must to remember:

Sejarah hanya mampu mencatat orang-orang yang menyisakan jejak dalam hidupnya. Bergeraklah...

Senin, 23 Februari 2009

Laskar Mentari Kecolongan*)

Kode Etik Laskar Mentari:

“Jangan pernah mengaku gaul kalo’ tak punya banyak teman...

Jangan pernah mengaku baik, kalo’ tak pernah mentraktir teman...

Jangan pernah mengaku pintar, kalo’ tak pernah memberi contekan kepada teman...

Jangan pernah mengaku kaya, kalo’ tak pernah memberikan pinjaman uang kepada teman yang lagi kere’...”

Diatas sebuah karton merah terang, ukuran 1x1 meter, kalimat itu ditulis. Entah atas dasar apa kalimat-kalimat itu dibuat. Yang jelas, sudah hampir 2 tahun, tulisan itu masih tertempel erat di depan pintu kamar Lindang. Markas besar komplotan “Laskar Mentari”. Meski sebelumnya sudah beberapa puluh orang yang memberi komentar kepadanya setiap kali melihat tulisan itu. Tapi Lindang enjoy-enjoy saja.

“Bodoh amat mikirin mereka. Kamar, kamar gue. Terserah gue kan?!!” begitu Lindang selalu memuntahkan jawaban kepada siapa saja yang menegur tulisan itu. Bibir manyun pun dengan segera ia sumbangkan.

***

Pagi yang cerah. Matahari sudah menyemburat tinggi di angkasa. Sinarnya menyusup perlahan diantara celah jendela kamar Lindang sejak 1 jam yang lalu. Memberikan setitik cahaya pada ruang yang masih gelap itu. Tirai putih yang kini sudah menyerupai warna coklat muda, masih terbentang lebar di tempatnya. Pertanda, Si Empunya belum menggesernya sedikit pun. Di atas sebuah kasur yang sudah hampir setipis papan, Lindang masih saja menggeliat dengan guling tipis kesayangannya. Sesekali dengkuran nyaring keluar dari mulutnya. Aming, tetangga kamarnya, justru seringkali berterimakasih atas dengkurannya itu. Karena ia tak perlu lagi menyetel alarm setiap pagi. Sangat cukup dengkuran itu yang membangunkannya. Lindang senyum-senyum saja mendengar pujian Aming padanya. Sembari mengelus dada tanda bangganya.

Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk... Kukuruyuukkk...

HP batangan Lindang berdering, mengumandangkan nada sahutan ayam. Lamaaa sekali. Dan kian lama kian membesar. Lama alarm itu bereaksi, namun Lindang tak jua berkutik.

Gubrakkkk!!!!

“Woeyy,,maling woeyy...Maling...ada maling....!!!”

Dengan memasang jurus patokan ayam, Lindang langsung bangkit dari tidurnya dan melompat dari kasur. Sambil mengucek-ngucek mata, dengan langkah perlahan ia mendekati pintu kamarnya. Dibalik pintu, ia mendekatkan telinganya dengan penuh konsentrasi mendengar suara di balik pintu itu.

“Mmm,,sepertinya ada orang yang sedang berlari,” batin Lindang, sambil terus menempelkan telinganya di pintu kamarnya. Tak berapa lama, akhirnya terdengarlah suara ribut-ribut di lorong kamar. Lindang pun keluar...

“Tak salah lagi, itu pasti Andong dan Aming. Pasti mereka sudah menangkap pencurinya,” Lindang menerka dengan sangat yakin.

Dengan wajah celingukan, ia pun keluar kamar. Sementara, batangan sapu ijuk yang siap ia hunuskan ke pencuri tadi, masih tergenggam erat di tangannya.

“Ndang, kamu kenapa?!!” tanya Aming keheranan melihat batangan ijuk yang digenggam Lindang.

“Eh, pencurinya mana? Tadi saya dengar ia mendobrak pintu kamarku. Untung saya kunci 3 kali lipat dari biasanya. Ini menjadi peringatan buat kalian-kalian, kalo malam, jangan pernah lupa mengunci pintu kamar. Nah, kalo’ kejadiannya seperti tadi, kita tetap aman kan dari tindak jahil pencuri...” Panjang lebar Lindang menjelaskan, membuat kedua temannya semakin mengerutkan kening. Tambah bingung!

“Mmm,, kumat lagi deh virus cerewetnya,” gumam Andong, namun tak sampai terdengar Lindang. Takut penjelasannya semakin panjang.

“Ooo, jadi ada pencuri? Terus apa yang dicuri?” dengan laga’ polosnya Aming bertanya.

“Huu,,,makanya, kalo’ tidur tuh jangan tidur mati. Biar sekalipun pencurinya menculik kamu, kamu nggak bakal rasa,” Lindang berkomentar lagi, sambil memperbaiki posisi sarung di badannya yang hampir saja melorot.

“Tapi saya sama sekali nggak dengar suara pencurinya. Padahal, dengkuran Lindang selalu saya dengar.”

“Weleh-welehhhh...wong tadi aku dengar sendiri kok pencuri itu mendobrak pintu kamarku. Telingamu tuh, yang lebih peka ke bunyi dengkuranku dibanding suara pencuri.”

Ya’ellaa... atau mungkin karena memang dengkuran Lindang yang jauh lebih besar daripada suara pencurinya ya,” Aming terus mencari pembenaran, tak mau kalah dengan Lindang.

“Ah, sudah,,sudah. Bukan saatnya berdiskusi disini. Begini, sepertinya pencuri tadi itu belum sempat mengambil apa-apa. Keburu terlihat. Makanya dia langsung lari.” Mas Bayu, sebagai pihak yang dituakan di kosan itu akhirnya memberi arahan, menengahi pertempuran mulut antara Lindang vs Aming.

“Iya, tuh pencuri kaya’nya memang bukan pencuri profesional. Mencuri kok pagi-pagi begini?”

“Pencurinya penakut kali, jadi nggak berani bereaksi kalo malam,” Lindang kembali menimpali ucapan Aming. Tak ada habis-habisnya..

“Eitss,,, ngomong-ngomong, sekarang jam berapa nih?” Lindang tiba-tiba tersentak, sambil memukul jidatnya. Ia melongo kepada kawanan sekos-annya. Dan...

“Waaaaaaaaaa.....aku final!!!” Lindang berteriak sekencangnya, sambil melompat lari masuk ke kamarnya. Sementara, Aming dan Andong saling berpandangan, heran.

***

“Sahar, kamu memang kawanku yang pwaaaaling baik seujung jagat raya. Pintar!”

“Eh, maksudmu?” Sahar terbengong mendengar komentar Lindang.

“Karena bantuanmu tadi, lembar jawabanku tidak bolong semua. Yah, meski tidak dapat bahan contekan semua, paling tidak lembar jawabanku tidak putih polos seperti sedia kala,” jawab Lindang sambil senyam-senyum tanda bahagia.

“Yahhh...syukurlah. Trus, kamu jawabnya berapa nomor? Kan tadi tersisa waktu 10 menit lagi saat kamu masuk ruangan,” Sahar menghentikan langkahnya, menanti jawaban apa yang hendak keluar dari mulut Lindang.

“Jawabnya 2 nomor. Nomor 9 dan nomor 10.”

“Lha, itu kan jawaban yang saya kasih ke kamu.” Sahar tercengang, matanya dibiarkan melotot memandang Lindang.

“Ya emang iya. Trus kenapa? Tidak ikhlas?” Lindang menatap wajah Sahar, serius.

“Bukan itu yang kumaksud. Dari 10 nomor, kamu cuma jawab 2 nomor?” Sahar balik menatap Lindang. Dan terjadilah aksi tatap-menatap.

“Huu,,kamu kaya’ anak eS-De saja, Har. Kalo ada 10 pertanyaan, dan hanya 2 yang saya jawab, itu artinya 8 nomor tidak saya jawab. Gittuuu...ngerti? Eh, kamu belajar matematika nggak sih waktu eS-De dulu?”

