must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...

Selasa, 03 Maret 2009

iNfo bAru...

Advertisement
Proyek Buku AngingMammiri : Konro Soup For Soul PDF Print E-mail
Written by Administrator
Wednesday, 18 February 2009

ImageKomunitas Blogger Makassar AngingMammiri, setelah sukses meluncurkan buku perdananya "Ijo Anget-Anget" akhir tahun silam, kembali menggelar proyek penulisan buku yang bertajuk "Konro Soup for Your Soul".

Mengapa Sop Konro?

Sop Konro (Konro Soup), hidangan khas ala Makassar ini berupa sop berkuah maupun dibakar dengan bahan-bahan dasar seperti tulang rusuk sapi atau kerbau, dimasak/dibakar dengan bumbu ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, garam, vitsin yang sudah dihaluskan. Sop Konro pada umumnya disajikan/dimakan bersama nasi putih dan sambal. Rasanya nikmat dan menggugah selera. Maka, Konro Soup for the Soul juga akan sangat nikmat dan menggugah selera untuk memberikan pencerahan batin bagi hati dan jiwa kita semua.

1.Tema: Konro Soup for the Soul

Berisi kumpulan tulisan/cerita inspiratif yang diangkat dari pengalaman nyata dan memberikan pencerahan batin bagi para pembacanya. Tidak menerima Cerita yang mengandung pornografi, erotis, ataupun mengandung pelecehan SARA.

Tim editor AM akan memilih masing-masing 15 cerita terpilih untuk 3 kategori untuk dibukukan.

2. Syarat Penulisan

  • Terbuka untuk seluruh member AM (termasuk Admin dan Moderator)
  • Memakai Bahasa Indonesia
  • Maksimal 1,000 kata (atau kurang lebih 3-4 halaman A4), diketik dalam spasi ganda dan type font Times New Roman 12 pt
  • Sama sekali belum pernah dibukukan, dimuat di media cetak dan media online (selain blog pribadi).
  • Tulisan yang diajukan dapat pula menyajikan kisah nyata inspiratif pengalaman orang terdekat, selain diri sendiri.
  • Tidak ada pembatasan pengiriman naskah (satu penulis bisa menulis lebih dari satu tulisan baik utk kategori yang sama maupun kategori yg lain)
  • Memasang Banner Komunitas Anging Mammiri (Kode HTML Banner tersebut dapat dilihat pada situs resmi Anging Mammiri.org) dan banner khusus dari even ini, dengan beberapa pilihan ukuran banner (pasang salah satunya saja) yakni:

  • Ukuran 125×125
    Image

    Kode Banner:



    Ukuran 220 x 125
    Image

    Kode Banner:



    Ukuran 400 x 85
    Image

    Kode Banner:


  • Ditetapkan ada 3 kategori atau bab dalam buku ini, masing-masing adalah:
    1. Tentang Cinta, Pengorbanan dan Persahabatan (kode kategori : Cinta)
    2. Tentang Sudut Pandang dan Pengajaran (kode kategori : Sudut Pandang)
    3. Tentang Rasa Sakit, Kehilangan dan Ketabahan (kode kategori : Ketabahan)
  • Kriteria Penilaian karya yang akan dibukukan adalah:
    1. Kesesuaian Tulisan dengan tema dan kategori
    2. Orisinalitas
    3. Gaya Bahasa dan Penuturan


    Referensi Penulisan:

    * Buku "One Gigabyte of Love" karya anggota komunitas Multiply Indonesia, Penerbit Lingkar Pena, 2008

    * Buku "Ortu Kenapa Sih?" karya anggota Blogfam, Penerbit Cinta, 2006

    3. Alamat pengiriman

    Naskah dikirim ke alamat email project@angingmammiri.orgThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

    4. Prosedur

    Naskah dapat dikirim langsung dengan attachment (word) disertai dengan username di portal AM dan alamat Blog, berformat:

    Judul/subject email: (KSFS - "kode kategori" ) Judul Tulisan

    Harap menyertakan biodata, dituliskan dengan jumlah kata tidak lebih dari 100 kata.

    Mohon dilampirkan pula alamat rumah,
    nomor handphone yang bisa dihubungi serta no.rekening bank di Indonesia untuk transfer honorarium penulisan.

    5. Waktu Penerimaan Naskah

    Penerimaan naskah dibuka hingga 18 April 2009 dan karya terpilih akan diumumkan secara resmi 2 minggu setelahnya.

    6. Imbalan untuk karya yang terpilih

    1 buku untuk 1 penulis. (bila penulis menulis lebih dari satu tulisan, tetap dapat satu buku)

    Pengiriman buku hanya dilakukan ke alamat di Indonesia. Jika tempat tinggal penulis di luar negeri, mohon siapkan alamat di Indonesia.

    Selain buku, AM akan menyediakan Imbalan kepada penulis masing-masing berupa honorarium (ditetapkan kemudian, setelah ada 'deal' dengan penerbit) yang merupakan pembagian berimbang dengan pihak AM [dari hasil penjualan "beli-putus" dengan pihak penerbit]

    Selamat Menulis!

    Tim Editor Konro Soup for the Soul

    Amril Taufik Gobel ' Daeng Battala', http://daengbattala.com

    Kamaruddin Azis 'Daeng Nuntung', http://daengnuntung.com

    M.Ruslailang Noertika 'Daeng Rusle', http://daengrusle.com

    Khalid Mustafa "Daeng Kulle', http://khalidmustafa.info

    Syaifullah Ahmad Faisal 'Daeng Gassing', http://daenggassing.com

    Jumat, 27 Februari 2009

    Korupsi: Refleksi Budaya Indonesia*)

    Oleh: A. Saputri Mulyanna**)

    “Kita harus memahami bahwa ketidaksempunaan adalah hakikat manusia. Karena itu, jangan malu jika berbuat salah asalkan engkau mau memperbaikinya”

    (George Soros)

    Potret kelam bangsa Indonesia mencuat. Wacana korupsi layaknya sudah tak asing lagi di telinga kita. Ia bagai santapan siang saja. Yang setiap saat kita cicipi. Hampir setiap hari wacana itu terkuak di beberapa media massa. Media cetak, terlebih media elektronik. Indonesia, seolah tak pernah kecolongan olehnya. Ketika menelisik lebih jauh tentang penyebabnya: ada-ada saja.

    Sebagaimana dilansir dalam Harian Online Kabar Indonesia, Muh.Takdir Ilahi, Peneliti Utama The Annuqayah Institute Yogyakarta, dalam opininya menuliskan bahwa Arbi Sanit (2004) menganggap, merebaknya tindak pidana korupsi di kalangan pejabat atau birokrat, akhir-akhir ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk transactive (kesepakatan timbal balik), extortive (pemerasan atau paksaan dengan menggunakan kewenangan publik), defensive (menghindarkan dijadikan yang lebih besar), dan supportive (suatu korupsi yang mendukung tindakan yang lain, sehingga berlanjut). Tak tanggung-tanggung, kini tak mengenal lagi antara tua-muda, antara atasan-bawahan, antara masyarakat menengah ke atas-masyarakat menengah ke bawah, atau antara birokrat-nonbirokrat. Parahnya, golongan penegak keadilan pun ikut tergilas olehnya. Pihak yang sepatutunya menjadi handa-taulan bagi masyarakat luas, justeru bertingkah yang tak pantas dicontohi. Sehingga, jadilah korupsi bagaikan sebuah virus penyakit. Virus massal yang semua orang punya kesempatan tertular olehnya. Virus yang kini semakin mewabah kemana-mana. Noktah yang semula dianggap asing, akhirnya dianggap biasa.

