhan telah menakdirkan Korea ada. Sebuah negara kecil nan indah, menarik perhatian banyak orang. Saya pun berhasil terhipnotis dengan segala keunikannya. Awalnya biasa saja. Tak ada yang istimewa dengan negara itu. Bagi saya, Korea hanyalah sebuah negara asing yang tak sempat terjamah oleh memori kecil yang saya punya. Tapi itu dulu. Kala film-film Korea semakin mewarnai layar TV kita, terbersit kekaguman dalam diri ini. Sebut saja, Endless Love dan Full house. Sebuah film yang sempat membius banyak orang. Saya pun termasuk golongan orang-orang itu. Saya tak bisa menafikannya. Bahkan sempat mengusik pikiran saya. Hingga akhirnya, timbul sejuta tanya dalam benak ini. Ada apa dengan Korea?
Berawal dari rasa penasaran yang tak terkendali, saya terus mengais info tentang Korea. Hingga kemudian, Tuhan mempertemukan saya dengan sebuah buku kumpulan cerpen Korea, Laut dan Kupu-Kupu. Bersyukur, rasa penasaran yang terus mengejar akhirnya terjawab. Mengutip apa yang digoreskan Maman S. Mahayana, dalam kata pengantar antologi Korea itu bahwa : Mengingat sastra merupakan ekspresi kegelisahan pikiran dan perasaan manusia individu pengarang yang mengungkapkan peri kehidupan masyarakat di sekelilingnya, memantulkan potret zamannya, dan menegaskan harapan-harapan, visi, obsesi, atau bahkan kecemasan tentang masa depan kehidupan masyarakatnya, maka sesungguhnya sastra dapat digunakan sebagai pintu masuk mempelajari dan memahami kebudayaan sebuah bangsa.1)
Beralih dari ucapan Maman S. Mahayana itu, saya jadikan dunia sastra sebagai kunci. Layaknya sebuah rumah yang masih dikunci oleh pemiliknya, orang lain tentu tak bisa masuk ke dalam rumah itu. Segala isinya pun tak mampu terjamah dalam benak mereka. Dan,, kunci itulah jawabnya! Sastralah yang menjadi kunci untuk membuka keterbatasan pengetahuan kita tentang budaya lain, termasuk budaya Korea. Bersyukur, antologi Korea ini hadir, memperkenalkan sedikit tentang Korea.
Bercerita sedikit tentang Korea. Merupakan salah satu negara juga semenanjung di kawasan Asia Timur Laut. Terletak di tengah negara besar yaitu Jepang, Cina, dan Rusia. Posisi tersebut memberikan keuntungan dan kerugian bagi negeri ginseng itu. Menguntungkan karena dilihat dari sudut strategi, negara ini merupakan semenanjung yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ketiga negara besar tersebut dengan dunia luar. Merugikan karena Korea bisa menjadi titik strategis dalam gelanggang pertarungan internasional. Terutama antara Jepang, Cina, dan Rusia. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya penjajahan Jepang di Korea Selatan pada tahun 1910.
Berawal dari cerpen “Dua Generasi Teraniaya” karya Han Geun Chan. Cerita tentang keadaan dua manusia dari dua generasi yang harus menelan pil pahit akibat perang. Life is choice! Hidup memang sebuah pilihan. Tapi nampaknya kalimat ini tak berlaku bagi mereka, sang Ayah-Anak itu. Mereka pasti tak pernah memilih untuk hidup berteman dengan ketidaksempurnaan. Tokoh Mando sebagai ayah, tak pernah memilih untuk dihilangkan satu lengannya. Pun begitu dengan Jinsu, anaknya. Dia pasti tak kan pernah mau memilih kakinya buntung. Simak saja ucapan Jinsu berikut. “Kalau buntung lengan seperti Bapak, itu lebih baik. Kalau buntung kaki sangat teraniaya untuk berjalan.”2) Sangat jelas, ada rasa ketidaksiapan menerima kondisinya. Tapi apa daya, mereka terpaksa memilih jalan hidupnya sekarang. Merekalah korban perang.