“Ahhh...terserah. Mau belajar ke’, mau tidak belajar ke’, bodoh amat. Yang jelas tadi aku jawab semua soalnya. Situ aja yang merasa sok pintar. Mau dapat nilai berapa kalau cuma jawab 2 nomor?” Sahar semakin gemas melihat kepolosan kawannya yang satu ini.

“Pusing amat. Itu kan keputusan Bu Imah mau ngasih nilai berapa. Apalagi Keputusannya nggak bisa diganggu gugat. So, mending kita ke kantin saja sekarang. Perutku sudah puyeng mondar-mandir dari tadi minta diisi,” timpal Lindang sambil menarik tangan Sahar yang masih bingung. Dengan langkah sempoyongan, mereka pun menuju kantin.

***

“Mmm,,,ngomong-nomong, Aming dan Andong kok belum nongol-nongol?”

“Ya, Sahaaar,,, mulai deh.. Saya kan sudah berjuta-juta kali bilang, saya paling tidak suka diganggu kalo lagi makan. Kalo makan ya makan, nggak usah mikir yang lain dulu. Apalagi mikirin dua makhluk itu, rugi!”

“Dasar makhluk aneh. Makan pake’ konsentrasi segala,” Sahar setengah berbisik. Wajahnya dibiarkan menunduk sambil memainkan sendok dan garpu di kedua tangannya. Meski ia tahu, sebenarnya Lindang menatapnya tajam. Namun, ia pura-pura tak tahu.

“Bu, minta bakso satu mangkuk lagi,” teriak Lindang ke Ibu kantinnya.

“Heyy, masih pukul 10 pagi Mas!” Sahar tersentak mendengar permintaan Lindang barusan.

“Makan bakso sampe 3 mangkuk sekaligus. Itu lambung atau baskom seh. Hati-hati loh, ntar lambungnya melar keisi bakso semua. Ntar, ususnya mampet, dipenuhi bakso semua. Ntar, otaknya buntu tersumbat bakso semua. Ntar, overdosis baru,,,” belum sempat Sahar menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Lindang memotong.

“Udah..udah..udah...Kamu kaya’ lebih pintar dari dokter saja, Har. Dokter saja nggak berpanjang lebar ngomong ini itu kalo konsult kesana. Yawdah, saya batalkan saja pesananku. Daripada ntar otakku buntu beneran, mana mau. Nggak tahan eke.” Lindang langsung beranjak dari tempat duduknya. Berlari menuju tempat Ibu kantin meramu bakso. Meramu? Emang jamu mau diramu. Jamu bakso kali ye...

“Bu, maafkan daku. Saya nggak jadi pesan. Temanku tuh melarang makan bakso banyak-banyak,” layaknya seorang mahasiswa yang sedang meminta nilai tambahan ke dosennya, begitulah aksi Lindang saat ini, memelas! Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sahar.

“Katanya masih pagi, Bu. Saya takut nanti otak saya buntu tersumbat bakso. Nanti saya takut lambung saya melar keisi bakso semua,” Lindang kembali menambahkan, berhubung Bu Kantinnya cuek bebek saja. Ga’ punya rasa, ga’ punya hati...Lha?!!

“Penjelasannya cukup?” Bu kantin akhirnya bersuara, kini malah balik nanya.

Ya’ellaaa,,ini Ibu. Maaf ya Bu ya, pesanan baksonya saya pending dulu. Besok dah, saya ke sini lagi pesan baksonya.”

“Pending,,pending.. Kalo’ bakso ini saya pending, dan saya simpan untuk kamu makan besok, mau?”

“Ya nggak lah Bu. Masa’ mau makan bakso yang sudah setengah basi?” Lindang menjawab sembari mengernyitkan keningnya.

Yawdah, makan aja bakso ini sekarang mumpung belum setengah basi.”

“Gratiss??” Lindang malah balik nanya dengan penuh semangat.

“Enak aja gratis. Mana ada...”

“Bu, baksonya satu!” tiba-tiba Aming nongol dibalik lemari kaca, memecah pergulatan antara Bu kantin dan Lindang yang tak jua selesai.

“Ah, untungnya.. Si Dewa penyelamat akhirnya datang juga,” sambil mengelus dada, Lindang berlari menjumpai Sahar yang sedari tadi menunggunya. Tapi sebelumnya, tak lupa ia berterima kasih kepada Bu kantin. Sekedar info, sampai saat ini Lindang cs. belum tahu siapa nama Bu Kantin yang sebenarnya. Entah nama Bu Kantin memang begitu dari sononya, atau karena beliau bekerja di kantin ini. Ah, pusing amat, Rektor aja ngga’ pusing. Yang jelas namanya Bu Kantin, titik!

Sementara Aming, hanya tersenyum tipis saja melihat aksi Lindang yang aneh. Ah, biassaa...

***

“Eh, Ming, Andong kemana? Tumben jam segini nggak ke kantin.” Lagi-lagi, Sahar merusak konsentrasi makan Aming. Tapi untungnya yang dihadapi bukan Lindang. Yang diganggu sedikit saja saat makan, ngomelnya minta ampun.

“Mmm..tadi saya sempat ketemu di depan fakultasnya. Dan dia kelihatan sangat buru-buru...”

“Mau bayar utang kali’. Tuh anak kan udah dapat kiriman dari kampung,” kembali dengan tampang polosnya, Lindang memotong.

“Ihhh,,,bukan itu. Makanya dengar dulu baru ngomel. Dasar Raja Ngomel Lo.” Dengan sedikit buru-buru, Aming memasukkan satu buah pentolan bakso ke mulutnya. Tinggal satu.

“Mmm, Andong buat kasus lagi. Tadi pagi, ternyata dia ada kuliah. Eh, malah asyik bergulat denganku di kosan. Meneketehe kalau dia punya jadwal kuliah dadakan. Kebetulan, dosen yang masuk tadi itu adalah dosen terkiller di fakultasnya. Dan parahnya lagi, dia ketahuan nitip tanda tangan ke temannya. Berlipat ganda deh hukumannya.”

“Nah, trus dia dihukum apa?” Sahar menimpal, seolah tak sabar menanti jawabnya.

“Katanya, tadi dia dipanggil ke ruangan dosen.”

“Wah, parah tuh. Andong mau diapain di sana?”

“Disuruh mijetin dosennya.”

“Wahh,,parah. Dosennya cewek apa cowok?”

“Onta-onta. Cowwokk... Bapa’-Bapa’, bego!”

“Parah tuh. Bisa-bisa Andong dapat bonus tendangan ampuh kalo’ salah pijit.” Lindang akhirnya bersuara, setelah sebelumnya terdiam mendengar penjelasan Aming. Kali ini, Lindang terlihat berusaha menahan tawa.

“Hey fren..how are you today?” sapa Andong tiba-tiba dengan logat inggris sialannya. Mentang-mentang kuliah di jurusan Sastra Inggris, ngomongnya sok orang Inggris.

How are you-how are you. Emang Lo mau jadi orang Inggris? Pake’ bahasa inggris segala. Udah, pake’ bahasa lokal saja. Lebih enak, tau!” Lindang, yang sama sekali anti-bahasa inggris memprotes Andong dengan penuh semangat.

“Hanya orang yang tak tau berterima kasih yang mau melestarikan budaya negara lain. Apalagi yang pernah menjajah negeri kita. Dasar tak punya jiwa nasional. Nggak kasihan ya ma pahlawan-pahlawan kita yang telah bersusah payah merenggut kemerdekaan ini. Sementara kita...”

“Bu, bakso satu!” Andong memotong penjelasan Lindang yang lagi semangat-semangatnya.

Tiba-tiba....