    Korupsi, momok menakutkan namun kini menjadi biasa saja. Korupsi kini tlah menjadi sebuah power yang siap menghipnotis siapa saja. Mak tak heran, power itulah menyeret pelakunya untuk bertindak ’bodoh’. Hingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sulit tuk ditebas lagi. Dan kemudian terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Naas, disadari atau tidak, ia berhasil digubah menjadi sebuah budaya. Tak bisa dipungkiri, korupsi, kini telah membudaya di Indonesia. Budaya hitam yang sangat tak pantas untuk dilestarikan. Betapa tidak, kerakusan para koruptor telah merugikan banyak orang. Sungguh egois! Benarkah Indonesia telah ditakdirkan bersanding dengan korupsi?

    Selayang Pandang Makna Korupsi

    Korupsi, berasal dari kata “Corruptio”(bahasa Latin) = “corruption” (Bahasa Inggris). Hal/ proses/ terjadinya:

    a. Pembusukan (moral/biologis).

    b. Perusakan.

    c. Pembinasaan.

    d. Pemerosotan moral-ethika-kesusilaan.

    e. Penyuapan terhadap pejabat sehingga pejabat itu tidak lagi menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat.

    f. Penyuapan yang terjadi terus menerus sebagai tradisi yang mendarah daging mengakibatkan kemerosotan mental pejabat sehingga pejabat terbiasa menyalahgunakan jabatannya untuk memperoleh keuntungan pribadi, baik secara materiil, moril maupun politik, sambil mengabaikan tugasnya sebagai abdi masyarakat.

    Berdasarkan penjabaran di atas, penulis dapat menarik benang merah, bahwa korupsi adalah suatu tindak penyelewengan dan ketidakdisiplinan terhadap segala ketentuan yang berlaku. Atau, sebuah penyelundupan dan penyalahgunaan kesempatan demi pemuasan nafsu. Atau, langkah instant dalam mendulang kekayaan. Dan masih banyak kesimpulan lain yang bisa dirumuskan. Singkatnya, korupsi adalah suatu sikap amoral yang merugikan diri, terlebih orang lain.

    Kini, korupsi yang dianggap jahat, telah bersembunyi rapi dibawah ketiak kita. Korupsi yang menjadi musuh bebuyutan sejak zaman nenek moyang, berhasil bersembunyi di instansi-instansi yang justru dianggap baik. Gedung DPR dan MPR, tak tanggung-tanggung bisa melahirkan para koruptor itu. Gedung titipan rakyat, justru menyengsarakan rakyat. Uang untuk kemaslahatan rakyat, justru digunakan untuk menikam rakyat. Hampir seperti tingkah Tom & Jerry. Kadang berlaku baik, namun punya maksud jahat dibalik kebaikannya.

    Titik Nadir Bangsa Indonesia

    Sangat miris, mendengarkan Indonesia berhasil meraih nominasi 10 besar Negara ter-Korup di dunia. Sebagaimana dilansir oleh sebuah lembaga penelitian ekonomi independen terdahulu yang berasal dari Hongkong--Independent Comitte Anti Corruption (ICAC). Hal ini dikuatkan oleh penelitian Transparency International (TI) yang bermarkas di Berlin. Bahwa 10 negara paling korup tersebut adalah Nigeria, Pakistan, Kenya, Banglades, Cina, Kamerun, Venezuela, Indonesia, Rusia, dan India.

    Kenyataan yang lebih menyakitkan, peringkat itu ternyata mencapai titik puncak pada tahun 2001. TI menobatkan Indonesia sebagai peringkat keempat terkorup di dunia. Bahkan, survei PERC, sebuah lembaga ekonomi di Singapura, menyimpulkan bahwa Indonesia sebagai negara terkorup kedua di Asia (http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/). Sungguh menakjubkan! Layakkah dijadikan sebuah indikator kebanggaan? Tentu tidak!

    Penanganan kasus korupsi di Indonesia kini semakin terlunta. Bahkan tak jarang menuai sesat. Buntu! Inilah parade kehidupan yang mewarnai perjalanan bangsa kita. Memang, Indonesia tak tinggal diam dan berbangga hati menyabet prestasi-prestasi konyol itu. Keresahan dan ketidakterimaan beberapa rakyat dan pemerintah Indonesia pada khususnya, sepatutnya meninggalkan seberkas tanda syukur di hati kita. Dengan mengusung KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), sebuah lembaga yang dikhususkan untuk menangani kasus-kasus korupsi, BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), lembaga khusus untuk mengawasi perputaran uang Negara, dan atau (Waskat) (Pengawasan Melekat) di instansi-instansi atau slogan-slogan lainnya. Kesemuanya tercipta dengan harapan bisa menjadi titik terang dalam kegelapan yang telah terlanjur ada. Memberantas budaya korupsi yang semakin menjamur.

    Tak salah, harapan memang tak selamanya terkabul. Mungkin, rakyat Indonesia diciptakan untuk menangguhkan sikap sabar dalam dirinya. Bersabar menanti mimpinya menjadi nyata. Melihat bangsanya terbebas dari cengkeraman tangan-tangan korupsi.

    Membumihanguskan Budaya Korupsi

    Sudah banyak kata yang terangkai untuk menebas budaya korupsi di Indonesia. Sudah banyak kalimat yang tersusun demi merumuskan kiat penghapusan korupsi yang kian merebak. Namun, susunan kalimat itu hanya sebuah wacana indah belaka. Retorika manis yang memang siap dan akan selalu siap tuk diumbar. Tapi, apa guna keindahan retorikas tanpa ada sebuah pengaplikasian?

    Efek samping korupsi, kini telah dirasakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Tetapi sayang, sangat jarang yang dapat merumuskannya. Alhasil, ungkapan itu tak dapat diintegralkan menjadi strategi dalam pemberantasan korupsi. Jadi, sudah saatnya ada langkah konkret yang bisa kita lakukan. Sekali lagi: ‘yang kita lakukan’, bukan ‘yang kita tawarkan’. Sistem apapun, sebaik apapun ia, jika tak ada wujud konkret, terkesan sia-sia saja. Bukankah UUD sekalipun tak akan bermakna jika tidak diaplikasikan? Pancasila juga begitu. Pemberantasan kasus korupsi pun demikian. Undang-undang Korupsi baru, UU No. 3/1971 kini telah hadir. Namun, ia tak ada bedanya dengan sebuah wacana biasa jika tak ada kesadaran tuk mengimplementasikannya. Bukan saatnya lagi mengkambinghitamkan siapapun atas menjamurnya tindakan konyol ini. Bukan zamannya lagi menyalahkan siapapun atas menjalarnya jiwa-jiwa koruptor. Penanganan masalah korupsi telah diatur dalam UU No 3/1971. Kebijakan pemerintah pun sudah jelas. Wajar, jika Selo Sumardjan, saat ditanya oleh M. Yusuf A.S. dari MedTrans tentang bagaimana caranya memberantas korupsi di Indonesia. Ia hanya menjawab pendek, "Ambil tindakan!!" Hanya satu yang bisa menjadi penangkal: diri sendiri. Karena sesungguhnya pilihan itu hanya ada 2: mau atau tidak. Dan pilihan itu selalu ada di tangan kita.

