must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...
Tampilkan postingan dengan label nanna_cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nanna_cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Mei 2009

Nestapa Tak Bertuan


Oleh: Yana Yan*)

Pagi yang masih sangat buta, kumulai perjalanan itu. Namun sebelumnya, tak lupa kuberikan kecupan hangat di kening Ibu. Dan kutinggalkan ia dalam kondisi yang masih tertidur lelap. Lalu kutitipkan ia kepada kedua adikku, Rina dan Adli. Entah gimana cara Adli meyakinkan Ibu. Entah bagaimana cara Rina menghibur Ibu, setelah tahu aku tak lagi bersamanya. Ah, biarlah waktu yang menjawab semuanya. Tapi satu yang kupinta, semoga keputusanku tidak membuat segalanya menjadi kacau! Aku ingin melihat kasih, ketenangan, dan cinta membaluti keluargaku. Menyusuri sisa jejak Ayah yang sudah lebih dulu pergi. Dan sebagai anak sulung, aku tak mau menghentikan jejak Ayah. Kan kuteruskan langkahnya dalam menaungi kebahagiaan di rumah ini. Itu janjiku!
***

Minggu, 26 April 2009

Andar, Jangan BHP!

Oleh: Yana Yan*)

Terik Sang Surya mulai membuatku gusar. Peluh sudah tak sanggup kubendung. Ia kini tumpah membasahi jidat dan beberapa bagian tubuhku. Dan aku kembali mengusapnya, entah untuk yang keberapa kalinya.
“Hidup mahasiswa!!! Hidup mahasiswa!!!”
Aku menoleh, kutemukan segerombolan mahasiswa tengah memadati sisi kanan jalan menuju gedung rektorat kampusku. Sesekali terdengar teriakan-teriakan lantang dari Sang Orator yang terus membahana di ruang dengarku.
“Lagi demo ya Dik?” seorang wanita setengah baya tiba-tiba melontarkan pertanyaan untukku.
Udah tahu nanya! Aku bergumam dalam hati.
Aku menyumbangkan senyum manisku untuknya, lalu kuberikan sebuah anggukan, sebagai simbol tanda setujuku.
“Demo apa ya Dik?” lagi-lagi Ibu itu mengejar tanya.
“Ah,, Ibu ini,” batinku. Lalu kujawab pertanyaannya tadi dengan menggelengkan kepalaku. Dan akhirnya, Ibu itu diam. Mungkin karena sudah paham dengan kondisiku.
Angkot yang kutumpangi tiba-tiba berhenti. Padahal tidak biasanya angkot akan berhenti di jalan ini. Aku dan Ibu tadi saling berpandangan.
“Kenapa berhenti Pak?” seorang gadis berjilbab tepat di samping Ibu tadi akhirnya angkat bicara.
“Sepertinya kita tidak bisa lewat di jalan sana. Ada demo. Mahasiswa-mahasiswa itu akan bergerak mengelilingi kampus,” jawab Pak Sopir sambil membalikkan dirinya ke belakang, memandangi kami satu per satu.
“Angkot ini tidak bisa masuk ke kampus lagi. Coba lihat di depan sana, angkot-angkot pada berhenti. Malah ada yang berbalik arah.” Tambah Pak Sopir.
Benar juga.
“Ya sudah, saya turun di sini saja.” Kembali kubergumam. Aku pun melompat turun dan membayar ongkos.
Samar-samar, teriakan sang pendemo mulai ditangkap inderaku. Aku semakin tertantang untuk mendekati sumber suara itu.
Tiba di perempatan jalan, aku terhenti. Asaku membuncah. Nyaliku terpacu lebih cepat. Kobaran semangat dari mereka_mahasiswa-mahasiswa itu_ tiba-tiba menjilat naluriku. Diseberang jalan, mataku tiada henti mengumbar pandangan ke arahnya. Kepalannya, teriakannya, langkahnya, hentakan kakinya, jiwanya,,, semua membuatku bungkam tak berkutik. Memaksa jiwaku untuk menyumbangkan rasa salut dan bangga kepadanya.
“Kawan-kawan seperjuangan yang saya hormati dan saya cintai. Pendidikan kini menjadi barang mahal. Dan sebentar lagi, mungkin saja ia akan menjadi barang langka. Bukankah kemerdekaan itu hak segala bangsa? Bukankah salah satu misi Negara kita adalah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah dengan BHP misi itu akan terwujud? Dengan melilit perut dan leher kita? Saya yakin, bukan cara seperti itu yang kita tunggu kawan-kawan…”
Teriakan-teriakan itu terus terdengar lantang di angkasa. Nyaliku tiba-tiba bangkit, seiring dengan gentarnya mereka bersuara. Keinginanku untuk bergabung dalam barisan itu harus kutelan, meski terasa sangat pahit. Aku tak mungkin gabung bersama mereka. Kebisuanku, tak mungkin mampu mengobarkan semangat mereka, bahkan mungkin akan ciut melihatku diam di depan sana. Kebisuanku tak akan mampu menyelipkan daya guna buat teman-teman itu.
“Seandainya kalian tahu betapa aku ingin bergabung bersama kalian…” gumamku lirih.
“Andar?!! Kok bengong disini?” suara Retno tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Aku menggoyangkan kedua tanganku. Menjawab pertanyaan Retno dengan bahasa isyaratku. Kuyakin, Retno paham maksudku. Tentang rasa salutku terhadap teman-teman disana.
“Andar,, Jangan BHP!” Retno kembali bersuara.
Aku mengernyitkan dahiku tanda tak mengerti.
“Jangan BHP! Jangan Buat Hidup Pincang!” Retno menjelaskan.
Aku kembali mengernyitkan dahi. Aku semakin bingung dengan ucapan Retno barusan.
“Hmm,, jangan pernah buat hidup kita jadi pincang dengan segala keinginan kita yang belum nyata. Aku tahu, keinginanmu sedari dulu untuk bisa menjadi orator ulung seperti mereka. Tapi, jangan sampai keinginan yang membuncah itu membuat kita menjadi hamba yang tak bersyukur. Coba kita lakukan sisi lain. Aku yakin, setiap orang punya potensi masing-masing yang orang lain belum tentu punya. Tapi terkadang, banyak diantara kita yang tak pernah menyadari hal itu. Jangan pernah bercermin kepada orang atas mimpi-mimpi yang akan kita rajut. Karena sebenarnya kitalah yang menentukannya, bukan siapa-siapa,” terang Retno panjang lebar.
Aku semakin tak berkutik. Kali ini, bukan karena teriakan Sang Orator itu, tapi karena bisikan Retno yang sungguh lebih mengikis nuraniku. Kutatap sahabatku itu, dan kurangkul segera.
Terima kasih Rabb, Kau izinkanku bertemu dengannya.