“Wadduhhh, eh, teman-temanku yang saya hormati, yang saya banggakan. Kebelet nih,, saya ke WC dulu ya. Kalo’ ntar saya nggak kembali-kembali, tolong baksoku dibayarkan dulu ya...”

“Eh, Lindang,, Lindangg....”

Belum sempat ngomong apa-apa, Lindangnya udah kabur. Dasar! Gue tau maksud Lo.

“Hehehe, akhirnya bisa juga. Ternyata bisa juga yah, makan bakso 2 mangkuk gratis. Mereka memang teman yang baik, suka menolong teman yang lagi kere’ begini,” Lindang bergumam dalam hati, sambil meloncat-loncat kecil dengan girangnya. Kali ini, langsung kembali ke kos-an.

Katanya mau ke WC? Katanya kebelet,,? Dasar!

***

Sore menjelang. Aming, Lindang, Andong, dan Sahar kembali berkumpul di markas besarnya, kamar Lindang. Kamar jamuran, namun masih dianggap nyaman. Bukan karena fasilitasnya yang lengkap. Tapi karena kamar Lindanglah yang memiliki pasokan makanan tambahan yang selalu ada. Bahkan, Sahar pun kalah, yang notabene tinggal dengan orang tuanya. Hampir setiap minggu, Lindang mendapatkan kiriman makanan dari kampungnya. Tak tanggung-tanggung, segala jenis buah, bahkan yang tidak pernah ada di supermarket sekalipun, sudah pernah diimpor ke kosan ini. Yahh, lumayan..!

Kamar Lindang akhirnya bernilai sejarah di mata mereka. Disinilah komplotan ‘Laskar Mentari’ itu bertengger. Yup, 2 tahun yang lalu, mereka sepakat bahwa nama ganknya adalah Laskar Mentari. Mereka berharap, kelak bisa menjadi sukses seperti Lintang cs. Mereka tak mau mengambil kata Pelangi, karena tidak mau disebut Sang Plagiator Ulung (padahal yang sebenarnya, merekalah ahlinya urusan copy-paste karya orang, apalagi kalo ada tugas makalah). Alasan lain, katanya karena Mentari sinarnya jauh lebih terang dibanding pelangi. Mereka berharap, kesuksesannya akan jauh lebih bersinar dibanding kawanan Laskar Pelangi itu (red: Lintang cs.)

Tapi sayang sejuta sayang, meski telah melakukan publikasi secara besar-besaran di seantero kampus tentang keberadaan Laskar Mentari-nya, sampai saat ini mereka belum terkenal-terkenal juga. Entah sampai kapan. Nasiiib...nasib...

“Eh, eh, eh,,,Kode etiknya kita kok nggak ada? Lagi direnovasi ya?” akhirnya Sahar memulai pembicaraan, memecah kesunyian yang tumben mewarnai markas itu.

“Ah, nggak. Memangnya kenapa?” jawab Lindang dengan santai, sambil menyiapkan minuman dingin untuk teman-temannya.

“Tapi kok nggak ada di pintu?”

Whats? Hilang?!!!” Andong ikut menimpali. Rencana awal untuk melahap mie istant, ‘Indomie Kaldu’ kesukaannya ditunda. Dasar anak kos!

Tanpa ada yang memberi komando, keempat komplotan Laskar Mentari itu berlari ke depan menuju pintu Lindang, tempat tertempelnya Kode etik itu.

“Astaga...”

“Eh, istigfar tuh yang sempurna!” bentak Aming ke Lindang.

“Oh iya, ralat. Astagfirullahal’adziiim...jangan-jangan, pencuri yang tadi neh yang ambil kode etik kita. Hmm,, meski dihajar tuh!” sambil mengepalkan tangan dan menyipitkan mata, Lindang terus berkoar mengumpat pencuri itu.

“Bukan masalah dihajar atau tidak pencuri itu. Tapi, apa untungnya coba dia ambil kode etik kita. Mau dijual? Dijamin deh nggak laku...”

“Eh, atau jangan-jangan, pencuri itu mau mencontek bebas hasil karya kita. Makanya, dari dulu saya bilang, kode etik kita tuh harus punya hak cipta. Biar orang lain nggak bebas niru kode etik kita. Nah, kalo begini jadinya, gimana?” Lindang kembali berceloteh dengan bebasnya.

Hak cipta? Emang undang-undang... Keberadaan Laskar Mentari saja belum diakui di kampus, mau pake’ hak cipta lagi. Tapi, benar juga ya? Apaan sih...

“Ah, aku nggak mau tahu. Yang jelas Lindang yang harus bertanggung jawab. Kejadian ini tidak boleh dianggap enteng. Ini masalah kode etik kita kawan-kawan. Ini masalah prinsip kita. Kalo hilang, apa lagi yang kita punya?” Sahar berkoar-koar penuh semangat di depan teman-temannya, layaknya seorang orator ulung yang sedang berorasi di depan gedung DPR.

“Ihh,, enak saja nyalahin orang. Emangnya ini kemauanku...ya nggaklahhh...” ucap Lindang membela diri.

“Kok gitu aja repot sih. Kan bisa ditulis ulang,” teriak Andong tak mau kalah.

“Enak aja ngomong. Kalo gitu mah semua orang bisa. Masalahnya, kalau aslinya nggak ada, berarti nilai sejarah Laskar Mentari tuh pudar. Begitu!” Sahar kembali menjawab.

“Oh tenang kawan-kawan... Begini saja, kebetulan Om-ku (red: Paman) adalah seorang Komandan polisi. Serahkan saja kasus ini padaku. Nanti saya yang lapor ke Pak Polisi. Biar kita tangkap tuh pencuri.” Aming yang sedari tadi diam seribu kata, akhirnya berkutik juga.

“Tambah lagi nih anak,,, masalah begini bawa-bawa nama polisi. Bikin malu tau!”

“Eh, tungu, tunggu, tunggu...” Lindang tiba-tiba bersuara sambil mengacungkan tangan.

“Ya, silahkan Pak Lindang”

“Begini, sebenarnya tadi pagi tuh saya dapat surat depan pintu kamar saya. Tadi lupa mendiskusikannya di kantin. Keburu lari, hehehe.”

“Sialan lo! Nah, kawan-kawan, ketahuan kan tadi Lindang nggak kebelet. Tapi lari, nggak mau bayar. Aku deh yang dapat imbasnya. Meski dikata baru dapat kiriman, tapi uang-uang itu untuk bayar utang-utangku yang sudah bertumpuk.”

“Eh, Andong, curhat jangan disini dan jangan sekarang. Bukan waktunya tau!” Aming menimpali ucapan Andong tadi. Dan Lindang, semakin berbesar hati mendengar ucapan Aming barusan, merasa dirinya dibela.

“Iya, lagian kamu beruntung, Ndong. Bisa mengaplikasikan kode etik kita poin ke-2. “Jangan pernah mengaku baik, kalo tak pernah mentraktir teman yang lagi kere’. Kebetulan aku lagi kere’ berat neh! ” Lindang akhirnya berkomentar. Ia rasa, diam bukan jalan keluar yang terbaik untuk saat ini.

“Yang nggak pernah traktir tuh sapa? Lo aja kali. Kaya’nya kita harus nambah 1 poin lagi nih di kode etik kita. “Jangan pernah mengaku manusia, kalo’ sukanya minta ditraktir mulu’.”

“Jadi, nggak ikhlas nih?” sambil menahan tawa, Lindang menimpali ucapan Andong, malu disebut bukan manusia. Karena hanya dia yang selalu minta ditraktir dengan landasan poin ke-2 kode etik Laskar Mentari.

“Ya mau gimana lagi. Nasi udah menjadi bubur,” jawab Andong dengan nada pasrah. Tumben nggak pake’ logat Inggrisnya...