    "Bagi saya, korupsi adalah suatu penyakit ganas yang menggerogoti kesehatan masyarakat seperti penyakit kanker yang setapak demi setapak menghabisi daya hidup manusia." Begitu yang diungkapkan ahli sosiologi terkemuka, Selo Sumardjan, dalam pengantarnya untuk buku ‘Membasmi Korupsi’ karya Robert Klitgaard (1998). Tentu bukan orang-orang berjiwa ‘NATO’ (red: No Action, Talk Only) yang kita harapkan. Tapi orang-orang yang mau bertindak untuk membumihanguskan budaya korupsi yang terlanjur ada. Jika korupsi benar telah dijadikan sebuah budaya, maka wajar saja pelestarian itu terus menerus berlangsung.

    Di tengah kondisi riil saat ini, harus ada pilar yang menyangga. Dan kesadaran pribadi adalah obat paling mujarab dalam menangkal penyakit ganas itu. Adanya sikap ‘menghalalkan segala cara’ yang semakin fenomenal, cukup menjadi indikator rendahnya moral bangsa. Tak salah lagi pernyataan Octariano: kita harus memiliki kesadaran moral yang kokoh, yang dapat dimanifestasikan melalui cinta diri. Yang dimaksud tentulah bukan egoisme dan individualisme, melainkan cinta akan kemanusiaannya. Cinta semacam ini akan mendorong diri kita mencintai orang lain. Octariano menjelaskan dalam tulisannya yang berjudul "Menggugat Toleransi Moral dan Budaya Permesif: Topeng Relativisme moral Praktis". Moral, adalah pedoman setiap insan dalam meniti kehidupan. Karenanya, ini bisa menjadi salah satu kunci utama kesadaran diri (self awareness). Langkah jitu dalam membumihanguskan korupsi.

    “ Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…”

    *)Pernah diikutlombakan dalam Lomba Jurnalistik Nasional Badan Pers Nasional (BPN) ISMKI

    **)Penulis adalah Ketua Umum FLP(Forum Lingkar pena) Unhas, Makassar,

    Aktivis PII(Pelajar Islam Indonesia), juga mahasiswi Ners Unhas.


    Mengejar Asa


    Malam membentang bintang

    Kutelusuri jalan,

    Membelah kegelapan

    Memecah kesunyian malam.

    Roda kehidupan kembali berputar

    Pagi, kemudian menggantikan malam

    Lalu muncul siang,

    dan hadir sore,

    dan malam kembali muncul.

    Hari akhirnya berganti

    Satu episode kehidupan terlaksana

    Hingga terukir sketsa hidup

    Yang tak bisa dimusnahkan

    Terangkai dalam bingkai

    yang tak dapat direnovasi

    Yang lalu biarkan ഇയ berlalu

    Meski noktah penyesalan tiada henti mengintai,

    Tak kan kubiarkan ia menyelimutiku

    Merusak sketsa yang pernah kuukir

    Mematahkan bingkai yang pernah kubuat

    Aku kan terus melaju

    Melaju jauh,,

    Jauh kedepan!

    :meski malam menghantui

    meski pagi menantangku

    meski siang menggenggamku

    Dan,

    Kekerdilan asaku takkan buatku bungkam

    Tuk melangkah...

    Dalam Diamku

    Dalam rentetan waktu,

    kutelusuri setiap ranah

    Nalar terpacu

    melawan setiap keganasannya

    Hati menjerit

    menahan kecamannya

    Namun,

    Tak perlu kuberlari darinya

    Segala asa siap kumuntahkan

    Untuknya...

    Ya, untuknya!

    Dalam pergantian siang,

    kemudian menjadi malam,

    Lalu kembali pagi

    Aku bergulat nafsu

    Ditemani asa yang semakin kerdil

    Dengan segala daya

    Tapi hanya tipu yang kudapat

    Ternyata, aku menuai sesal

    Kesadaran baru kerenggut

    Tameng-tameng kehidupan,

    kini berjejer siap menghujatku

    Aku bimbang

    Kuhembuskan kebingungan

    disetiap desahan nafasku

    Ingin ku segera lari

    Namun, dunia ternyata begitu sempit

    Dan waktu

    kini semakin mengintai

    Aku pun menyerah

    :pada keganasannya

    pada kekuasaannya

    pada kehebatannya,

    Aku taubat!

    aku menyerah!

    Dan diam adalah perisaiku...

    Senin, 23 Februari 2009

    Karena Menangis, hati Menjadi Tenang



    Menangis tak selamanya sakit. Terkadang, menangis adalah pelampiasan jiwa yang terkekang. Atau pun hanya sekedar perwakilan jiwa yang sakit. Tapi ketahuilah, setelah anda melaluinya, jiwa akan terasa lapang. Tak sesak lagi! Menangislah, jika itu membuatmu tenang.

    Laskar Mentari Kecolongan*)

    Kode Etik Laskar Mentari:

    “Jangan pernah mengaku gaul kalo’ tak punya banyak teman...

    Jangan pernah mengaku baik, kalo’ tak pernah mentraktir teman...

    Jangan pernah mengaku pintar, kalo’ tak pernah memberi contekan kepada teman...

    Jangan pernah mengaku kaya, kalo’ tak pernah memberikan pinjaman uang kepada teman yang lagi kere’...”

    Diatas sebuah karton merah terang, ukuran 1x1 meter, kalimat itu ditulis. Entah atas dasar apa kalimat-kalimat itu dibuat. Yang jelas, sudah hampir 2 tahun, tulisan itu masih tertempel erat di depan pintu kamar Lindang. Markas besar komplotan “Laskar Mentari”. Meski sebelumnya sudah beberapa puluh orang yang memberi komentar kepadanya setiap kali melihat tulisan itu. Tapi Lindang enjoy-enjoy saja.

    “Bodoh amat mikirin mereka. Kamar, kamar gue. Terserah gue kan?!!” begitu Lindang selalu memuntahkan jawaban kepada siapa saja yang menegur tulisan itu. Bibir manyun pun dengan segera ia sumbangkan.

    ***

    Pagi yang cerah. Matahari sudah menyemburat tinggi di angkasa. Sinarnya menyusup perlahan diantara celah jendela kamar Lindang sejak 1 jam yang lalu. Memberikan setitik cahaya pada ruang yang masih gelap itu. Tirai putih yang kini sudah menyerupai warna coklat muda, masih terbentang lebar di tempatnya. Pertanda, Si Empunya belum menggesernya sedikit pun. Di atas sebuah kasur yang sudah hampir setipis papan, Lindang masih saja menggeliat dengan guling tipis kesayangannya. Sesekali dengkuran nyaring keluar dari mulutnya. Aming, tetangga kamarnya, justru seringkali berterimakasih atas dengkurannya itu. Karena ia tak perlu lagi menyetel alarm setiap pagi. Sangat cukup dengkuran itu yang membangunkannya. Lindang senyum-senyum saja mendengar pujian Aming padanya. Sembari mengelus dada tanda bangganya.

    Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk...

    HP batangan Lindang berdering, mengumandangkan nada sahutan ayam. Lamaaa sekali. Dan kian lama kian membesar. Lama alarm itu bereaksi, namun Lindang tak jua berkutik.

    Gubrakkkk!!!!

    “Woeyy,,maling woeyy...Maling...ada maling....!!!”

    Dengan memasang jurus patokan ayam, Lindang langsung bangkit dari tidurnya dan melompat dari kasur. Sambil mengucek-ngucek mata, dengan langkah perlahan ia mendekati pintu kamarnya. Dibalik pintu, ia mendekatkan telinganya dengan penuh konsentrasi mendengar suara di balik pintu itu.

    “Mmm,,sepertinya ada orang yang sedang berlari,” batin Lindang, sambil terus menempelkan telinganya di pintu kamarnya. Tak berapa lama, akhirnya terdengarlah suara ribut-ribut di lorong kamar. Lindang pun keluar...

    “Tak salah lagi, itu pasti Andong dan Aming. Pasti mereka sudah menangkap pencurinya,” Lindang menerka dengan sangat yakin.

    Dengan wajah celingukan, ia pun keluar kamar. Sementara, batangan sapu ijuk yang siap ia hunuskan ke pencuri tadi, masih tergenggam erat di tangannya.

    “Ndang, kamu kenapa?!!” tanya Aming keheranan melihat batangan ijuk yang digenggam Lindang.

    “Eh, pencurinya mana? Tadi saya dengar ia mendobrak pintu kamarku. Untung saya kunci 3 kali lipat dari biasanya. Ini menjadi peringatan buat kalian-kalian, kalo malam, jangan pernah lupa mengunci pintu kamar. Nah, kalo’ kejadiannya seperti tadi, kita tetap aman kan dari tindak jahil pencuri...” Panjang lebar Lindang menjelaskan, membuat kedua temannya semakin mengerutkan kening. Tambah bingung!

    “Mmm,, kumat lagi deh virus cerewetnya,” gumam Andong, namun tak sampai terdengar Lindang. Takut penjelasannya semakin panjang.

    “Ooo, jadi ada pencuri? Terus apa yang dicuri?” dengan laga’ polosnya Aming bertanya.

    “Huu,,,makanya, kalo’ tidur tuh jangan tidur mati. Biar sekalipun pencurinya menculik kamu, kamu nggak bakal rasa,” Lindang berkomentar lagi, sambil memperbaiki posisi sarung di badannya yang hampir saja melorot.

    “Tapi saya sama sekali nggak dengar suara pencurinya. Padahal, dengkuran Lindang selalu saya dengar.”

    “Weleh-welehhhh...wong tadi aku dengar sendiri kok pencuri itu mendobrak pintu kamarku. Telingamu tuh, yang lebih peka ke bunyi dengkuranku dibanding suara pencuri.”

    Ya’ellaa... atau mungkin karena memang dengkuran Lindang yang jauh lebih besar daripada suara pencurinya ya,” Aming terus mencari pembenaran, tak mau kalah dengan Lindang.

    “Ah, sudah,,sudah. Bukan saatnya berdiskusi disini. Begini, sepertinya pencuri tadi itu belum sempat mengambil apa-apa. Keburu terlihat. Makanya dia langsung lari.” Mas Bayu, sebagai pihak yang dituakan di kosan itu akhirnya memberi arahan, menengahi pertempuran mulut antara Lindang vs Aming.

    “Iya, tuh pencuri kaya’nya memang bukan pencuri profesional. Mencuri kok pagi-pagi begini?”

    “Pencurinya penakut kali, jadi nggak berani bereaksi kalo malam,” Lindang kembali menimpali ucapan Aming. Tak ada habis-habisnya..

    “Eitss,,, ngomong-ngomong, sekarang jam berapa nih?” Lindang tiba-tiba tersentak, sambil memukul jidatnya. Ia melongo kepada kawanan sekos-annya. Dan...

    “Waaaaaaaaaa.....aku final!!!” Lindang berteriak sekencangnya, sambil melompat lari masuk ke kamarnya. Sementara, Aming dan Andong saling berpandangan, heran.

    ***

    “Sahar, kamu memang kawanku yang pwaaaaling baik seujung jagat raya. Pintar!”

    “Eh, maksudmu?” Sahar terbengong mendengar komentar Lindang.

    “Karena bantuanmu tadi, lembar jawabanku tidak bolong semua. Yah, meski tidak dapat bahan contekan semua, paling tidak lembar jawabanku tidak putih polos seperti sedia kala,” jawab Lindang sambil senyam-senyum tanda bahagia.

    “Yahhh...syukurlah. Trus, kamu jawabnya berapa nomor? Kan tadi tersisa waktu 10 menit lagi saat kamu masuk ruangan,” Sahar menghentikan langkahnya, menanti jawaban apa yang hendak keluar dari mulut Lindang.

    “Jawabnya 2 nomor. Nomor 9 dan nomor 10.”

    “Lha, itu kan jawaban yang saya kasih ke kamu.” Sahar tercengang, matanya dibiarkan melotot memandang Lindang.

    “Ya emang iya. Trus kenapa? Tidak ikhlas?” Lindang menatap wajah Sahar, serius.

    “Bukan itu yang kumaksud. Dari 10 nomor, kamu cuma jawab 2 nomor?” Sahar balik menatap Lindang. Dan terjadilah aksi tatap-menatap.

    “Huu,,kamu kaya’ anak eS-De saja, Har. Kalo ada 10 pertanyaan, dan hanya 2 yang saya jawab, itu artinya 8 nomor tidak saya jawab. Gittuuu...ngerti? Eh, kamu belajar matematika nggak sih waktu eS-De dulu?”

    “Ahhh...terserah. Mau belajar ke’, mau tidak belajar ke’, bodoh amat. Yang jelas tadi aku jawab semua soalnya. Situ aja yang merasa sok pintar. Mau dapat nilai berapa kalau cuma jawab 2 nomor?” Sahar semakin gemas melihat kepolosan kawannya yang satu ini.

    “Pusing amat. Itu kan keputusan Bu Imah mau ngasih nilai berapa. Apalagi Keputusannya nggak bisa diganggu gugat. So, mending kita ke kantin saja sekarang. Perutku sudah puyeng mondar-mandir dari tadi minta diisi,” timpal Lindang sambil menarik tangan Sahar yang masih bingung. Dengan langkah sempoyongan, mereka pun menuju kantin.

    ***

    “Mmm,,,ngomong-nomong, Aming dan Andong kok belum nongol-nongol?”

    “Ya, Sahaaar,,, mulai deh.. Saya kan sudah berjuta-juta kali bilang, saya paling tidak suka diganggu kalo lagi makan. Kalo makan ya makan, nggak usah mikir yang lain dulu. Apalagi mikirin dua makhluk itu, rugi!”

    “Dasar makhluk aneh. Makan pake’ konsentrasi segala,” Sahar setengah berbisik. Wajahnya dibiarkan menunduk sambil memainkan sendok dan garpu di kedua tangannya. Meski ia tahu, sebenarnya Lindang menatapnya tajam. Namun, ia pura-pura tak tahu.