***


*) Ketum FLP (Forum Lingkar Pena) Ranting Unhas

Selasa, 14 April 2009

Cerita Dibalik Penantian

Oleh: Yana Yan



“Mobilnya mana nih Nis? Kok belum nongol-nongol juga,” gerutuku kepada Nisa.
“Iya, udah jam sembilan neh. Takut kemalaman ke kota,” Alya menambahkan, lalu melangkah sedikit ke depan, mengayunkan tangannya ke samping setelah melihat penampakan sebuah mobil dari kejauhan. Bersiap-siap menghentikannya.
“Iya, sabar dikit napa? Tuh, smoga itu mobilnya. Smoga mau berhenti.” Nisa pun melangkah mendekati Alya, memasang gaya yang sama. Ini untuk yang kesekian kalinya. Setelah sebelumnya juga melakukan hal yang sama pada setiap mobil yang akan melintas. Tapi hasilnya, nihil! Kalo bukan truk, mobil pribadi, ataupun mobil pertamina saja yang melintas.
“Yahh,, mobil pribadi lagi…” aku kembali berceloteh dibelakang.
“Eh, lihat. Mobil itu berhenti!” ucap Alya sedikit lebih keras.
“Hmm,,mobil itu benar-benar berhenti. Padahal mobil pribadi. Smoga saja niatnya mau menolong kami-kami ini,” ucapku lirih, sambil bangkit dari dudukku. Berjalan menghampiri Nisa dan Alya yang sudah mendekati mobil yang berhenti itu.
“Al, Nay, naik mobil ini saja ke Pinrang kota. Bapak ini bersedia ngasih tumpangan kok,” bisik Nisa beberapa menit setelah ia berbicara dengan orang-orang yang ada di dalam mobil itu.
“Tak ada pilihan, hari semakin malam. Dari tadi kita menunggu, mobil penumpang belum datang-datang juga. Biarlah, kita numpang di sini saja. Bersyukur, sudah ada yang mau menolong kita,” jawabku, sambil menoleh ke Alya. Alya mengangguk tanda setuju.
“Ya sudah. Hati-hati ya… kasih info kalo udah nyampe.” Sambil membantu memasukkan tas kami ke dalam mobil, Nisa pun menyalami kami.
“Hati-hati…” kembali Nisa berbisik.
***
“Nay, jangan tidur ya. Tahan dulu ngantuknya. Bagaimanapun, kita harus waspada.” Alya menyodorkan HPnya, dan memperlihatkan tulisan ini. Ya, aku paham. Tidak mungkin Alya ngomong langsung ke saya, takut kedengaran ma orang-orang di mobil ini.
Meski di dalam mobil ini ada 1 orang cewek, tapi sumpah kami was-was juga. Takut kenapa-napa. Bayang-bayang kasus hipnotis bergelayut ria di benakku. Ah, semoga tidak!
Dasar aku yang sudah tak mampu lagi menahan kantuk, akhirnya tertidur juga. Peringatan Alya tadi tak mampu kuterapkan. Kelelahan pasca perjalanan dari gunung tadi benar-benar membuatku tak mampu berkutik. Aku terlarut di punggung Alya.
***
“Napa Al, udah nyampe?” sambil mengucek-ngucek mata, aku memandang keluar. Melongo kebingungan.
Kok tidak terasa? Ya iyalah, wong dari tadi udah tertidur pulas.
“Iya, ayo bangun, kita udah nyampe. Tuh, abangku udah nunggu di depan sana.” Alya pun turun dari mobil. Aku membuntuti, sambil menenteng tasku.
“Al, bayar berapa nih?” bisikku ke telinga Alya, sekecil mungkin.
“Ngga’ usah bayar kali.” Jawab Alya singkat, lalu ia mendekati mobil tadi. Menutup pintu bagian tengah, tempat dudukku tadi. Sambil tersenyum, Alya mengucapkan terima kasih kepada mereka, para penghuni yang berada di dalam mobil itu.
***
“Siapa Al?”
“Hasan, cowok yang tadi di mobil itu.”
“Ngapain malam-malam gini nelpon.”
“Ntahlah,,, katanya cuma menginfokan saja kalo dia udah di Barru.”
“Trus?”
“Dia ngajak ketemuan kapan-kapan,” jawab Alya lesu, sambil melempar badannya ke atas kasur.
“Hmm,,sembarangan tuh orang. Jangan-jangan…”
“Napa Nay?”
“Kamu juga Al, bisa-bisanya ngasih nomormu. Kamu nggak takut?”
“Ya takut juga sih. Tapi tadi benar-benar nggak mikir apa-apa. Kamu juga sih, pake acara tidur. Dibilangin nggak usah tidur.”
“Kecolongan Al, ngantuk berat. Hmm,,ganti nomor saja Al.”
“Liat nantilah. Kalo dia nelpon lagi, aku nggak bakal angkat.”
HP Alya kembali berdering…
“Nay, dia lagi!” bisik Alya.
“Nggak usah angkat!”
Panggilan itu akhirnya berhenti juga. Tapi, tiba-tiba ada SMS masuk.
Met tidur,,,Mimpi yg indah y!kpn2 gw hubungi lg, kpn & d mn qt bs ketemu. sampe ktmu d Mkssar…
“Maksudnya??!!” aku dan Alya berteriak hampir bersamaan.

Senin, 23 Maret 2009

Matahari Yang Ternoda

Oleh: Yana Yan*)

“Ehm, Arin, mau kemana?”

“Bukan urusanmu!”

Linda membisu. Ia hanya bisa diam menerima sikap Arin yang semakin dingin kepadanya. Arin yang berjalan semakin jauh dan akhirnya menghilang di pembelokan jalan, kini semakin mengukir sesal dihatinya. Pasrah, adalah pilihan tepat baginya saat ini. Tak tahu harus berbuat apa pada Arin. Permohonan maaf telah berulang kali ia lakukan. Berbagai cara, demi meluruskan kesalahpahaman dan kehilafan yang pernah terjadi. Harapan itu masih ada. Dengan berusaha menghimpun ketegaran, Linda selalu mengucapkan kalimat itu.

“Lin,,Linda...!!!” Dari jauh, terdengar suara Dila, sahabat Linda, memanggil.

Linda menoleh, lalu kembali melangkah menuju tempat duduk, di sebuah taman fakultas tak jauh darinya. Dila semakin mendekat. Linda memilih duduk dibawah sebuah pohon yang rindang..

“Teringat Arin lagi?”

“Barusan aku bertemu dengannya.”

“Trus?” Dila semakin mendekati Linda. Ia duduk tepat disampingnya.

“Ia masih seperti yang dulu. Aku bingung Dil, dengan cara apa aku bisa meluruskan kesalahanku. Rasa sesalku semakin hari semakin mengejar. Aku betul-betul bingung,” ucap Linda tanpa menoleh sedikitpun ke Dila. Hatinya sesak!

“Jangan sampai kamu mengutuk dirimu sendiri, Lin. Kamu nggak boleh putus asa. Aku yakin, ada cahaya terang yang menantimu di depan sana. Bukankah kamu selalu bilang kalau harapan itu masih ada?”

Linda menundukkan kepalanya, menatap tanah kering dibawahnya. Lalu, kedua tangannya akhirnya menutup wajah sedih itu. Linda menangis.

“Bukankah Tuhan tak akan memberikan cobaan diluar kemampuan kita?” sambung Dila, sambil merangkul temannya.

Matahari semakin gagah membentang sinarnya. Pepohonan pun semakin kokoh menghadang angin yang sesekali menamparnya. Merpati-merpati kampus (begitu kami menyebutnya), juga semakin riang menikmati hidupnya. Sementara Linda, masih saja dirundung sedih menahan sesal atas sikap yang dulu terlanjur ia lakukan. Dan Dila, terus saja menyirami Linda dengan kata-kata penuh bijak. Ia tahu, saat ini Linda membutuhkannya.

“Dil, pulang yuk,” kata Linda tiba-tiba memecah keheningan. Ia beranjak, lalu langkahnya disusul oleh Dila.

“Kita kemana?”

“Ke rumahmu, bisa?” langkah Linda terhenti, lalu menatap Dila.

Dila mengangguk sambil mengedipkan mata kanannya. Linda akhirnya tersenyum.

***

“Dil, seandainya saja waktu itu aku tak meninggalkan Arin, dia pasti tidak membenciku seperti ini,” ucap Linda sembari melepaskan jilbabnya. Rambutnya yang panjang pun terurai, melambai-lambai terkena hentakan kipas angin tak jauh dari tempatnya duduk.

”Sejak kapan kamu jadi seperti ini Lin? Seharusnya kamu bersyukur, Tuhan masih memberikan kamu kesempatan untuk menghindari dunia gelap itu. Bukan malah menyesalinya seperti ini.”

