Matahari semakin membubung tinggi di angkasa. Kian terik, kian terasa. Gerah, itu pasti. Tapi, coba tengok sekelompok mahasiswa itu. Di tengah teriknya siang, mereka masih mengumbar tawa. Dengan mengusung semangat belajar yang cukup tinggi, mereka menepis segala kelelahannya. Dengan berpijak di koridor pun, tak menjadi masalah buatnya. Memilih untuk belajar sambil lesehan, seolah menjadi kenikmatan tersendiri. Mereka memanfaatkan waktu, menggali, dan mengumpulkan wawasan. Menyusupkan kesempatan diantara kesibukan yang kian menyerang. Yup, merekalah warga dan simpatisan FLP (Forum Lingkar Pena). Sebuah kesyukuran tersendiri, kondisi ini masih terlahir dari bumi kampus Unhas. Membudayakan belajar dan diskusi bersama. Mau gabung?? Hadiri,, FLP on Air (Sekolah Menulis FLP Unhas), setiap Jumat pukul 16.00 @ pelataran Radio Kampus EBS ( promosi ya? GPP lah...^_^)
must to remember:
Selasa, 17 Maret 2009
Budaya Kampus Yang Hampir Punah
Matahari semakin membubung tinggi di angkasa. Kian terik, kian terasa. Gerah, itu pasti. Tapi, coba tengok sekelompok mahasiswa itu. Di tengah teriknya siang, mereka masih mengumbar tawa. Dengan mengusung semangat belajar yang cukup tinggi, mereka menepis segala kelelahannya. Dengan berpijak di koridor pun, tak menjadi masalah buatnya. Memilih untuk belajar sambil lesehan, seolah menjadi kenikmatan tersendiri. Mereka memanfaatkan waktu, menggali, dan mengumpulkan wawasan. Menyusupkan kesempatan diantara kesibukan yang kian menyerang. Yup, merekalah warga dan simpatisan FLP (Forum Lingkar Pena). Sebuah kesyukuran tersendiri, kondisi ini masih terlahir dari bumi kampus Unhas. Membudayakan belajar dan diskusi bersama. Mau gabung?? Hadiri,, FLP on Air (Sekolah Menulis FLP Unhas), setiap Jumat pukul 16.00 @ pelataran Radio Kampus EBS ( promosi ya? GPP lah...^_^)
Secercah Kata…

dst…(sensor!!!)
mAapH, neh tulisan bukan bwt paMer atw apa aj namanya. Tak lain dan tak bukan agar siapa pun bs jd termotivasi setelah bc neh SMS tuk segera berkarya. Apapun itu! Karena ketahuilah, bahwa dunia kan mengenalmu melalui karya2mu. Terkhusus bwt aLL cRew FLP Ranting uNhas, tak Ada kAta boSan tUk menGukir kArya. Ok?
Sy Pernah dpt pesan: “KeeP oN fighting till tHe End”.
So, tak ada dlm kamus qT kata menyerAh. spakaTtt?^_^
aLL cRew FLP unHas: “yup, sPakattt…”
Selasa, 03 Maret 2009
iNfo bAru...
| Proyek Buku AngingMammiri : Konro Soup For Soul | | | |
| Written by Administrator | |
| Wednesday, 18 February 2009 | |
| Mengapa Sop Konro?Sop Konro (Konro Soup), hidangan khas ala Makassar ini berupa sop berkuah maupun dibakar dengan bahan-bahan dasar seperti tulang rusuk sapi atau kerbau, dimasak/dibakar dengan bumbu ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, garam, vitsin yang sudah dihaluskan. Sop Konro pada umumnya disajikan/dimakan bersama nasi putih dan sambal. Rasanya nikmat dan menggugah selera. Maka, Konro Soup for the Soul juga akan sangat nikmat dan menggugah selera untuk memberikan pencerahan batin bagi hati dan jiwa kita semua. 1.Tema: Konro Soup for the Soul Berisi kumpulan tulisan/cerita inspiratif yang diangkat dari pengalaman nyata dan memberikan pencerahan batin bagi para pembacanya. Tidak menerima Cerita yang mengandung pornografi, erotis, ataupun mengandung pelecehan SARA. 2. Syarat Penulisan
* Buku "Ortu Kenapa Sih?" karya anggota Blogfam, Penerbit Cinta, 2006 3. Alamat pengiriman Naskah dikirim ke alamat email project@angingmammiri.orgThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it 4. Prosedur Naskah dapat dikirim langsung dengan attachment (word) disertai dengan username di portal AM dan alamat Blog, berformat: 5. Waktu Penerimaan Naskah Penerimaan naskah dibuka hingga 18 April 2009 dan karya terpilih akan diumumkan secara resmi 2 minggu setelahnya. 6. Imbalan untuk karya yang terpilih 1 buku untuk 1 penulis. (bila penulis menulis lebih dari satu tulisan, tetap dapat satu buku) Selamat Menulis! Kamaruddin Azis 'Daeng Nuntung', http://daengnuntung.com M.Ruslailang Noertika 'Daeng Rusle', http://daengrusle.com Khalid Mustafa "Daeng Kulle', http://khalidmustafa.info Syaifullah Ahmad Faisal 'Daeng Gassing', http://daenggassing.com |
Jumat, 27 Februari 2009
Korupsi: Refleksi Budaya Indonesia*)
Oleh: A. Saputri Mulyanna**)
“Kita harus memahami bahwa ketidaksempunaan adalah hakikat manusia. Karena itu, jangan malu jika berbuat salah asalkan engkau mau memperbaikinya”
(George Soros)
Potret kelam bangsa
Sebagaimana dilansir dalam Harian Online Kabar Indonesia, Muh.Takdir Ilahi, Peneliti Utama The Annuqayah Institute Yogyakarta, dalam opininya menuliskan bahwa Arbi Sanit (2004) menganggap, merebaknya tindak pidana korupsi di kalangan pejabat atau birokrat, akhir-akhir ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk transactive (kesepakatan timbal balik), extortive (pemerasan atau paksaan dengan menggunakan kewenangan publik), defensive (menghindarkan dijadikan yang lebih besar), dan supportive (suatu korupsi yang mendukung tindakan yang lain, sehingga berlanjut). Tak tanggung-tanggung, kini tak mengenal lagi antara tua-muda, antara atasan-bawahan, antara masyarakat menengah ke atas-masyarakat menengah ke bawah, atau antara birokrat-nonbirokrat. Parahnya, golongan penegak keadilan pun ikut tergilas olehnya. Pihak yang sepatutunya menjadi handa-taulan bagi masyarakat luas, justeru bertingkah yang tak pantas dicontohi. Sehingga, jadilah korupsi bagaikan sebuah virus penyakit. Virus massal yang semua orang punya kesempatan tertular olehnya. Virus yang kini semakin mewabah kemana-mana. Noktah yang semula dianggap asing, akhirnya dianggap biasa.
