must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...

Senin, 28 Maret 2011

Selamat Datang di Universitas Kehidupan

Oleh: A. Saputri Mulyanna

“Tidak ada yang lebih aku sesali daripada penyesalanku terhadap hari dimana ketika matahari tenggelam, sementara umurku berkurang tapi amalku tidak bertambah.”
(Ibnu Mas’ud)


Pentas Skenario Kehidupan
Mengawali tahun baru, arus kehidupan semakin mempertegas tentang kepatuhannya dalam melakoni titah Penciptanya. Ia selalu saja menunjukkan kepada segenap penjuru bumi, betapa eksisnya roda waktu menjalankan tugasnya. Tak pernah bergeser sedikit pun. Tak pernah berhenti walau sedetik. Waktu yang terus berputar itu, pun akhirnya menggiring manusia menuju usia yang semakin bertambah. Satu bulan, 1 tahun, 17 tahun, 59 tahun, 63 tahun, dan mungkin hanya sampai disitu. Pertambahan usia itu tentu diiringi dengan hikmah hidup yang terus menjelma dibalik arus hidup yang dimainkannya dari waktu ke waktu. Selalu ada. Dan, waktu pula yang akhirnya menghempaskannya dari dunia ini. Demikianlah singkat cerita tentang perjalanan hidup manusia. Terlakoni secara sempurna. Penggal pengalaman hidup yang terus berpacu bersama waktu, hingga harus bermuara pada satu premis: datang, dan kembali pergi. 

Minggu, 16 Januari 2011

Reformulasi Habbit

Oleh: A. Saputri Mulyanna

Hari itu masih sangat pagi. Mentari pun belum menyapa sempurna. Kicauan burung masih samar terdengar. Angin subuh sesekali menampar. Jalan yang berkelok ke kiri, naik, ke kanan, turun, dan begitu seterusnya... Ya, perjalanan Sinjai-Makassar memang selalu berkesan. Tak pernah bosan. Beda waktu, beda pula kisah yang dicerita. Panorama alam yang diperlihatkannya cukup mampu menyisakan decak kagum. Jejeran pohon yang tertancap di sepanjang jalan seolah ikut menemani perjalanan siapa saja yang melintasinya. Gunung hijau yang mengelilingi seolah ikut menyambut Sang Musafir dengan penuh kehangatan dan seketika melepasnya dengan penuh kerinduan. Sawah yang membentang pun tak mau ketinggalan untuk menitip kesan pada Sang Pengelana. Atmosfer pedesaan sangat terasa. Subhanallah. Betapa sempurna hasil cipta-Nya.

Sabtu, 15 Januari 2011

Kisah Klasik tapi Asik

21 November 2010.
Kunobatkan hari ini sebagai Hari yang sangat sibuk.
(sejak semalam hingga subuh ini;menyiapkan bahan presentasi u/ kompetisi PKM-GT Unhas u/ ntar pagi.
menyiapkan diri u/ ujian ntar siang)
                                        ***

Kamis, 13 Januari 2011

Ceritaku Kini

Ya !
Ku tahu.
Ia berjalan dalam kelemahan.
Menyusuri lorong kehidupan penuh paksa.
Terkungkung dalam sakit yang telah lama ada.
Duka yang ia rasa, bersembunyi dalam canda.
Pun dalam senyum yang ia berikan.
Juga dibalik kemanjaan yang terkadang ia perlihatkan.

Rabu, 12 Januari 2011

Rasa Ini

Hempasan hujan yang terus membasahi bumi Membentuk kerinduan dalam sanubari Memaksa nurani untuk beranjak dari sini Menuju tempat yang tak terlupakan Menyisakan luka yang kini tak jua melepuh Dan kuingin menghempaskannya bersama guyuran hujan Kuingin meleburkannya bersama semilir angin kencang dLuar sana.
Kuingin beranjak bukan untuk berlepas Hanya mengumpulkn kembali puing kekuatan yg kini tlah berserak dlm kepasrahan yg smakin menjelma Menemukenali diri yg tlah trgerus dinamika kehidupn.
Demi menantang peristiwa2 klasik yg terus terulang Biar tak muak dgn semuanya Dan smkin kokoh berpijak disini Menantang hidup yg terkadang aneh dan tdk masuk akal.