Cerita mengenai kondisi Korea sudah lama dimulai dalam sejarah manusia. Tak bisa dipungkiri, Korea telah mengukir sejarah yang cukup panjang. Konflik ideology menjadi pemandangan biasa kala itu. Lima tahun Indonesia merdeka (1950), ternyata Korea justru mengalami fase kritis. Saat itulah titik klimaks perjuangannya. teriakan histeris membahana
Konflik yang tak kunjung usai justru berujung dengan sebuah perang. Ironisnya, Korea mengganda. Lahirlah Korea Utara dan Korea Selatan. Masing-masing mengusung ideology yang berbeda. Terdapat dua idealisme yang tak dapat disatukan. Tak hanya itu, berderet kepedihan semakin mewarnai kehidupan Korea. Perang semakin tak terkendali. Keluarga, kerabat, tetangga, bahkan saudara pun tak lagi menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan ulah. Sengaja atau tidak, mereka saling berbunuhan. Segala bentuk tindakan konyol terus dilakukan. Perbedaan ideology alasannya. Kerugian, tentu tak dapat lagi di taksir berapa jumlahnya. Sebab bukan hanya materi belaka, tapi juga jiwa-raga menjadi taruhannya. Penekanan psikologis pun tak lagi mampu dikendalikan.
Berpijak dari fenomena itu, lahirlah sastrawan-sastrawan Korea. Sebut saja mereka Kim Tongni, Kwon Taeung, Sonu Hwi atau Han Geun Chan, seperti yang disebutkan oleh Maman S. Mahayana dalam antologi itu. Perang saudara yang merajalela menimbulkan keprihatinan yang mendalam bagi jiwa mereka. Melalui dunia sastra, mereka ingin mempropagandakan nilai-nilai kebaikan. Mereka ingin menyentuh hati orang-orang Korea melalui goresan pena. Mereka ingin mengungkapkan segala gundah dan rasa sakit akibat perang itu. Perang yang telah terlanjur menodai hati dan kehidupan mereka. Mereka menggulirkan bongkahan batu di dalam dada yang tak sempat terlontar, untuk kemudian menjadi gerak nyata menulis tinta. Karena menulis adalah tempat pengaplikasian diri dengan segala idealisme yang kita pegang. Tak pernah hilang termakan waktu.
Sisi lain dalam antologi ini terdapat pada cerpen “Seoul Musim Dingin 1964”. Cerpen karya Kim Seung Ok itu justru mengumbar aroma pesimisme. Puncak ketegangan terjadi saat Tokoh si Lemah yang ditinggal mati oleh istrinya, ikut bunuh diri. Tentu ada yang terjadi di balik kejadian itu. Lagi-lagi, perang Korea menjadi tumbal. Seperti yang dikatakan Maman S. Mahayana dalam kata pengantarnya pada antologi Laut dan Kupu-Kupu itu, perang Korea laksana sebuah monumen hitam yang membawa masa depan begitu gelap.3) Bayang-bayang suram perang Korea nampaknya terus bergentayangan. Lalu menghantui kehidupan orang-orang Korea itu sendiri. Menyisakan trauma kepada setiap manusia berpendudukan Korea. Sungguh ironis! Namun tak banyak yang dapat terucap dari bibir ini. Hanya ada rasa kasihan yang sempat menghampiri sanubari saya. Hingga kemudian terlontar sempurna oleh mulut kecil ini.
Menilik lebih jauh lagi, perubahan demi perubahan terus terjadi. Menjadikan Korea sebagai budak perkembangan zaman. Ya, pengaruh industri semakin nyata. Kehidupan modernisasi semakin menujukkan keberadaannya. Hal ini tersirat dalam cerpen “Jalan ke Shampo” karya Hwang Seok Youn. Cerpen itu seolah ingin meneriakkan kepada seluruh warga Korea tentang kemajuan-kemajuan itu. Sebuah perubahan yang sebagian orang justru tak menyukainya. Betapa tidak, nilai-nilai solidaritas yang selama ini mereka pertahankan, kini semakin memudar. Semua hilang terganti oleh orientasi materi. Kemewahan hidup semakin berkuasa. Mematahkan semangat solidaritas yang selama ini mereka usung. Puing-puing kekeluargaan kini semakin lenyap. Mungkin tak banyak yang tahu. Segala bentuk kemewahan yang di miliki Korea saat ini berawal dari sebuah kampung kecil, dengan segala kesederhanaan di dalamnya. Belum ternoda oleh segala bentuk peralatan-peralatan canggih. Belum terjamah oleh kerakusan manusia-manusia berdasi. Dulu, Korea masih memiliki deretan pinus yang berjejeran indah di pinggir jalan. Dan pinus-pinus itu masih menjadi korban hempasan salju di musim dingin.