“Mau dengar nggak suratnya?!!” teriak Lindang, pura-pura menganggap urusannya dengan Andong sudah beres. Dan berhasil! Perhatian teman-temanya yang lain kembali fokus ke surat tadi.

“Iya,,buruaaann!!!”

Lindang pun mulai membaca.

Salam persahabatan! Kepada kawan-kawanku komplotan Laskar Mentari yang saya hormati. Sebelumnya mohon maaf atas tindakan jahilku tadi pagi. Kedatanganku ke pemukiman markas Laskar Mentari tak ada maksud apa-apa, kecuali ingin mengambil kode etik Laskar Mentari. Tapi, bukan bermaksud saya ingin mencurinya dari kalian. Saya hanya ingin membaca dan memahaminya lebih jelas. Terus terang saja, saya adalah salah satu penggemar berat Laskar Mentari. Dan besar harapan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Nah, di kampus, saya sering mengintai kalian. Dan suatu hari, saya pernah mendengarkan kalau Laskar Mentari tuh punya kode etik yang harus dilaksanakan oleh seluruh warganya. Dan saya juga pernah dengar kalao ternyata kode etik itu ditempel dipintu markas Laskar Mentari. Makanya, saya terus mengintai kalian untuk mencari alamat markas Laskar Mentari. Dan akhirnya, saya tahu kalo markasnya itu di Kamarnya Lindang. Oleh karena itu, saya sangat terdorong untuk melihat kode etik itu. Dan saya akan berusaha untuk bisa mengaplikasikan seluruh isi dari kode etik itu, demi memenuhi keinginan saya untuk bisa menjadi sahabat Laskar Mentari. Mohon maaf, kalau tindakan saya kelewatan.

Hormatku,

Lintang (Laskar pelangi)

“Waaaa,,, Lintang mau jadi sahabat kita!!!” Aming langsung berteriak, sambil memukul-mukul Andong yang kebetulan paling dekat dengannya.

“Iya, senang ya senang. Tapi tidak dengan cara seperti ini kamu mengapresiasikannya. Sakit tau!” Aming akhirnya berpindah posisi ke samping Sahar.

“Wahh,, biar dikata kode etik kita hilang, tapi kalo yang nyuri tuh Lintang dan endingnya seperti ini, bukan main senangnya,” Aming kembali berteriak.

Akhirnya, Laskar Mentari punya penggemar juga...

*)Special 4 my first_book

Kamis, 19 Februari 2009

Berita baru daRi neGeri paLestiNe


Sadarkah antum bahwa berita yang kita dapatkan dalam siaran berita di
televisi maupun lembaran koran seluruh dunia seputar perang Gaza
rata-rata banyak sekali yang mengekspos penderitaan bangsa Palestina.
Di sisi lain sering kali kita perhatikan ditampilkannya kabar bahwa
seolah-olah Israel telah berhasil menang dalam peperangan yang mereka
kobarkan di Gaza. Kita berhusnudzon, barangkali apa yang dilakukan
media adalah cara mereka dalam memberi dukungan bagi rakyat Palestina.
Semakin nampak penderitaan bangsa Palestina di hadapan dunia, maka
otomatis akan semakin membangkitkan semangat pembelaan bagi rakyat
Palestina.

Namun nampaknya jarang sekali kita dengar kabar yang menggembirakan
atas bangsa Palestina selama perang 22 hari di Gaza. Tahukah antum
bahwa ternyata banyak sekali Allah turunkan pertolongan- Nya bagi
rakyat Palestina selama perang 22 hari itu? Apa yang akan saya
ceritakan berikut tidak banyak diekspos oleh media. Entah kenapa, atau
mungkin karena apa yang mereka dapatkan bukan berasal dari sumber
utama para tentara pejuang kemerdekaan Palestina (Brigade Izzudin Al
Qossam dan HAMAS).

Dalam salah satu acara malam penggalangan dana untuk Palestina, Ust
Hilmi Aminudin bercerita tentang pengalaman beliau ketika mengantarkan
rombongan para penyalur bantuan dari rakyat Indonesia langsung ke
pemerintah HAMAS di Palestina. Alhamdulillah saya beruntung dapat
mendengarkan cerita beliau secara langsung, dan kemudian saya
ceritakan kembali pada teman-teman semua.

Selama kunjungannya di Palestina, Ust Hilmi disambut langsung oleh
para petinggi HAMAS. Beliau disambut di perbatasan Raffah-Mesir.
Beliau beserta rombongan tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh pemerintah
Mesir dengan alasan keamanan. Oleh karena itu, para petinggi HAMAS
tersebut yang akhirnya menghampiri perbatasan untuk melakukan dialog.
Ust Hilmi beserta rombongan pada waktu itu membawa dana segar hasil
pengumpulan dana dalam demonstrasi- demonstrasi yang dilakukan bangsa
Indonesia selama agresi Israel berlangsung. Alhamdulillah, total dana
yang diberikan adalah sebesar 2 juta US dollar.

Seolah sambil sedikit bercanda, Ust Hilmi mengatakan bahwa uang yang
terkumpul tersebut merupakan infaqnya 'minal fukhoro wal masakin'
(infaknya orang-orang fakir dan miskin). Maksudnya tentu bukan
merendahkan yang memberikan infaq itu. Melainkan memberi gambaran
bahwa jika uang yang dikumpulkan dari hasil demontrasi jalanan saja
bisa sampai terkumpul 2 juta dollar, maka apalagi jika sudah
melibatkan para agnia dan pengusaha? InsyaAllah dijamin jumlahnya akan
berlipat lebih besar lagi.

Dalam dialog yang berlangsung bersama para pemimpin HAMAS tersebut,
Ust Hilmi banyak mendapatkan cerita kondisi yang sebenarnya dialami
oleh para tentara Al Qossam. Subhanallah. .. ternyata Allah telah
banyak menurunkan pertolongan dan lindungan-Nya selama perang
berlangsung. Sangat banyak hal yang secara akal tidaklah mungkin terjadi.

Pertama, secara persenjataan, sudah sangat jelas bahwa perbandingan
kekuatan persenjataan antara HAMAS dan Israel sangatlah jauh berbeda.
Dalam sistem pertahanan kesenjataan, Israel menempati urutan keempat
di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan Inggris. Ini pun masih
belum termasuk dengan bantuan militer yang diberikan Amerika Serikat
untuk mendukung persenjataan selama perang Gaza. Menurut salah satu
sumber, disebutkan bahwa untuk perang Gaza, Amerika telah menyuplai
persenjataan sebanyak lebih dari 60.000 ton. Bantuan itu dikirim dalam
ratusan buah kontainer besar. Bantuan senjata ini dipercaya sebagai
suplai senjata yang terbesar sepanjang sejarah persekongkolan
Amerika-Israel. .. Maka coba bandingkanlah dengan HAMAS hanya
mempersenjatai diri mereka dengan roket-roket berdaya jelajah menengah
dengan daya rusak yang tidak terlalu besar.

Kedua, jika dilihat dari besarnya pasukan, HAMAS hanya memiliki
sekitar 15.000 personil. Sedangkan Israel memiliki 130.000 tentara
aktif dan lebih dari 400.000 tentara cadangan.

Ketiga, dari segi medan pertempuran, Gaza adalah kota yang terisolir.
Sekelilingnya dibatasi oleh tembok-tembok blokade sepanjang lebih dari
750 KM dengan tinggi 8 meter, dan di setiap 10 meternya telah siap
tentara Israel di atas pos blokade yang siap menembak mati siapapun
warga Palestina yang mencoba mendekati tembok blokade tersebut. Segala
hal hampir membuat tidak masuk akal bagi pejuang Palestina untuk
memenangkan pertempuran.