Selasa, 11 Januari 2011

Pornografi Merusak Fungsi Otak dan Seksual. Inilah Cara Mencegahnya

JAKARTA (voa-islam.com) – Pornografi  berbahaya karena merusak fungsi dan struktur otak dan menghambat hubungan seksual suami-istri. Orang yang sudah teradiksi pornografi akan mengalami kegagalan dalam beradaptasi sosial.
Hal itu dikatakan Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan Depkes RI dr. Jofizal Jannis, Sp.S(K) dalam Workshop “Know Your Brain: Kerusakan Otak Akibat Pornografi” di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta (23/12/2010).
Stop Pornografi Sekarang Juga

Riak sendu Ramadhan*)

Sikap terpasung bersama waktu,  nyaris tak terpisahkan!
Detik berganti
:siang menjelma
Tingkah pun mengikut
Riak sendu menatap mentari
Berselimutkan noda tak jua usai
Perkosaan akan sebuah kehidupan
                :tiada pernah bosan!
Mencampakkan hati yang terlanjur sakit,
menampar jiwa,
:menggerus kasih!

Senin, 10 Januari 2011




telah terbit :
Majalah Cendekia Pemimpin : Al-Fatih. sumber inspirasi intelektual muda.Majalah PW PII Sul-Sel...
Bagi sahabat-sahabat se-Nusantara yang ingin memilikinya, segera menghubungi:085 255 384 212 atau 085 230 688 944

Rabu, 29 Desember 2010

Kembali Mengenang FLP


Mungkin,hari itu adalah hari Kamis, tepatnya 23 Desember 2010. Seperti biasa, di tengah kesibukan yang hampir tiada pernah henti menyapa, layaknya mentari menyapa pagi, tiba-tiba si mungil kembali berdering. Entah kali ini deringan yang keberapa kalinya.
*Qia FLP calling*
Kuangkat. Perbincangan pun dimulai. Beberapa menit, akhirnya selesai.
Ada undangan untuk menghadiri silaturrahmi kader FLP Unhas. Katanya tanggal 25 Desember, 2 hari ke depan. Tapi saya menolak (mungkin ini yang kesekian kalinya). Tapi saya benar-benar tidak bisa. RAPIMWIL PII Sul-Sel 24-26 nanti, sama sekali tidak bisa saya tinggalkan. Apalagi tempatnya di Puca’, Maros. Jarak yang tidak dekat dan membutuhkan waktu yang cukup lama kalaupun ingin bolak-balik Makassar-Puca’. Belum lagi aksesnya yang masih kabur alias tidak jelas kapan mobil ada. Maka, tak ada jawaban lain, selain menolak undangan itu, meski sangat berat (sekali lagi; Sangat Berat). Dan saya tahu, adik yang menelpon barusan juga mendapat kekecewaan (mungkin juga untuk yang kesekian kalinya). Ah sudahlah...
Beberapa waktu kemudian, adik itu kembali menghubungi dan menanyakan, kapan saya punya waktu untuk bisa ikut hadir pada acara silaturrahmi FLP-Unhas? Kita harus hadir kak. Kami akan mangajak kader-kader FLP-Unhas dan mengundang para Ketua FLP-Unhas terdahulu sebagai pemateri dalam dialog itu. Yah, kurang lebih begitulah bahasanya. Intinya, saya harus datang. Sejenak saya mengingat semua agenda dalam waktu dekat. Merekam secara marathon jadwal yang telah saya atur setengah sempurna, setelah Adik itu menawarkan bagaimana kalau acaranya tanggal 30 Desember nanti. Karena kurasa tanggal itu belum terjadwal, maka kuiyakan usulan Adik itu. Ok, tanggal 30. Insya Allah bisa. Saya menjawabnya, sedikit lega. Akhirnya bisa mengiyakan. Meski dalam hati, ada ketakutan-ketakutan kecil, jangan sampai tiba-tiba ada agenda mendesak yang sama sekali tidak bisa saya tinggalkan. Ah, semoga tidak. Bismillah.
Setelah kucatat baik tanggal 30 Desember itu, keesokan harinya, tiba-tiba dapat info lagi, acaranya dimajukan ke tanggal 28. Hmm... Ok, insya Allah. Kembali kujawab singkat.

