must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...
Tampilkan postingan dengan label puisi_nanna. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi_nanna. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Januari 2011

Riak sendu Ramadhan*)

Sikap terpasung bersama waktu,  nyaris tak terpisahkan!
Detik berganti
:siang menjelma
Tingkah pun mengikut
Riak sendu menatap mentari
Berselimutkan noda tak jua usai
Perkosaan akan sebuah kehidupan
                :tiada pernah bosan!
Mencampakkan hati yang terlanjur sakit,
menampar jiwa,
:menggerus kasih!

Kamis, 30 Juli 2009

Merindu Rini


Tercipta gelisah di ruang ini

Hati mulai rapuh

Ditemani malam yang kian membisu

Berselimutkan sepi yang mencekam

Dibalut lelah,,,

Menekuri ronanya, yang kian menjelma


Diri mulai meronta

Dalam sembah sujud,

Juga dalam diamku.

Kembali kutemukan Ia

Merasuk tajam dalam sanubariku

Menusuk-nusuk kerinduanku.

Ya, aku merindu!

Dan rindu semakin menjelma

Merasuki relung sukmaku

Tak terbantahkan!


Rini,

Waktu kini menggilasmu sangat!

Merobek kisah pertemanan diantara kita

Ia yang terlanjur mendiamkanku di sini,

:seorang!

Meski asa menggiring nafsu

tuk mengenang cerita indah yang terlanjur kupahat bersamamu.

:dulu!


Rini,

Kini ku merindumu sangat

Waktu,

Ia terlalu dahsyat tuk ku hempas

Ia hanya menenggelamkanku dalam kesepian berkepanjangan

Adakah waktu tersisa tuk bersua bersamamu kini?


Aku tak kuasa,

Buliran airmata bercerai

Menampar pipiku yang terlanjur lemah

Aku terkapar,

Terkulai tanpa daya

Karena mu...

Karena aku merindumu

:sangat!



Membedah Cinta

Oleh: Yana Yan

Cinta!


Cinta…

Cinta itu…

Cinta adalah…


Cinta!


Cinta…

Aku mengenalmu sejak jiwaku terpasung

:merengkuhmu sejak mataku terbias di tempat ini

:menjamahmu sejak diri dibuai kasih sayang Ibu

:menggerusmu sejak nurani menjejaki hidupku

:menekurimu sejak hati berselimutkan rasa

:memahatmu sejak rasa tergolek dalam dada

Tak kan kubiarkan kau lenyap

Bersama hempasan angin yang terus berhembus

Karena kaulah hidupku!


Cinta itu…

: separuh jiwa!

Laksana elang yang kehilangan sebuah sayap,

Ia merasakan hidup yang sungguh pincang

Laksana bumi yang tak pernah di guyur hujan

Hidup menjadi kerontang

Laksana pagi yang mencekam, tanpa nyanyian burung, tanpa sinaran mentari

Tak ada kisah menghiasinya

Maka ia menjadi hambar

Kala cinta terpental jauh,

Separuh jiwa seolah mati

Hilang bersama terbangnya cinta


Ketika kau bertanya kepadaku tentangnya,

Maka cinta adalah…

:karunia yang menjelma pada sanubari setiap insan

Terbias berjuta makna pada lukisan hati setiap manusia

Ialah rasa yang tak pernah lelah menyelimuti qalbu

Hadir,,, tiada bosan

Namun, ego terkadang menyingkirkannya

Ialah warna yang tak pernah pudar menghiasi setiap episode kehidupan

Terbias,,, tanpa bosan

Namun, nafsu terkadang menyeretnya pergi jauh

Jauh, dan membuatnya ternoda


Cinta!

Kubiarkan sayapku terbang

Menjejaki hidup, mengais cinta yang hilang

Bersama elang

Menjejaki dunia, menikmati cinta


Selasa, 21 April 2009

Sajak-sajak Yana Yan

Jejak Sejarah Hari Ini

Pesta demokrasi baru saja dirayakan
Hati, mungkin mulai resah
Menanti apa jawabnya gerangan
Tak ada yang tahu
Apa yang terjadi besok, lusa, dan seterusnya
Namun,
Dengan segenap pengharapan,
rakyat terus menanti
Dengan penuh kesabaran,
rakyat terus meringkih
Adakah mimpi yang kelak nyata?
Melihat negerinya menjadi bersih,
dari noda yang selama ini tak pernah lekang

Kini,
Sejarah mulai terangsang
Mencatat segala fenomenanya
Mengukir cerita tuk hari esok
Ya, hari ini
Kan menjadi bagian kenangan masa depan
Adakah cerita indah untuk kita sisakan?
Tuk kita ceritakan
Buat anak cucu kita kelak??