Beberapa hari ke belakang kita menyaksikan sama-sama berita yang
menceritakan aksi perayaan kemenangan yang dilakukan warga Palestina
baik yang di jalur Gaza maupun di tepi Barat. Bagi sebagian orang
barangkali merasa heran, kemenangan macam apakah itu? Bukankah sudah
lebih dari 1.200 orang menemui syahid, 5.000 lebih orang luka-luka, 13
masjid dibom, ribuan rumah hancur, jalan dan sarana publik hancur
total. Apakah ini yang disebut dengan kemenangan? Hal-hal inilah yang
tidak kita ketahui kebenaran yang sesungguhnya.

Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat Palestina memenangkan
pertempuran. Para petinggi HAMAS itu bercerita, sebenarnya serangan
yang dilakukan Israel awalnya direncakan hanya dalam 3 hari saja.
Pertama kali mereka menyerang melalui serangan udara pada tanggal 27
Desember 2008, seharusnya menurut pemikiran mereka, akan dapat
menguasai sepenuhnya Gaza dalam waktu tiga hari saja (29 desember
2008). Mereka berencana hanya akan melakukan serangan udara selama 3
hari, tanpa serangan darat, lalu pada tanggal 30-31 Desember 2008
mereka akan melakukan persiapan perayaan kemenangan dan perayaan tahun
baru di Gaza. Dikabarkan juga pada akhir tahun 2008 tersebut, sebagian
tamu undangan yang rencananya akan menghadiri perayaan kemenangan
Israel atas Gaza sudah bersiap di perbatasan untuk selanjutnya dapat
memasuki Gaza. Tapi ternyata apa yang mereka dapatkan sangat jauh dari
apa yang mereka bayangkan. Justru perlawanan yang sangat sengit dari
pejuang HAMAS lah yang mereka dapatkan. Hal ini akhirnya memaksa
zionis Israel untuk melakukan serangkaian serangan sporadis ke seluruh
target. Pertempuran yang awalnya hanya diperkirakan akan dimenangkan
Israel dalam waktu tiga hari, ternyata meleset sangat jauh dari target.

Setelah perang melewati 10 hari serangan, tentara Israel mulai
kehilangan konsentrasi dan fokus serangan. Sehingga serangan yang
awalnya ditargetkan untuk menghancurkan basis-basis perlawanan HAMAS,
akhirnya mulai berubah menjadi target rakyat sipil. Tentara Israel
mulai kehilangan arah sasaran.

Mereka tidak tahu lagi target mana yang harus mereka hancurkan. Dan
ternyata, target-target bangunan yang Israel klaim di media merupakan
basis HAMAS, pada kenyataannya itu tidak lain hanyalah bangunan yang
kosong tidak berpenghuni, atau bahkan malah target fasilitas publik
dan sipil. Jika kita perhatikan berita di media asing, Israel selalu
berkilah bahwa target sipil yang mereka hancurkan itu karena HAMAS
sering menjadikan tempat-tempat macam itu sebagai tempat perlindungan
dan gudang persenjataan. Padahal yang sebenarnya itu dilakukan Israel
tidak lain hanya karena sudah bingung dan tidak tahu lagi target serangan.

Kemudian salah satu pejabat HAMAS tersebut melanjutkan ceritanya
kepada Ust Hilmi. Beliau menambahkan, "bahwa ternyata pihak Israel
sebelumnya telah mempersiapkan pasukan elite mereka untuk berlatih
sebelum serangan dilakukan. Jadi apa yang mereka lakukan itu tentunya
bukan dilakukan dengan spontan, melainkan sudah melalui perencanaan
yang matang. Para pasukan khusus itu dilatih di sebuah tempat yang
kondisinya dibuat persis sama seperti keadaan di kota Gaza. Mulai dari
bangunan, jalan-jalan, bahkan sampai gang-gang sempit, semuanya dibuat
mirip seperti kota Gaza. Ini diharapkan ketika mereka melakukan
serangan darat, maka sudah dapat mengetahui medan pertempuran dengan
sebaik-baiknya. Tetapi ternyata apa yang mereka dapatkan setelah
terjun langsung ke medan pertempuran yang sebenarnya? Ternyata apa
yang mereka dapatkan sungguh berbeda menurut pandangan mereka. Target
yang awalnya sudah mereka rencanakan dan dicurigai merupakan tempat
persembunyian tentara pejuang Palestina ternyata tidak pernah mereka
temukan. Ketika mereka masuk ke bangunan atau rumah yang awalnya
mereka curigai sebagai markas, ternyata tidak lain hanyalah sebuah
rumah biasa milik penduduk sipil."

Barangkali kita bertanya-bertanya dalam benak kita semua. Bagaimana
mungkin HAMAS tetap bisa menggalang kekuatan? Padahal sekeliling kota
Gaza sudah diblokade dengan tembok-tembok raksasa dan pos penjagaan di
tiap perbatasan. Dari mana mereka mendapatkan suplai untuk
persenjataan mereka? Di luar dugaan, ternyata roket-roket yang dibuat
HAMAS itu terbuat dari barang-barang bekas. Rangka roketnya terbuat
dari bekas tiang listrik, kabel-kabel sambungan detonatornya terbuat
dari kabel yang ada di rumah-rumah warga, bahan bakar roketnya terbuat
dari gula, dan hulu ledaknya terbuat dari kimia sederhana yang mereka
racik sedemikian rupa. Selain itu, suplai bahan baku senjata juga
mereka dapatkan melalui ratusan terowongan yang mereka buat yang
melintasi perbatasan. Israel mengklaim bahwa mereka telah berhasil
menghancurkan banyak terowongan yang sering dimanfaatkan warga Gaza
untuk transfer barang dari dan ke kota Gaza. Tetapi yang perlu kita
ketahui adalah ternyata apa yang berhasil Israel hancurkan itu hanya
200 terowongan dari total terowongan yang berjumlah 800 buah. Jadi
setidaknya masih ada 600 terowongan yang tersisa dan belum hancur.
Adapun terowongan yang sudah hancur tersebut, pihak HAMAS menyebutkan
bahwa mereka akan selesai memperbaikinya kembali hanya dalam 3 bulan.

Secara fisik, mungkin HAMAS lah yang paling banyak menderita kerugian.
Namun ini sama sekali bukanlah indikasi kekalahan HAMAS. Justru Israel
lah yang kalah! Betapa tidak, HAMAS telah membuat perlawanan yang
sangat sengit sehingga Israel melewati target lama pertempuran yang
telah direncanakan, dan akhirnya mundur dari Gaza tanpa syarat apa
pun. Ingat... tanpa syarat apapun!!! Justru pihak Israel lah yang
pertama kali mengumumkan gencatan senjata sepihak, sementara pada saat
itu HAMAS sama sekali menolak gencatan senjata dan terus memberi
perlawanan. Bahkan menurut kabar, lima menit sebelum Israel
mengumumkan gencatan senjata, HAMAS masih meluncurkan roketnya ke
wilayah Israel. Secara tersirat, HAMAS seolah ingin memberikan ancaman
pada Israel bahwa perlawanan mereka tidak pernah berhenti sedikit pun
dan kondisi persenjataan mereka masih dalam kondisi prima. Perlu
ditambahkan juga bahwa selama perang Gaza, HAMAS telah meluncurkan
sekitar 900 roket, dan itu tidak lebih hanya 1 % dari total jumlah
roket yang mereka miliki.

Lebih jauh lagi, salah satu pejabat HAMAS tersebut menyampaikan bahwa
mereka sama sekali tidak membutuhkan kiriman pasukan mujahid dari
negara mana pun. Beliau mengatakan, "kami hanya kehilangan 48 orang
mujahid selama perang berlangsung, dan masih punya belasan ribu
pasukan yang lain." Melalui Ust Hilmi, para pejuang HAMAS ingin
mengucapkan rasa terimakasih dan rasa bangga yang sebesar-besarnya
atas apa yang telah diupayakan rakyat Indonesia. HAMAS berharap bahwa
kalaupun ada yang ingin memberikan bantuannya kepada Palestina, maka
berikanlah bantuan itu dalam wujud bantuan kemanusiaan berupa makanan,
minuman, obat-obatan, pakaian, atau uang tunai. Karena sesungguhnya
itu yang lebih mereka butuhkan daripada mengirimkan bantuan pasukan
jihad."

