must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...
Tampilkan postingan dengan label cuap2_nanna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap2_nanna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Desember 2009

"Harga Sebuah Pembelajaran"

Yana Yan 


Jumat, 4 Desember 2009
 
 Di suatu pagi yang cerah, saya ditemani teman saya tengah asyik berbincang dengan seorang Ibu, tepatnya seorang pembina pondok pesantren. Saat itu, suaminya (juga pembina pondok pesantren itu) ada di situ, tapi ia berada di luar, di teras rumah, tak jauh dari tempat kami duduk. Kebetulan malam itu ada jadwal ngajar (Bimbel) di pesantren tersebut, dan kami pun nginap di rumahnya.
 

Rabu, 27 Mei 2009

Merajut Asa Dengan Mimpi


Oleh: Yana Yan

Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan impian-impain mereka.
(Elenor Roosevelt, Ibu Negara AS)
Memoar kehidupan terus terpasung mengiringi setiap langkah manusia. Menjejaki hari dalam setiap lembaran hidupnya. Asa, terkadang menyelimuti setiap geraknya. Hingga menjadikan hidup itu kian bermakna, kian terasa, kian berseri. Tentang asa, mungkin terdengar biasa, bahkan bukan hal yang perlu untuk diutak-atik. Tapi, tidak segampang itu. Justru yang biasa itulah yang seringkali memberikan dampak yang luar biasa. Asa bagaikan software yang harus terus dilekatkan pada diri manusia. Harus diinstal manakala suatu saat terkena virus.

Tentang Wanita




Ketika Tuhan menciptakan wanita, Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat dating dan bertanya, ”Mengapa begitu lama, Tuhan?”
Tuhan menjawab: “Sudahkah engkau lihat semua detail yang saya buat untuk menciptakan mereka?”
“2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukandari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan.

Minggu, 17 Mei 2009

Setitik Nadir Pra-Klinik Perdana

Oleh: Yana Yan*)

14 Mei 2009! Pertama kali terjun langsung di rumah sakit. Dan Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, lagi-lagi ditakdirkan sebagai wilayah untuk mengajari kami, merealisasikan ilmu dari kampus seberang.. Dengan landasan utama: mengobservasi pasien. Adapun tindakan yang lainnya, itu terserah apa yang akan terjadi nantinya. Dalam jumlah yang cukup banyak, kami akhirnya disekat menjadi beberapa kelompok. Dengan ruangan yang berbeda-beda, dan tentu dengan jenis penyakit yang berbeda pula.

Kamis, 14 Mei 2009

“Refleksi Hari Perawat Se-Dunia”


Oleh: Yana Yan*)


“Selamat Hari Perawat se-Dunia!!!”
12 Mei 2009! Gegap gempita Mahasiswa Keperawatan yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Keperawatan Sulawesi Selatan, pagi itu memadati penghujung barat kota Makassar, tepatnya di Pantai Losari. Perjalanan itu berawal dari sini. Dengan segenap asa dan rasa, para mahasiswa/i perawat dari berbagai instansi melemparkan senyum dan citanya buat seluruh penghuni kota Makassar. Tak lain, demi memeriahkan dan mewarnai hari Perawat se-Dunia.

Tahu apa Anda tentang ‘amanah’?

Oleh: Yana Yan*)

Amanah, lagi-lagi tentang amanah. Hampir setiap kali rapat, syuro’, ataw apapun nama perkumpulan itu, di manapun,,, tak lepas dari tema tentang itu. Tentang amanah… tentang komitmen… tentang Loyalitas…semua mengumbarnya!
Tahu apa Anda tentang amanah?

Senin, 11 Mei 2009

MENGENANG AIR MATA RASULULLAH SAW


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Minggu, 10 Mei 2009

Cukup Menggelitik…!

Ass. Al. Dear Frens, berikut ini sebuah artikel dr seorang teman.... selamat membaca

Subject: [ekonomiupnvy] FW: Ternyata ....... Hidup ini sederhana That's why ..... DON'T BE too calculative in life. Ternyata... Hidup Ini Sederhana... Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah,

Jumat, 08 Mei 2009

Just to Read!