Cerita tentang Rakyat


Rakyat terus mengusung kebenaran
Tapi pecuma, keadilan tak berpihak
Rakyat terus mengusung kedamaian
Tapi sayang, perdamaian tak menoleh
Rakyat terus mengusung nasionalisme
Tapi miris, orang-orang tak pernah paham
Rakyat terus mengusung kesabaran
Tapi nihil, orang-orang tak pernah sadar

Kini, rakyat hanya bisa menjerit
Meringkih dalam dekapan keluarga
Sembari menyembunyikan asa
Dan menggelindingkan ego
Karena Kau tak pernah tahu
Dan semoga bukan karena tak mau tahu

Jumat, 27 Februari 2009

Mengejar Asa


Malam membentang bintang

Kutelusuri jalan,

Membelah kegelapan

Memecah kesunyian malam.

Roda kehidupan kembali berputar

Pagi, kemudian menggantikan malam

Lalu muncul siang,

dan hadir sore,

dan malam kembali muncul.

Hari akhirnya berganti

Satu episode kehidupan terlaksana

Hingga terukir sketsa hidup

Yang tak bisa dimusnahkan

Terangkai dalam bingkai

yang tak dapat direnovasi

Yang lalu biarkan ഇയ berlalu

Meski noktah penyesalan tiada henti mengintai,

Tak kan kubiarkan ia menyelimutiku

Merusak sketsa yang pernah kuukir

Mematahkan bingkai yang pernah kubuat

Aku kan terus melaju

Melaju jauh,,

Jauh kedepan!

:meski malam menghantui

meski pagi menantangku

meski siang menggenggamku

Dan,

Kekerdilan asaku takkan buatku bungkam

Tuk melangkah...

Dalam Diamku

Dalam rentetan waktu,

kutelusuri setiap ranah

Nalar terpacu

melawan setiap keganasannya

Hati menjerit

menahan kecamannya

Namun,

Tak perlu kuberlari darinya

Segala asa siap kumuntahkan

Untuknya...

Ya, untuknya!

Dalam pergantian siang,

kemudian menjadi malam,

Lalu kembali pagi

Aku bergulat nafsu

Ditemani asa yang semakin kerdil

Dengan segala daya

Tapi hanya tipu yang kudapat

Ternyata, aku menuai sesal

Kesadaran baru kerenggut

Tameng-tameng kehidupan,

kini berjejer siap menghujatku

Aku bimbang

Kuhembuskan kebingungan

disetiap desahan nafasku

Ingin ku segera lari

Namun, dunia ternyata begitu sempit

Dan waktu

kini semakin mengintai

Aku pun menyerah

:pada keganasannya

pada kekuasaannya

pada kehebatannya,

Aku taubat!

aku menyerah!

Dan diam adalah perisaiku...

Rabu, 07 Januari 2009

sajak-sajak palestine

Menelisik Duka di Bumi Palestine

Duka terkuak,

Tercabik-cabik jiwa melihatnya

Tatapan kosong penuh arti

menamparku di sini

:adakah sedih melihatnya?

Kuterdiam di sini

Di sini kumerenung

Kurogoh nyaliku di sini

Di sini kumulai mengenang

Ku kais kuatku di sini

Di sini ku akan mulai beranjak

Ku raba mimpinya di sini

Di sini ternyata aku hanya diam

Tak ada nyali yang kudapat

Tak ada kekuatan yang kukumpul

Tak ada mimpi yang kupeluk

Aku terhentak,

Wajah itu ternyata kian buram

Tak ada warna,

apalagi canda

Hanya tangis yang berkeliaran

Aku tersadar,

Diamku tak sanggup mengobatinya

Akhirnya aku bangkit

Ingin kuhentakkan kakiku di wajahnya

Wajah yang tak kenal dosa

Wajah yang telah mengumbar kebohongan

Wajah yang telah menaburkan derita

Wajah yang telah menampakkan kebusukan

Biar ia hancur

Bukan hanya hancur

Tapi kuingin ia enyah dari sini

Enyah dari tatapku

Enyah dan tak kan pernah kembali



Nurani Bertanya*)

Hati bergeming

Lagi, dan lagi…

Sejuta tanya trus menggelinding dalam dada

: sesak!

Asa mati sudah

Hilang tergilas ego

Tenggelam ditelan nafsu

Terkoyak nurani memandangnya

: sinis!

Tak sanggup lagi menatapnya lama

Daging ditemani darah,

Tulang bercerai tiada bentuk

Air mata tak sanggup lagi terbendung,

Terurai tiada sanggup kumenahan

Lalu, timbul tanya:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Senja,

ia bahkan tlah pergi

Meninggalkan mereka yang terkubur sedih

Bendera kebebasannya bahkan tak lagi berkibar

Tak ada ruang ’tuk bersua dengan Bapak Ibunya

Longlongan minta tolong

terus menyeruak di tanah kelam itu

Derita,

ketidakadilan,

kemunafikan,

kebusukan,

:semua!!!