    “Bu, minta bakso satu mangkuk lagi,” teriak Lindang ke Ibu kantinnya.

    “Heyy, masih pukul 10 pagi Mas!” Sahar tersentak mendengar permintaan Lindang barusan.

    “Makan bakso sampe 3 mangkuk sekaligus. Itu lambung atau baskom seh. Hati-hati loh, ntar lambungnya melar keisi bakso semua. Ntar, ususnya mampet, dipenuhi bakso semua. Ntar, otaknya buntu tersumbat bakso semua. Ntar, overdosis baru,,,” belum sempat Sahar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lindang memotong.

    “Udah..udah..udah...Kamu kaya’ lebih pintar dari dokter saja, Har. Dokter saja nggak berpanjang lebar ngomong ini itu kalo konsult kesana. Yawdah, saya batalkan saja pesananku. Daripada ntar otakku buntu beneran, mana mau. Nggak tahan eke.” Lindang langsung beranjak dari tempat duduknya. Berlari menuju tempat Ibu kantin meramu bakso. Meramu? Emang jamu mau diramu. Jamu bakso kali ye...

    “Bu, maafkan daku. Saya nggak jadi pesan. Temanku tuh melarang makan bakso banyak-banyak,” layaknya seorang mahasiswa yang sedang meminta nilai tambahan ke dosennya, begitulah aksi Lindang saat ini, memelas! Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sahar.

    “Katanya masih pagi, Bu. Saya takut nanti otak saya buntu tersumbat bakso. Nanti saya takut lambung saya melar keisi bakso semua,” Lindang kembali menambahkan, berhubung Bu Kantinnya cuek bebek saja. Ga’ punya rasa, ga’ punya hati...Lha?!!

    “Penjelasannya cukup?” Bu kantin akhirnya bersuara, kini malah balik nanya.

    Ya’ellaaa,,ini Ibu. Maaf ya Bu ya, pesanan baksonya saya pending dulu. Besok dah, saya ke sini lagi pesan baksonya.”

    “Pending,,pending.. Kalo’ bakso ini saya pending, dan saya simpan untuk kamu makan besok, mau?”

    “Ya nggak lah Bu. Masa’ mau makan bakso yang sudah setengah basi?” Lindang menjawab sembari mengernyitkan keningnya.

    Yawdah, makan aja bakso ini sekarang mumpung belum setengah basi.”

    “Gratiss??” Lindang malah balik nanya dengan penuh semangat.

    “Enak aja gratis. Mana ada...”

    “Bu, baksonya satu!” tiba-tiba Aming nongol dibalik lemari kaca, memecah pergulatan antara Bu kantin dan Lindang yang tak jua selesai.

    “Ah, untungnya.. Si Dewa penyelamat akhirnya datang juga,” sambil mengelus dada, Lindang berlari menjumpai Sahar yang sedari tadi menunggunya. Tapi sebelumnya, tak lupa ia berterima kasih kepada Bu kantin. Sekedar info, sampai saat ini Lindang cs. belum tahu siapa nama Bu Kantin yang sebenarnya. Entah nama Bu Kantin memang begitu dari sononya, atau karena beliau bekerja di kantin ini. Ah, pusing amat, Rektor aja ngga’ pusing. Yang jelas namanya Bu Kantin, titik!

    Sementara Aming, hanya tersenyum tipis saja melihat aksi Lindang yang aneh. Ah, biassaa...

    ***

    “Eh, Ming, Andong kemana? Tumben jam segini nggak ke kantin.” Lagi-lagi, Sahar merusak konsentrasi makan Aming. Tapi untungnya yang dihadapi bukan Lindang. Yang diganggu sedikit saja saat makan, ngomelnya minta ampun.

    “Mmm..tadi saya sempat ketemu di depan fakultasnya. Dan dia kelihatan sangat buru-buru...”

    “Mau bayar utang kali’. Tuh anak kan udah dapat kiriman dari kampung,” kembali dengan tampang polosnya, Lindang memotong.

    “Ihhh,,,bukan itu. Makanya dengar dulu baru ngomel. Dasar Raja Ngomel Lo.” Dengan sedikit buru-buru, Aming memasukkan satu buah pentolan bakso ke mulutnya. Tinggal satu.

    “Mmm, Andong buat kasus lagi. Tadi pagi, ternyata dia ada kuliah. Eh, malah asyik bergulat denganku di kosan. Meneketehe kalau dia punya jadwal kuliah dadakan. Kebetulan, dosen yang masuk tadi itu adalah dosen terkiller di fakultasnya. Dan parahnya lagi, dia ketahuan nitip tanda tangan ke temannya. Berlipat ganda deh hukumannya.”

    “Nah, trus dia dihukum apa?” Sahar menimpal, seolah tak sabar menanti jawabnya.

    “Katanya, tadi dia dipanggil ke ruangan dosen.”

    “Wah, parah tuh. Andong mau diapain di sana?”

    “Disuruh mijetin dosennya.”

    “Wahh,,parah. Dosennya cewek apa cowok?”

    “Onta-onta. Cowwokk... Bapa’-Bapa’, bego!”

    “Parah tuh. Bisa-bisa Andong dapat bonus tendangan ampuh kalo’ salah pijit.” Lindang akhirnya bersuara, setelah sebelumnya terdiam mendengar penjelasan Aming. Kali ini, Lindang terlihat berusaha menahan tawa.

    “Hey fren..how are you today?” sapa Andong tiba-tiba dengan logat inggris sialannya. Mentang-mentang kuliah di jurusan Sastra Inggris, ngomongnya sok orang Inggris.

    How are you-how are you. Emang Lo mau jadi orang Inggris? Pake’ bahasa inggris segala. Udah, pake’ bahasa lokal saja. Lebih enak, tau!” Lindang, yang sama sekali anti-bahasa inggris memprotes Andong dengan penuh semangat.

    “Hanya orang yang tak tau berterima kasih yang mau melestarikan budaya negara lain. Apalagi yang pernah menjajah negeri kita. Dasar tak punya jiwa nasional. Nggak kasihan ya ma pahlawan-pahlawan kita yang telah bersusah payah merenggut kemerdekaan ini. Sementara kita...”

    “Bu, bakso satu!” Andong memotong penjelasan Lindang yang lagi semangat-semangatnya.

    Tiba-tiba....

    “Wadduhhh, eh, teman-temanku yang saya hormati, yang saya banggakan. Kebelet nih,, saya ke WC dulu ya. Kalo’ ntar saya nggak kembali-kembali, tolong baksoku dibayarkan dulu ya...”

    “Eh, Lindang,, Lindangg....”

    Belum sempat ngomong apa-apa, Lindangnya udah kabur. Dasar! Gue tau maksud Lo.

    “Hehehe, akhirnya bisa juga. Ternyata bisa juga yah, makan bakso 2 mangkuk gratis. Mereka memang teman yang baik, suka menolong teman yang lagi kere’ begini,” Lindang bergumam dalam hati, sambil meloncat-loncat kecil dengan girangnya. Kali ini, langsung kembali ke kos-an.

    Katanya mau ke WC? Katanya kebelet,,? Dasar!