Korupsi, momok menakutkan namun kini menjadi biasa saja. Korupsi kini tlah menjadi sebuah power yang siap menghipnotis siapa saja. Mak tak heran, power itulah menyeret pelakunya untuk bertindak ’bodoh’. Hingga akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sulit tuk ditebas lagi. Dan kemudian terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Naas, disadari atau tidak, ia berhasil digubah menjadi sebuah budaya. Tak bisa dipungkiri, korupsi, kini telah membudaya di Indonesia. Budaya hitam yang sangat tak pantas untuk dilestarikan. Betapa tidak, kerakusan para koruptor telah merugikan banyak orang. Sungguh egois! Benarkah Indonesia telah ditakdirkan bersanding dengan korupsi?
Selayang Pandang Makna Korupsi
Korupsi, berasal dari kata “Corruptio”(bahasa Latin) = “corruption” (Bahasa Inggris). Hal/ proses/ terjadinya:
a. Pembusukan (moral/biologis).
b. Perusakan.
c. Pembinasaan.
d. Pemerosotan moral-ethika-kesusilaan.
e. Penyuapan terhadap pejabat sehingga pejabat itu tidak lagi menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat.
f. Penyuapan yang terjadi terus menerus sebagai tradisi yang mendarah daging mengakibatkan kemerosotan mental pejabat sehingga pejabat terbiasa menyalahgunakan jabatannya untuk memperoleh keuntungan pribadi, baik secara materiil, moril maupun politik, sambil mengabaikan tugasnya sebagai abdi masyarakat.
Berdasarkan penjabaran di atas, penulis dapat menarik benang merah, bahwa korupsi adalah suatu tindak penyelewengan dan ketidakdisiplinan terhadap segala ketentuan yang berlaku. Atau, sebuah penyelundupan dan penyalahgunaan kesempatan demi pemuasan nafsu. Atau, langkah instant dalam mendulang kekayaan. Dan masih banyak kesimpulan lain yang bisa dirumuskan. Singkatnya, korupsi adalah suatu sikap amoral yang merugikan diri, terlebih orang lain.
Kini, korupsi yang dianggap jahat, telah bersembunyi rapi dibawah ketiak kita. Korupsi yang menjadi musuh bebuyutan sejak zaman nenek moyang, berhasil bersembunyi di instansi-instansi yang justru dianggap baik. Gedung DPR dan MPR, tak tanggung-tanggung bisa melahirkan para koruptor itu. Gedung titipan rakyat, justru menyengsarakan rakyat. Uang untuk kemaslahatan rakyat, justru digunakan untuk menikam rakyat. Hampir seperti tingkah Tom & Jerry. Kadang berlaku baik, namun punya maksud jahat dibalik kebaikannya.
Titik Nadir Bangsa Indonesia
Sangat miris, mendengarkan Indonesia berhasil meraih nominasi 10 besar Negara ter-Korup di dunia. Sebagaimana dilansir oleh sebuah lembaga penelitian ekonomi independen terdahulu yang berasal dari Hongkong--Independent Comitte Anti Corruption (ICAC). Hal ini dikuatkan oleh penelitian Transparency International (TI) yang bermarkas di Berlin. Bahwa 10 negara paling korup tersebut adalah Nigeria, Pakistan, Kenya, Banglades, Cina, Kamerun, Venezuela, Indonesia, Rusia, dan India.
Kenyataan yang lebih menyakitkan, peringkat itu ternyata mencapai titik puncak pada tahun 2001. TI menobatkan Indonesia sebagai peringkat keempat terkorup di dunia. Bahkan, survei PERC, sebuah lembaga ekonomi di Singapura, menyimpulkan bahwa Indonesia sebagai negara terkorup kedua di Asia (http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/). Sungguh menakjubkan! Layakkah dijadikan sebuah indikator kebanggaan? Tentu tidak!
Penanganan kasus korupsi di
Tak salah, harapan memang tak selamanya terkabul. Mungkin, rakyat Indonesia diciptakan untuk menangguhkan sikap sabar dalam dirinya. Bersabar menanti mimpinya menjadi nyata. Melihat bangsanya terbebas dari cengkeraman tangan-tangan korupsi.
Membumihanguskan Budaya Korupsi
Sudah banyak kata yang terangkai untuk menebas budaya korupsi di
Efek samping korupsi, kini telah dirasakan oleh hampir seluruh rakyat
"Bagi saya, korupsi adalah suatu penyakit ganas yang menggerogoti kesehatan masyarakat seperti penyakit kanker yang setapak demi setapak menghabisi daya hidup manusia." Begitu yang diungkapkan ahli sosiologi terkemuka, Selo Sumardjan, dalam pengantarnya untuk buku ‘Membasmi Korupsi’ karya Robert Klitgaard (1998). Tentu bukan orang-orang berjiwa ‘NATO’ (red: No Action, Talk Only) yang kita harapkan. Tapi orang-orang yang mau bertindak untuk membumihanguskan budaya korupsi yang terlanjur ada. Jika korupsi benar telah dijadikan sebuah budaya, maka wajar saja pelestarian itu terus menerus berlangsung.