Ada yang perlu Anda lakukan
by: Hari Subagya

Sahabat sukses. Kesibukan demi kesibukan mengelayuti kehidupan kita. Rutinitas mulaii membelenggu diri, dan mengaburkan kesejatian hidup. Pagi berputar menjadi malam, dan harii berganti, minggu berganti, menjadi bulan dan tahun. Usia bertambah

Senin, 27 April 2009

Citra Ideal Seorang Perawat

Oleh: Yana Yan*)


Selayang Pandang Dunia Keperawatan
Keperawatan, dunia yang sudah tak asing lagi untuk diperbincangkan. Ia telah menjadi warna yang ikut hadir dalam kehidupan manusia. Tersebar di seluruh pelosok tanah air. Masyarakat desa, apalagi masyarakat perkotaan, masing-masing telah menjamahnya. Tua-muda, kaya-miskin, semua mengenalnya. Berangkat dari sini, penulis mencoba berusaha menelisik lebih jauh tentang dunia keperawatan ini.
Melalui Seminar Nasional Keperawatan (1983), dirumuskan pengertian keperawatan, yaitu suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif. Pelayanan yang ditujukan kepada individu, keluarga, atau masyarakat yang sehat, maupun yang sakit, yang mencakup siklus hidup manusia. Nah, berbicara masalah keperawatan, tentu tak lepas dari sistem pelayanan kesehatan. Lebih mengerucut lagi, akan berbicara tentang perawat itu sendiri, sebagai subjek yang berperan langsung di dalamnya. Lantas, apa yang terlintas dalam benak kita saat pertama kali mendengar kata ‘perawat’?
Banyak jawaban tentu akan kita muntahkan, sesuai bagaimana kita mempersepsikannya. Perawat, seolah tak pernah lekang dari warna putihnya. Tapi, ini bukan masalah. Ada sisi lain yang perlu untuk kita tengok. Hingga kini, label ‘jutek’ masih menyelimuti tubuh perawat itu sendiri. Memang sulit untuk dinafikan, beberapa eselon masyarakat, masih beranggapan demikian. Paradigma perawat sebagai seorang bawahan atau ‘pembantu’ dokter, pun itu masih sering terjadi. Ironis,, memang! Padahal, perawat kini telah disanding dengan label ‘profesi’. Dan seringpula dikoar-koarkan sebagai mitra dari dokter itu sendiri. Benarkah?

Citra Ideal Seorang Perawat
Berangkat dari pengertian ‘keperawatan’ yang telah dirumuskan sebelumnya, maka saya dapat menarik sebuah garis merah, terkait dengan bagaimana citra ideal seorang perawat. Meski sebenarnya, sangat tidak gamblang bagi saya untuk merumuskan tentang bagaimana idealitas seorang perawat. Tapi semoga, ini bisa menjadi titik ukur bagaimana kita_seorang perawat_ mampu mencapai tingkat idealitas itu.
Sederhana, ketika saya mencoba untuk menyimpulkan idealitas seorang perawat itu yang seperti apa, cukup dengan berdalih pada pengertian keperawatan yang telah dibahas sebelumnya. Yaitu: mampu menanamkan nilai-nilai profesionalitas dalam dirinya sebagai seorang perawat. Lantas, yang seperti apa nilai-nilai profesionalitas itu? Adalah ketika pelayanan keperawatan yang dilakukan senantiasa berorientasi pada wawasan ilmu keperawatan yang pastinya senantiasa berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Dalam hal ini, kualitas seorang perawat tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Dan upaya profesionalisasi itu dapat direfleksikan melalui tindakan pelayanan keperawatan yang dilakukannya.
Sisi lain, salah satu hal yang perlu ada pada diri seorang perawat adalah senantiasa melestarikan kode etik yang berlaku sebagai sebuah profesi. Kapan dan dimana saja!
*) Mahasiswi Ners A ’07,
Ketua FLP Ranting Unhas

Selasa, 17 Maret 2009

Secercah Kata…


Selamat, Anda mendapat juara 1 dalam lomba jurnalistik nasional Badan Pers Nasional ISMKI
dst…(sensor!!!)