Astagfirullahal’adzim,,,”

”Yang harus kita pikirkan sekarang, bagaimana cara kita menjauhkan Arin dari barang haram itu. Dan kembali bersahabat dengannya.”

”Tapi tidak semudah itu, Dil.”

”Iya, aku tahu. Masalah ini bukan masalah yang mudah. Tapi, aku yakin kita akan bisa mengatasinya. Tuhan telah memilih kita untuk menghadapi masalah ini. Kenapa kita harus ragu?”

”Kamu bener. Dil, tolong.. Arin itu sahabat kita..”

”Lin, aku akan selalu ada disampingmu... Kamu tenang saja, kita pasti punya jalan keluarnya kok. Tinggal gimana usaha kita mencarinya, Ok?” Dila menatap wajah sahabatnya itu. Dalam! Disusul dengan anggukan lemah dari Linda.

***

Yang kesekian kalinya, Linda kembali mencoba menghubungi Arin. Sebelumnya, ia sudah berusaha mengumpulkan asa dan kekuatannya sebanyak mungkin, untuk Arin.

Lagi-lagi gagal...

”Harapan itu masih ada,” Linda kembali melafazkan kalimat itu, lirih! Jemari tangannya masih saja menari ria di atas tombol handphonenya. Hasilnya sama saja, nihil. Namun, beberapa saat kemudian, tiba-tiba handphonenya berdering sebentar. Ada SMS!

Ga’ pernah buka email?

Linda terperangah. Berusaha ia menguasai dirinya. Ketidakpercayaannya atas apa yang terjadi barusan, membuatnya lunglai tak berkutik. Setelah sekian lama aku menghubunginya, baru kali ini dia memberi jawaban. Meski sebenarnya kebingungan masih menyelimuti ruang pikir Linda. Berulangkali Linda membaca SMS itu, jawabnya memang betul. Itu dari Arin. Tanpa basa-basi, Linda langsung beranjak dari duduknya. Setengah berlari ia menuju warnet ”Dhea” tepat disamping rumahnya. Tujuannya hanya satu: membuka emailnya, dan berharap ada setitik pesan berarti yang Arin tinggalkan.

1 new message:

From: arienda_mj@yahoo.com

”Puisi???” Sejuta tanya semakin bergelayut di benak Linda.

Dalam Diamku

Dalam rentetan waktu,

kutelusuri setiap ranah

Nalar terpacu

melawan setiap keganasannya

Hati menjerit

menahan kecamannya

Namun,

Tak perlu kuberlari darinya

Segala asa siap kumuntahkan

Untuknya...

Ya, untuknya!

Dalam pergantian siang,

kemudian menjadi malam,

Lalu kembali pagi

Aku bergulat nafsu

Ditemani asa yang semakin kerdil

Dengan segala daya

Tapi hanya tipu yang kudapat

Ternyata, aku menuai sesal

Kesadaran baru kurenggut

Tameng-tameng kehidupan,

kini berjejer siap menghujatku

Aku bimbang

Kuhembuskan kebingungan

disetiap desahan nafasku

Ingin ku segera lari

Namun, dunia ternyata begitu sempit

Dan waktu

kini semakin mengintai

Aku pun menyerah

:pada keganasannya

pada kekuasaannya

pada kehebatannya,

Aku taubat!

Dan diam adalah perisaiku...

***

“Lin, bangun Lin.. Udah pagi, Nak.”

Antara sadar dan tidak, Linda bangkit dari tidurnya dengan penuh kebingungan. Keringat dingin membasahi keningnya.

Astagfirullah... ternyata hanya mimpi!” gumam Linda sambil mengusap matanya. Tubuhnya kembali lunglai.

“Mimpi apaan Lin?” tanya Mamanya, setelah melihat Linda menundukkan wajah sambil menutupnya dengan kedua tangannya.

“Nggak, Ma. Cuma bunga tidur. Mmm,, Linda mandi dulu ah. Ntar telat lagi!” Linda pun beranjak tanpa menghiraukan Mamanya yang masih terheran-heran.

***

“Dila, tahu nggak. Semalam aku mimpi lagi tentang Arin.”

“Sudahlah Lin. Nggak usah terlalu mikirin dia. Kasihan tuh tubuhmu selalu terbebani. Biarkan Arin tenang di alamnya. Yang harus kita lakukan selalu adalah mendoakan beliau, agar arwahnya bisa diterima di sisiNya.”

Ya, beberapa hari terakhir, Linda memang sering memimpikan Arin. Sejak 2 minggu sepeninggalnya, Linda seolah belum siap menerima kenyataan ini. Yang paling Linda sesali, ia belum sempat membebaskan Arin dari dunia gelapnya: pecandu narkoba.

“Tapi, mimpi ini seolah nyata, Dil.”

“Hush,,, mimpi tuh hanya bunga tidur Lin. Nggak usah dipercaya.” Lagi-lagi, Dila menjawab enteng keseriusan Linda.

“Baru kali ini mimpiku sangat kompleks...” Linda terus saja bercerita. Tanpa menghiraukan Dila, ia pun menceritakan mimpinya semalam. Termasuk tentang puisi di emailnya itu.

“Trus, isi puisinya kaya’ gimana?” akhirnya Dila bersuara juga, pertanda ia masih respect atas cerita mimpi Linda.

“Isinya, aku udah nggak hafal lagi. Yang pastinya, puisi itu seolah menceritakan isi hatinya. Bahwa selama ini, Arin hanya bisa diam dan penyesalan itu ada dalam dirinya. Tapi dia nggak tahu harus berbuat apa dalam kondisi yang sudah terlanjur terjadi. Makanya ia hanya memilih diam saja. Kasihan...”

“Hanya Tuhan Yang Tahu maksud dari mimpimu itu, Lin.”

Linda hanya berdesah panjang mendengar jawaban dari sahabatnya.

***

Matahari, kini mulai bergeser. Kemilau jingga di ufuk barat sana terlihat berbaur bersama langit biru. Sebuah perpaduan warna yang begitu indah. Kompleks! Linda membayangkan, senyuman manis Arin berada diantara lekukan awan-awan itu sambil melambaikan tangan kapadanya.

Matahari, kian lama kian beranjak. Meninggalkan Linda yang dirundung sedih. Linda takkan lagi menyaksikan matahari beranjak dari peraduannya hampir setiap petang seperti sedia kala. Saat Arin masih bersamanya. Tak ada lagi yang menemaninya menikmati indahnya kemilau jingga matahari itu.

”Dia tlah pergi...” desah Linda.

***

*) Ketua FLP Ranting Unhas, Mahasiswi Ners A’07 UH

Terucap salam buat keluarga besar FLP, kawan-kawan PII, dan warga IKMS.

Senin, 23 Februari 2009

Laskar Mentari Kecolongan*)

Kode Etik Laskar Mentari:

“Jangan pernah mengaku gaul kalo’ tak punya banyak teman...

Jangan pernah mengaku baik, kalo’ tak pernah mentraktir teman...

Jangan pernah mengaku pintar, kalo’ tak pernah memberi contekan kepada teman...

Jangan pernah mengaku kaya, kalo’ tak pernah memberikan pinjaman uang kepada teman yang lagi kere’...”

Diatas sebuah karton merah terang, ukuran 1x1 meter, kalimat itu ditulis. Entah atas dasar apa kalimat-kalimat itu dibuat. Yang jelas, sudah hampir 2 tahun, tulisan itu masih tertempel erat di depan pintu kamar Lindang. Markas besar komplotan “Laskar Mentari”. Meski sebelumnya sudah beberapa puluh orang yang memberi komentar kepadanya setiap kali melihat tulisan itu. Tapi Lindang enjoy-enjoy saja.

“Bodoh amat mikirin mereka. Kamar, kamar gue. Terserah gue kan?!!” begitu Lindang selalu memuntahkan jawaban kepada siapa saja yang menegur tulisan itu. Bibir manyun pun dengan segera ia sumbangkan.