Shampo, sebuah tempat terpencil di negara Korea. Namun menjanjikan sejuta keindahan. Melimpah tanah yang subur. Kebebasan menangkap ikan sebanyak mungkin tak pernah ada batasnya. Tak ada proyek yang mengintai. Keharmonisan hidup sungguh tercipta. Dengan segala kesederhanaannya, kesejahteraan hidup bisa dirangkul. Tapi, itu suasana 10 tahun yang lalu, seperti yang diceritakan dalam cerpen “Jalan ke Shampo” itu. Sekarang, Shampo sudah menyatu dengan daratan. Sudah dibangun tanggul dan puluhan truk menimbun batu di sana. Kehidupan di sana semakin rumit. Masyarakat pun banyak yang tidak siap dengan segala perubahan yang terjadi. Naas, masalah semakin kompleks. Kedamaian desa sudah tergusur oleh proyek-proyek besar. Perahu pun sudah tak ada lagi.4) Betapa tidak, sudah ada jalan baru membentang di sana. Semua sudah berubah. Ilalang kering hanya bergoyang acak ditiup angin berpasir. Tanah subur tak dijumpai lagi. Deretan pinus indah semakin cacat. Tak lagi berbaris di pinggirang jalan. Alhasil, semangat Tokoh Young Dal untuk mengunjungi kampung halaman semakin luntur. Timbul kekecewaan yang semakin membuncah mendengar perubahan itu. Dia bahkan merasa asing di kampungnya sendiri. Pun demikian dengan tokoh Baek Hwa. Meski kemajuan industri merupakan habitatnya yang paling aman dan menguntungkan sebagai seorang wanita pelacur, namun dia tetap membenci kehidupan itu. Kehidupan yang telah mencuri kedamaian kampungnya.
Terlepas dari kesedihan-kesedihan itu, ada cerita indah yang masih tersisa. Cerpen “Dini hari di Garis Depan” karya Bang Hyun Seok justru memamerkan semangat perlawanan para pekerja pabrik di Korea. Di tengah kegalauan hati menghadapi pejabat-pejabat berdasi tak tahu diri itu, mereka memberontak. Perkembangan industri yang semakin menjamur terus mereka lawan. Menentang nasib para buruh yang sering di hadapkan pada kondisi yang tak berdaya. Meski kehidupan dunia perburuhan di manapun nampaknya sama saja. Tapi mereka ingin menumbangkan teori tolol itu. Di sana, pemerasan dan penganiayaan terhadap buruh oleh para pemegang modal seperti sudah menjadi pemandangan biasa. Dan mereka tak ingin melestarikan pemandangan itu. Sebuah kesalahan sangat tak pantas untuk dilestarikan.
Laut mungkin merepresentasikan gelombang kehidupan yang selalu tak terduga, absurd, dan kupu-kupu mewakili generasi baru yang tak lagi merasakan kepedihan akibat perang Korea tahun 1950. Generasi yang sudah jauh meninggalkan trauma dan kisah pedih tentang perang. 5)
Sangat disayangkan, luasnya laut tak mampu menghapus luka yang tersisa akibat perang itu. Apalagi, indahnya kupu-kupu tak sanggup menorehkan senyum di wajah mereka, orang-orang Korea itu. Untuk sekedar melupakan sejenak kepedihan hati akibat perang. Dan beruntung, cerpen “Menyeberangi Perbatasan” karya Jeon Sung Tae dalam buku itu berhasil membuktikan. Rasa sakit yang pernah mendera perlahan semakin hilang. Perjalanan tokoh Park melewati perbatasan Kamboja-Thailand dinikmatinya sebagai sebuah perjalanan pariwisata.6) Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan indah. Tak ada lagi ketakutan yang menghantui perjalanannya seperti sedia kala. Yang dahulu, menyeberangi perbatasan itu berarti kematian. Kini, ucapan itu tak lagi benar. Kenangan pahit yang pernah terukir di sana, lenyaplah sudah. Di perbatasan itu, banyak kisah yang telah tergores. Sejarah tentang perpisahan Korea Utara dan Korea Selatan berasal dari sana. Meski sampai kapanpun, sejarah itu tak kan pernah hilang!