Entahlah...

jika semua mengeluh, lalu siapa yang akan menguatkan ...
jika semua menyerah, lalu siapa yang akan mengendalikan ...
jika semua mundur, lalu siapa yang akan membuatnya menjadi lebih baik...
jika semua membiarkan, lalu siapa yang akan mempertahankan...
jika semua berlalu, lalu siapa yang akan menengok...
jika semua merasa lemah, lalu siapa yang akan mendongkrak semangat untuk mencipta karya...
jika semua merasa tak sanggup, lalu siapa yang akan memperjuangkan...
jika semua berlari, lalu siapa yang akan bertahan...

>>mungkin kah itu aku, kamu, atau justru kita ?

tak perlu lah terlalu lama merenungi.
tak perlu lah terlalu lama mendiami.
tak perlu lah terlalu lama membiarkan.
tak perlu lah terlalu lama menengok ke belakang.
tak perlu pula lah terlalu lama memikirkan.
cukup membuka sedikit ruang pikir kita untuk menyadari apa yang harus kita lakukan, dan apa yang tidak pantas kita lakukan...


.:  nafi'ah Al- fatih ---- nanna_jie :.
                               _dalam ruang pikir yang terus berpacu mencerna sekitar_

Rabu, 15 Desember 2010

Tentang Amanah Yang Sudah tak Asing



Dikemas oleh: A.Saputri Mulyanna

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari r.a.:
Sesungguhnya ia adalah amanah. Dan pada hari kiamat ia merupakan kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi yang melaksanakannya sesuai dengan haknya dan melaksanakan yang semestinya- [HR. Muslim]
Mungkin kata itu sudah sangat tidak asing lagi dalam lisan dan keseharian kita. bahkan ia yang senantiasa setia menemani kehidupan kita belakangan, setiap hari, bahkan mungkin setia waktu. Yup, A.M.A.N.A.H.
Coba kembali kita mengingat tentang visi penciptaan manusia di bumi ini. Jika kita menarik benang merahnya, maka akan teruntai 2 visi besar penciptaan itu; visi penghambaan sebagai seorang hamba kepada Sang Khalik (Q.S. Adz-Dzariyat: 56) Visi penghambaan adalah bagaimana agar syariat islam dapat kita tebar seluas-luasnya ke seluruh penjuru dunia, menebarkan kebenaran hakiki kepada seluruh elemen makhluk-Nya. Dan yang kedua adalah visi kekhalifaan kita di bumi (Q.S.AL-Baqarah:30).  Betapa, Allah ‘Ajja wa Jalla memilih dan memberikan kepercayaan kepada makhluk-Nya yang bergolong manusia sebagai seorang khalifah di bumi-Nya, menjadikan sebagai pemimpin. Dia tidak memilih malaikat, Dia tidak memilih yang lain, Dia memilih kita:manusia ! Maka, mungkin tidaklah salah jika kita menyatakan bahwa setiap manusia yang terlahir di dunia ini telah disandingkan dengan sebuah amanah. Amanah seyogyanya telah menjadi takdir manusia. Setiap kelahiran manusia selalu disertai tugas besar di muka bumi ini. Amanah untuk menjadi khalifah di bumi dan amanah untuk berdakwah menyampaikan kebenaran hakiki pada segala urusan dunia dan akhirat. 

Minggu, 28 November 2010

Pelajaran Untukku...

Ayah, Ibu...
Kau berikan aku kepercayaan untuk melangkahkan kaki kemanapun yang aku pilih.
Kau berikan aku kesempatan untuk menggenggam mimpi yang selalu kuceritakan kepadamu dalam setiap waktu senggangku.
Kau berikan aku kekuatan untuk memantapkan dan mengokohkan diri menantang zaman, meski aku tak bersamamu.
Kau berikan aku harapan untuk dapat mengabulkan mimpi yang masih tersemai dalam hati ini.

Kamis, 15 April 2010

Seminar Nasional Pendidikan Multiple Intelligences SDIT IKHTIAR – PII Direspon






            Hari ini, Ahad, 11 April 2010, seminar nasional pendidikan kembali digelar. Kali ini diprakarsai oleh SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Ikhtiar kerjasama dengan PII (Pelajar Islam Indonesia), dengan mengusung tema : “Setiap Anak Cerdas dengan Multiple Intelligences”.  Kegiatan yang menghadirkan sekurang-kurangnya 200 orang yang berasal dari berbagai kalangan, setidaknya menunjukkan respon yang luar biasa oleh masyarakat terhadap dunia pendidikan. Apalagi, kegiatan ini dikemas dengan sangat menarik dengan kehadiran para pemateri handal: Munif Chatib (Konsultan pendidikan dan Manajemen Direktur Sekolah YIMI Full Day School Gresik,  Pengarang buku sekolahnya Manusia) dan Prof. Aris Munandar, M.Pd, dengan moderator Muhammadiyah Yunus.