***

Pagi yang cerah. Matahari sudah menyemburat tinggi di angkasa. Sinarnya menyusup perlahan diantara celah jendela kamar Lindang sejak 1 jam yang lalu. Memberikan setitik cahaya pada ruang yang masih gelap itu. Tirai putih yang kini sudah menyerupai warna coklat muda, masih terbentang lebar di tempatnya. Pertanda, Si Empunya belum menggesernya sedikit pun. Di atas sebuah kasur yang sudah hampir setipis papan, Lindang masih saja menggeliat dengan guling tipis kesayangannya. Sesekali dengkuran nyaring keluar dari mulutnya. Aming, tetangga kamarnya, justru seringkali berterimakasih atas dengkurannya itu. Karena ia tak perlu lagi menyetel alarm setiap pagi. Sangat cukup dengkuran itu yang membangunkannya. Lindang senyum-senyum saja mendengar pujian Aming padanya. Sembari mengelus dada tanda bangganya.

Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk...

HP batangan Lindang berdering, mengumandangkan nada sahutan ayam. Lamaaa sekali. Dan kian lama kian membesar. Lama alarm itu bereaksi, namun Lindang tak jua berkutik.

Gubrakkkk!!!!

“Woeyy,,maling woeyy...Maling...ada maling....!!!”

Dengan memasang jurus patokan ayam, Lindang langsung bangkit dari tidurnya dan melompat dari kasur. Sambil mengucek-ngucek mata, dengan langkah perlahan ia mendekati pintu kamarnya. Dibalik pintu, ia mendekatkan telinganya dengan penuh konsentrasi mendengar suara di balik pintu itu.

“Mmm,,sepertinya ada orang yang sedang berlari,” batin Lindang, sambil terus menempelkan telinganya di pintu kamarnya. Tak berapa lama, akhirnya terdengarlah suara ribut-ribut di lorong kamar. Lindang pun keluar...

“Tak salah lagi, itu pasti Andong dan Aming. Pasti mereka sudah menangkap pencurinya,” Lindang menerka dengan sangat yakin.

Dengan wajah celingukan, ia pun keluar kamar. Sementara, batangan sapu ijuk yang siap ia hunuskan ke pencuri tadi, masih tergenggam erat di tangannya.

“Ndang, kamu kenapa?!!” tanya Aming keheranan melihat batangan ijuk yang digenggam Lindang.

“Eh, pencurinya mana? Tadi saya dengar ia mendobrak pintu kamarku. Untung saya kunci 3 kali lipat dari biasanya. Ini menjadi peringatan buat kalian-kalian, kalo malam, jangan pernah lupa mengunci pintu kamar. Nah, kalo’ kejadiannya seperti tadi, kita tetap aman kan dari tindak jahil pencuri...” Panjang lebar Lindang menjelaskan, membuat kedua temannya semakin mengerutkan kening. Tambah bingung!

“Mmm,, kumat lagi deh virus cerewetnya,” gumam Andong, namun tak sampai terdengar Lindang. Takut penjelasannya semakin panjang.

“Ooo, jadi ada pencuri? Terus apa yang dicuri?” dengan laga’ polosnya Aming bertanya.

“Huu,,,makanya, kalo’ tidur tuh jangan tidur mati. Biar sekalipun pencurinya menculik kamu, kamu nggak bakal rasa,” Lindang berkomentar lagi, sambil memperbaiki posisi sarung di badannya yang hampir saja melorot.

“Tapi saya sama sekali nggak dengar suara pencurinya. Padahal, dengkuran Lindang selalu saya dengar.”

“Weleh-welehhhh...wong tadi aku dengar sendiri kok pencuri itu mendobrak pintu kamarku. Telingamu tuh, yang lebih peka ke bunyi dengkuranku dibanding suara pencuri.”

Ya’ellaa... atau mungkin karena memang dengkuran Lindang yang jauh lebih besar daripada suara pencurinya ya,” Aming terus mencari pembenaran, tak mau kalah dengan Lindang.

“Ah, sudah,,sudah. Bukan saatnya berdiskusi disini. Begini, sepertinya pencuri tadi itu belum sempat mengambil apa-apa. Keburu terlihat. Makanya dia langsung lari.” Mas Bayu, sebagai pihak yang dituakan di kosan itu akhirnya memberi arahan, menengahi pertempuran mulut antara Lindang vs Aming.

“Iya, tuh pencuri kaya’nya memang bukan pencuri profesional. Mencuri kok pagi-pagi begini?”

“Pencurinya penakut kali, jadi nggak berani bereaksi kalo malam,” Lindang kembali menimpali ucapan Aming. Tak ada habis-habisnya..

“Eitss,,, ngomong-ngomong, sekarang jam berapa nih?” Lindang tiba-tiba tersentak, sambil memukul jidatnya. Ia melongo kepada kawanan sekos-annya. Dan...

“Waaaaaaaaaa.....aku final!!!” Lindang berteriak sekencangnya, sambil melompat lari masuk ke kamarnya. Sementara, Aming dan Andong saling berpandangan, heran.

***

“Sahar, kamu memang kawanku yang pwaaaaling baik seujung jagat raya. Pintar!”

“Eh, maksudmu?” Sahar terbengong mendengar komentar Lindang.

“Karena bantuanmu tadi, lembar jawabanku tidak bolong semua. Yah, meski tidak dapat bahan contekan semua, paling tidak lembar jawabanku tidak putih polos seperti sedia kala,” jawab Lindang sambil senyam-senyum tanda bahagia.

“Yahhh...syukurlah. Trus, kamu jawabnya berapa nomor? Kan tadi tersisa waktu 10 menit lagi saat kamu masuk ruangan,” Sahar menghentikan langkahnya, menanti jawaban apa yang hendak keluar dari mulut Lindang.

“Jawabnya 2 nomor. Nomor 9 dan nomor 10.”

“Lha, itu kan jawaban yang saya kasih ke kamu.” Sahar tercengang, matanya dibiarkan melotot memandang Lindang.

“Ya emang iya. Trus kenapa? Tidak ikhlas?” Lindang menatap wajah Sahar, serius.

“Bukan itu yang kumaksud. Dari 10 nomor, kamu cuma jawab 2 nomor?” Sahar balik menatap Lindang. Dan terjadilah aksi tatap-menatap.

“Huu,,kamu kaya’ anak eS-De saja, Har. Kalo ada 10 pertanyaan, dan hanya 2 yang saya jawab, itu artinya 8 nomor tidak saya jawab. Gittuuu...ngerti? Eh, kamu belajar matematika nggak sih waktu eS-De dulu?”

“Ahhh...terserah. Mau belajar ke’, mau tidak belajar ke’, bodoh amat. Yang jelas tadi aku jawab semua soalnya. Situ aja yang merasa sok pintar. Mau dapat nilai berapa kalau cuma jawab 2 nomor?” Sahar semakin gemas melihat kepolosan kawannya yang satu ini.

“Pusing amat. Itu kan keputusan Bu Imah mau ngasih nilai berapa. Apalagi Keputusannya nggak bisa diganggu gugat. So, mending kita ke kantin saja sekarang. Perutku sudah puyeng mondar-mandir dari tadi minta diisi,” timpal Lindang sambil menarik tangan Sahar yang masih bingung. Dengan langkah sempoyongan, mereka pun menuju kantin.

***

“Mmm,,,ngomong-nomong, Aming dan Andong kok belum nongol-nongol?”

“Ya, Sahaaar,,, mulai deh.. Saya kan sudah berjuta-juta kali bilang, saya paling tidak suka diganggu kalo lagi makan. Kalo makan ya makan, nggak usah mikir yang lain dulu. Apalagi mikirin dua makhluk itu, rugi!”