Semua menyatu menamparnya

Lalu, timbul lagi tanya:

Masihkah kita terbahak melihatnya?

Tawa, kini berganti duka

Damai bahkan berganti kelam

Sunyi, juga berganti isak

Tak ada siang,

Malam pun begitu

:hilang!!!

Langit bahkan tak bergeming

Lemparan peluru-peluru bangsat menghapus semuanya

Mengkerdilkan asa yang dulu pernah buas

Menelan rahmat yang dulu pernah tumbuh

Dan kembali timbul tanya di sini:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Kawan,

Palestina kini menangis

Palestina terlunta sudah,

Tak bosannya ku bertanya:

Pantaskah kita terbahak?

Atau hanya berdiam

melihatnya tercabik nurani?

Hati kian menjerit

Ingin kuteriak:

Kawan, Palestine sudah hampir mati!!!

Para budak rakus itu

telah menikamnya bebas

Tak hanya menikam jasad,

Nurani,

Jiwa,

Asa,

:semua!!!

Semua mereka embat tanpa rasa dosa

Sekali lagi ku bertanya,

:tidakkah terguncang nurani?

Kawan, tahukah:

Pertolongan adalah harapannya

Teriakan takbir adalah kekuatannya

Doa adalah asanya

Kedamaian adalah mimpinya

Aku tak mau diam disini

Menjadi pecundang,

Dengan santai menyaksikannya di layar kaca

Karena itu bukan kisah pelipur lara

Meski dalam gerak yang terlunta

asaku masih ada

tuk menopang asanya yang semakin kerdil

Aku tak mau asa itu benar hilang adanya

Ingin ku bertanya kepada kalian:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Kawan,

Meski kau tak punya nyali,

Meski kau tak punya ingin,

Meski kau tak punya langkah,

Tapi mereka,

Mereka masih punya Rabb

Yang Dia lebih besar dari nyalimu

Yang Dia lebih besar dari inginmu

Yang Dia lebih besar dari langkahmu

*)Ketua FLP Ranting Unhas,

Aktifis PII (Pelajar Islam Indonesia)




Terkuak duka di Bumi Palestine

Mulut dibungkam caci

Hati dibalut hina

Jiwa tergores luka

Tangan ditebas nafsu

Wajah tertampar umpat

Tanah terinjak jiwa-jiwa rakus

Asa tertelan amarah

:semua!!!

Semua termakan peluru hina

Semua tertelan bom Sang biadab

Semua tergilas tanker-tanker gila

Semua terkoyak senjata penuh kutuk

Menjadikan palestin kering kerontang

Membuat orang palestin bergelimang darah

Semua,,

Semua terlunta sudah

Karena sikap yang terasuk ego,

Karena jiwa yang tergilas nafsu

Karena hati terbalut dosa..

Minggu, 14 Desember 2008

Kaulah Superwomanku


Pagi menyapa,

kau pun terbangun

segala asa kau tumpahkan ke bumi

Bentangan sinar sang mentari

turut mengikuti setiap langkahmu

Kau temukan duri dalam pencarianmu

Bahkan kau tertampar panasnya Sang surya

Namun,

tak ada keluh yang terucap,

meski peluh membanjirimu

Dibalik tirai sabarmu,

kau bentangkan rekahan senyumanmu

Meski ku tahu,

sebenarnya kau sakit,

sebenarnya kau terluka,

sebenarnya hatimu menangis

Namun,

kau tak jua meronta

apalagi menjerit

Tak ada kerapuhan yang menyelimuti tubuhmu

Topeng ketegaran terus terpasang

di wajah sendumu

Kutemukan cinta, kasih, dan sayang

dalam setiap tatapmu

Kutemukan noktah keikhlasan

dalam setiap gerakmu

Hingga bertahtalah bahagiamu

Kini, hari kian menua

Kau pun terjamah olehnya

Secercah harapan terus tertumpuk

di jidatmu yang semakin berlapis

Namun,

Tirai ketulusanmu mampu menyembunyikannya

Kau hilangkan noda

di balik cadar kesabaranmu

Kekasaran,,

Kemunafikan,,,

Kebohongan,,,,

: semuanya!!!

Kau jawab dengan kelembutanmu

Kau maki dengan segudang doa terbaikmu

Bukan dengan caci,

apalagi sumpah serapah

Disini,

aku hanya diam

:memikirmu,

mengingatmu,

mengenangmu

terbalut rindu merangkuh rongga dadaku

: sesak!

Ingin kuteriak;

I Love You Mom!!!

Karena kaulah Superwomanku...