InsyaAllah.. . apa yang telah kita upayakan bersama ini untuk membantu
rakyat Palestina bukanlah yang terakhir kali. Masih akan datang lagi
bantuan-bantuan berikutnya. Pendistribusian bantuan yang dilakukan
secara bertahap dan tidak sekaligus memang bukan tanpa alasan. Ini
dikarenakan pemerintah Mesir yang berbatasan langsung dengan Gaza
tidak mau untuk memberikan izin masuk Gaza jika dilakukan secara
besar-besaran. Salah satu pihak pejabat Mesir mengatakan bahwa mereka
tidak mau ambil risiko dengan pihak Israel. Sehingga hal ini membuat
kita untuk secara bertahap dan sedikit-sedikit dalam menyalurkan
bantuan ke Gaza. Barangkali perlu juga menjadi catatan bagi kita,
bahwa ternyata aksi-aksi yang kita lakukan selama ini ternyata adalah
aksi terbesar di selurh dunia. Disaat saudara-saudara kita di belahan
dunia lain harus dikejar-kejar polisi dan dijaga ribuan aparat setiap
melakukan aksi solidaritas, lain halnya dengan apa yang kita lakukan
di Indonesia. Semangat pembelaan terhadap bangsa Palestina harus terus
kita gelorakan di bumi manapun kita berada. Jangan pernah berhenti
hingga yahudi laknatullah itu pergi dari bumi jajahan mereka, dan
Palestina terbebaskan sepenuhnya dari cengkraman yahudi. Allahu akbar!!!

Sumber: Netkusuma

Rabu, 07 Januari 2009

sajak-sajak palestine

Menelisik Duka di Bumi Palestine

Duka terkuak,

Tercabik-cabik jiwa melihatnya

Tatapan kosong penuh arti

menamparku di sini

:adakah sedih melihatnya?

Kuterdiam di sini

Di sini kumerenung

Kurogoh nyaliku di sini

Di sini kumulai mengenang

Ku kais kuatku di sini

Di sini ku akan mulai beranjak

Ku raba mimpinya di sini

Di sini ternyata aku hanya diam

Tak ada nyali yang kudapat

Tak ada kekuatan yang kukumpul

Tak ada mimpi yang kupeluk

Aku terhentak,

Wajah itu ternyata kian buram

Tak ada warna,

apalagi canda

Hanya tangis yang berkeliaran

Aku tersadar,

Diamku tak sanggup mengobatinya

Akhirnya aku bangkit

Ingin kuhentakkan kakiku di wajahnya

Wajah yang tak kenal dosa

Wajah yang telah mengumbar kebohongan

Wajah yang telah menaburkan derita

Wajah yang telah menampakkan kebusukan

Biar ia hancur

Bukan hanya hancur

Tapi kuingin ia enyah dari sini

Enyah dari tatapku

Enyah dan tak kan pernah kembali



Nurani Bertanya*)

Hati bergeming

Lagi, dan lagi…

Sejuta tanya trus menggelinding dalam dada

: sesak!

Asa mati sudah

Hilang tergilas ego

Tenggelam ditelan nafsu

Terkoyak nurani memandangnya

: sinis!

Tak sanggup lagi menatapnya lama

Daging ditemani darah,

Tulang bercerai tiada bentuk

Air mata tak sanggup lagi terbendung,

Terurai tiada sanggup kumenahan

Lalu, timbul tanya:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Senja,

ia bahkan tlah pergi

Meninggalkan mereka yang terkubur sedih

Bendera kebebasannya bahkan tak lagi berkibar

Tak ada ruang ’tuk bersua dengan Bapak Ibunya

Longlongan minta tolong

terus menyeruak di tanah kelam itu

Derita,

ketidakadilan,

kemunafikan,

kebusukan,

:semua!!!

Semua menyatu menamparnya

Lalu, timbul lagi tanya:

Masihkah kita terbahak melihatnya?

Tawa, kini berganti duka

Damai bahkan berganti kelam

Sunyi, juga berganti isak

Tak ada siang,

Malam pun begitu

:hilang!!!

Langit bahkan tak bergeming

Lemparan peluru-peluru bangsat menghapus semuanya

Mengkerdilkan asa yang dulu pernah buas

Menelan rahmat yang dulu pernah tumbuh

Dan kembali timbul tanya di sini:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Kawan,

Palestina kini menangis

Palestina terlunta sudah,

Tak bosannya ku bertanya:

Pantaskah kita terbahak?

Atau hanya berdiam

melihatnya tercabik nurani?

Hati kian menjerit

Ingin kuteriak:

Kawan, Palestine sudah hampir mati!!!

Para budak rakus itu

telah menikamnya bebas

Tak hanya menikam jasad,

Nurani,

Jiwa,

Asa,

:semua!!!

Semua mereka embat tanpa rasa dosa

Sekali lagi ku bertanya,

:tidakkah terguncang nurani?

Kawan, tahukah:

Pertolongan adalah harapannya

Teriakan takbir adalah kekuatannya

Doa adalah asanya

Kedamaian adalah mimpinya

Aku tak mau diam disini

Menjadi pecundang,

Dengan santai menyaksikannya di layar kaca

Karena itu bukan kisah pelipur lara

Meski dalam gerak yang terlunta

asaku masih ada

tuk menopang asanya yang semakin kerdil

Aku tak mau asa itu benar hilang adanya

Ingin ku bertanya kepada kalian:

Adakah sakit di jiwa ini melihatnya?

Kawan,

Meski kau tak punya nyali,

Meski kau tak punya ingin,

Meski kau tak punya langkah,

Tapi mereka,

Mereka masih punya Rabb

Yang Dia lebih besar dari nyalimu

Yang Dia lebih besar dari inginmu

Yang Dia lebih besar dari langkahmu

*)Ketua FLP Ranting Unhas,

Aktifis PII (Pelajar Islam Indonesia)




Terkuak duka di Bumi Palestine

Mulut dibungkam caci

Hati dibalut hina

Jiwa tergores luka

Tangan ditebas nafsu

Wajah tertampar umpat

Tanah terinjak jiwa-jiwa rakus

Asa tertelan amarah

:semua!!!

Semua termakan peluru hina

Semua tertelan bom Sang biadab

Semua tergilas tanker-tanker gila

Semua terkoyak senjata penuh kutuk

Menjadikan palestin kering kerontang

Membuat orang palestin bergelimang darah

Semua,,

Semua terlunta sudah

Karena sikap yang terasuk ego,

Karena jiwa yang tergilas nafsu

Karena hati terbalut dosa..

Minggu, 14 Desember 2008

Tembang Idul Adha

Mataku terus saja tertuju pada bingkai itu. Ia kini usang termakan usia. Kenangan indah bersamanya kini lebur meninggalkan jejak. Hatiku bergeming. Mataku tak berkedip menatapnya tajam. Jauh dari lubuk hati, aku merindukannya. Kuluman senyum tak lagi terbentuk dalam wajahku. Apalagi tawa. Kini terganti duka, terbalut sedih, hingga berurai air mata. Tapi, ia terus saja tersenyum kepadaku. Sangat manis. Tiada bosan memperlihatkan kebahagiaannya padaku. Aku terdiam, mulai hanyut dalam anganku. Dan akhirnya terbuai dalam lelapku.

***

”Bu, baju barunya bagus sekali.. pasti mahal !” ia mulai membuka percakapan di pagi itu. Kulemparkan senyum kepadanya. Matanya yang berbinar cukup menjadi bukti atas noktah kebahagiaan itu. Kuelus kepalanya penuh sayang.