“Dasar makhluk aneh. Makan pake’ konsentrasi segala,” Sahar setengah berbisik. Wajahnya dibiarkan menunduk sambil memainkan sendok dan garpu di kedua tangannya. Meski ia tahu, sebenarnya Lindang menatapnya tajam. Namun, ia pura-pura tak tahu.

“Bu, minta bakso satu mangkuk lagi,” teriak Lindang ke Ibu kantinnya.

“Heyy, masih pukul 10 pagi Mas!” Sahar tersentak mendengar permintaan Lindang barusan.

“Makan bakso sampe 3 mangkuk sekaligus. Itu lambung atau baskom seh. Hati-hati loh, ntar lambungnya melar keisi bakso semua. Ntar, ususnya mampet, dipenuhi bakso semua. Ntar, otaknya buntu tersumbat bakso semua. Ntar, overdosis baru,,,” belum sempat Sahar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lindang memotong.

“Udah..udah..udah...Kamu kaya’ lebih pintar dari dokter saja, Har. Dokter saja nggak berpanjang lebar ngomong ini itu kalo konsult kesana. Yawdah, saya batalkan saja pesananku. Daripada ntar otakku buntu beneran, mana mau. Nggak tahan eke.” Lindang langsung beranjak dari tempat duduknya. Berlari menuju tempat Ibu kantin meramu bakso. Meramu? Emang jamu mau diramu. Jamu bakso kali ye...

“Bu, maafkan daku. Saya nggak jadi pesan. Temanku tuh melarang makan bakso banyak-banyak,” layaknya seorang mahasiswa yang sedang meminta nilai tambahan ke dosennya, begitulah aksi Lindang saat ini, memelas! Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sahar.

“Katanya masih pagi, Bu. Saya takut nanti otak saya buntu tersumbat bakso. Nanti saya takut lambung saya melar keisi bakso semua,” Lindang kembali menambahkan, berhubung Bu Kantinnya cuek bebek saja. Ga’ punya rasa, ga’ punya hati...Lha?!!

“Penjelasannya cukup?” Bu kantin akhirnya bersuara, kini malah balik nanya.

Ya’ellaaa,,ini Ibu. Maaf ya Bu ya, pesanan baksonya saya pending dulu. Besok dah, saya ke sini lagi pesan baksonya.”

“Pending,,pending.. Kalo’ bakso ini saya pending, dan saya simpan untuk kamu makan besok, mau?”

“Ya nggak lah Bu. Masa’ mau makan bakso yang sudah setengah basi?” Lindang menjawab sembari mengernyitkan keningnya.

Yawdah, makan aja bakso ini sekarang mumpung belum setengah basi.”

“Gratiss??” Lindang malah balik nanya dengan penuh semangat.

“Enak aja gratis. Mana ada...”

“Bu, baksonya satu!” tiba-tiba Aming nongol dibalik lemari kaca, memecah pergulatan antara Bu kantin dan Lindang yang tak jua selesai.

“Ah, untungnya.. Si Dewa penyelamat akhirnya datang juga,” sambil mengelus dada, Lindang berlari menjumpai Sahar yang sedari tadi menunggunya. Tapi sebelumnya, tak lupa ia berterima kasih kepada Bu kantin. Sekedar info, sampai saat ini Lindang cs. belum tahu siapa nama Bu Kantin yang sebenarnya. Entah nama Bu Kantin memang begitu dari sononya, atau karena beliau bekerja di kantin ini. Ah, pusing amat, Rektor aja ngga’ pusing. Yang jelas namanya Bu Kantin, titik!

Sementara Aming, hanya tersenyum tipis saja melihat aksi Lindang yang aneh. Ah, biassaa...

***

“Eh, Ming, Andong kemana? Tumben jam segini nggak ke kantin.” Lagi-lagi, Sahar merusak konsentrasi makan Aming. Tapi untungnya yang dihadapi bukan Lindang. Yang diganggu sedikit saja saat makan, ngomelnya minta ampun.

“Mmm..tadi saya sempat ketemu di depan fakultasnya. Dan dia kelihatan sangat buru-buru...”

“Mau bayar utang kali’. Tuh anak kan udah dapat kiriman dari kampung,” kembali dengan tampang polosnya, Lindang memotong.

“Ihhh,,,bukan itu. Makanya dengar dulu baru ngomel. Dasar Raja Ngomel Lo.” Dengan sedikit buru-buru, Aming memasukkan satu buah pentolan bakso ke mulutnya. Tinggal satu.

“Mmm, Andong buat kasus lagi. Tadi pagi, ternyata dia ada kuliah. Eh, malah asyik bergulat denganku di kosan. Meneketehe kalau dia punya jadwal kuliah dadakan. Kebetulan, dosen yang masuk tadi itu adalah dosen terkiller di fakultasnya. Dan parahnya lagi, dia ketahuan nitip tanda tangan ke temannya. Berlipat ganda deh hukumannya.”

“Nah, trus dia dihukum apa?” Sahar menimpal, seolah tak sabar menanti jawabnya.

“Katanya, tadi dia dipanggil ke ruangan dosen.”

“Wah, parah tuh. Andong mau diapain di sana?”

“Disuruh mijetin dosennya.”

“Wahh,,parah. Dosennya cewek apa cowok?”

“Onta-onta. Cowwokk... Bapa’-Bapa’, bego!”

“Parah tuh. Bisa-bisa Andong dapat bonus tendangan ampuh kalo’ salah pijit.” Lindang akhirnya bersuara, setelah sebelumnya terdiam mendengar penjelasan Aming. Kali ini, Lindang terlihat berusaha menahan tawa.

“Hey fren..how are you today?” sapa Andong tiba-tiba dengan logat inggris sialannya. Mentang-mentang kuliah di jurusan Sastra Inggris, ngomongnya sok orang Inggris.

How are you-how are you. Emang Lo mau jadi orang Inggris? Pake’ bahasa inggris segala. Udah, pake’ bahasa lokal saja. Lebih enak, tau!” Lindang, yang sama sekali anti-bahasa inggris memprotes Andong dengan penuh semangat.

“Hanya orang yang tak tau berterima kasih yang mau melestarikan budaya negara lain. Apalagi yang pernah menjajah negeri kita. Dasar tak punya jiwa nasional. Nggak kasihan ya ma pahlawan-pahlawan kita yang telah bersusah payah merenggut kemerdekaan ini. Sementara kita...”

“Bu, bakso satu!” Andong memotong penjelasan Lindang yang lagi semangat-semangatnya.

Tiba-tiba....

“Wadduhhh, eh, teman-temanku yang saya hormati, yang saya banggakan. Kebelet nih,, saya ke WC dulu ya. Kalo’ ntar saya nggak kembali-kembali, tolong baksoku dibayarkan dulu ya...”

“Eh, Lindang,, Lindangg....”

Belum sempat ngomong apa-apa, Lindangnya udah kabur. Dasar! Gue tau maksud Lo.

“Hehehe, akhirnya bisa juga. Ternyata bisa juga yah, makan bakso 2 mangkuk gratis. Mereka memang teman yang baik, suka menolong teman yang lagi kere’ begini,” Lindang bergumam dalam hati, sambil meloncat-loncat kecil dengan girangnya. Kali ini, langsung kembali ke kos-an.

Katanya mau ke WC? Katanya kebelet,,? Dasar!

***

Sore menjelang. Aming, Lindang, Andong, dan Sahar kembali berkumpul di markas besarnya, kamar Lindang. Kamar jamuran, namun masih dianggap nyaman. Bukan karena fasilitasnya yang lengkap. Tapi karena kamar Lindanglah yang memiliki pasokan makanan tambahan yang selalu ada. Bahkan, Sahar pun kalah, yang notabene tinggal dengan orang tuanya. Hampir setiap minggu, Lindang mendapatkan kiriman makanan dari kampungnya. Tak tanggung-tanggung, segala jenis buah, bahkan yang tidak pernah ada di supermarket sekalipun, sudah pernah diimpor ke kosan ini. Yahh, lumayan..!