mAapH, neh tulisan bukan bwt paMer atw apa aj namanya. Tak lain dan tak bukan agar siapa pun bs jd termotivasi setelah bc neh SMS tuk segera berkarya. Apapun itu! Karena ketahuilah, bahwa dunia kan mengenalmu melalui karya2mu. Terkhusus bwt aLL cRew FLP Ranting uNhas, tak Ada kAta boSan tUk menGukir kArya. Ok?
Sy Pernah dpt pesan: “KeeP oN fighting till tHe End”.
So, tak ada dlm kamus qT kata menyerAh. spakaTtt?^_^

aLL cRew FLP unHas: “yup, sPakattt…”

Senin, 23 Februari 2009

Karena Menangis, hati Menjadi Tenang



Menangis tak selamanya sakit. Terkadang, menangis adalah pelampiasan jiwa yang terkekang. Atau pun hanya sekedar perwakilan jiwa yang sakit. Tapi ketahuilah, setelah anda melaluinya, jiwa akan terasa lapang. Tak sesak lagi! Menangislah, jika itu membuatmu tenang.

Rabu, 26 November 2008

Tak Sekedar Kata


Maha Suci Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan perasaan. Maha Besar Engkau Ya Allah, yang telah menciptakan ada dan tiada….
Hidup ini adalah penghambaan. Tarian penghambaan yang sangat sempurna. Tak ada milik dan pemilik selain Engkau. Tak punya dan mempunyai selain Engkau. Tetapi,,,mengapa Kau harus memasukkan bongkah yang disebut dengan “perasaan” itu pada makhluk ciptaanMu???
Perasaan kehilangan,,,perasaan memiliki,,,perasaan menyayangi,,,perasaan mencintai..
Kami tak melihat, Kau berikan mata. Kami tak mendengar, Kau berikan telinga.kami tak bergerak, Kau berikan kaki. Kami berikan berpuluh-puluh nikmat lainnya. Sangat jelas, semua itu sangat berguna!
Tetapi, mengapa Kau harus menciptakan bongkah itu? Mengapa Kau letakkan bingkah perasaan yang seringkali menjadi ’pengkhianat sejati’ dalam tubuh kami? Mengapa??!!!
Engkaulah alasan semua ini. Engkaulah penjelasan atas semua kehidupan ini. Perasaan itu datang dariMu. Semua perasaan itu juga akan kembali kepadaMu. Kami hanya menerima titipan. Dan semua itu ada karenaMu.
Katakanlah wahai semua pencinta di dunia,
Katakanlah, semua kerinduan itu hanya karena Allah. Dan semoga Dia yang Maha Mencinta, yang menciptakan dunia dengan kasih sayang, mengajarkan kita tentang cinta sejati. Semoga Dia memberikan kesempatan kepada kita untuk merasakan hakekatnya. Semoga Dia sungguh memberikan kesempatan kepadakita untuk memandang wajahNya. Wajah yang akan membuat semua cinta dunia layu bagai kecambah yang tidak pernah tumbuh. Layu bagai api yang tidak pernah panas membakar. Layu bagai sebongkah es yang tidak pernah membeku.

Butuh kesadaran global menghadapi Global Warming


Sadar tidak,,, kini hujan tidak lagi menjadi rahmat bagi kita.

Hujan baru beberapa hari saja turun, musibah banjir sudah menebarkan ”kesedihan” dan ”air mata” dikalangan rakyat kecil.

Curahan hujan dari langit secara langsung menjelma menjadi banjir yang tak bisa terbendung. Banjir menghancurkan sawah, kebun, tanaman, menghanyutkan manusia, ternak, rumah, dan harta penduduk.
Longsoran tanahpun menyusul dan menambah petaka yang diderita masyarakat.

Ada apa ...????

Marahkah Tuhan atas tindakan kita ???
Atas keegoisan kita ?????
Atas kesombongan kita ????
Dan bahkan Atas kerakusan / keserakahan kita ?????

Bosankah bumi melihat tindakan kita..???
Memperlakukannya seenaknya dan semaunya... tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun dari kita_setelah dengan enaknya menikmati segala kekayaan didalamnya..!!!

Tidakkah kita punya rasa malu sedikitpun kepadanya,,,
Kepada bumi itu..yang telah memberikan semuanya. Menyediakan segala kebutuhan kita.

Tidakkah ada rasa malu dalam diri kita terhadap semua binatang...???
kepada burung-burung itu...???
Kepada sapi-sapi itu...???
Kepada ikan-ikan itu...???
Kepada semuanya yang kita sebut mereka binatang..