    ***

    Sore menjelang. Aming, Lindang, Andong, dan Sahar kembali berkumpul di markas besarnya, kamar Lindang. Kamar jamuran, namun masih dianggap nyaman. Bukan karena fasilitasnya yang lengkap. Tapi karena kamar Lindanglah yang memiliki pasokan makanan tambahan yang selalu ada. Bahkan, Sahar pun kalah, yang notabene tinggal dengan orang tuanya. Hampir setiap minggu, Lindang mendapatkan kiriman makanan dari kampungnya. Tak tanggung-tanggung, segala jenis buah, bahkan yang tidak pernah ada di supermarket sekalipun, sudah pernah diimpor ke kosan ini. Yahh, lumayan..!

    Kamar Lindang akhirnya bernilai sejarah di mata mereka. Disinilah komplotan ‘Laskar Mentari’ itu bertengger. Yup, 2 tahun yang lalu, mereka sepakat bahwa nama ganknya adalah Laskar Mentari. Mereka berharap, kelak bisa menjadi sukses seperti Lintang cs. Mereka tak mau mengambil kata Pelangi, karena tidak mau disebut Sang Plagiator Ulung (padahal yang sebenarnya, merekalah ahlinya urusan copy-paste karya orang, apalagi kalo ada tugas makalah). Alasan lain, katanya karena Mentari sinarnya jauh lebih terang dibanding pelangi. Mereka berharap, kesuksesannya akan jauh lebih bersinar dibanding kawanan Laskar Pelangi itu (red: Lintang cs.)

    Tapi sayang sejuta sayang, meski telah melakukan publikasi secara besar-besaran di seantero kampus tentang keberadaan Laskar Mentari-nya, sampai saat ini mereka belum terkenal-terkenal juga. Entah sampai kapan. Nasiiib...nasib...

    “Eh, eh, eh,,,Kode etiknya kita kok nggak ada? Lagi direnovasi ya?” akhirnya Sahar memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang tumben mewarnai markas itu.

    “Ah, nggak. Memangnya kenapa?” jawab Lindang dengan santai, sambil menyiapkan minuman dingin untuk teman-temannya.

    “Tapi kok nggak ada di pintu?”

    Whats? Hilang?!!!” Andong ikut menimpali. Rencana awal untuk melahap mie istant, ‘Indomie Kaldu’ kesukaannya ditunda. Dasar anak kos!

    Tanpa ada yang memberi komando, keempat komplotan Laskar Mentari itu berlari ke depan menuju pintu Lindang, tempat tertempelnya Kode etik itu.

    “Astaga...”

    “Eh, istigfar tuh yang sempurna!” bentak Aming ke Lindang.

    “Oh iya, ralat. Astagfirullahal’adziiim...jangan-jangan, pencuri yang tadi neh yang ambil kode etik kita. Hmm,, meski dihajar tuh!” sambil mengepalkan tangan dan menyipitkan mata, Lindang terus berkoar mengumpat pencuri itu.

    “Bukan masalah dihajar atau tidak pencuri itu. Tapi, apa untungnya coba dia ambil kode etik kita. Mau dijual? Dijamin deh nggak laku...”

    “Eh, atau jangan-jangan, pencuri itu mau mencontek bebas hasil karya kita. Makanya, dari dulu saya bilang, kode etik kita tuh harus punya hak cipta. Biar orang lain nggak bebas niru kode etik kita. Nah, kalo begini jadinya, gimana?” Lindang kembali berceloteh dengan bebasnya.

    Hak cipta? Emang undang-undang... Keberadaan Laskar Mentari saja belum diakui di kampus, mau pake’ hak cipta lagi. Tapi, benar juga ya? Apaan sih...

    “Ah, aku nggak mau tahu. Yang jelas Lindang yang harus bertanggung jawab. Kejadian ini tidak boleh dianggap enteng. Ini masalah kode etik kita kawan-kawan. Ini masalah prinsip kita. Kalo hilang, apa lagi yang kita punya?” Sahar berkoar-koar penuh semangat di depan teman-temannya, layaknya seorang orator ulung yang sedang berorasi di depan gedung DPR.

    “Ihh,, enak saja nyalahin orang. Emangnya ini kemauanku...ya nggaklahhh...” ucap Lindang membela diri.

    “Kok gitu aja repot sih. Kan bisa ditulis ulang,” teriak Andong tak mau kalah.

    “Enak aja ngomong. Kalo gitu mah semua orang bisa. Masalahnya, kalau aslinya nggak ada, berarti nilai sejarah Laskar Mentari tuh pudar. Begitu!” Sahar kembali menjawab.

    “Oh tenang kawan-kawan... Begini saja, kebetulan Om-ku (red: Paman) adalah seorang Komandan polisi. Serahkan saja kasus ini padaku. Nanti saya yang lapor ke Pak Polisi. Biar kita tangkap tuh pencuri.” Aming yang sedari tadi diam seribu kata, akhirnya berkutik juga.

    “Tambah lagi nih anak,,, masalah begini bawa-bawa nama polisi. Bikin malu tau!”

    “Eh, tungu, tunggu, tunggu...” Lindang tiba-tiba bersuara sambil mengacungkan tangan.

    “Ya, silahkan Pak Lindang”

    “Begini, sebenarnya tadi pagi tuh saya dapat surat depan pintu kamar saya. Tadi lupa mendiskusikannya di kantin. Keburu lari, hehehe.”

    “Sialan lo! Nah, kawan-kawan, ketahuan kan tadi Lindang nggak kebelet. Tapi lari, nggak mau bayar. Aku deh yang dapat imbasnya. Meski dikata baru dapat kiriman, tapi uang-uang itu untuk bayar utang-utangku yang sudah bertumpuk.”

    “Eh, Andong, curhat jangan disini dan jangan sekarang. Bukan waktunya tau!” Aming menimpali ucapan Andong tadi. Dan Lindang, semakin berbesar hati mendengar ucapan Aming barusan, merasa dirinya dibela.

    “Iya, lagian kamu beruntung, Ndong. Bisa mengaplikasikan kode etik kita poin ke-2. “Jangan pernah mengaku baik, kalo tak pernah mentraktir teman yang lagi kere’. Kebetulan aku lagi kere’ berat neh! ” Lindang akhirnya berkomentar. Ia rasa, diam bukan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini.

    “Yang nggak pernah traktir tuh sapa? Lo aja kali. Kaya’nya kita harus nambah 1 poin lagi nih di kode etik kita. “Jangan pernah mengaku manusia, kalo’ sukanya minta ditraktir mulu’.”

    “Jadi, nggak ikhlas nih?” sambil menahan tawa, Lindang menimpali ucapan Andong, malu disebut bukan manusia. Karena hanya dia yang selalu minta ditraktir dengan landasan poin ke-2 kode etik Laskar Mentari.

    “Ya mau gimana lagi. Nasi udah menjadi bubur,” jawab Andong dengan nada pasrah. Tumben nggak pake’ logat Inggrisnya...

    “Mau dengar nggak suratnya?!!” teriak Lindang, pura-pura menganggap urusannya dengan Andong sudah beres. Dan berhasil! Perhatian teman-temanya yang lain kembali fokus ke surat tadi.