Kamar Lindang akhirnya bernilai sejarah di mata mereka. Disinilah komplotan ‘Laskar Mentari’ itu bertengger. Yup, 2 tahun yang lalu, mereka sepakat bahwa nama ganknya adalah Laskar Mentari. Mereka berharap, kelak bisa menjadi sukses seperti Lintang cs. Mereka tak mau mengambil kata Pelangi, karena tidak mau disebut Sang Plagiator Ulung (padahal yang sebenarnya, merekalah ahlinya urusan copy-paste karya orang, apalagi kalo ada tugas makalah). Alasan lain, katanya karena Mentari sinarnya jauh lebih terang dibanding pelangi. Mereka berharap, kesuksesannya akan jauh lebih bersinar dibanding kawanan Laskar Pelangi itu (red: Lintang cs.)

Tapi sayang sejuta sayang, meski telah melakukan publikasi secara besar-besaran di seantero kampus tentang keberadaan Laskar Mentari-nya, sampai saat ini mereka belum terkenal-terkenal juga. Entah sampai kapan. Nasiiib...nasib...

“Eh, eh, eh,,,Kode etiknya kita kok nggak ada? Lagi direnovasi ya?” akhirnya Sahar memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang tumben mewarnai markas itu.

“Ah, nggak. Memangnya kenapa?” jawab Lindang dengan santai, sambil menyiapkan minuman dingin untuk teman-temannya.

“Tapi kok nggak ada di pintu?”

Whats? Hilang?!!!” Andong ikut menimpali. Rencana awal untuk melahap mie istant, ‘Indomie Kaldu’ kesukaannya ditunda. Dasar anak kos!

Tanpa ada yang memberi komando, keempat komplotan Laskar Mentari itu berlari ke depan menuju pintu Lindang, tempat tertempelnya Kode etik itu.

“Astaga...”

“Eh, istigfar tuh yang sempurna!” bentak Aming ke Lindang.

“Oh iya, ralat. Astagfirullahal’adziiim...jangan-jangan, pencuri yang tadi neh yang ambil kode etik kita. Hmm,, meski dihajar tuh!” sambil mengepalkan tangan dan menyipitkan mata, Lindang terus berkoar mengumpat pencuri itu.

“Bukan masalah dihajar atau tidak pencuri itu. Tapi, apa untungnya coba dia ambil kode etik kita. Mau dijual? Dijamin deh nggak laku...”

“Eh, atau jangan-jangan, pencuri itu mau mencontek bebas hasil karya kita. Makanya, dari dulu saya bilang, kode etik kita tuh harus punya hak cipta. Biar orang lain nggak bebas niru kode etik kita. Nah, kalo begini jadinya, gimana?” Lindang kembali berceloteh dengan bebasnya.

Hak cipta? Emang undang-undang... Keberadaan Laskar Mentari saja belum diakui di kampus, mau pake’ hak cipta lagi. Tapi, benar juga ya? Apaan sih...

“Ah, aku nggak mau tahu. Yang jelas Lindang yang harus bertanggung jawab. Kejadian ini tidak boleh dianggap enteng. Ini masalah kode etik kita kawan-kawan. Ini masalah prinsip kita. Kalo hilang, apa lagi yang kita punya?” Sahar berkoar-koar penuh semangat di depan teman-temannya, layaknya seorang orator ulung yang sedang berorasi di depan gedung DPR.

“Ihh,, enak saja nyalahin orang. Emangnya ini kemauanku...ya nggaklahhh...” ucap Lindang membela diri.

“Kok gitu aja repot sih. Kan bisa ditulis ulang,” teriak Andong tak mau kalah.

“Enak aja ngomong. Kalo gitu mah semua orang bisa. Masalahnya, kalau aslinya nggak ada, berarti nilai sejarah Laskar Mentari tuh pudar. Begitu!” Sahar kembali menjawab.

“Oh tenang kawan-kawan... Begini saja, kebetulan Om-ku (red: Paman) adalah seorang Komandan polisi. Serahkan saja kasus ini padaku. Nanti saya yang lapor ke Pak Polisi. Biar kita tangkap tuh pencuri.” Aming yang sedari tadi diam seribu kata, akhirnya berkutik juga.

“Tambah lagi nih anak,,, masalah begini bawa-bawa nama polisi. Bikin malu tau!”

“Eh, tungu, tunggu, tunggu...” Lindang tiba-tiba bersuara sambil mengacungkan tangan.

“Ya, silahkan Pak Lindang”

“Begini, sebenarnya tadi pagi tuh saya dapat surat depan pintu kamar saya. Tadi lupa mendiskusikannya di kantin. Keburu lari, hehehe.”

“Sialan lo! Nah, kawan-kawan, ketahuan kan tadi Lindang nggak kebelet. Tapi lari, nggak mau bayar. Aku deh yang dapat imbasnya. Meski dikata baru dapat kiriman, tapi uang-uang itu untuk bayar utang-utangku yang sudah bertumpuk.”

“Eh, Andong, curhat jangan disini dan jangan sekarang. Bukan waktunya tau!” Aming menimpali ucapan Andong tadi. Dan Lindang, semakin berbesar hati mendengar ucapan Aming barusan, merasa dirinya dibela.

“Iya, lagian kamu beruntung, Ndong. Bisa mengaplikasikan kode etik kita poin ke-2. “Jangan pernah mengaku baik, kalo tak pernah mentraktir teman yang lagi kere’. Kebetulan aku lagi kere’ berat neh! ” Lindang akhirnya berkomentar. Ia rasa, diam bukan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini.

“Yang nggak pernah traktir tuh sapa? Lo aja kali. Kaya’nya kita harus nambah 1 poin lagi nih di kode etik kita. “Jangan pernah mengaku manusia, kalo’ sukanya minta ditraktir mulu’.”

“Jadi, nggak ikhlas nih?” sambil menahan tawa, Lindang menimpali ucapan Andong, malu disebut bukan manusia. Karena hanya dia yang selalu minta ditraktir dengan landasan poin ke-2 kode etik Laskar Mentari.

“Ya mau gimana lagi. Nasi udah menjadi bubur,” jawab Andong dengan nada pasrah. Tumben nggak pake’ logat Inggrisnya...

“Mau dengar nggak suratnya?!!” teriak Lindang, pura-pura menganggap urusannya dengan Andong sudah beres. Dan berhasil! Perhatian teman-temanya yang lain kembali fokus ke surat tadi.

“Iya,,buruaaann!!!”

Lindang pun mulai membaca.

Salam persahabatan! Kepada kawan-kawanku komplotan Laskar Mentari yang saya hormati. Sebelumnya mohon maaf atas tindakan jahilku tadi pagi. Kedatanganku ke pemukiman markas Laskar Mentari tak ada maksud apa-apa, kecuali ingin mengambil kode etik Laskar Mentari. Tapi, bukan bermaksud saya ingin mencurinya dari kalian. Saya hanya ingin membaca dan memahaminya lebih jelas. Terus terang saja, saya adalah salah satu penggemar berat Laskar Mentari. Dan besar harapan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Nah, di kampus, saya sering mengintai kalian. Dan suatu hari, saya pernah mendengarkan kalau Laskar Mentari tuh punya kode etik yang harus dilaksanakan oleh seluruh warganya. Dan saya juga pernah dengar kalao ternyata kode etik itu ditempel dipintu markas Laskar Mentari. Makanya, saya terus mengintai kalian untuk mencari alamat markas Laskar Mentari. Dan akhirnya, saya tahu kalo markasnya itu di Kamarnya Lindang. Oleh karena itu, saya sangat terdorong untuk melihat kode etik itu. Dan saya akan berusaha untuk bisa mengaplikasikan seluruh isi dari kode etik itu, demi memenuhi keinginan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Mohon maaf, kalau tindakan saya kelewatan.