Semuanya menempati bumi ini, sama seperti kita.
Tapi mereka tidak sama dengan sikap kita terhadap bumi ini.
Mereka justru lebih bertangung jawab.
Binatang itu, tumbuh-tumbuhan itu,,,mereka tetap melakoni perannya dengan wajar. Sesuai garis yang telah ditetapkan, tidak minta ini dan itu.
Semua dilakukannya dengan penuh kesadaran, seolah-olah akal pikiran itu ada pada mereka.

Mereka semua juga Memanfaatkan segala kekayaan bumi ini. Sama seperti kita, seorang manusia..!!!!
Yang katanya makhluk yang paling sempurna diantara semua ciptaanNya...
Sempurna...!!!!

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya,,,,
Yang katanya menjadi khalifah di bumi ini...

Menjadi pemimpin woeyyy,,,pemimpin!!!!!
Pemimpin atas semua yang ada di bumi ini. Bahkan semua yang ada di alam jagad raya ini.

Semua itu karena kesempurnaan yang kita miliki dibanding dengan makhluk lain.
Lantas, dimana kepedulian kita sebagai makhluk yang menyandang predikat tertinggi itu ???

Dimana wujud tanggung jawab kita atas semua yang kita miliki itu????
Pantaskah kita diberi gelar sebagai seorang ”Khalifah” itu ???
Tidakkah itu terlalu tinggi buat kita...???
Layakkah gelar itu ada pada diri kita?
Gelar yang diberikan langsung oleh Tuhan.
Dapatkah kita mempertanggungjawabkannya kelak...????

Terlalu sombongkah kita atas gelar semacam itu?Hingga tak lagi peduli dengan kejadian apa saja disekitar kita, selama kita masih bisa senang.
Selama kesusahan itu tidak menimpa diri kita...????

Sekali lagi, kemana tanggungjawab kita atas semua amanah yang kita pikul,,,???

Saya juga bingung.. Jawabnya apa.
Ketika bencana banjir bandang hanya menjadi tontonan para penikmat ”berita” di pagi hari, yang letaknya jauh diseberang sana. Di negeri orang.
Kini, telah ada didepan mata. Bahkan telah menjadi pemandangan biasa dalam negeri kita, bahkan dalam tempat tinggal kita.

Ketika tanah longsor hanya terjadi sekali dalam setahun. Paling tidak, ini tidak menyisakan sedih yang berkelanjutan dalam diri kita. Dan dapat kembali terganti dengan cerita-cerita bahagia setelahnya.
Kini, bencana itu telah menjadi topik utama dibeberapa media setiap harinya. Dan menjadikan bencana itu bukan lagi hal yang asing di telinga kita.
Sebuah bencana yang dianggap biasa-biasa saja di telinga masyarakat.
Nah, belum lagi ketika bencana angin puting beliung yang dulunya hanya terjadi di negara barat sana. Dan bahkan merupakan bencana yang tidak kita ketahui bagaimana wujudnya. Hanya menjadi bahan cerita bagi orang-orang yang berpengetahuan atau dari orang-orang terdahulu. Hanya menjadi bencana yang asing pada sebagian orang.

Kini, telah menimpa beberapa daerah di negeri kita. tak seperti biasanya, angin puting beliung menerjang ratusan tempat di berbagai titik.
Potensi malapetaka dahsyat yang secara perlahan atau bahkan mulai agak cepat dan pasti akan menjadi ancaman bagi kita sendiri.

Mungkin saat ini kita masih bisa tersenyum saja melihat bencana-bencana itu. Kita masih bisa mengeluarkan tawa meski isu ”global warming” lagi marak-maraknya di bahas di beberapa sudut dunia.
Namun, adakah senyum dan tawa itu kita miliki ketika bencana-bencana itu tlah ada di depan mata kita ??? Pasti tidaklah...tentu kita akan melakukan hal yang sama dilakukan oleh para korban amukan bumi itu.
Lalu, adakah yang mesti kita lakukan,,,? Jangan sampai kita hanya selalu dan selalu berharap semoga semua bencana itu tidak terjadi didepan mata kita.
Dengan kata lain, selama bencana-bencana itu tidak menimpa kita, kita akan terus berdiam diri di tempat kita dengan segala kesenangan yang masih bisa kita nikmati_meski kesusahan menimpa saudara-saudara kita di daerah seberang_

Segitu egoiskah kita,,,????
Tak salah lagi jika kita mengatakan, ”kerusakan alam” ini adalah hasil ciptaan manusia sendiri.