    “Iya,,buruaaann!!!”

    Lindang pun mulai membaca.

    Salam persahabatan! Kepada kawan-kawanku komplotan Laskar Mentari yang saya hormati. Sebelumnya mohon maaf atas tindakan jahilku tadi pagi. Kedatanganku ke pemukiman markas Laskar Mentari tak ada maksud apa-apa, kecuali ingin mengambil kode etik Laskar Mentari. Tapi, bukan bermaksud saya ingin mencurinya dari kalian. Saya hanya ingin membaca dan memahaminya lebih jelas. Terus terang saja, saya adalah salah satu penggemar berat Laskar Mentari. Dan besar harapan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Nah, di kampus, saya sering mengintai kalian. Dan suatu hari, saya pernah mendengarkan kalau Laskar Mentari tuh punya kode etik yang harus dilaksanakan oleh seluruh warganya. Dan saya juga pernah dengar kalao ternyata kode etik itu ditempel dipintu markas Laskar Mentari. Makanya, saya terus mengintai kalian untuk mencari alamat markas Laskar Mentari. Dan akhirnya, saya tahu kalo markasnya itu di Kamarnya Lindang. Oleh karena itu, saya sangat terdorong untuk melihat kode etik itu. Dan saya akan berusaha untuk bisa mengaplikasikan seluruh isi dari kode etik itu, demi memenuhi keinginan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Mohon maaf, kalau tindakan saya kelewatan.

    Hormatku,

    Lintang (Laskar pelangi)

    “Waaaa,,, Lintang mau jadi sahabat kita!!!” Aming langsung berteriak, sambil memukul-mukul Andong yang kebetulan paling dekat dengannya.

    “Iya, senang ya senang. Tapi tidak dengan cara seperti ini kamu mengapresiasikannya. Sakit tau!” Aming akhirnya berpindah posisi ke samping Sahar.

    “Wahh,, biar dikata kode etik kita hilang, tapi kalo yang nyuri tuh Lintang dan endingnya seperti ini, bukan main senangnya,” Aming kembali berteriak.

    Akhirnya, Laskar Mentari punya penggemar juga...

    *)Special 4 my first_book

    Kamis, 19 Februari 2009

    Berita baru daRi neGeri paLestiNe


    Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di
    televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza
    rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina.
    Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa
    seolah-olah Israel telah berhasil menang dalam peperangan yang mereka
    kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzon, barangkali apa yang dilakukan
    media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat Palestina.
    Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka
    otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat
    Palestina.

    Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan
    atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum
    bahwa ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi
    rakyat Palestina selama perang 22 hari itu? Apa yang akan saya
    ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh media. Entah kenapa, atau
    mungkin karena apa yang mereka dapatkan bukan berasal dari sumber
    utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina (Brigade Izzudin Al
    Qossam dan HAMAS).

    Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust
    Hilmi Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan
    rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke
    pemerintah HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat
    mendengarkan cerita beliau secara langsung, dan kemudian saya
    ceritakan kembali pada teman-teman semua.

    Selama kunjungannya di Palestina, Ust Hilmi disambut langsung oleh
    para petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir.
    Beliau beserta rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah
    Mesir dengan alasan keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS
    tersebut yang akhirnya menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog.
    Ust Hilmi beserta rombongan pada waktu itu membawa dana segar hasil
    pengumpulan dana dalam demonstrasi- demonstrasi yang dilakukan bangsa
    Indonesia selama agresi Israel berlangsung. Alhamdulillah, total dana
    yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.

    Seolah sambil sedikit bercanda, Ust Hilmi mengatakan bahwa uang yang
    terkumpul tersebut merupakan infaqnya 'minal fukhoro wal masakin'
    (infaknya orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan
    merendahkan yang memberikan infaq itu. Melainkan memberi gambaran
    bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil demontrasi jalanan saja
    bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika sudah
    melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan
    berlipat lebih besar lagi.

    Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut,
    Ust Hilmi banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami
    oleh para tentara Al Qossam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah
    banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang
    berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal tidaklah mungkin terjadi.

    Pertama, secara persenjataan, sudah sangat jelas bahwa perbandingan
    kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel sangatlah jauh berbeda.
    Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel menempati urutan keempat
    di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih
    belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat
    untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza. Menurut salah satu
    sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai
    persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam
    ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai
    suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan
    Amerika-Israel. .. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya
    mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah
    dengan daya rusak yang tidak terlalu besar.

    Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki
    sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara
    aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan.

    Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir.
    Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari
    750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10 meternya telah siap
    tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak mati siapapun
    warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blokade tersebut. Segala
    hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina untuk
    memenangkan pertempuran.

    Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang
    menceritakan aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina
    baik yang di jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang
    barangkali merasa heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah
    lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13
    masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana publik hancur
    total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? Hal-hal inilah yang
    tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.

    Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan
    pertempuran. Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan
    yang dilakukan Israel awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja.
    Pertama kali mereka menyerang melalui serangan udara pada tanggal 27
    Desember 2008, seharusnya menurut pemikiran mereka, akan dapat
    menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari saja (29 desember
    2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara selama 3
    hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008
    mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun
    baru di Gaza. Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian
    tamu undangan yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan
    Israel atas Gaza sudah bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat
    memasuki Gaza. Tapi ternyata apa yang mereka dapatkan sangat jauh dari
    apa yang mereka bayangkan. Justru perlawanan yang sangat sengit dari
    pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan. Hal ini akhirnya memaksa
    zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan sporadis ke seluruh
    target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan dimenangkan
    Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari target.

    Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai
    kehilangan konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang
    awalnya ditargetkan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS,
    akhirnya mulai berubah menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel
    mulai kehilangan arah sasaran.

    Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan
    ternyata, target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan
    basis HAMAS, pada kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang
    kosong tidak berpenghuni, atau bahkan malah target fasilitas publik
    dan sipil. Jika kita perhatikan berita di media asing, Israel selalu
    berkilah bahwa target sipil yang mereka hancurkan itu karena HAMAS
    sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai tempat perlindungan
    dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu dilakukan Israel
    tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi target serangan.

    Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya
    kepada Ust Hilmi. Beliau menambahkan, "bahwa ternyata pihak Israel
    sebelumnya telah mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih
    sebelum serangan dilakukan. Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya
    bukan dilakukan dengan spontan, melainkan sudah melalui perencanaan
    yang matang. Para pasukan khusus itu dilatih di sebuah tempat yang
    kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan di kota Gaza. Mulai dari
    bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit, semuanya dibuat
    mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka melakukan
    serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan
    sebaik-baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah
    terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa
    yang mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target
    yang awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat
    persembunyian tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka
    temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya
    mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah
    rumah biasa milik penduduk sipil."

    Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana
    mungkin HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan? Padahal sekeliling kota
    Gaza sudah diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di
    tiap perbatasan. Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk
    persenjataan mereka? Di luar dugaan, ternyata roket-roket yang dibuat
    HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas. Rangka roketnya terbuat
    dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan detonatornya terbuat
    dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar roketnya terbuat
    dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia sederhana yang mereka
    racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata juga
    mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang
    melintasi perbatasan. Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil
    menghancurkan banyak terowongan yang sering dimanfaatkan warga Gaza
    untuk transfer barang dari dan ke kota Gaza. Tetapi yang perlu kita
    ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel hancurkan itu hanya
    200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800 buah. Jadi
    setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur.
    Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan
    bahwa mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.

    Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian.
    Namun ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel
    lah yang kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang
    sangat sengit sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang
    telah direncanakan, dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa
    pun. Ingat... tanpa syarat apapun!!! Justru pihak Israel lah yang
    pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak, sementara pada saat
    itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus memberi
    perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel
    mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke
    wilayah Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman
    pada Israel bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun
    dan kondisi persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu
    ditambahkan juga bahwa selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan
    sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total jumlah
    roket yang mereka miliki.

    Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa
    mereka sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari
    negara mana pun. Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang
    mujahid selama perang berlangsung, dan masih punya belasan ribu
    pasukan yang lain." Melalui Ust Hilmi, para pejuang HAMAS ingin
    mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga yang sebesar-besarnya
    atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS berharap bahwa
    kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada Palestina, maka
    berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,
    minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya
    itu yang lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan
    jihad."

    InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu
    rakyat Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi
    bantuan-bantuan berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan
    secara bertahap dan tidak sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini
    dikarenakan pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza
    tidak mau untuk memberikan izin masuk Gaza jika dilakukan secara
    besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir mengatakan bahwa mereka
    tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga hal ini membuat
    kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan
    bantuan ke Gaza. Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita,
    bahwa ternyata aksi-aksi yang kita lakukan selama ini ternyata adalah
    aksi terbesar di selurh dunia. Disaat saudara-saudara kita di belahan
    dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan dijaga ribuan aparat setiap
    melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa yang kita lakukan
    di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina harus terus
    kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti
    hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan
    Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi. Allahu akbar!!!

    Sumber: Netkusuma

    Rabu, 07 Januari 2009

    sajak-sajak palestine

    Menelisik Duka di Bumi Palestine

    Duka terkuak,

    Tercabik-cabik jiwa melihatnya

    Tatapan kosong penuh arti

    menamparku di sini

    :adakah sedih melihatnya?

    Kuterdiam di sini

    Di sini kumerenung

    Kurogoh nyaliku di sini

    Di sini kumulai mengenang

    Ku kais kuatku di sini

    Di sini ku akan mulai beranjak

    Ku raba mimpinya di sini

    Di sini ternyata aku hanya diam

    Tak ada nyali yang kudapat

    Tak ada kekuatan yang kukumpul

    Tak ada mimpi yang kupeluk

    Aku terhentak,

    Wajah itu ternyata kian buram

    Tak ada warna,

    apalagi canda

    Hanya tangis yang berkeliaran

    Aku tersadar,

    Diamku tak sanggup mengobatinya

    Akhirnya aku bangkit

    Ingin kuhentakkan kakiku di wajahnya

    Wajah yang tak kenal dosa

    Wajah yang telah mengumbar kebohongan

    Wajah yang telah menaburkan derita

    Wajah yang telah menampakkan kebusukan

    Biar ia hancur

    Bukan hanya hancur

    Tapi kuingin ia enyah dari sini

    Enyah dari tatapku

    Enyah dan tak kan pernah kembali



    Nurani Bertanya*)

    Hati bergeming

    Lagi, dan lagi…

    Sejuta tanya trus menggelinding dalam dada

    : sesak!

    Asa mati sudah

    Hilang tergilas ego

    Tenggelam ditelan nafsu

    Terkoyak nurani memandangnya

    : sinis!

    Tak sanggup lagi menatapnya lama

    Daging ditemani darah,

    Tulang bercerai tiada bentuk

    Air mata tak sanggup lagi terbendung,

    Terurai tiada sanggup kumenahan

    Lalu, timbul tanya:

    Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

    Senja,

    ia bahkan tlah pergi

    Meninggalkan mereka yang terkubur sedih

    Bendera kebebasannya bahkan tak lagi berkibar

    Tak ada ruang ’tuk bersua dengan Bapak Ibunya

    Longlongan minta tolong

    terus menyeruak di tanah kelam itu

    Derita,

    ketidakadilan,

    kemunafikan,

    kebusukan,

    :semua!!!

    Semua menyatu menamparnya

    Lalu, timbul lagi tanya:

    Masihkah kita terbahak melihatnya?

    Tawa, kini berganti duka

    Damai bahkan berganti kelam

    Sunyi, juga berganti isak

    Tak ada siang,

    Malam pun begitu

    :hilang!!!

    Langit bahkan tak bergeming

    Lemparan peluru-peluru bangsat menghapus semuanya

    Mengkerdilkan asa yang dulu pernah buas

    Menelan rahmat yang dulu pernah tumbuh

    Dan kembali timbul tanya di sini:

    Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

    Kawan,

    Palestina kini menangis

    Palestina terlunta sudah,

    Tak bosannya ku bertanya:

    Pantaskah kita terbahak?

    Atau hanya berdiam

    melihatnya tercabik nurani?

    Hati kian menjerit

    Ingin kuteriak:

    Kawan, Palestine sudah hampir mati!!!

    Para budak rakus itu

    telah menikamnya bebas

    Tak hanya menikam jasad,

    Nurani,

    Jiwa,

    Asa,

    :semua!!!

    Semua mereka embat tanpa rasa dosa

    Sekali lagi ku bertanya,

    :tidakkah terguncang nurani?

    Kawan, tahukah:

    Pertolongan adalah harapannya

    Teriakan takbir adalah kekuatannya

    Doa adalah asanya

    Kedamaian adalah mimpinya

    Aku tak mau diam disini

    Menjadi pecundang,

    Dengan santai menyaksikannya di layar kaca

    Karena itu bukan kisah pelipur lara

    Meski dalam gerak yang terlunta

    asaku masih ada

    tuk menopang asanya yang semakin kerdil

    Aku tak mau asa itu benar hilang adanya

    Ingin ku bertanya kepada kalian:

    Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

    Kawan,

    Meski kau tak punya nyali,

    Meski kau tak punya ingin,

    Meski kau tak punya langkah,

    Tapi mereka,

    Mereka masih punya Rabb

    Yang Dia lebih besar dari nyalimu

    Yang Dia lebih besar dari inginmu

    Yang Dia lebih besar dari langkahmu

    *)Ketua FLP Ranting Unhas,

    Aktifis PII (Pelajar Islam Indonesia)




    Terkuak duka di Bumi Palestine

    Mulut dibungkam caci

    Hati dibalut hina

    Jiwa tergores luka

    Tangan ditebas nafsu

    Wajah tertampar umpat

    Tanah terinjak jiwa-jiwa rakus

    Asa tertelan amarah

    :semua!!!

    Semua termakan peluru hina

    Semua tertelan bom Sang biadab

    Semua tergilas tanker-tanker gila

    Semua terkoyak senjata penuh kutuk

    Menjadikan palestin kering kerontang

    Membuat orang palestin bergelimang darah

    Semua,,

    Semua terlunta sudah

    Karena sikap yang terasuk ego,

    Karena jiwa yang tergilas nafsu

    Karena hati terbalut dosa..