Sebuah puisi saya kirim buat orang-orang Korea. Semoga duka yang pernah terlukis dalam dada bisa hilang tertiup angin.
Aku minta pada Tuhan setangkai bunga segar,
Ia beri kaktus berduri
Aku minta kupu-kupu, diberikanNya ulat berbulu
Aku sedih dan kecewa,,,
Namun kemudian, kaktus itu berbunga. Indah sekali!
Dan ulat itupun menjadi kupu-kupu yang sangat cantik
Itulah jalan Tuhan.. indah pada waktunya
Tuhan tidak memberi apa yang kita harapkan,
tapi Ia memberi apa yang kita perlukan
Terkadang kita sedih, kecewa, bahkan merasa terluka,
tapi jauh di atas segalanya Ia sedang merajut yang terbaik
dalam kehidupan kita….
Saya berharap, orang-orang Korea dapat menjadi kepompong kehidupan. Agar kelak mampu terlahir sebagai kupu-kupu indah. Tentu setelah melewati fase kepompong itu. Semoga! Biarlah saat ini kita menjadi kaktus yang berduri itu. Dan yakinlah, setelah ini ada kehidupan yang jauh lebih indah. Cukuplah seulas senyum yang menjadi penawar atas kepedihan yang telah terlanjur ada.
Kini, timbul tanya di benak kita, juga buat saya. Apa makna antologi cerpen Korea ini? Satu sisi yang sangat penting, kita dapat mengenal dinamika perubahan sosial-budaya yang terjadi di sana, negeri Ginseng itu. Ia laksana cermin yang memantulkan segala bentuk peradaban di dalamnya. Berkenalan dengan kebudayaan asing sesungguhnya tidak sekedar menambah wawasan, membuka cakrawala baru tentang kebudayaan dan tata kehidupan di belahan dunia lain, mengilhami (inspiring) untuk menghasilkan karya yang mirip atau punya kesamaan, tetapi juga melebarkan peluang terjadinya akulturasi, adaptasi, bahkan adopsi. Melalui cara itu pula kebudayaan sebuah bangsa tidak akan terjerembab pada kondisi yang stagnan dan statis.7)
Seulas senyum akhirnya dapat saya keluarkan sebagai wujud pelampiasan. Saya senang bisa mengenal sedikit budaya Korea, negeri impian saya. Melalui antologi cerpen itu, saya dapat melihat air kali dan genangan sisa salju yang beku terhampar di sana-sini. Saya bahkan mampu merasakan nakalnya angin yang bertiup. Pun serpihan es retak yang beterbangan lalu kemudian menghantam wajah orang-orang di sana. Sebuah paduan yang cukup kompleks. Akhirnya, penasaran yang dulu mendera kini lenyap sudah. Dunia Korea yang dulu membuat saya benar-benar buta, kini tak lagi kronis. Dan membuat saya semakin jatuh cinta padanya, negeri ginseng itu!
***
Keterangan:
1) Hal. ix dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
2) Hal. 14 dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
3) Hal. xi dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
4) Hal. 71 dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
5) Hal. xv dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
6) Hal. xv dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
7) Hal. vii dalam buku Laut dan Kupu-Kupu
* Penulis adalah mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin,
Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) ranting Unhas, Sul-Sel,
aktivis PII (Pelajar Islam Indonesia)
* Alhamdulillah, pernah terpilih sebagai juara 10 besar dalam Lomba Esai Tentang Cerpen Korea, oleh FIB UI. Insya Allah akan dibukukan, doakan!^_^