Rabu, 17 Maret 2010



Seminar Kesehatan Reproduksi Korwil Korps PII Wati Sul-Sel: sederhana tapi bersahaja!

Ahad, 7 Maret 2010 @ Gedung Kewirausahaan UNM Lt. III
Kegiatan itu 'dicetak' oleh 10 insan di atas. Tunggu dulu,,, masih ada yang tidak menampakkan diri. diwakilkan ya...^^
 Eitzz,,, lambang Korwil PII Wati tak mau ketinggalan tuh,,, ikut nongol juga..^^
Sukses!


Memberi makan ikan-ikan part II...


28 Februari 2010 : 17.40 WITA : halaman Masjid Agung Pinrang
Lagi-lagi,, ikan-ikan itu menikmati makan sorenya.Sembari menghabiskan waktu senja, kembali saya memanjakan ikan-ikan itu sebelum meninggalkannya...^^

Hmm,,, Rahmah, Ayu, mari kita pulang,,, azan Maghrib sudah berkumandang....
13 Februari 2010: 15.00
Meski terik siang terus mengguyur di Kota Pinrang, tak kuurungkan niat dan langkahku untuk menjumpai si ikan-ikan lucu itu. Sembari membagikan makanan. Sebungkus "mie instan" habis seketika... mereka kelaparan ternyata!
Senangnyaaa melihat mereka saling berebut makan...Masjid Agung Pinrang yang berdiri megah tepat di sisi kanan seolah ikut menikmati panorama itu.
Suatu saat saya kembali menemui kalian, saat kaki ku kembali berpijak di sini!
Rahmah,, ayo pulang! "mie" nya juga sudah habis...

bwt siapa sj yg berkunjung di tempat ini, Tolong,, jaga kebersihan kolam ini,,, biar mereka bisa hidup senang,, ^^




Rabu, 10 Maret 2010


Jam Piket Organ Tubuh

Posted in Intermezzo on Mar 22, 2007 Print
dalam hati saya ketawa membaca artikel ini…dapat munggut di milis mediacare…mohon tanggapan rekan rekan sekalian…
LAMBUNG
Jam 07.00 – 09.00
Jam piket organ lambung sedang kuat, sebaiknya makan pagi untuk
proses pembentukan energi tubuh sepanjang hari.
Minum jus atau ramuan sebaiknya sebelum sarapan pagi, perut masih
kosong sehingga zat yang berguna segera terserap tubuh.

LIMPA
Jam 09.00 – 11.00
Jam piket organ limpa kuat, dalam mentransportasi cairan nutrisi untuk
energi
pertumbuhan. Bila pada jam-jam ini mengantuk, berarti fungsi limpa
lemah.
Kurangi konsumsi gula, lemak,minyak dan protein hewani.

JANTUNG
Jam 11.00 – 13.00
Jam piket organ jantung kuat, harus istirahat, hindari panas dan olah
fisik, ambisi
dan emosi terutama pada penderita gangguan pembuluh darah .

HATI
Jam 13.00 – 15.00
Jam piket organ hati lemah, bila orang tidur, darah merah berkumpul
dalam organ hati dan terjadi proses regenerasi sel-sel hati.
Apabila fungsi hati kuat maka tubuh kuat untuk menangkal semua penyakit.

PARU-PARU
Jam 15.00 – 17.00
Jam piket organ paru-paru lemah, diperlukan istirahat, tidur untuk
proses pembuangan racun dan proses pembentukan energi paru-paru

GINJAL
Jam 17.00 – 19.00
Jam piket organ
ginjal kuat, sebaiknya digunakan untuk belajar
karena terjadi proses pembentukan sumsum tulang dan otak serta
kecerdasan.