Hormatku,

Lintang (Laskar pelangi)

“Waaaa,,, Lintang mau jadi sahabat kita!!!” Aming langsung berteriak, sambil memukul-mukul Andong yang kebetulan paling dekat dengannya.

“Iya, senang ya senang. Tapi tidak dengan cara seperti ini kamu mengapresiasikannya. Sakit tau!” Aming akhirnya berpindah posisi ke samping Sahar.

“Wahh,, biar dikata kode etik kita hilang, tapi kalo yang nyuri tuh Lintang dan endingnya seperti ini, bukan main senangnya,” Aming kembali berteriak.

Akhirnya, Laskar Mentari punya penggemar juga...

*)Special 4 my first_book

Minggu, 14 Desember 2008

Tembang Idul Adha

Mataku terus saja tertuju pada bingkai itu. Ia kini usang termakan usia. Kenangan indah bersamanya kini lebur meninggalkan jejak. Hatiku bergeming. Mataku tak berkedip menatapnya tajam. Jauh dari lubuk hati, aku merindukannya. Kuluman senyum tak lagi terbentuk dalam wajahku. Apalagi tawa. Kini terganti duka, terbalut sedih, hingga berurai air mata. Tapi, ia terus saja tersenyum kepadaku. Sangat manis. Tiada bosan memperlihatkan kebahagiaannya padaku. Aku terdiam, mulai hanyut dalam anganku. Dan akhirnya terbuai dalam lelapku.

***

”Bu, baju barunya bagus sekali.. pasti mahal !” ia mulai membuka percakapan di pagi itu. Kulemparkan senyum kepadanya. Matanya yang berbinar cukup menjadi bukti atas noktah kebahagiaan itu. Kuelus kepalanya penuh sayang.

Cepatmi Nak, nanti terlambatki’!” Mataku terbentur pada jarum jam usang di atas meja itu. 06.45.. Sebentar lagi shalat Ied akan dimulai.

”Ibu pake’ baju itu ya?” diikuti tatapan aneh, ia menghentikan langkahnya.

“Iya, kan sudahmi dicuci. Sudahmi juga kusetrika kemarin. Nah, trus?” aku menghentikan langkahku, menjawab pertanyaan si gadis kecilku. Kulemparkan senyum manis kepadanya.

“Baju itu lagi, Bu?”

“Salahkah kalau Ibu pake’ baju ini banyak kali?”

”Bukan seperti itu, Bu. Tapi,,, kenapa Rena mesti pake’ baju sebagus ini?”

Ndak apaji Nak. Ndak usahmi perdebatkan masalah ini. Bukan baju barunya yang kita lihat. Yang penting, pintu kebahagiaan masih terbuka untuk kita. Rena bisa tersenyum seperti ini, Ibu sangat senang. Melebihi saat Ibu memakai baju baru. Ayolah Nak, kita berangkat sekarang. Tuh, teman-temannya Rena dari tadi’mi berangkat. Ntar, ndak dapatki’ tempat!”

Rasa haru mulai memenuhi rongga dadaku. Melihat Rena seperti ini, aku sangat bahagia. Kukecup keningnya, lalu memapahnya meninggalkan rumah. Tapi bukannya beranjak pergi, ia malah memelukku. Erat! Dan kubalas pelukan itu penuh hangat. Saat kulepas pelukan itu, aku menangkap sebuah perubahan. Binaran mata itu hilang. Air matanya tumpah dalam dekapanku.

”Bu, terima kasih. Terima kasih Bu!” setengah tersedu, Rena mengucapkan terima kasihnya kepadaku berulang kali. Rasa haruku akhirnya tak terkendali. Air mataku pun tak terbendung. Kalau saja Daengku masih ada, ia pasti bahagia melihat anaknya sebaik ini. Tapi sayang, dia tlah pergi.....Ya, untuk yang kedua kalinya kami merayakan lebaran qurban tanpa kehadirannya. Dia pergi menyisakan rindu yang mendalam. Buatku, juga buat Rena, anakku. Ia masih teramat muda untuk tidak merasakan kasih seorang ayah. Meski kutahu, Rena tidak serapuh aku. Ia tegar menatap hidup. Aku bangga kepadanya. Sangat bangga! Dialah belahan jiwaku satu-satunya..

Ayo’mi kita berangkat Nak!” suaraku memecah kebisuan diantara kami. Rena pun akhirnya beranjak. Tangan Rena terus berada dalam genggamanku. Dengan langkah tegak, kami berjalan menyusuri lorong-lorong rumah, menuju lapangan, tempat dilaksanakannya shalat ied. Sayup-sayup teriakan takbir mulai menyentuh gendang telingaku. Kian lama kian jelas. Hingga akhirnya, tibalah kami di seberang lapangan. Suasana pagi yang begitu membahagiakan. Hingga menyusup jauh ke relung hati, mengalir bersama aliran darahku.

Dengan semangat yang menggebu, aku menyeberangi jalan. Tanpa sadar, ternyata tangan Rena telah terlepas dari genggamanku saat ia ingin memperbaiki sepatunya tadi. Kesadaranku baru muncul saat aku hendak membentangkan sajadahku. Ternyata Rena tidak di sampingku. Gadis kecil dibelakangku yang kuanggap Rena, ternyata bukan. Aku panik! Setengah berlari aku mulai mencari. Hingga kembali berada di sisi jalan tadi.

”Kok banyak orang yang berkumpul ya?” aku berbisik dalam hati. Ketakutanku memuncak melihat kondisi itu. Dan benar, mereka sedang mengelilingi Rena yang sedang terkapar, berlumuran darah.

”Tidaaaak!!!”

***

”Astagfirullah....!” aku hanya mimpi. Kuhapus peluh yang membanjiri wajahku. Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Jantungku berdetak sangat kencang. Tak lama, seorang perempuan tengah berlari mendekatiku.

”Bu, kenapaki’?” setengah panik, dia mulai menyapa.

”Tidak, Ibu mimpi buruk,” aku menjawab sekenanya, sambil meneguk air putih yang dia sodorkan kepadaku. Air mataku akhirnya tumpah. Rasa rinduku kepada gadis kecilku tak dapat kutahan lagi. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Sementara, bingkai itu masih berada dalam genggamanku setelah sebelumnya sempat terlepas.

Perempuan itu kemudian merangkulku. Lalu mengelus kepalaku. Sama saat aku mengelus Rena di mimpiku tadi. Aku sadar, perempuan ini begitu menyayangiku. Tapi bagaimanapun, tetap ada yang lain tanpa kehadiran Rena. Ada sesuatu yang tak bisa kunafikan. Ia bukan apa-apa untukku. Di pikiranku saat ini, bertemu dengan Rena, putri semata wayangku, satu-satunya belahan jiwaku. Dan perempuan ini, Ia hanya seorang gadis yang baik hati dan rela menampungku hingga 3 hari ini. Dialah yang membawaku ke tempat ini, sebuah panti yang lumayan jauh dari kotaku.

Tepat 3 hari yang lalu, aku melakukan pencarian atas kehilangan Rena. Dan aku sama sekali tak berminat untuk pulang ke rumah sebelum aku menemukan gadis kecilku. Hingga akhirnya, aku tergeletak di sebuah pinggiran jalan karena tak sanggup lagi mengangkat kaki untuk melangkah. Cadangan makananku sebelumnya tak sanggup lagi menyuplai energi untuk tubuhku. Bahkan untuk membuka mata saja saat itu terasa sangat berat. Aku tak mampu. Hingga akhirnya, aku tak sadarkan diri. Pemandangan terakhir yang sempat terlihat oleh ku adalah sosok perempuan ini. Ya, aku masih beruntung, bisa tertolong oleh perempuan baik hati ini. Niar, begitu ia biasa dipanggil oleh teman-temannya disini. Dengan sabar, ia terus menjaga dan menemaniku. Bahkan saat aku terdiam seperti ini.