Disadari atau tidak, Bumi ini kian menderita...Kasian!!! sebuah kata yang cukup mewakili...
Lantas apa yang mesti kita lakukan???
Tinggal berdiam diri,,,

Melongo dan terus menikmati sisa-sisa kekayaan bumi ini???
Lari dari (skali lagi) ”tanggung jawab”...

Ataukah kita harus menunggu komando dari para ”pemerhati & pedili lingkingan” untuk membangunkan kita dari tidur panjang kita selama ini dan menggerakkan kaki kita untuk melakukan sesuatu..???

Ataukah harus menunggu kekuatan kita bisa terkumpul sebanyak-banyaknya untuk melakukan semua itu...??
Ataukah hanya menunggu waktu hingga ”kemauan” itu ada pada diri kita...????_entah sampai kapan_

Tidak ada yang dapat kita lakukan selain melakukannya SKARANG dan memulainya dari DIRI KITA....!!!

Sekecil apapun itu, pastinya itu akan sangat membantu mengatasi penderitaan bumi kita satu-satunya.
Tempat kita berpijak, tempat kita melekatkan kaki kita, tempat kita menikmati kekayaannya, dan masih banyak lagi yang membuat kita masih bisa ada hingga saat ini.
_kalo bumi ini tenggelam, kemana lagi kita akan mengungsi????

Tentu tidak akan ada lagi tim relawan atau tim SARS_yang beberapa tahun terakhir ini cukup familiar ditelinga kita, dengan bencana-bencana itu pastinya_

Tentu tidak akan ada lagi tenda-tenda pengungsian yang didirikan oleh jejeran TNI dan kawan-kawan

Tentu tidak akan ada lagi bantuan makanan, obat-obatan, dan sebagainya yang akan diberikan oleh para dermawan
Tentu tidak akan ada lagi program peduli SCTV yang akan membantu kita

Mengapa????

Karena semua sibuk mengurus diri masing-masing. Sibuk membantu diri masing-masing. Sibuk menjadi seorang ’dermawan’ bagi diri masing-masing.

Akankah kita menunggu hari itu????
Na’uzu billahi min zalik...!!!

Kamis, 20 November 2008

tak sekedar khayal

12 Juli 2008
Rabb... impianku terwujud
memandang lebih dekat gedung besar itu
bukan sebuah istana,
bukan pula gedung mewah berlantai 'tak terhingga'
tapi, itu menyisakan kemewahan tersendiri dihatiku
Senang...!!! itu pasti
UI,, kampus pilihan Indonesia berhasil ku terobos
Tentu atas izin-Mu
Lagi-lagi ku ucapkan syukur tiada terkira


12 Juli 2008
Aku melangkah, melangkah, dan terus melangkah...
Entah tersisa berapa langkah lagi
Dan akhirnya sampai!
UI....!!!kau begitu megggaahhhh!
Salut jadinya...
Harapan untuk mengukir ilmu masih tersisa
Meski ku sadar, itu tak lebih dari sebuah bayang-bayang semu
Jalan demi jalan, lorong demi lorong, terus kulalui tanpa lelah
Semangatku masih berkuasa olehnya
Aku berpikir dalam diamku
Aku tersenyum dalam khayalku
Aku mengigau dalam anganku
Aku menerawang dalam tatapanku
Aku di sini, kampus pilihan sejuta umat
Kampus impian orang-orang
UI!!!
Kemegahan bangunannya begitu menakjubkan
Tak sanggup ku membayangkannya jika ia hadir di kotaku kelak, Makassarku!
Bukan nanti, tapi skarang!!!
Besar harapan untuk memilikinya
Besar niat untuk bersamanya
Mengukir dan menggali segudang ilmu

Jakarta,,,I’m coming !!!