Di tengah kondisi riil saat ini, harus ada pilar yang menyangga. Dan kesadaran pribadi adalah obat paling mujarab dalam menangkal penyakit ganas itu. Adanya sikap ‘menghalalkan segala cara’ yang semakin fenomenal, cukup menjadi indikator rendahnya moral bangsa. Tak salah lagi pernyataan Octariano: kita harus memiliki kesadaran moral yang kokoh, yang dapat dimanifestasikan melalui cinta diri. Yang dimaksud tentulah bukan egoisme dan individualisme, melainkan cinta akan kemanusiaannya. Cinta semacam ini akan mendorong diri kita mencintai orang lain. Octariano menjelaskan dalam tulisannya yang berjudul "Menggugat Toleransi Moral dan Budaya Permesif: Topeng Relativisme moral Praktis". Moral, adalah pedoman setiap insan dalam meniti kehidupan. Karenanya, ini bisa menjadi salah satu kunci utama kesadaran diri (self awareness). Langkah jitu dalam membumihanguskan korupsi.
“ Tak seorangpun dapat kembali ke masa lalu untuk memulai awal yang baru, tapi setiap orang dapat memulai hari ini untuk membuat akhir yang baru…”
Aktivis PII(Pelajar Islam
Mengejar Asa
Malam membentang bintang
Kutelusuri jalan,
Membelah kegelapan
Memecah kesunyian malam.
Roda kehidupan kembali berputar
Pagi, kemudian menggantikan malam
Lalu muncul siang,
dan hadir sore,
dan malam kembali muncul.
Hari akhirnya berganti
Satu episode kehidupan terlaksana
Hingga terukir sketsa hidup
Yang tak bisa dimusnahkan
Terangkai dalam bingkai
yang tak dapat direnovasi
Yang lalu biarkan ഇയ berlalu
Meski noktah penyesalan tiada henti mengintai,
Tak kan kubiarkan ia menyelimutiku
Merusak sketsa yang pernah kuukir
Mematahkan bingkai yang pernah kubuat
Aku kan terus melaju
Melaju jauh,,
Jauh kedepan!
:meski malam menghantui
meski pagi menantangku
meski siang menggenggamku
Dan,
Kekerdilan asaku takkan buatku bungkam
Tuk melangkah...
Dalam Diamku
Dalam rentetan waktu,
kutelusuri setiap ranah
Nalar terpacu
melawan setiap keganasannya
Hati menjerit
menahan kecamannya
Namun,
Tak perlu kuberlari darinya
Segala asa siap kumuntahkan
Untuknya...
Ya, untuknya!
Dalam pergantian siang,
kemudian menjadi malam,
Lalu kembali pagi
Aku bergulat nafsu
Ditemani asa yang semakin kerdil
Dengan segala daya
Tapi hanya tipu yang kudapat
Ternyata, aku menuai sesal
Kesadaran baru kerenggut
Tameng-tameng kehidupan,
kini berjejer siap menghujatku
Aku bimbang
Kuhembuskan kebingungan
disetiap desahan nafasku
Ingin ku segera lari
Namun, dunia ternyata begitu sempit
Dan waktu
kini semakin mengintai
Aku pun menyerah
:pada keganasannya
pada kekuasaannya
pada kehebatannya,
Aku taubat!
aku menyerah!
Dan diam adalah perisaiku...
Senin, 23 Februari 2009
Karena Menangis, hati Menjadi Tenang
Laskar Mentari Kecolongan*)
Kode Etik Laskar Mentari:
“Jangan pernah mengaku gaul kalo’ tak punya banyak teman...
Jangan pernah mengaku baik, kalo’ tak pernah mentraktir teman...
Jangan pernah mengaku pintar, kalo’ tak pernah memberi contekan kepada teman...
Jangan pernah mengaku kaya, kalo’ tak pernah memberikan pinjaman uang kepada teman yang lagi kere’...”
Diatas sebuah karton merah terang, ukuran 1x1 meter, kalimat itu ditulis. Entah atas dasar apa kalimat-kalimat itu dibuat. Yang jelas, sudah hampir 2 tahun, tulisan itu masih tertempel erat di depan pintu kamar Lindang. Markas besar komplotan “Laskar Mentari”. Meski sebelumnya sudah beberapa puluh orang yang memberi komentar kepadanya setiap kali melihat tulisan itu. Tapi Lindang enjoy-enjoy saja.
“Bodoh amat mikirin mereka. Kamar, kamar gue. Terserah gue kan?!!” begitu Lindang selalu memuntahkan jawaban kepada siapa saja yang menegur tulisan itu. Bibir manyun pun dengan segera ia sumbangkan.
***
Pagi yang cerah. Matahari sudah menyemburat tinggi di angkasa. Sinarnya menyusup perlahan diantara celah jendela kamar Lindang sejak 1 jam yang lalu. Memberikan setitik cahaya pada ruang yang masih gelap itu. Tirai putih yang kini sudah menyerupai warna coklat muda, masih terbentang lebar di tempatnya. Pertanda, Si Empunya belum menggesernya sedikit pun. Di atas sebuah kasur yang sudah hampir setipis papan, Lindang masih saja menggeliat dengan guling tipis kesayangannya. Sesekali dengkuran nyaring keluar dari mulutnya. Aming, tetangga kamarnya, justru seringkali berterimakasih atas dengkurannya itu. Karena ia tak perlu lagi menyetel alarm setiap pagi. Sangat cukup dengkuran itu yang membangunkannya. Lindang senyum-senyum saja mendengar pujian Aming padanya. Sembari mengelus dada tanda bangganya.
Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk...
HP batangan Lindang berdering, mengumandangkan nada sahutan ayam. Lamaaa sekali. Dan kian lama kian membesar. Lama alarm itu bereaksi, namun Lindang tak jua berkutik.