LAMBUNG
Jam 19.00 – 21.00
Jam piket organ lambung lemah sebaiknya tidak mengkonsumsi makan yang
sulit dicerna
atau lama dicerna atau lebih baik sudah berhenti makan

LIMPA
Jam 21.00 – 23.00
Jam piket organ limpa lemah, terjadi proses pembuangan racun dan
proses regenerasi sel limpa. Sebaiknya istirahat sambil mendengarkan
musik yang menenangkan
jiwa, untuk meningkatkan imunitas.

JANTUNG
Jam 23.00 – 01.00
Jam piket organ jantung lemah. Sebaiknya sudah beristirahat tidur,
apabila masih terus
bekerja atau begadang dapat melemahkan fungsi jantung.

HATI
Jam 01.00 – 03.00
Jam piket organ hati kuat. Terjadi proses pembuangan racun/limbah hasil
metabolisme
tubuh. Apabila ada gangguan fungsi hati tercermin pada kotoran dan
gangguan mata.
Apabila ada luka dalam akan terasa nyeri.

PARU-PARU
Jam 03.00 – 05.00
Jam piket organ paru-paru kuat, terjadi proses pembuangan limbah/racun
pada organ
paru-paru, apabila terjadi batuk,bersin- bersin dan berkeringat
menandakan adanya gangguan fungsi
paru-paru. Sebaiknya digunakan untuk olah nafas untuk mendapatkan energi
paru yang sehat dan kuat.

USUS BESAR
Jam 05.00 – 07.00
Jam piket organ usus besar kuat, sebaiknya biasakan BAB secara teratur.



Senin, 18 Januari 2010

PERNYATAAN SIKAP
PENGURUS BESAR PELAJAR ISLAM INDONESIA
TENTANG
PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG YANG MENOLAK KASASI PEMERINTAH TENTANG GUGATAN UJIAN NASIONAL*)
Pada tanggal 21 Mei 2007 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah memutuskan perkara gugatan Citizen law Suit tentang Ujian Nasional Nomor 228/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST. Dalam putusan tersebut hakim mengadili dalam pokok perkara :
  1. Mengabulkan gugatan Subsidair Para Penggugat;
  2. Menyatakan bahwa para tergugat, Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri Pendidikan Nasional dan

Rabu, 16 Desember 2009

Indahnya Berbagi

Oleh: A. Saputri Mulyanna


Waktu terus berdetak. Tak pernah menengok ke belakang, apalagi berhenti. Sedetik pun tak pernah. Lambat dan pasti, ia terus menjalankan titah Tuannya. Tak membantah dan mendebat, meski menghadapi dunia yang tak pernah berhenti berdebat. Waktu tak pernah menyerah dan angkat tangan, meski terkadang ada yang menghujat geraknya. Ia terus berspekulasi dengan tugas dan tanggungjawabnya. Menyediakan 24 jam dalam sehari sebagai modal awal bagi makhluk-Nya untuk bertarung dalam peta kehidupannya masing-masing. Meski ia tak tahu, bahkan mungkin tak mau tahu, untuk apa orang-orang memanfaatkan dirinya. Yang jelas, ia telah menjalankan tugas, menisbahkan dirinya untuk dimanfaatkan; baik atau buruk. Terserah kalian, mau memanfaatkan aku seperti apa. Yang jelas, aku sudah menghibahkan diriku untuk kalian. Mungkin begitulah jika waktu ingin berlisan.

                sekali lagi- Siapa pun di dunia ini, semua akan mendapat jatah waktu 24 jam dalam sehari. Sama! Itu adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat digugat. Kita –pemberdaya waktu- adalah Sang Musafir yang terus berkelana, menyusup dari lorong waktu yang satu ke lorong waktu berikutnya. Pernyataan ini cukup memberikan artikulasi yang cukup tegas, bahwa waktu dapat menjadi modal besar untuk mencetak karya terbaik, membuka kunci kesuksesan. Namun, tidak tepat jika waktu dijadikan sebagai barometer penentu kesuksesan seseorang. Bukankah –sekali lagi- waktu kita sama? Sama-sama 24 jam dalam sehari? Yang membedakan adalah pemanfaatan kita terhadap waktu itu. Apakah dalam 24 jam itu telah kita maksimalkan atau tidak. Cukup. Pembicaraan kita tentang waktu saya rasa sudah cukup. Selanjutnya, mari kita bercerita tentang salah satu parade kehidupan yang sempat terlakoni oleh Sang Musafir dari salah satu lorong waktu yang telah terbentang.
***