* 11 Juli 2008
08.00 WIB

Sepintas, aku merenung...
Menyasikan kota raksasa ini, Hebattt !!!
Refleks kata ini terucapa dalam lisanku
Ketakjubanku padanya sungguh tak bisa ku tutupi
Jauh dari lubuk hatiku, aku mengakuinya
Namun, rasa takjub itu tiba-tiba pudar
Luntur di tengah teriknya sang dewa siang yang semakin membumbung tinggi
Ada sisi lain yang secara tak sengaja tertangkap oleh mataku
Berhasil menyempurnakan kebingunganku sendiri
Hakekat kehebatannya tak lagi mampu kurasa
Jakarta selain hebat, ia juga GANAS !
Aku tak kuasa menahan kecewa
Ada rumah kumuh tak layak huni
Dengan segala kekurangan di sana, melebihi kesederhanaan di desaku
Ada pula manusia-manusia tak berakhlak, pencopet!
Dan akhirnya aku tersadar
Jakarta bukanlah surga yang penuh kenikmatan dengan segala kesempurnaannya
Orang-orangnya bukan pula malaikat,
Yang terlahir sebagai manusia sempurna
Sepertinya, aku harus memasang kedua lensa kacamataku
Bukan salah satunya saja
Biarku bisa melihat dengan sempurna
Segala sisi pun bisa kusaksikan
Aku laksana bermimpi
Skali lagi mimpiku nyata!
Mobil terus melaju
Menerobos jejeran bangunan-bangunan itu
Menjulang tinggi menggapai langit
Kudongakkan kepalaku ke atas
Jauh... nyaris tak ber-ujung
”Kau semakin kokoh saja,” bisikku
Buat apa gerangan kau tercipta?
Buat manusia-kah, sang pencari kerja?
Tapi, mengapa sang penganggur masih berserakan
Logika-ku semakin tak karuan memikirkannya
Sepertinya memang masih banyak ruang utnuk menampung mereka kan?
Tapi mengapa mereka tak jua punya ruang untuk hidup?
Ataukah kau yang terlalu pelit untuk menerima mereka?
Atau,,, kau memang tak mau lagi menerima mereka?
Tidakkah kau meras kasihan melihat mereka termakan keganasan hidup?
Tidakkah kau meras miris melihat kehidupan mereka yang semakin terjepit?

Rabu, 19 November 2008

Mengapa Harus Keperawatan?


Terkadang, aku terbentur pada sebuah pertanyaan yang cukup menggelikan bagiku: “Mengapa Harus Keperawatan?”. Aku sedih… ternyata aku sendiri tak dapat menemukan jawabannya. Hampir setahun waktu berjalan, selama itu pula aku menjadi salah satu penghuninya. Rasa denial ternyata belum jua hengkang dari memoriku. Hingga akhirnya, aku menetapkan sebuah pilihan: Kembali SPMB ulang!!(kini UMB). Semangat yang begitu membuncah untuk meninggalkan ‘keperawatan’ membuatku tak perlu mengucap kesah saat antrian panjang di depan gedung registrasi, bersama calon maba lainnya. Bayang-bayang FK selalu saja datang menghantui. Semangat itu semakin menjadi. Tepat sehari sebelum UMB terlaksana, kebimbangan maha dahsyat datang menyerang. Sebuah pertanyaan baru datang bertandang di memori kecilku: “Mengapa Harus Meninggalkan Keperawatan?”.
Malam hari yang sepi, airmataku berurai tak tertahankan. Aku membiarkan…Tak ada yang tahu. Dalam sebuah sujudku, aku mengadu pada_Nya. Sembari memohon: Tunjukkan aku jalan yang lurus, Ya Rabb!!! Aku kembali menangis sejadinya, di hadapan_Nya. Tak ada yang tahu...
Hari selanjutnya, seolah mendapat sebuah ilham semangat untuk bergabung kembali di keperawatan muncul kembali. Sementara, bayangan FK semakin memudar. Memoriku kembali merekam sempurna ucapan Mama tempo hari: Tak ada yang sia-sia dalam hidup ini. Kita hanya bisa berusaha, Tuhan yang menentukan. Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat hambaNya. Aku kembali mengeja kalimat itu, kata demi kata. Hingga akhirnya aku tersadar, aku tidak bersyukur! Ini keputusan Ilahi, usaha maksimal tlah kujalankan. Tapi Dia punya rencana lain. Aku tak boleh membantahnya!
Hari berganti minggu, lalu berganti bulan, begitu seterusnya.