Gubrakkkk!!!!
“Woeyy,,maling woeyy...Maling...ada maling....!!!”
Dengan memasang jurus patokan ayam, Lindang langsung bangkit dari tidurnya dan melompat dari kasur. Sambil mengucek-ngucek mata, dengan langkah perlahan ia mendekati pintu kamarnya. Dibalik pintu, ia mendekatkan telinganya dengan penuh konsentrasi mendengar suara di balik pintu itu.
“Mmm,,sepertinya ada orang yang sedang berlari,” batin Lindang, sambil terus menempelkan telinganya di pintu kamarnya. Tak berapa lama, akhirnya terdengarlah suara ribut-ribut di lorong kamar. Lindang pun keluar...
“Tak salah lagi, itu pasti Andong dan Aming. Pasti mereka sudah menangkap pencurinya,” Lindang menerka dengan sangat yakin.
Dengan wajah celingukan, ia pun keluar kamar. Sementara, batangan sapu ijuk yang siap ia hunuskan ke pencuri tadi, masih tergenggam erat di tangannya.
“Ndang, kamu kenapa?!!” tanya Aming keheranan melihat batangan ijuk yang digenggam Lindang.
“Eh, pencurinya mana? Tadi saya dengar ia mendobrak pintu kamarku. Untung saya kunci 3 kali lipat dari biasanya. Ini menjadi peringatan buat kalian-kalian, kalo malam, jangan pernah lupa mengunci pintu kamar. Nah, kalo’ kejadiannya seperti tadi, kita tetap aman kan dari tindak jahil pencuri...” Panjang lebar Lindang menjelaskan, membuat kedua temannya semakin mengerutkan kening. Tambah bingung!
“Mmm,, kumat lagi deh virus cerewetnya,” gumam Andong, namun tak sampai terdengar Lindang. Takut penjelasannya semakin panjang.
“Ooo, jadi ada pencuri? Terus apa yang dicuri?” dengan laga’ polosnya Aming bertanya.
“Huu,,,makanya, kalo’ tidur tuh jangan tidur mati. Biar sekalipun pencurinya menculik kamu, kamu nggak bakal rasa,” Lindang berkomentar lagi, sambil memperbaiki posisi sarung di badannya yang hampir saja melorot.
“Tapi saya sama sekali nggak dengar suara pencurinya. Padahal, dengkuran Lindang selalu saya dengar.”
“Weleh-welehhhh...wong tadi aku dengar sendiri kok pencuri itu mendobrak pintu kamarku. Telingamu tuh, yang lebih peka ke bunyi dengkuranku dibanding suara pencuri.”
“Ya’ellaa... atau mungkin karena memang dengkuran Lindang yang jauh lebih besar daripada suara pencurinya ya,” Aming terus mencari pembenaran, tak mau kalah dengan Lindang.
“Ah, sudah,,sudah. Bukan saatnya berdiskusi disini. Begini, sepertinya pencuri tadi itu belum sempat mengambil apa-apa. Keburu terlihat. Makanya dia langsung lari.” Mas Bayu, sebagai pihak yang dituakan di kosan itu akhirnya memberi arahan, menengahi pertempuran mulut antara Lindang vs Aming.
“Iya, tuh pencuri kaya’nya memang bukan pencuri profesional. Mencuri kok pagi-pagi begini?”
“Pencurinya penakut kali, jadi nggak berani bereaksi kalo malam,” Lindang kembali menimpali ucapan Aming. Tak ada habis-habisnya..
“Eitss,,, ngomong-ngomong, sekarang jam berapa nih?” Lindang tiba-tiba tersentak, sambil memukul jidatnya. Ia melongo kepada kawanan sekos-annya. Dan...
“Waaaaaaaaaa.....aku final!!!” Lindang berteriak sekencangnya, sambil melompat lari masuk ke kamarnya. Sementara, Aming dan Andong saling berpandangan, heran.
***
“Sahar, kamu memang kawanku yang pwaaaaling baik seujung jagat raya. Pintar!”
“Eh, maksudmu?” Sahar terbengong mendengar komentar Lindang.
“Karena bantuanmu tadi, lembar jawabanku tidak bolong semua. Yah, meski tidak dapat bahan contekan semua, paling tidak lembar jawabanku tidak putih polos seperti sedia kala,” jawab Lindang sambil senyam-senyum tanda bahagia.
“Yahhh...syukurlah. Trus, kamu jawabnya berapa nomor? Kan tadi tersisa waktu 10 menit lagi saat kamu masuk ruangan,” Sahar menghentikan langkahnya, menanti jawaban apa yang hendak keluar dari mulut Lindang.
“Jawabnya 2 nomor. Nomor 9 dan nomor 10.”
“Lha, itu kan jawaban yang saya kasih ke kamu.” Sahar tercengang, matanya dibiarkan melotot memandang Lindang.
“Ya emang iya. Trus kenapa? Tidak ikhlas?” Lindang menatap wajah Sahar, serius.
“Bukan itu yang kumaksud. Dari 10 nomor, kamu cuma jawab 2 nomor?” Sahar balik menatap Lindang. Dan terjadilah aksi tatap-menatap.
“Huu,,kamu kaya’ anak eS-De saja, Har. Kalo ada 10 pertanyaan, dan hanya 2 yang saya jawab, itu artinya 8 nomor tidak saya jawab. Gittuuu...ngerti? Eh, kamu belajar matematika nggak sih waktu eS-De dulu?”
“Ahhh...terserah. Mau belajar ke’, mau tidak belajar ke’, bodoh amat. Yang jelas tadi aku jawab semua soalnya. Situ aja yang merasa sok pintar. Mau dapat nilai berapa kalau cuma jawab 2 nomor?” Sahar semakin gemas melihat kepolosan kawannya yang satu ini.