Cepatmi Nak, nanti terlambatki’!” Mataku terbentur pada jarum jam usang di atas meja itu. 06.45.. Sebentar lagi shalat Ied akan dimulai.

”Ibu pake’ baju itu ya?” diikuti tatapan aneh, ia menghentikan langkahnya.

“Iya, kan sudahmi dicuci. Sudahmi juga kusetrika kemarin. Nah, trus?” aku menghentikan langkahku, menjawab pertanyaan si gadis kecilku. Kulemparkan senyum manis kepadanya.

“Baju itu lagi, Bu?”

“Salahkah kalau Ibu pake’ baju ini banyak kali?”

”Bukan seperti itu, Bu. Tapi,,, kenapa Rena mesti pake’ baju sebagus ini?”

Ndak apaji Nak. Ndak usahmi perdebatkan masalah ini. Bukan baju barunya yang kita lihat. Yang penting, pintu kebahagiaan masih terbuka untuk kita. Rena bisa tersenyum seperti ini, Ibu sangat senang. Melebihi saat Ibu memakai baju baru. Ayolah Nak, kita berangkat sekarang. Tuh, teman-temannya Rena dari tadi’mi berangkat. Ntar, ndak dapatki’ tempat!”

Rasa haru mulai memenuhi rongga dadaku. Melihat Rena seperti ini, aku sangat bahagia. Kukecup keningnya, lalu memapahnya meninggalkan rumah. Tapi bukannya beranjak pergi, ia malah memelukku. Erat! Dan kubalas pelukan itu penuh hangat. Saat kulepas pelukan itu, aku menangkap sebuah perubahan. Binaran mata itu hilang. Air matanya tumpah dalam dekapanku.

”Bu, terima kasih. Terima kasih Bu!” setengah tersedu, Rena mengucapkan terima kasihnya kepadaku berulang kali. Rasa haruku akhirnya tak terkendali. Air mataku pun tak terbendung. Kalau saja Daengku masih ada, ia pasti bahagia melihat anaknya sebaik ini. Tapi sayang, dia tlah pergi.....Ya, untuk yang kedua kalinya kami merayakan lebaran qurban tanpa kehadirannya. Dia pergi menyisakan rindu yang mendalam. Buatku, juga buat Rena, anakku. Ia masih teramat muda untuk tidak merasakan kasih seorang ayah. Meski kutahu, Rena tidak serapuh aku. Ia tegar menatap hidup. Aku bangga kepadanya. Sangat bangga! Dialah belahan jiwaku satu-satunya..

Ayo’mi kita berangkat Nak!” suaraku memecah kebisuan diantara kami. Rena pun akhirnya beranjak. Tangan Rena terus berada dalam genggamanku. Dengan langkah tegak, kami berjalan menyusuri lorong-lorong rumah, menuju lapangan, tempat dilaksanakannya shalat ied. Sayup-sayup teriakan takbir mulai menyentuh gendang telingaku. Kian lama kian jelas. Hingga akhirnya, tibalah kami di seberang lapangan. Suasana pagi yang begitu membahagiakan. Hingga menyusup jauh ke relung hati, mengalir bersama aliran darahku.

Dengan semangat yang menggebu, aku menyeberangi jalan. Tanpa sadar, ternyata tangan Rena telah terlepas dari genggamanku saat ia ingin memperbaiki sepatunya tadi. Kesadaranku baru muncul saat aku hendak membentangkan sajadahku. Ternyata Rena tidak di sampingku. Gadis kecil dibelakangku yang kuanggap Rena, ternyata bukan. Aku panik! Setengah berlari aku mulai mencari. Hingga kembali berada di sisi jalan tadi.

”Kok banyak orang yang berkumpul ya?” aku berbisik dalam hati. Ketakutanku memuncak melihat kondisi itu. Dan benar, mereka sedang mengelilingi Rena yang sedang terkapar, berlumuran darah.

”Tidaaaak!!!”

***

”Astagfirullah....!” aku hanya mimpi. Kuhapus peluh yang membanjiri wajahku. Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Jantungku berdetak sangat kencang. Tak lama, seorang perempuan tengah berlari mendekatiku.

”Bu, kenapaki’?” setengah panik, dia mulai menyapa.

”Tidak, Ibu mimpi buruk,” aku menjawab sekenanya, sambil meneguk air putih yang dia sodorkan kepadaku. Air mataku akhirnya tumpah. Rasa rinduku kepada gadis kecilku tak dapat kutahan lagi. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Sementara, bingkai itu masih berada dalam genggamanku setelah sebelumnya sempat terlepas.

Perempuan itu kemudian merangkulku. Lalu mengelus kepalaku. Sama saat aku mengelus Rena di mimpiku tadi. Aku sadar, perempuan ini begitu menyayangiku. Tapi bagaimanapun, tetap ada yang lain tanpa kehadiran Rena. Ada sesuatu yang tak bisa kunafikan. Ia bukan apa-apa untukku. Di pikiranku saat ini, bertemu dengan Rena, putri semata wayangku, satu-satunya belahan jiwaku. Dan perempuan ini, Ia hanya seorang gadis yang baik hati dan rela menampungku hingga 3 hari ini. Dialah yang membawaku ke tempat ini, sebuah panti yang lumayan jauh dari kotaku.

Tepat 3 hari yang lalu, aku melakukan pencarian atas kehilangan Rena. Dan aku sama sekali tak berminat untuk pulang ke rumah sebelum aku menemukan gadis kecilku. Hingga akhirnya, aku tergeletak di sebuah pinggiran jalan karena tak sanggup lagi mengangkat kaki untuk melangkah. Cadangan makananku sebelumnya tak sanggup lagi menyuplai energi untuk tubuhku. Bahkan untuk membuka mata saja saat itu terasa sangat berat. Aku tak mampu. Hingga akhirnya, aku tak sadarkan diri. Pemandangan terakhir yang sempat terlihat oleh ku adalah sosok perempuan ini. Ya, aku masih beruntung, bisa tertolong oleh perempuan baik hati ini. Niar, begitu ia biasa dipanggil oleh teman-temannya disini. Dengan sabar, ia terus menjaga dan menemaniku. Bahkan saat aku terdiam seperti ini.

Tanpa ada komando darinya, akhirnya aku mulai menceritakan mimpiku barusan. Ia menyimak sangat serius. Aku tahu, ia sangat sedih mendengar ceritaku. Tapi, ia tetap memperlihatkan sikap empatinya padaku. Selama bersamanya, belum pernah ia bermuka sedih di hadapanku. Terima kasih Engkau menitipkan seorang Niar saat aku merasakan kesepian seperti ini Rabb...

***

Matahari, kini mulai bergeser, kemilau jingga di ufuk barat sana terlihat berbaur bersama langit biru. Sebuah perpaduan warna yang begitu indah. Sayup-sayup, terdengar suara para muazin saling menyapa dari masjid yang satu ke masjid yang lain. Meneriakkan kepada semua hamba menuju pintu kemenangan. Sementara aku, masih saja duduk diam dibalik jendela ini. Besok, hari kemenangan itu akan tiba. Kalau saja Rena tak ada disampingku, artinya untuk tahun ketiga kepergian Daengku, aku harus melalui hari raya ini seorang diri. Tanpa Daengku, juga tanpa Rena.

***

Di sisi ranjang ini, aku kembali memperbaiki posisi dudukku. Waktu tetap berputar mengikuti perintahNya, dan malam semakin larut. Namun aku tak peduli. Sebuah buku usang telah terpangku rapi olehku. Ya, buku yang selalu kubawa kemanapun aku pergi. Begitu setia menghibur hari-hariku. Inilah salah satu peninggalan berharga dari Daengku. Berisi cuap-cuapnya selama ia ada. Selalu menjadi pelipur lara untukku. Rangkaian kata demi kata di dalamnya, cukup mampu mengobati kala rinduku padanya mulai mendera. Teringat olehku, waktu itu Daengku pernah mengungkapkan padaku bahwa Ia sangat bercita-cita menjadi seorang penulis handal. Tapi sayang, citanya harus ikut tertimbun tanah, bersama runtuhnya rumah kami kurang lebih 3 tahun yang lalu.