Sabtu, 12 Desember 2009
                Pertemuan ke-2 bergelut di salah satu tempat bimbingan belajar sebagai seorang tentor. Jika awalnya Dewi masih terasa asing untuk menginjakkan kaki di gedung ini, sekarang ia sudah mencoba untuk beradaptasi. Dengan tidak mengasingkan diri tentunya. Beradaptasi dengan suasana lingkungan barunya: dengan tentor yang lain, dengan siswa-siswinya, dengan lingkungan ruang kerjanya, dan bahkan beradaptasi dengan perputaran waktu hidupnya itu sendiri. Semua kini terlakoni dengan izin-Nya.
Hari ini, Dewi mendapat  jadwal untuk mengajar anak SD (tepatnya kelas 5 dan 6). Dan inilah kali pertama Dewi berhadapan langsung dengan anak-anak lugu itu. Meramu kisah dalam balutan suasana formal di sebuah kelas. Perannya sebagai seorang instruktur di organisasi yang digelutinya, tetap membuatnya sedikit linglung menjamu bocah-bocah polos itu. Maklum, selama ini Dewi hanya terbiasa menghadapi anak-anak SMP, SMA, hingga mahasiswa, dalam bingkai pentrainingan. Kekritisan, keseriusan, hingga pelafalan kalimat-kalimat ilmiah yang biasa terucap dalam ruang kelas, kini harus terganti. Kisah kali ini harus dikemas secara ringan dan santai, tapi tetap harus tepat sasaran. Bahasa tingkat tinggi yang biasa terlontar dalam setiap sesi pentrainingan pun harus berganti menjadi bahasa sederhana. Sesederhana mungkin.
                Dua jam berlalu. Waktu mengajar selesai. Akhirnya, tantangan untuk berhadapan dengan anak SD hari ini berhasil Dewi taklukkan. Dan hasilnya,,, cukup memuaskan! Dengan langkah tegak penuh semangat, Dewi meninggalkan gedung itu. Sambil terus membatin. Berdialog dengan ruang pribadinya; Sangat seru ternyata bergabung dengan dunia mereka dalam forum formal seperti ini. Meski bawaannya harus di non-formalkan terus selama bersama mereka. Yang kemudian menyeret aku untuk menerapkan kurikulum ‘Bermain sambil belajar’. Mungkin sudah sejak dulu telingaku sudah tidak asing lagi dengan metode seperti itu. Dan saat inilah metode itu harus aku aplikasikan. Ya, diaplikasikan untuk orang lain, bukan untuk diriku pribadi. Aku akhirnya mendapat pelajaran penting dari mereka. Kuluman senyum pun berulang kali tergambar di balik wajah Dewi, sembari menatap tajam Sang Raja Siang di ufuk sana yang sebentar lagi beranjak dari peraduannya.
Dalam perjalanan pulang, Dewi terus merekam moment yang baru saja ia lakoni bersama murid-murid barunya. Tak henti ia terus berspekulasi dalam hati; satu pelajaran penting yang aku dapatkan dari bocah-bocah lucu itu. Dan itu tidak aku dapatkan dalam mata kuliahku di kampus: Indahnya Berbagi! Episode kehidupan selama kurang lebih 2 jam ini, secara tidak sadar menghentakkan alam bawah sadarku tentang titik substansial ketika kita bisa berbagi dengan orang lain. Jujur, kali ini aku merasa ilmu yang kumiliki berguna setelah melakukan proses transformasi kepada mereka. Yang sebelumnya, terkadang aku berpikir bahwa ilmuku biasa-biasa saja. Dan saat ini, aku telah menjadikan yang biasa itu menjadi luar biasa di mata mereka. Transformasi ilmu itu lahir antara aku dengan mereka, bocah SD itu. Bocah dengan segala keluguannya, namun menyisakan banyak makna dibalik gerak polosnya. Aku mencoba untuk men-transfer apa yang aku ketahui tentang sub pelajaran pada saat itu. Dan mereka pun telah men-transfer keceriaan, keseriusan, keikhlasan, kesabaran, kebersamaan, kesopanan; kepada aku. Meski ke-6 sub Bab yang ia berikan itu terbingkai indah dalam sebuah ‘keluguan’. Mereka menyentil kesadaranku tentang efek fundamental dari sebuah “keceriaan, keseriusan, keikhlasan, kesabaran, kebersamaan, dan kesopanan”. Mungkin, masih banyak lagi sub Bab lainnya, tapi paling tidak yang ke-6 itulah yang bisa kudapatkan pada pertemuan ini. Dan kesemua itu, ternyata bermuara pada 1 Bab utama: ‘Indahnya Berbagi’.  
Begitulah, Dewi terus membatin. Mencerna alur hidup yang baru saja ia lakoni. Ucapan Ibunya yang pernah terlisan beberapa tahun yang lalu, kini ikut menjelma dalam ruang pikirnya. Ilmu itu akan bermanfaat ketika kita membaginya dengan orang lain, Nak. Ilmu yang kita miliki itu akan sangat terasa ketika kita telah membaginya kepada orang lain. Kalimat itu terbukti!
***