“Pusing amat. Itu kan keputusan Bu Imah mau ngasih nilai berapa. Apalagi Keputusannya nggak bisa diganggu gugat. So, mending kita ke kantin saja sekarang. Perutku sudah puyeng mondar-mandir dari tadi minta diisi,” timpal Lindang sambil menarik tangan Sahar yang masih bingung. Dengan langkah sempoyongan, mereka pun menuju kantin.
***
“Mmm,,,ngomong-nomong, Aming dan Andong kok belum nongol-nongol?”
“Ya, Sahaaar,,, mulai deh.. Saya kan sudah berjuta-juta kali bilang, saya paling tidak suka diganggu kalo lagi makan. Kalo makan ya makan, nggak usah mikir yang lain dulu. Apalagi mikirin dua makhluk itu, rugi!”
“Dasar makhluk aneh. Makan pake’ konsentrasi segala,” Sahar setengah berbisik. Wajahnya dibiarkan menunduk sambil memainkan sendok dan garpu di kedua tangannya. Meski ia tahu, sebenarnya Lindang menatapnya tajam. Namun, ia pura-pura tak tahu.
“Bu, minta bakso satu mangkuk lagi,” teriak Lindang ke Ibu kantinnya.
“Heyy, masih pukul 10 pagi Mas!” Sahar tersentak mendengar permintaan Lindang barusan.
“Makan bakso sampe 3 mangkuk sekaligus. Itu lambung atau baskom seh. Hati-hati loh, ntar lambungnya melar keisi bakso semua. Ntar, ususnya mampet, dipenuhi bakso semua. Ntar, otaknya buntu tersumbat bakso semua. Ntar, overdosis baru,,,” belum sempat Sahar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lindang memotong.
“Udah..udah..udah...Kamu kaya’ lebih pintar dari dokter saja, Har. Dokter saja nggak berpanjang lebar ngomong ini itu kalo konsult kesana. Yawdah, saya batalkan saja pesananku. Daripada ntar otakku buntu beneran, mana mau. Nggak tahan eke.” Lindang langsung beranjak dari tempat duduknya. Berlari menuju tempat Ibu kantin meramu bakso. Meramu? Emang jamu mau diramu. Jamu bakso kali ye...
“Bu, maafkan daku. Saya nggak jadi pesan. Temanku tuh melarang makan bakso banyak-banyak,” layaknya seorang mahasiswa yang sedang meminta nilai tambahan ke dosennya, begitulah aksi Lindang saat ini, memelas! Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sahar.
“Katanya masih pagi, Bu. Saya takut nanti otak saya buntu tersumbat bakso. Nanti saya takut lambung saya melar keisi bakso semua,” Lindang kembali menambahkan, berhubung Bu Kantinnya cuek bebek saja. Ga’ punya rasa, ga’ punya hati...Lha?!!
“Penjelasannya cukup?” Bu kantin akhirnya bersuara, kini malah balik nanya.
“Ya’ellaaa,,ini Ibu. Maaf ya Bu ya, pesanan baksonya saya pending dulu. Besok dah, saya ke sini lagi pesan baksonya.”
“Pending,,pending.. Kalo’ bakso ini saya pending, dan saya simpan untuk kamu makan besok, mau?”
“Ya nggak lah Bu. Masa’ mau makan bakso yang sudah setengah basi?” Lindang menjawab sembari mengernyitkan keningnya.
“Yawdah, makan aja bakso ini sekarang mumpung belum setengah basi.”
“Gratiss??” Lindang malah balik nanya dengan penuh semangat.
“Enak aja gratis. Mana ada...”
“Bu, baksonya satu!” tiba-tiba Aming nongol dibalik lemari kaca, memecah pergulatan antara Bu kantin dan Lindang yang tak jua selesai.
“Ah, untungnya.. Si Dewa penyelamat akhirnya datang juga,” sambil mengelus dada, Lindang berlari menjumpai Sahar yang sedari tadi menunggunya. Tapi sebelumnya, tak lupa ia berterima kasih kepada Bu kantin. Sekedar info, sampai saat ini Lindang cs. belum tahu siapa nama Bu Kantin yang sebenarnya. Entah nama Bu Kantin memang begitu dari sononya, atau karena beliau bekerja di kantin ini. Ah, pusing amat, Rektor aja ngga’ pusing. Yang jelas namanya Bu Kantin, titik!
Sementara Aming, hanya tersenyum tipis saja melihat aksi Lindang yang aneh. Ah, biassaa...
***
“Eh, Ming, Andong kemana? Tumben jam segini nggak ke kantin.” Lagi-lagi, Sahar merusak konsentrasi makan Aming. Tapi untungnya yang dihadapi bukan Lindang. Yang diganggu sedikit saja saat makan, ngomelnya minta ampun.
“Mmm..tadi saya sempat ketemu di depan fakultasnya. Dan dia kelihatan sangat buru-buru...”
“Mau bayar utang kali’. Tuh anak kan udah dapat kiriman dari kampung,” kembali dengan tampang polosnya, Lindang memotong.
“Ihhh,,,bukan itu. Makanya dengar dulu baru ngomel. Dasar Raja Ngomel Lo.” Dengan sedikit buru-buru, Aming memasukkan satu buah pentolan bakso ke mulutnya. Tinggal satu.
“Mmm, Andong buat kasus lagi. Tadi pagi, ternyata dia ada kuliah. Eh, malah asyik bergulat denganku di kosan. Meneketehe kalau dia punya jadwal kuliah dadakan. Kebetulan, dosen yang masuk tadi itu adalah dosen terkiller di fakultasnya. Dan parahnya lagi, dia ketahuan nitip tanda tangan ke temannya. Berlipat ganda deh hukumannya.”
“Nah, trus dia dihukum apa?” Sahar menimpal, seolah tak sabar menanti jawabnya.
“Katanya, tadi dia dipanggil ke ruangan dosen.”
“Wah, parah tuh. Andong mau diapain di sana?”
“Disuruh mijetin dosennya.”
“Wahh,,parah. Dosennya cewek apa cowok?”
“Onta-onta. Cowwokk... Bapa’-Bapa’, bego!”