Aku mulai membuka, tepat halaman terakhir. Kutemukan sebuah puisi. Mataku mulai membaca baris demi baris. Bibirku pun ikut mengeja kata demi kata.

Dendang Kesepian


Tercipta gelisah di ruang ini

Hati mulai rapuh

Ditemani malam yang kian membisu

Ditemani sepi yang mencekam,

tak terbantahkan!

Ditemani lelah,,

Diri mulai meronta

Dalam sembah sujud,

Dalam sebuah renungan

singkat penuh arti,

juga dalam diamku.

Aku tak kuasa,

Buliran airmata bercerai

Menampar pipiku yang terlanjur lemah

Aku terkapar,

Terkulai tanpa daya.

Kekuatan,

Kesempatan,

Kepercayaan,

Ketenangan,

Semuanya!

Semua lari,

Semua hilang!

Diriku hampa...

Tiada arti, tiada daya, tiada asa

Tiada canda, apalagi tawa

Aku lelah,,

Ingin kuhujat diriku,

Tapi apa guna.

Atawa menghujat orang?

Apa untungnya..

Hanya menambah luka berkepanjangan,

Lalu menyisakan sakit

Yang tak kunjung usai

Pilu, itu pasti..

Biar ku disini saja

Dalam renunganku seorang

Ditemani bintang,

Mesti jauh dari kilau indahnya!


***

Pagi akhirnya menjelang. Hatiku sumpek, beban masih menyesaki pikiranku. Masih tertuju pada gadisku, Rena. Ia belum juga ada. Aku tertunduk, Lesu! Hingga kucoba tuk bangkit. Jendela kamarku kubuka. Kurasakan dinginnya pagi merasuki tulang-tulangku. Udara yang sejuk menampar kegalauanku. Ahhh,,, aku menghembuskan nafasku kuat. Beban itu perlahan menghilang. Kudongakkan kepalaku ke atas, Subhanallah!! Indahnya langit itu. Tetap biru bercampur putih. Cerah! Sang mentari masih menyusup-menyusup mencari ruang diantara celahnya. Beban dalam pikiranku melayang dihempaskan angin pagi. Mataku terus menerawang ke atas sana. Menyaksikan lekukan-lekukan awan lembut itu. Indahnya...

Kubayangkan, senyuman manis Rena berada diantara lekukan awan-awan itu sambil melambaikan tangannya kapadaku. ”Rena, dimanaki’ Nak!” aku bergeming.

***

Bersama Niar dan beberapa anak panti lainnya, kami melangkah. Teriakan-teriakan takbir mulai memenuhi seluruh ruang di bumi ini. Dalam hati aku mengikutinya. Tetesan air mata sesekali mewarnai wajahku. Air mata itu sebagai bentuk kesyukuranku kepada Tuhanku, haru! Dia masih mempertemukanku dengan hari kemenangan ini. Meski tanpa Rena di sini. Satu tempat yang kami tuju, masjid An-Nur. Disinilah kami berlebaran.

***

”Bu, ayo’ kita ke ruang tamu dulu. Kita makan-makan dan bersalaman dengan semua penghuni panti” suara Niar memecah kebekuanku sendiri. Aku tak lagi berurai air mata. Aku tak mau memberikan kesedihan di tempat dimana aku telah banyak mendapat pertolongan ini. Tapi sesunguhnya, hatiku meringis kesakitan. Merayakan idul Adha ini tanpa seorang pun belahan jiwaku menemaniku.

Aku bangkit, memenuhi ajakan Niar. Kesedihanku mulai luntur melihat sekumpulan anak-anak panti yang tengah ceria merayakan hari ini. Apalagi setelah berbaur dengan para pengajar dan pembimbing anak panti ini. Bersama teman-teman Niar dan ibu-ibu lainnya. Tradisi saling bersalaman di hari raya juga ada di tempat ini.

”Niar dimana?” ucapku dalam hati. Timbul sederet tanya di benakku saat melihat Niar tidak disini. ”Padahal barusan adaji belakangku. Atau mungkin pergiki menyiapkan makan dan minuman.Tapi sepertinya tidak. Toh semua makan sudah tersaji lengkap di ruang ini,” aku menerka seadanya. Tiba-tiba...

”Bu....!!!!” terdengar seseorang memanggilku dari arah belakang. Suara yang tidak lagi asing. Spontan aku berbalik.

”Rena? Rena anakku....!!!!” aku berteriak histeris. Aku tak peduli semua mata tertuju padaku. Kupeluk Renaku erat. Air mata yang sedari tadi sempat kutahan, akhirnya tumpah dipelukan Rena. Rasa haru pun memenuhi jiwa dan ragaku. Pintu kemenangan akhirnya terbuka untukku.

***

”Sebenarnya adami Rena kemarin sore Bu. Tapi, kami dari pihak panti mau memberikan kado terindah dan surprise buat Ibu. Meski sebelumnya Rena ngotot sekalimi mau ketemu dengan Ibu. Ini murni usulan dari saya. Mohon maaf kalau surprisenya menyakitkan hati Ibu,” Niar mulai menjelaskan setelah kondisi sudah tenang. Sementara Rena yang berada di pangkuanku tertawa saja mendengar penjelasan Niar. Dan ternyata selama ini Rena sedang terjebak di sebuah desa yang lumayan jauh dari sini. Desa yang cukup terpencil. Waktu itu, sekitar semingu yang lalu, Rena pergi bermain bersama Arni, temannya. Dan akhirnya mereka nyasar. Keduanya tidak ketemu. Tapi Arni berhasil pulang ke rumahnya.

Nda’ apa-apaji Nak. Ibu sama sekali tidak marah.”

***

Akhirnya, aku bisa pulang ke rumah membawa Rena dan sejuta bahagia. Hari ini memang hari kemenangan untukku. Terima kasih Rabb....

Kaulah Superwomanku


Pagi menyapa,

kau pun terbangun

segala asa kau tumpahkan ke bumi

Bentangan sinar sang mentari

turut mengikuti setiap langkahmu

Kau temukan duri dalam pencarianmu

Bahkan kau tertampar panasnya Sang surya

Namun,

tak ada keluh yang terucap,

meski peluh membanjirimu

Dibalik tirai sabarmu,

kau bentangkan rekahan senyumanmu

Meski ku tahu,

sebenarnya kau sakit,

sebenarnya kau terluka,

sebenarnya hatimu menangis

Namun,

kau tak jua meronta

apalagi menjerit

Tak ada kerapuhan yang menyelimuti tubuhmu

Topeng ketegaran terus terpasang

di wajah sendumu

Kutemukan cinta, kasih, dan sayang

dalam setiap tatapmu

Kutemukan noktah keikhlasan

dalam setiap gerakmu

Hingga bertahtalah bahagiamu

Kini, hari kian menua

Kau pun terjamah olehnya

Secercah harapan terus tertumpuk

di jidatmu yang semakin berlapis

Namun,

Tirai ketulusanmu mampu menyembunyikannya

Kau hilangkan noda

di balik cadar kesabaranmu

Kekasaran,,

Kemunafikan,,,

Kebohongan,,,,

: semuanya!!!

Kau jawab dengan kelembutanmu

Kau maki dengan segudang doa terbaikmu

Bukan dengan caci,

apalagi sumpah serapah

Disini,

aku hanya diam

:memikirmu,

mengingatmu,

mengenangmu

terbalut rindu merangkuh rongga dadaku

: sesak!

Ingin kuteriak;

I Love You Mom!!!

Karena kaulah Superwomanku...