Tanpa ada komando darinya, akhirnya aku mulai menceritakan mimpiku barusan. Ia menyimak sangat serius. Aku tahu, ia sangat sedih mendengar ceritaku. Tapi, ia tetap memperlihatkan sikap empatinya padaku. Selama bersamanya, belum pernah ia bermuka sedih di hadapanku. Terima kasih Engkau menitipkan seorang Niar saat aku merasakan kesepian seperti ini Rabb...

***

Matahari, kini mulai bergeser, kemilau jingga di ufuk barat sana terlihat berbaur bersama langit biru. Sebuah perpaduan warna yang begitu indah. Sayup-sayup, terdengar suara para muazin saling menyapa dari masjid yang satu ke masjid yang lain. Meneriakkan kepada semua hamba menuju pintu kemenangan. Sementara aku, masih saja duduk diam dibalik jendela ini. Besok, hari kemenangan itu akan tiba. Kalau saja Rena tak ada disampingku, artinya untuk tahun ketiga kepergian Daengku, aku harus melalui hari raya ini seorang diri. Tanpa Daengku, juga tanpa Rena.

***

Di sisi ranjang ini, aku kembali memperbaiki posisi dudukku. Waktu tetap berputar mengikuti perintahNya, dan malam semakin larut. Namun aku tak peduli. Sebuah buku usang telah terpangku rapi olehku. Ya, buku yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Begitu setia menghibur hari-hariku. Inilah salah satu peninggalan berharga dari Daengku. Berisi cuap-cuapnya selama ia ada. Selalu menjadi pelipur lara untukku. Rangkaian kata demi kata di dalamnya, cukup mampu mengobati kala rinduku padanya mulai mendera. Teringat olehku, waktu itu Daengku pernah mengungkapkan padaku bahwa Ia sangat bercita-cita menjadi seorang penulis handal. Tapi sayang, citanya harus ikut tertimbun tanah, bersama runtuhnya rumah kami kurang lebih 3 tahun yang lalu.

Aku mulai membuka, tepat halaman terakhir. Kutemukan sebuah puisi. Mataku mulai membaca baris demi baris. Bibirku pun ikut mengeja kata demi kata.

Dendang Kesepian


Tercipta gelisah di ruang ini

Hati mulai rapuh

Ditemani malam yang kian membisu

Ditemani sepi yang mencekam,

tak terbantahkan!

Ditemani lelah,,

Diri mulai meronta

Dalam sembah sujud,

Dalam sebuah renungan

singkat penuh arti,

juga dalam diamku.

Aku tak kuasa,

Buliran airmata bercerai

Menampar pipiku yang terlanjur lemah

Aku terkapar,

Terkulai tanpa daya.

Kekuatan,

Kesempatan,

Kepercayaan,

Ketenangan,

Semuanya!

Semua lari,

Semua hilang!

Diriku hampa...

Tiada arti, tiada daya, tiada asa

Tiada canda, apalagi tawa

Aku lelah,,

Ingin kuhujat diriku,

Tapi apa guna.

Atawa menghujat orang?

Apa untungnya..

Hanya menambah luka berkepanjangan,

Lalu menyisakan sakit

Yang tak kunjung usai

Pilu, itu pasti..

Biar ku disini saja

Dalam renunganku seorang

Ditemani bintang,

Mesti jauh dari kilau indahnya!


***

Pagi akhirnya menjelang. Hatiku sumpek, beban masih menyesaki pikiranku. Masih tertuju pada gadisku, Rena. Ia belum juga ada. Aku tertunduk, Lesu! Hingga kucoba tuk bangkit. Jendela kamarku kubuka. Kurasakan dinginnya pagi merasuki tulang-tulangku. Udara yang sejuk menampar kegalauanku. Ahhh,,, aku menghembuskan nafasku kuat. Beban itu perlahan menghilang. Kudongakkan kepalaku ke atas, Subhanallah!! Indahnya langit itu. Tetap biru bercampur putih. Cerah! Sang mentari masih menyusup-menyusup mencari ruang diantara celahnya. Beban dalam pikiranku melayang dihempaskan angin pagi. Mataku terus menerawang ke atas sana. Menyaksikan lekukan-lekukan awan lembut itu. Indahnya...

Kubayangkan, senyuman manis Rena berada diantara lekukan awan-awan itu sambil melambaikan tangannya kapadaku. ”Rena, dimanaki’ Nak!” aku bergeming.

***

Bersama Niar dan beberapa anak panti lainnya, kami melangkah. Teriakan-teriakan takbir mulai memenuhi seluruh ruang di bumi ini. Dalam hati aku mengikutinya. Tetesan air mata sesekali mewarnai wajahku. Air mata itu sebagai bentuk kesyukuranku kepada Tuhanku, haru! Dia masih mempertemukanku dengan hari kemenangan ini. Meski tanpa Rena di sini. Satu tempat yang kami tuju, masjid An-Nur. Disinilah kami berlebaran.

***

”Bu, ayo’ kita ke ruang tamu dulu. Kita makan-makan dan bersalaman dengan semua penghuni panti” suara Niar memecah kebekuanku sendiri. Aku tak lagi berurai air mata. Aku tak mau memberikan kesedihan di tempat dimana aku telah banyak mendapat pertolongan ini. Tapi sesunguhnya, hatiku meringis kesakitan. Merayakan idul Adha ini tanpa seorang pun belahan jiwaku menemaniku.

Aku bangkit, memenuhi ajakan Niar. Kesedihanku mulai luntur melihat sekumpulan anak-anak panti yang tengah ceria merayakan hari ini. Apalagi setelah berbaur dengan para pengajar dan pembimbing anak panti ini. Bersama teman-teman Niar dan ibu-ibu lainnya. Tradisi saling bersalaman di hari raya juga ada di tempat ini.

”Niar dimana?” ucapku dalam hati. Timbul sederet tanya di benakku saat melihat Niar tidak disini. ”Padahal barusan adaji belakangku. Atau mungkin pergiki menyiapkan makan dan minuman.Tapi sepertinya tidak. Toh semua makan sudah tersaji lengkap di ruang ini,” aku menerka seadanya. Tiba-tiba...

”Bu....!!!!” terdengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Suara yang tidak lagi asing. Spontan aku berbalik.

”Rena? Rena anakku....!!!!” aku berteriak histeris. Aku tak peduli semua mata tertuju padaku. Kupeluk Renaku erat. Air mata yang sedari tadi sempat kutahan, akhirnya tumpah dipelukan Rena. Rasa haru pun memenuhi jiwa dan ragaku. Pintu kemenangan akhirnya terbuka untukku.

***

”Sebenarnya adami Rena kemarin sore Bu. Tapi, kami dari pihak panti mau memberikan kado terindah dan surprise buat Ibu. Meski sebelumnya Rena ngotot sekalimi mau ketemu dengan Ibu. Ini murni usulan dari saya. Mohon maaf kalau surprisenya menyakitkan hati Ibu,” Niar mulai menjelaskan setelah kondisi sudah tenang. Sementara Rena yang berada di pangkuanku tertawa saja mendengar penjelasan Niar. Dan ternyata selama ini Rena sedang terjebak di sebuah desa yang lumayan jauh dari sini. Desa yang cukup terpencil. Waktu itu, sekitar semingu yang lalu, Rena pergi bermain bersama Arni, temannya. Dan akhirnya mereka nyasar. Keduanya tidak ketemu. Tapi Arni berhasil pulang ke rumahnya.

Nda’ apa-apaji Nak. Ibu sama sekali tidak marah.”

***

Akhirnya, aku bisa pulang ke rumah membawa Rena dan sejuta bahagia. Hari ini memang hari kemenangan untukku. Terima kasih Rabb....