“Parah tuh. Bisa-bisa Andong dapat bonus tendangan ampuh kalo’ salah pijit.” Lindang akhirnya bersuara, setelah sebelumnya terdiam mendengar penjelasan Aming. Kali ini, Lindang terlihat berusaha menahan tawa.
“Hey fren..how are you today?” sapa Andong tiba-tiba dengan logat inggris sialannya. Mentang-mentang kuliah di jurusan Sastra Inggris, ngomongnya sok orang Inggris.
“How are you-how are you. Emang Lo mau jadi orang Inggris? Pake’ bahasa inggris segala. Udah, pake’ bahasa lokal saja. Lebih enak, tau!” Lindang, yang sama sekali anti-bahasa inggris memprotes Andong dengan penuh semangat.
“Hanya orang yang tak tau berterima kasih yang mau melestarikan budaya negara lain. Apalagi yang pernah menjajah negeri kita. Dasar tak punya jiwa nasional. Nggak kasihan ya ma pahlawan-pahlawan kita yang telah bersusah payah merenggut kemerdekaan ini. Sementara kita...”
“Bu, bakso satu!” Andong memotong penjelasan Lindang yang lagi semangat-semangatnya.
Tiba-tiba....
“Wadduhhh, eh, teman-temanku yang saya hormati, yang saya banggakan. Kebelet nih,, saya ke WC dulu ya. Kalo’ ntar saya nggak kembali-kembali, tolong baksoku dibayarkan dulu ya...”
“Eh, Lindang,, Lindangg....”
Belum sempat ngomong apa-apa, Lindangnya udah kabur. Dasar! Gue tau maksud Lo.
“Hehehe, akhirnya bisa juga. Ternyata bisa juga yah, makan bakso 2 mangkuk gratis. Mereka memang teman yang baik, suka menolong teman yang lagi kere’ begini,” Lindang bergumam dalam hati, sambil meloncat-loncat kecil dengan girangnya. Kali ini, langsung kembali ke kos-an.
Katanya mau ke WC? Katanya kebelet,,? Dasar!
***
Sore menjelang. Aming, Lindang, Andong, dan Sahar kembali berkumpul di markas besarnya, kamar Lindang. Kamar jamuran, namun masih dianggap nyaman. Bukan karena fasilitasnya yang lengkap. Tapi karena kamar Lindanglah yang memiliki pasokan makanan tambahan yang selalu ada. Bahkan, Sahar pun kalah, yang notabene tinggal dengan orang tuanya. Hampir setiap minggu, Lindang mendapatkan kiriman makanan dari kampungnya. Tak tanggung-tanggung, segala jenis buah, bahkan yang tidak pernah ada di supermarket sekalipun, sudah pernah diimpor ke kosan ini. Yahh, lumayan..!
Kamar Lindang akhirnya bernilai sejarah di mata mereka. Disinilah komplotan ‘Laskar Mentari’ itu bertengger. Yup, 2 tahun yang lalu, mereka sepakat bahwa nama ganknya adalah Laskar Mentari. Mereka berharap, kelak bisa menjadi sukses seperti Lintang cs. Mereka tak mau mengambil kata Pelangi, karena tidak mau disebut Sang Plagiator Ulung (padahal yang sebenarnya, merekalah ahlinya urusan copy-paste karya orang, apalagi kalo ada tugas makalah). Alasan lain, katanya karena Mentari sinarnya jauh lebih terang dibanding pelangi. Mereka berharap, kesuksesannya akan jauh lebih bersinar dibanding kawanan Laskar Pelangi itu (red: Lintang cs.)
Tapi sayang sejuta sayang, meski telah melakukan publikasi secara besar-besaran di seantero kampus tentang keberadaan Laskar Mentari-nya, sampai saat ini mereka belum terkenal-terkenal juga. Entah sampai kapan. Nasiiib...nasib...
“Eh, eh, eh,,,Kode etiknya kita kok nggak ada? Lagi direnovasi ya?” akhirnya Sahar memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang tumben mewarnai markas itu.
“Ah, nggak. Memangnya kenapa?” jawab Lindang dengan santai, sambil menyiapkan minuman dingin untuk teman-temannya.
“Tapi kok nggak ada di pintu?”
“Whats? Hilang?!!!” Andong ikut menimpali. Rencana awal untuk melahap mie istant, ‘Indomie Kaldu’ kesukaannya ditunda. Dasar anak kos!
Tanpa ada yang memberi komando, keempat komplotan Laskar Mentari itu berlari ke depan menuju pintu Lindang, tempat tertempelnya Kode etik itu.
“Astaga...”
“Eh, istigfar tuh yang sempurna!” bentak Aming ke Lindang.
“Oh iya, ralat. Astagfirullahal’adziiim...jangan-jangan, pencuri yang tadi neh yang ambil kode etik kita. Hmm,, meski dihajar tuh!” sambil mengepalkan tangan dan menyipitkan mata, Lindang terus berkoar mengumpat pencuri itu.
“Bukan masalah dihajar atau tidak pencuri itu. Tapi, apa untungnya coba dia ambil kode etik kita. Mau dijual? Dijamin deh nggak laku...”
“Eh, atau jangan-jangan, pencuri itu mau mencontek bebas hasil karya kita. Makanya, dari dulu saya bilang, kode etik kita tuh harus punya hak cipta. Biar orang lain nggak bebas niru kode etik kita. Nah, kalo begini jadinya, gimana?” Lindang kembali berceloteh dengan bebasnya.
Hak cipta? Emang undang-undang... Keberadaan Laskar Mentari saja belum diakui di kampus, mau pake’ hak cipta lagi. Tapi, benar juga ya? Apaan sih...
“Ah, aku nggak mau tahu. Yang jelas Lindang yang harus bertanggung jawab. Kejadian ini tidak boleh dianggap enteng. Ini masalah kode etik kita kawan-kawan. Ini masalah prinsip kita. Kalo hilang, apa lagi yang kita punya?” Sahar berkoar-koar penuh semangat di depan teman-temannya, layaknya seorang orator ulung yang sedang berorasi di depan gedung DPR.