Terkadang, apa yang kita anggap biasa akan menjadi luar biasa di mata orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain? Dan menjadi pertanyaan sederhana untuk kita, seberapa banyak yang telah kita persembahkan kepada orang lain pada hari ini? Seberapa banyak orang yang telah tersenyum karena diri kita? Adakah orang di sekitar kita yang merasa mendapatkan manfaat atas keberadaan diri kita? Atau, jangan-jangan yang terjadi justru sebaliknya. Kita telah menjadi momok di mata mereka yang terus dihindari, bahkan dilupakan. Atau kita telah menjelma menjadi orang yang terus membawa kekesalan, melahirkan kebencian dan mendatangkan musibah di mata mereka. Semoga tidak!
Bukankah kesuksesan hakiki adalah ketika kita mampu merasakan kebahagiaan? Dan ternyata, salah satu sumber kebahagiaan itu adalah ketika kita telah berbagi dengan orang lain. Senyum yang terpancar dari orang lain, akan menyusupkan kebahagiaan yang murni dalam jiwa kita. Coba ketuk sedikit daya ingat kita, saat beberapa hari yang lalu ketika kita bertemu dengan seorang bocah dekil di perempatan jalan, saat mobil yang kita tumpangi dicegat oleh lampu merah. Di tengah terik siang yang sangat mencekik, ia datang dengan penuh harap memamer belas kasih. Dibalik kaca mobil, terpantul wajah kusam-kerutnya penuh iba. Hingga akhirnya ia berhasil mengetuk nurani kita yang terdalam. Dan kita pun membuka kaca mobil dan mengulurkan tangan untuk memberi recehan yang masih tersisa di saku depan tas, atau recehan yang sedang tergeletak pasrah di dasboard mobil. Meski dalam jumlah yang tak bernilai menurut kita, tapi ternyata yang tak bernilai itu justru telah membuatnya sangat berkesan. Hingga terlampiaskan dibalik wajah dekilnya; senyum tulus, lepas, penuh rasa. Saat itulah, terjadi transformasi rasa. Terpantul bahagia yang seketika memancarkan sinar dalam hidupnya. Semua muncul dibalik recehan tak bernilai itu. Efek gravitasi akhirnya terbukti. Rasa bahagia yang tertanam dibalik wajahnya, ikut mengalir dalam diri kita. Senyum tulus yang ia pertontonkan, telah mewujud menjadi satu rasa dalam diri kita: bahagia! Kepenatan yang mungkin sebelumnya melekat pada diri kita, seketika luluh oleh senyum tulus itu. Maka, benarlah rumus yang telah dituliskan oleh Mas Nunu dalam Quantum Ikhlasnya: Memberi = Menerima. Tidak logis, tapi benar. Setidaknya, senyum yang terwujud itu adalah bukti penerimaan atas pemberian yang telah kita berikan.

***

Dikemas kembali pada: Kamis, 21042011: 01.03
Dalam ruang imajinasi hidup yang terus menjelma.

















Selasa, 08 Desember 2009

"Harga Sebuah Pembelajaran"

Yana Yan 


Jumat, 4 Desember 2009
 
 Di suatu pagi yang cerah, saya ditemani teman saya tengah asyik berbincang dengan seorang Ibu, tepatnya seorang pembina pondok pesantren. Saat itu, suaminya (juga pembina pondok pesantren itu) ada di situ, tapi ia berada di luar, di teras rumah, tak jauh dari tempat kami duduk. Kebetulan malam itu ada jadwal ngajar (Bimbel) di pesantren tersebut, dan kami pun nginap di rumahnya.