“Ihh,, enak saja nyalahin orang. Emangnya ini kemauanku...ya nggaklahhh...” ucap Lindang membela diri.
“Kok gitu aja repot sih. Kan bisa ditulis ulang,” teriak Andong tak mau kalah.
“Enak aja ngomong. Kalo gitu mah semua orang bisa. Masalahnya, kalau aslinya nggak ada, berarti nilai sejarah Laskar Mentari tuh pudar. Begitu!” Sahar kembali menjawab.
“Oh tenang kawan-kawan... Begini saja, kebetulan Om-ku (red: Paman) adalah seorang Komandan polisi. Serahkan saja kasus ini padaku. Nanti saya yang lapor ke Pak Polisi. Biar kita tangkap tuh pencuri.” Aming yang sedari tadi diam seribu kata, akhirnya berkutik juga.
“Tambah lagi nih anak,,, masalah begini bawa-bawa nama polisi. Bikin malu tau!”
“Eh, tungu, tunggu, tunggu...” Lindang tiba-tiba bersuara sambil mengacungkan tangan.
“Ya, silahkan Pak Lindang”
“Begini, sebenarnya tadi pagi tuh saya dapat surat depan pintu kamar saya. Tadi lupa mendiskusikannya di kantin. Keburu lari, hehehe.”
“Sialan lo! Nah, kawan-kawan, ketahuan kan tadi Lindang nggak kebelet. Tapi lari, nggak mau bayar. Aku deh yang dapat imbasnya. Meski dikata baru dapat kiriman, tapi uang-uang itu untuk bayar utang-utangku yang sudah bertumpuk.”
“Eh, Andong, curhat jangan disini dan jangan sekarang. Bukan waktunya tau!” Aming menimpali ucapan Andong tadi. Dan Lindang, semakin berbesar hati mendengar ucapan Aming barusan, merasa dirinya dibela.
“Iya, lagian kamu beruntung, Ndong. Bisa mengaplikasikan kode etik kita poin ke-2. “Jangan pernah mengaku baik, kalo tak pernah mentraktir teman yang lagi kere’. Kebetulan aku lagi kere’ berat neh! ” Lindang akhirnya berkomentar. Ia rasa, diam bukan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini.
“Yang nggak pernah traktir tuh sapa? Lo aja kali. Kaya’nya kita harus nambah 1 poin lagi nih di kode etik kita. “Jangan pernah mengaku manusia, kalo’ sukanya minta ditraktir mulu’.”
“Jadi, nggak ikhlas nih?” sambil menahan tawa, Lindang menimpali ucapan Andong, malu disebut bukan manusia. Karena hanya dia yang selalu minta ditraktir dengan landasan poin ke-2 kode etik Laskar Mentari.
“Ya mau gimana lagi. Nasi udah menjadi bubur,” jawab Andong dengan nada pasrah. Tumben nggak pake’ logat Inggrisnya...
“Mau dengar nggak suratnya?!!” teriak Lindang, pura-pura menganggap urusannya dengan Andong sudah beres. Dan berhasil! Perhatian teman-temanya yang lain kembali fokus ke surat tadi.
“Iya,,buruaaann!!!”
Lindang pun mulai membaca.
Salam persahabatan! Kepada kawan-kawanku komplotan Laskar Mentari yang saya hormati. Sebelumnya mohon maaf atas tindakan jahilku tadi pagi. Kedatanganku ke pemukiman markas Laskar Mentari tak ada maksud apa-apa, kecuali ingin mengambil kode etik Laskar Mentari. Tapi, bukan bermaksud saya ingin mencurinya dari kalian. Saya hanya ingin membaca dan memahaminya lebih jelas. Terus terang saja, saya adalah salah satu penggemar berat Laskar Mentari. Dan besar harapan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Nah, di kampus, saya sering mengintai kalian. Dan suatu hari, saya pernah mendengarkan kalau Laskar Mentari tuh punya kode etik yang harus dilaksanakan oleh seluruh warganya. Dan saya juga pernah dengar kalao ternyata kode etik itu ditempel dipintu markas Laskar Mentari. Makanya, saya terus mengintai kalian untuk mencari alamat markas Laskar Mentari. Dan akhirnya, saya tahu kalo markasnya itu di Kamarnya Lindang. Oleh karena itu, saya sangat terdorong untuk melihat kode etik itu. Dan saya akan berusaha untuk bisa mengaplikasikan seluruh isi dari kode etik itu, demi memenuhi keinginan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Mohon maaf, kalau tindakan saya kelewatan.
Hormatku,
Lintang (Laskar pelangi)
“Waaaa,,, Lintang mau jadi sahabat kita!!!” Aming langsung berteriak, sambil memukul-mukul Andong yang kebetulan paling dekat dengannya.
“Iya, senang ya senang. Tapi tidak dengan cara seperti ini kamu mengapresiasikannya. Sakit tau!” Aming akhirnya berpindah posisi ke samping Sahar.
“Wahh,, biar dikata kode etik kita hilang, tapi kalo yang nyuri tuh Lintang dan endingnya seperti ini, bukan main senangnya,” Aming kembali berteriak.
Akhirnya, Laskar Mentari punya penggemar juga...
*)Special 4 my first_book
Kamis, 19 Februari 2009
Berita baru daRi neGeri paLestiNe

Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di
televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza
rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina.
Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa
seolah-olah Israel telah berhasil menang dalam peperangan yang mereka
kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzon, barangkali apa yang dilakukan
media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat Palestina.
Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka
otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat
Palestina.
Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan
atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum
bahwa ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi
rakyat Palestina selama perang 22 hari itu? Apa yang akan saya
ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh media. Entah kenapa, atau
mungkin karena apa yang mereka dapatkan bukan berasal dari sumber
utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina (Brigade Izzudin Al
Qossam dan HAMAS).
Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust
Hilmi Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan
rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke
pemerintah HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat
mendengarkan cerita beliau secara langsung, dan kemudian saya
ceritakan kembali pada teman-teman semua.
Selama kunjungannya di Palestina, Ust Hilmi disambut langsung oleh
para petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir.
Beliau beserta rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah
Mesir dengan alasan keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS
tersebut yang akhirnya menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog.
Ust Hilmi beserta rombongan pada waktu itu membawa dana segar hasil
pengumpulan dana dalam demonstrasi- demonstrasi yang dilakukan bangsa
Indonesia selama agresi Israel berlangsung. Alhamdulillah, total dana
yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.
Seolah sambil sedikit bercanda, Ust Hilmi mengatakan bahwa uang yang
terkumpul tersebut merupakan infaqnya 'minal fukhoro wal masakin'
(infaknya orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan
merendahkan yang memberikan infaq itu. Melainkan memberi gambaran
bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil demontrasi jalanan saja
bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika sudah
melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan
berlipat lebih besar lagi.
Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut,
Ust Hilmi banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami
oleh para tentara Al Qossam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah
banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang
berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal tidaklah mungkin terjadi.
Pertama, secara persenjataan, sudah sangat jelas bahwa perbandingan
kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel sangatlah jauh berbeda.
Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel menempati urutan keempat
di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih
belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat
untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza. Menurut salah satu
sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai
persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam
ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai
suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan
Amerika-Israel. .. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya
mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah
dengan daya rusak yang tidak terlalu besar.
Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki
sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara
aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan.
Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir.
Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari
750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10 meternya telah siap
tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak mati siapapun
warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blokade tersebut. Segala
hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina untuk
memenangkan pertempuran.
Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang
menceritakan aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina
baik yang di jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang
barangkali merasa heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah
lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13
masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana publik hancur
total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? Hal-hal inilah yang
tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.
Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan
pertempuran. Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan
yang dilakukan Israel awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja.
Pertama kali mereka menyerang melalui serangan udara pada tanggal 27
Desember 2008, seharusnya menurut pemikiran mereka, akan dapat
menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari saja (29 desember
2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara selama 3
hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008
mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun
baru di Gaza. Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian
tamu undangan yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan
Israel atas Gaza sudah bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat
memasuki Gaza. Tapi ternyata apa yang mereka dapatkan sangat jauh dari
apa yang mereka bayangkan. Justru perlawanan yang sangat sengit dari
pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan. Hal ini akhirnya memaksa
zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan sporadis ke seluruh
target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan dimenangkan
Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari target.
Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai
kehilangan konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang
awalnya ditargetkan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS,
akhirnya mulai berubah menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel
mulai kehilangan arah sasaran.
Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan
ternyata, target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan
basis HAMAS, pada kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang
kosong tidak berpenghuni, atau bahkan malah target fasilitas publik
dan sipil. Jika kita perhatikan berita di media asing, Israel selalu
berkilah bahwa target sipil yang mereka hancurkan itu karena HAMAS
sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai tempat perlindungan
dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu dilakukan Israel
tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi target serangan.
Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya
kepada Ust Hilmi. Beliau menambahkan, "bahwa ternyata pihak Israel
sebelumnya telah mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih
sebelum serangan dilakukan. Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya
bukan dilakukan dengan spontan, melainkan sudah melalui perencanaan
yang matang. Para pasukan khusus itu dilatih di sebuah tempat yang
kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan di kota Gaza. Mulai dari
bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit, semuanya dibuat
mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka melakukan
serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan
sebaik-baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah
terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa
yang mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target
yang awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat
persembunyian tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka
temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya
mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah
rumah biasa milik penduduk sipil."
Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana
mungkin HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan? Padahal sekeliling kota
Gaza sudah diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di
tiap perbatasan. Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk
persenjataan mereka? Di luar dugaan, ternyata roket-roket yang dibuat
HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas. Rangka roketnya terbuat
dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan detonatornya terbuat
dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar roketnya terbuat
dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia sederhana yang mereka
racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata juga
mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang
melintasi perbatasan. Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil
menghancurkan banyak terowongan yang sering dimanfaatkan warga Gaza
untuk transfer barang dari dan ke kota Gaza. Tetapi yang perlu kita
ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel hancurkan itu hanya
200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800 buah. Jadi
setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur.
Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan
bahwa mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.
Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian.
Namun ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel
lah yang kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang
sangat sengit sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang
telah direncanakan, dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa
pun. Ingat... tanpa syarat apapun!!! Justru pihak Israel lah yang
pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak, sementara pada saat
itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus memberi
perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel
mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke
wilayah Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman
pada Israel bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun
dan kondisi persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu
ditambahkan juga bahwa selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan
sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total jumlah
roket yang mereka miliki.
Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa
mereka sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari
negara mana pun. Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang
mujahid selama perang berlangsung, dan masih punya belasan ribu
pasukan yang lain." Melalui Ust Hilmi, para pejuang HAMAS ingin
mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga yang sebesar-besarnya
atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS berharap bahwa
kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada Palestina, maka
berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,
minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya
itu yang lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan
jihad."
InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu
rakyat Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi
bantuan-bantuan berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan
secara bertahap dan tidak sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini
dikarenakan pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza
tidak mau untuk memberikan izin masuk Gaza jika dilakukan secara
besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir mengatakan bahwa mereka
tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga hal ini membuat
kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan
bantuan ke Gaza. Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita,
bahwa ternyata aksi-aksi yang kita lakukan selama ini ternyata adalah
aksi terbesar di selurh dunia. Disaat saudara-saudara kita di belahan
dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan dijaga ribuan aparat setiap
melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa yang kita lakukan
di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina harus terus
kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti
hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan
Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi. Allahu akbar!!!
Sumber: Netkusuma
